11 - Bukan Satu Lawan Satu

“Seraaang!”

Tanggal 11 Bulan Pertama 221 Shirena.

Pertempuran di Lembah Tiga Gunung kini memasuki hari ketiga. Seperempat kekuatan tempur Kauro telah tumbang bersama seperlima dari lawan-lawan mereka, dan meski kala itu sudah tampak perbedaan antara kami komandan-komandan pasukanku menolak menggunakan cara di luar kebiasaan.

Mereka tetap mau memapak serangan langsung dengan berhadap-hadapan ….

“Hah.” Aku, yang kebagian menghalau ujung sayap kanan musuh dari tepi paling kiri barisan Kompi Pelopor Caupa Wen, seharian ini paling cuma bakal melihati milisi lain menarikan maut di tengah jerit sumbang lagi—macam kemarin. “Hoaaam …!”

“Kau kelihatan bosan, Tuan Mi.”

“Ah, Tuan Zeng.” Aku menoleh ke orang di sebelah, kemudian senyum merespons tegurannya. “Benar. Aku bosan, tempo perang di sini terlalu lambat.”

“Hah?”

“Kita ada di lembah seluas seperlima mare,” kataku yang lalu menjelaskan kenapa berpikir demikian, “di area lapang seluas empat kilometer persegi dengan tiga gunung mengelilinginya itu harusnya banyak kemungkinan yang bisa dilakukan, bukan?”

“Contohnya?” sambar orang di sebelah kiriku, tiba-tiba nimbrung.

Aku berbalik. “Kita bisa menyusupkan unit kecil memutari Gunung Wuli di sana untuk menyergap markas komando musuh dari belakang Gunung Da.”

Buat informasi, lokasi pertempuran Kauro dan Serindi berlangsung ada di sebuah lembah yang diapit oleh tiga gunung. Wuli di barat laut, Da sebelah timur, sama Nisi arah tenggara.

Kami, orang-orang Kauro, datang dari timur laut lembah sementara musuh masuk melalui barat daya.

Memikirkan bentang alam model begini. Ketimbang melakukan pertempuran terbuka bak sekarang, jujur aku lebih senang menggunakan tiga gunung tadi untuk mengatur jebakan atau menyergap musuh lewat serangan fajar. Atau, bila mau langkah cepat, kirim pembunuh sembari melakukan taktik tarik-ulur.

“Kau bicara macam ahli strategi, Tuan Mi.”

Tentu saja! Begini-begini diriku bekas Bura Kelima Panji Beruang dari Bravaria. Mengatur siasat perang sudah kudapan harianku, tahu. Huh! Sekarang saja aku cuma milisi pejalan kaki ….

“Apa salahnya memikirkan rencana?” timpalku lantas menunjuk musuh di seberang, “kita dan mereka sama-sama gak suka pertempuran jangka panjang ….”

***

“Unit Tupa Lian Ning!” pekik Caupa Wen, melintas ke muka barisanku. “Bergerak ke tenggara, bersiap ‘tuk menyergap musuh di Gunung Nisi!”

“Unit Tupa Lian Ning?” gumam orang sebelahku sebelum ia tiba-tiba teriak, “itu kita—”

“Benar!” sahut prajurit lain, “Upa, kita harus ke tenggara.”

“Semua, majuuu ….”

Menyergap musuh di Gunung Nisi?

Aku tidak bisa membaca ke mana arah strategi komandan pasukanku sendiri.

Sebagian sayap kiri kami tengah menghadang serbuan sayap kanan lawan di depan sana, pun pasukan utama dan sayap kanan di sisi lain medan pertempuran.

Semua sedang menghadapi situasi krisis.

Di situasi genting begitu, kenapa Caupa Wen malah menyuruh unit pertama kompinya menunggui musuh di Gunung Nisi—ini Serindi mengirim pasukan penyergap ke belakang kami atau bagaimana?

“Tuan Mi, kau kelihatan bingung.”

“Ya. Aku sangat bingung. Pertempuran masih berlangsung sengit dan saudara-saudara kita lagi pasang badan menghadapi orang-orang Serindi, tapi kita malah disuruh memutar ke belakang gunung di ujung gelanggang tanpa tujuan jelas.”

“Bukannya kita mau menyergap musuh, ya?”

Musuh dari mana?

Mata perakku bisa menangkap aura makhluk hidup hingga bermil-mil jauhnya. Jika benar akan ada musuh di sana, seharusnya seberang gunung yang kami tuju sekarang sedang sesak oleh hawa keberadaan manusia.

