10 - Sehari Sebelum Pertempuran
“Hei kau!”
Aku celingak-celinguk, memastikan bila tidak ada orang lain di sekitar, kemudian menunjuk muka sendiri.
“Iya, kau yang lagi duduk dengan kapak perang di sana!” panggil si orang di kejauhan, mempertegas bahwa ia memang betul-betul merujukku. “Kemari sebentar ….”
Musim Semi 221 Shirena.
Perang melawan Serindi pada akhirnya tidak bisa dihindari. Dua puluh ribu pria Kauro berkumpul menjawab seruan bate mereka lantas berbaris di perbatasan dalam naungan dua bendera ungu bertuliskan Guon dan Sung.
Mereka, dua puluh ribu pria berzirah seadanya ini, lalu mendirikan kemah sepanjang padang rumput di antara tiga gunung penanda wilayah dua negara. Saling berhadap-hadapan dengan kemah penantangnya ….
“Kau memanggilku?”
“Ya. Kau dari unit mana?”
“Aku. Unit Caupa Wen, Kompi Pasukan Pelopor Pertama, Peleton Empat Regu Dua.”
“Di mana upamu?”
Aku menggeleng ditanya olehnya, tidak tahu di mana upa reguku pas jam makan siang tersebut.
“Ini.” Ia selanjutnya mengasongkan sebuah gulungan. “Perintah dari Yoram Gazi untuk semua caupa, berikan ke caupa unitmu ….”
Gak banyak cakap, orang tadi pun pergi selesai menitipkan benda di tanganku.
“Aneh,” gumamku saat dirinya berlalu dan sebelum mendadak tersadar akan sesuatu yang tidak beres, “kenapa gak dia kasih langsung ke—tunggu dulu!”
Caupa atau kepala kompi ada di sekitaran kemah komando sepanjang hari, buat apa yoram alias kepala batalion mengirim perintah berupa gulungan lewat prajurit?
“Aneh!” kataku yang lekas memanggil Mera, kuda merah hasil menjarah Sabit Pedang tahun lalu, kemudian menyusul orang tadi. Huiiit!
***
Tiga bulan sebelumnya.
“Jaga diri baik-baik ….” Ketika Berlian dan Soran melepasku sebelum berangkat ke kancah perang. “Kalau menyerah ternyata bisa menyelamatkan nyawa, jangan memaksa bertarung—”
“Kau tahu suamimu luar dalam, ‘kan, Sayang …?” selaku, mengusap pipi istriku lantas mengecup keningnya sebelum lanjut pamitan. “Sudah, jangan cemas. Jikapun kalah perang, yang penting jangan sampai mati.”
“Bagus. Aku dan Soran menunggu kepulanganmu, ingat itu!”
Aku tersenyum terus melihat Soran sebelahnya.
“Kau gak mau bilang apa-apa pada ayahmu ini, Sa—”
“Pergi sana!” ujar si gadis dengan nada ketus, “biar kau cepat pulang.”
“Hahaha ….”
Waktu itu diriku tidak berpikir bila perang melawan Serindi akan terjeda hingga semusim penuh.
Tiga bulan aku mendekam di kemah tentara sembari menghitung hari kapan pulang dan melihat bagaimana orang-orang zaman ini mengatur siasat, tapi baru sekarang kulihat mereka benar-benar bergerak.
Mengirim penyusup ke kemah lawan ….
“Aku lupa tanya, kau dari unit mana?”
“Aku?”
Orang yang sesaat lalu menyerahkan gulungan padaku menunjuk muka sendiri. Ia mendekat ke kudaku pelan-pelan kemudian ….
“Kau gak perlu tahu!” Dirinya melompat sambil mengayunkan pisau menyasar wajahku. “Apa?!”
Namun, jangan panggil aku veteran kalau serangan kejut macam itu gak bisa kutangkap.
“Kau cukup hebat, harus kuakui,” kataku sambil melirik posisi pinggang dan kakinya, “menggunakan gagang kapakku sebagai pijakan untuk mengirim tikaman mematikan ke kepala.”
