12 - Cita-Cita
“Soran!”
Kutunjuk sungai selebar satu mare di hadapan kami.
“Pergi!” Lekas meminta putriku dan Berlian itu agar menyeberang duluan pakai bahasa Kara. “Halau monster-monster di sana supaya kita bisa menyeberang. Bilang sama mereka jika aku, Ure el Arathena, akan menerima suku-suku mereka menjadi pasukan baruku!”
“Boleh kubunuh?”
“Kalau mereka gak mau menyerah,” kataku lalu memberikan vas wadah abu Sandra, “dan ini, biar ratu gurun di dalam benda ini yang jadi tanda kau suruhanku.”
“Mengerti ….”
Pertengahan Musim Semi 221 Shirena.
Usai berjalan kaki selama satu bulan melintasi wilayah negara-negara di kekaisaran tetangga, empat ribu sekian ratus penyintas tragedi berdarah Kauro kini telah sampai ke muka Kubang Naga.
Sungai terpanjang dan paling lebar di bagian timur benua.
“Barusan kalian bicara apa?” tanya istriku, mendekat setelah Soran melesat ke seberang. “Gadis itu kelihatan ceria sekali. Kau gak—”
“Aku cuma memintanya mencarikan kita daerah buat berlabuh.”
“Berlabuh?”
“Ya!” timpalku, mengangguk semringah menanggapi muka penasaran Berlian.
Selanjutnya, kubuka tutup tungku di punggung kura-kuraku terus memanggil kelabang ajaib penunggunya agar keluar. “Hoi!”
Mengerti maksud panggilan tersebut. Ia, si kelabang, kemudian loncat dari tungku lantas memperbesar diri di udara hingga ruas-ruas tubuhnya pas mendarat kini cukup lebar untuk menampung empat sampai lima orang berdempetan.
“Bagus.” Aku senang makhluk itu gak harus kuperintah dua kali. “Semuaaa ….”
Penghujung Bulan Dua.
Terdesak oleh keadaan serta tidak punya pilihan setelah ditolak waktu memohon bantuan pada negara-negara tetangga pascatragedi di bagian sebelumnya, para penyintas Kauro nekat membuka lahan di seberang Kubang Naga dan mendirikan kemah perlindungan sementara demi menyambung hidup.
Mereka, empat ribu sekian ratus pengungsi nan tanpa harapan ini, bahu-membahu hendak mendirikan ulang komunitas di tanah ‘asing’ tersebut.
Akan tetapi, meski semula hanya penampungan darurat sementara pinggir sungai.
Siapa sangka bila tempat yang mereka bangun itu akan menjelma sedekimian rupa hingga menjadi pemukiman sungguhan dalam kurun setengah tahun ….
***
“Hem.”
“Kenapa alismu mengernyit begitu, Paman Mi?”
“Berapa orang yang ikut kita mengungsi musim semi kemarin?” tanyaku, membalas mata heran Miki dengan tanda tanya besar. “Terus berapa juga yang katanya sudah menyeberang kembali atau mati?”
“Hampir lima ribu kurang sedikit,” ujar anak itu, melirik curiga padaku sambil angkat tangan siap menghitung pakai jari. “Kalau yang kembali lagi ada-lah setengahnya, mereka murid-murid sekte bela diri.”
“Sisanya?”
“Yang mati?”
“Ya.”
“Sebentar ….” Miki menunduk sesaat. “Dua ratusan ada!”
“Ini.” Kuasongkan sensus bulan kemarin. “Di situ tercatat ada sekitar seribu orang di Kauro Baru …,” kataku yang lalu mendekat ke sebongkah batu dan duduk di atasnya, “tempat kita sekarang sudah jadi desa.”
“Apa masalahnya, Paman?”
“Kau gak terganggu sama pemandangan di sana itu?!” teriakku, menunjuk gundukan sampah rumah tangga pinggir sungai tak jauh dari kami. “Benarkah?”
Sebagai orang yang pernah melihat Kubang Naga tercemar di masa lalu, jujur diriku amat sangat terganggu.
Jadi, hari itu juga kupanggil suku-suku monster asli sana ‘tuk membentuk pasukan penertib atau polisi dadakan kemudian menyusun aturan terkait tata kelola kebersihan lingkungan dan mengumumkannya.
Kubilang pada mereka seluruh jenis sampah, baik rumah tangga maupun bukan, harus dikumpulkan di wadah tertentu sebelum nanti diambil oleh para polisi tadi buat dikubur dan dibakar di area penampungan khusus.
Tidak boleh asal membuang ke kali, apalagi bila bukan barang-barang yang dapat dimakan ikan atau bisa diurai oleh organisme akuatik di sana. Pokonya tidak boleh, titik.
Bukan hanya jorok, kebiasaan tersebut mengundang wabah penyakit hingga kesan kumuh yang dahulu pernah akrab dengan murid-murid Naga Sutra.
“Pahaaam, ya, Semua?!”
Kutempel peraturan pertama tersebut di mading dekat gapura alun-alun dan di tiap persimpangan jalan supaya gampang dilihat oleh semua orang ….
***
Selanjutnya, setelah pengaturan pertama di atas pengaturan-pengaturan lain pun lahir.
Anggota-anggota suku monster yang kebetulan kebagian peran sebagai perangkat pelaksana alias si polisi tadi rupanya juga mengenalkan aturan tata kelola tersebut ke tetua mereka, sehingga seminggu pascapenerapan tata tertib pertama itu tetua-tetua suku monster di sana pun berbondong-bondong mendatangiku dan membawa sederet draf atau rancangan ‘hukum’ yang hendak diterapkan di desa masing-masing.