Nyatanya, tidak sama sekali.

Kalaupun ini langkah preventif, masih ‘sangat’ terlalu dini.

Dan benar-benar tidak efektif ….

“Jika benar ahli strategi yang mengatur pengerahan ke Gunung Nisi, dia sangat bo—”

“Jaga ucapanmu, Prajurit Mi!” potong upa reguku, Upa Mouli. “Kita hanya serdadu, tidak boleh mengkritik perintah langsung dari atasan!”

“Baik!” timpalku lalu menantangnya, “tapi bila terbukti kerugian kita nanti lebih berat daripada musuh atau dua hari kemarin, aku ingin Anda dengan semua orang meminta siapa pun ahli strategi yang ‘lah mengusulkan pengerahan sekarang mundur dari jabatannya—kalian dengaaar?!”

“Baik—”

“Baik ….”

Bukan cuma lebih berat, kami kalah telak hari itu dan terpaksa mundur seperempat mare atau sekitar setengah li lebih sedikit masuk ke wilayah Kauro. Tidak berhenti di sana, kedua bura selanjutnya terus digiring mundur oleh lawan selama lima hari tanpa jeda hingga sisa seperlima mare dari Gerbang Utara Kauro sementara musuh berhasil merebut empat kota kecil sampai titik tersebut.

Alhasil, juga sesuai janji, orang-orang di reguku selalu meneriaki ahli strategi dari depan kemah komando tiap malam sehabis pertempuran selesai agar dirinya mau mengundurkan diri setelah permohonan kami di tanggal sebelas kemarin tidak ia gubris sama sekali.

Hari berikutnya, kekalahan berlanjut. Dua puluh sekian ribu pria yang pernah teramat semangat memapak orang-orang Serindi pada awal musim semi ini, kini hanya tersisa tujuh perduapuluhnya.

‘Sembilan ribu sekian ratus orang.’ Dalam hati aku terkekeh waktu dipanggil menghadap bersama sisa anggota Regu Dua Peleton Tupa Yang Yi. “Bukan diriku mau menghindar,” kataku pada Caupa Wen tatkala dirinya berhenti keras kepala dan mau menerima masukan, “tapi jumlah musuh yang tiga kali pasukan kita akan sulit dihadapi jika Anda kukuh mau melawan mereka dari atas tembok kota.

Pertama, musuh bisa membagi kekuatan untuk menyerang dari empat arah sekaligus. Kedua, jumlah tentara mereka ketika itu masih dua kali kita.

Sehingga sangat amat mungkin sekali bila penyerangan selanjutnya akan berlangsung siang dan malam ….”

***

Setelah tiga hari, mimpi buruk tersebut pun terjadi.

Tembok kota jebol. Lima belas ribu tentara Serindi merangsek hingga Istana Bate Kauro dan menjarah setiap rumah yang mereka lewati serta membantai siapa-siapa pahlawan nan berani menghadang.

Hari itu, tanggal 21 Bulan Pertama.

Menjadi titik terendah bagi orang-orang Kauro selama sejarah mereka.

Pilu, tangis, dan berbagai luapan sendu berceceran hingga ke lekuk-lekuk jalan dengan selokan. Menyuarakan lirih dalam sunyi usai merah membara tumpah lalu merembes ke luar tembok kota ….

“Tangkap merekaaa!”

Sialnya, neraka tadi tak lekas berhenti.

Meski telah menang, orang-orang Serindi tidak puas.

Mereka kembali mengatur barisan di pintu-pintu keluar segera, hendak menyebar untuk menyembelih kota-kota terdekat dan meminum darah-darah perawan segar lain di sana.

***

“Huh.”

Satu bulan.

Aku baru bisa bernapas lega usai membawa keluarga dan orang-orang desa mengungsi ke utara bersama para penyintas tragedi tadi setelah sebulan penuh menjauhi Ibu Kota.

Melintasi banyak negara, kini kami telah mencapai batas paling luar dari tanah Eldhera yang selama milenium terakhir belum pernah lagi dihuni oleh manusia.

“Semua!” pekikku yang kala itu cekak pinggang di hadapan sungai terbesar di benua serta sudah ada sejak era Chloria, tempat kenanganku sewaktu mempelajari seri Pukulan Naga dengan rahasia Seni Jari Pandora. “Kita sampai di Kubang Naga ….”

***

Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!