13 - Utopia
“Ini betulan buatku, Paman?”
Awal Musim Dingin 222 Shirena.
Kota impianku telah bediri di tepian Kubang Naga. Deretan rusun lengkap dengan kawasan pengrajin beserta pusat belanja dan berbagai fasilitas yang sanggup kubayangkan di satu kota kini kokoh mencakari langit.
Kauro Baru, jilid dua.
“Di sini sudah ada dapur, ruang tengah, kamar tidur, kamar mandi sama toilet terus balkon buat jemur baju.”
Entah bagaimana penampilanku saat mengiklankan karya tangan-tangan terampil suku Delta tersebut, tetapi kuyakin kala itu diriku cukup mengagumkan di mata orang-orang—aku ragu mereka pernah melihat model rumah bergaya minimalis sebelum ini.
Ya, pasti begitu. Muka-muka datar di depanku gegara kaget sama terpukau. Mwehehe.
Lanjut.
“Sampah rumah tangga bisa kau taruh di wadah dekat pintu sana atau sekalian bawa turun ke bawah pas keluar, petugas akan mengambil mereka tiap pagi sama sore, paham—dan, ya, unit ini milikmu, Bocah.”
“Aku gak percaya kau memberikan rumah sebesar i—”
“Cuma hadiah kecil!” selaku yang lalu membuka jendela kamar itu biar udara segar masuk, “rencanaku adalah membiasakan kalian hidup teratur, gak sembarangan kayak kemarin.”
“Hehe. Kau masih kesal gegara sampah pinggir kali tahun kemarin itu, ya, Paman?”
“Ya!” Aku berbalik terus duduk di sofa. “Sudah kusediakan lahan buat mengubur sama membakar sampah di luar pagar desa, tapi kalian masih saja membuang mereka ke sungai.”
Rombongan di ruangan tersebut silih lirik, tetapi satu pun tidak ada yang berani menyanggah.
Dan satu-satunya alasan mereka ialah ….
“Tempat itu terlalu jauh—”
“Makanya kubuatkan kau apartemen berfasilitas lengkap!” potonku lekas bangkit ‘tuk lanjut mengantar semua orang ke kamar masing-masing, “ayo ke unit sebelah, kalian harus sudah dapat tempat tinggal sebelum musim hujan sama banjir datang.”
Tanggal 1 Bulan Sepuluh.
Penduduk Kauro Baru pindah ke rumah baru.
Lima ratus unit apartemen di lima gedung enam lantai dengan fasilitas lengkap sepanjang tepian Kubang Naga.
Membuka babak pertama menuju Eldhera yang kumau ….
***
“Pengelolaan limbah, saluran irigasi sama sanitasi baik, area pengrajin, kawasan belanja, rumah penduduk …, apa lagi yang belum kita punya di Kauro Baru, Tetua?”
Kututup laporan di tanganku, menaruhnya di meja, lalu melihat para sesepuh suku Delta.
“Pasukan keamanan, penyelia tiap gedung, penitipan kuda, bank …, apa lagi?”
Mereka silih lirik sebelum salah seorang mendekat dan buka suara.
“Tuanku, bagaimana kalau kita membentuk pasukan sekarang?”
“Pasukan?”
“Benar, Tuanku!” Dapat anggukkan dari rekan-rekan di belakang, si tetua jadi tambah semangat. “Kita sudah tidak kekurangan apa-apa. Monster tua ini berpikir, sekarang adalah saat yang tepat ‘tuk mengatur barisan dan meluaskan Delta Kubang Naga.”
Benar. Nama suku Delta berasal dari delta di Kubang Naga yang mereka tinggali, dan itulah alasan ras siluman di suku ini beragam. Ada badak, gajah, buaya, kadal, bahkan ikan, labi-labi, sama kuda nil yang lagi merayuku buat membentuk pasukan sekarang.
“Hem.” Kuusap dagu sembari mengangguk dan mencubit janggut carangku sekali. “Aku setuju.”
Dengar itu, mata makhluk-makhluk di depanku seketika cemerlang—seolah habis kena basuh air segar.
“Tuanku, kami akan segera memanggil saudara-saudara kita ….”
Dan, begitu kugerakkan tangan merestui, mereka pun berlalu. Melesat ke seluruh penjuru desa ‘tuk mengatur sisa-sisa siluman di Delta Kubang Naga buat jadi pasukan kami, penuh semangat dan menggebu hebat seakan hal besar yang para sesepuh ini nanti akhirnya terjadi.
Akan tetapi, tatkala para tetua itu kembali.
Kenyataan tak secemerlang mata mereka sesaat tadi ….