Hem.
“Aku sudah membaca rancangan kalian,” kataku di depan semua tetua, “ada beberapa yang gak bisa kuterima, tapi sisanya bagus. Ini, silakan pajang di papan pengumuman desa masing-masing.”
Pikiran mereka sederhana, tetapi sangat lentur serta cukup mudah untuk dilatih.
Dengan memoles konsep tata tertib tadi, desa-desa monster pun pelan-pelan tumbuh mengikuti pemukiman manusia sebelahnya. Seminggu, dua minggu, hingga sebulan kemudian.
Mereka kini mengalahkan tetangganya itu ….
“Hahaha!” Aku terbahak senang pas lihat wilayah para monster ternyata jadi lebih bersih, rapi, dan jauh dari embel-embel ‘sarang’ yang kita tahu. “Ini betulan desa suku Delta, ‘kan?!”
“Tuanku.” Tetua mereka tampak bangga pas menyambutku. “Kami berhasil menerapkan ajaran Anda—”
“Eit!” Segera kurangkul sang tetua. “Bukan ajaranku,” kataku kemudian memuji ia dan sukunya, “kalian itu memang sudah pintar dari sananya, ‘kan, Tetua?”
“Anda memuji, Anda memuji.”
“Ah, ya!” Seketika, ide liar pun muncul di kepalaku. “Kalau sudah begini kenapa kita gak lanjut ….”
Kubisiki dirinya konsep dengan berbagai rancangan dari peradaban Eldhera era Chloria dan Mirandi.
Sudah basah, kenapa gak mandi sekalian. Begitu pikirku waktu membawa model-model bangunan pencakar langit, konsep uang, sama seabrek gambaran peradaban maju milik para penyintas di masa lalu ke zaman ini.
Meski tidak semua—tentu saja, aku malas merusak keseimbangan benua apalagi bila sampai menarik perhatian penyintas sama pahlawan-pahlawan periode Shirena. Itu gak bagus.
“Bagaimana?”
“A-Anda percaya pada badak tua ini, Tuanku?”
“Tentu saja, Tetua!” Kurentang tangan semringah. “Kubilang kalian adalah pasukan baruku, bukan?!” ujarku yang lantas memberi ia penekanan, “buat apa setengah-setengah …, ayo kalahkan mereka dan jadi ras nomor satu di benua. Kau mau, ‘kan?”
Dengan ambisi sejelas itu diriku bukan hanya mengincar pembalasan untuk Serindi atau akselerasi penyintas zaman ini, tetapi dominasi mutlak. Maka barang tentu bila berkembang hingga maju menjadi keharusan demi mewujudkannya ….
***
Setahun kemudian, bisikan tadi pun terealisasi.
Kauro Baru bukan lagi pemukiman biasa, tetapi berevolusi menjadi satu kota multiras dengan gedung-gedung pencakar langit di salah satu tepian Kubang Naga di mana manusia dengan monster kini berbagi wilayah lewat ketentuan tegas dan tata tertib jelas.
Meski gak semegah bayanganku—dasar, kepala ini. Haha.
“Segini sudah bagus.”
“Apanya yang bagus, Sayang?”
Aku menoleh, kemudian tersenyum pada istriku.
“Kau selalu kelihatan senang pas lihat desa para monster.” Selesai menghidangkan teh, Berlian langsung duduk topang dagu dan melihatiku. “Sayang, sebenarnya apa lagi yang dirimu lakukan di sana, hah—beri tahu aku!”
“Gak ada.” Aku menggeleng sebelum mencecap teh buatannya. “Diriku senang gegara gedung-gedung sama rusun mereka jadi saja, Sayang—enggak ada yang lain, asli.”
“Rusun?” Istriku menoleh ke jendela sebentar. “Apa itu?”
“Rumah susun,” terangku yang lalu mengambil rancangan kota impianku lalu menggelarnya, “lihat, aku mau menjadikan tata letak sama pengaturan desa suku monster ini buat contoh biar orang-orang Kauro Baru mau pindah ke gedung-gedung yang lagi kubangun.”
“Maksudmu proyek penginapan tiga sampai lima lantai yang kau datangi tiap hari itu, ya?”
“Benar.”
“Hem. Aku gak paham,” aku Berlian, polos. Ia kemudian mendekat terus merebah ke diriku sambil melihati rancangan tadi. “Bukannya kalau begitu mereka jadi gak punya tanah sama halaman sendiri, ya, Sayang?”
Memang. Dengan pindah ke rusunami tersebut orang-orang jadi tidak punya halaman lagi.
Namun, bukankah di saat yang sama pemenuhan kebutuhan mereka juga jadi praktis. Aku membeli kemalasan mereka pada hal-hal remeh di rumah tangga dengan berbagai layanan beserta keamanan dari para monster.
Tidakkah itu sudah termasuk adil dan berkorban demi sesuatu adalah hal biasa?
“Rencanaku adalah mengiklankan utopia antara ras monster dan manusia yang diidam-idamkan Saintess, jika Kauro Baru berhasil kita akan menjual rancangannya ke Dataran Tengah buat meminta dukungan.”
“Dukungan?”
“Aku mau membalas Serindi.”
Itulah tujuan pertama percepatan ini ….
***
Kasih tip buat penulis