“Serius, siluman kita segini doang?” Aku melongo, juga cekak pinggang, waktu bakal pasukanku berbaris di depan Pagoda Kubang Naga—penanda yang kubangun begitu pindah kemari sekaligus perantara apabila dua ‘dunia’ ingin berhubungan. “Ke mana barisan kadal, badak, sama buaya-buaya kemarin, Tetua?!”
“Tuanku.” Siluman kuda nil sebelumnya mendekat. “Saudara-saudara kita semuanya bekerja di desa ma—”
“Kau mau bilang aku salah karena mengirim mereka buat mengawasi para manusia di sana, hah?!”
“Bukan!” Ia menyungkur. “Am—”
“Bangun!” Kuangkat tubuhnya pakai Benang Pandora terus kukembalikan ia ke barisan para tetua. “Huh. Terlambat kalau kita menyesal sekarang ….”
Aku tak bisa menarik semua monster yang kujadikan pengelola Kauro Baru bersama para manusia di sana, tapi dua pertiga lusin yang lagi berbaris di depanku juga gak mungkin kusebut pasukan.
“Ada saran supaya kita bisa benar-benar punya pasukan?”
Lupakan.
Mending tanya mereka saja. Siapa tahu sesepuh-sesepuh ini sebetulnya punya ide bagus yang bisa kupoles dan kukembangkan macam konsep sama rancangan tata tertib kemarin.
Ah, ya! Sekarang benda itu sudah jadi perangkat aturan tertulis dan dipajang di mana-mana. Penduduk Kauro Baru menyebutnya: Kode Kubang Naga.
“Aku gak mau memanggil mereka dari desa,” akuku lemas, topang dagu sambil duduk di tangga depan pintu pagoda. “Jadi jangan usulkan hal itu ….”
Waktu terus berlalu.
Tidak kunjung dapat kemajuan, rencana pun akhirnya berubah.
Kuputuskan ‘tuk menunda pembentukan pasukan monster ini usai tiga hari mondar-mandir tanpa hasil depan pagoda tersebut kemudian fokus pada niat semula. Menjual konsep Kauro Baru ke Dataran Tengah.
Kalau enggak bisa sekarang, nanti saja pas sudah punya dana biar sekalian sama perekrutan tentara Kauro Baru.
Begitu pikiranku kala itu, tidak punya petunjuk pada apa yang akan terjadi sepulang dari Kuil Widupa bersama Saintess setahun kemudian. Kenapa? Sebab kenyataan sekali lagi menampar kami.
Bukan sesepuh ataupun para monster, tetapi diriku langsung.
Ya. Telak menampar diriku ….
“Soraaan!”
Anak itu keluar dari pagoda dan melayang di atas gerbang Kauro Baru.
“Apa yang sudah terjadi di sini, mana Berlian, ke mana semua orang, kenapa gak ada siapa pun selain bangkai-bangkai suku Delta di desa ini?!”
Hatiku terpukul.
Deretan pencakar langitku runtuh, para penghuni dengan penjaga-penjaganya lenyap, dan sebagian bahkan tengah bergelimpangan di dekat kelabang raksasaku tanpa bisa lagi bergerak.
Lututku bergetar, dan getarannya sampai membuat bumi Kubang Naga berguncang.
Mataku seakan lompat dari tempatnya, menatap tajam lalu menekan apa saja yang ia temukan.
Dada ini benar-benar sesak, sesesak hingga diriku ingin menghancurkan segalanya.
“Apa yang sudah terjadi di sini—apa yang sudah terjadi di siniii …?!”
Terus kuulang pertanyaan senada pada Soran.
Bolak-balik kusisir desaku untuk memastikan bila diriku tidak salah lihat.
Kauro Baru sudah hancur.
Benar-benar hancur.
Kode kubang nagaku robek, gedung-gedung di sana rata dengan tanah, terus kelabangku kini sisa bangkai.
Kenapa semua berakhir begini ….
“Kenapa semua bisa begini—Soraaan?!”
Aku tidak puas hanya dengan kenyataan tanpa penjelasan.
Kauro Baru luluh lantak, itu yang kulihat sekarang.
Tidak ada bantahan. Namun, diriku takkan puas hanya dengan pemandangan mendadak begini.
Harapan perjalananku ke Dataran Tengah juga bukan untuk dimatikan oleh sesuatu yang tidak kuketahui.
Benar. Aku butuh penjelasan!
“Apa sebabnya … katakan padaku apa yang sudah terjadi dan mengapa Kauro Baru-ku bisa runtuh?”
Apa hal yang telah membuat dunia kecilku hancur?
Siapa pelakunya?
Siapa ….
***
Kasih tip buat penulis