“Ho. Itu belum seberapa—hiya!”
Gerakan keduanya juga cukup mengagumkan.
“Memutar tubuh dan mengirim tendangan ganda sembari melepaskan diri, kau seorang pembunuh terlatih.”
“Buat apa memuji gerakan yang dengan mudah bisa kau tangkis, hah?” sergahnya yang lalu pasang kuda-kuda rapat, “kenapa tidak turun dan kita bertarung secara jantan—”
“Benar juga!” sambarku lekas lompat dari punggung Mera, “ayo berta—”
“Bodoooh!” pekiknya yang kala itu langsung melesat ‘tuk menyasar leherku, “mati—apa?!”
Sayang, ia kembali mundur usai gerakannya kuhindari dengan membungkuk dan kubalas lewat ayunan gagang kapak yang kutumpukan di pundak macam tuas pengungkit.
“Kenapa malah mundur?” tanyaku usai menepuk Mera agar kembali, “bukankah kita akan bertarung?”
“Aku baru sadar,” akunya yang kini pasang kuda-kuda rendah, “kuda merah legendaris, kemampuan bela diri sanggup menagkis teknik-teknik pembunuh kelas satu dan membuat diriku mundur dua kali. Kau bukan dari infanteri pelopor, ‘kan?”
“Aku?” Kutunjuk muka sendiri. “Terus menurutmu dari mana, hah?”
“Aku tidak ingin menebak, tapi kuda semahal tadi bukan milik prajurit biasa. Setidaknya dirimu harus seorang perwira menengah atau lebih tinggi lagi, ‘kan?”
Aku ingin ketawa. Meski dugaannya barusan masuk akal, faktanya diriku hanya milisi yang kena wajib militer.
“Terserah,” jawabku kemudian membuka kaki hendak menyerang, “ayo mulai sa—”
“Tunggu!” jeritnya tiba-tiba dan minta waktu, “jika dirimu betulan perwira menengah, maka aku saja takkan cukup. Biar kupanggil teman-temanku buat menghadapimu ….”
Ia meniup peluit, dan segera, beberapa orang berbaju hitam mendarat di dahan-dahan pohon mengelilingi kami. Mereka berpakaian ala-ala ninja, lengkap dengan pedang pendek dan arit berantai macam yang sering muncul di drama-drama kerajaan.
“Hem. Apa aku sudah boleh menyerang?”
“Tentu—”
Sedetik, tubuh sang pembunuh refleks mundur menghindari hunjaman kapak perangku yang lurus melewati kepalanya. Meski tangan dan kaki orang itu membeku, matanya cukup tajam menatap gagang senjataku dalam gerakan cepat tersebut—jika diputar bak tayangan lambat.
“Bagus,” gumamku lantas menekan tubuhnya ke tanah, menotok beberapa titik saraf, lalu menyumpal mulut si pembunuh agar dia jangan menggigit lidah sendiri setelahnya. “Kau mau kulaporkan ke atasan ….”
***
Setelah pembunuh tadi kuserahkan ke markas komando, seluruh kemah selanjutnya menerapkan siaga tempur dan mengetatkan penjagaan, semua orang dikumpulkan, kemudian para upa memeriksa anggota regu masing-masing pas apel sore sama sebelum masuk barak.
Masih di hari yang sama, pembawa pesan dari Ibu Kota pun tiba bersama jawaban atas laporan soal situasi garis depan sekaligus membawa perintah Bate. Kami akan menyerang Serindi besok pagi.
Hari itu, tanggal 8 Bulan Pertama 221 Shirena.
“Kontribusimu hari ini sangat besar, Prajurit Mi. Selain promosi dengan tambahan upah, kau boleh minta apa pun dariku sebagai hadiah?” Begitu ucap Caupa Wen waktu memanggilku ke tendanya. “Hari libur, semalam dengan wanita, atau senjata—katakan saja, hahaha!”
Karena besok kami akan menyerang Serindi, minta libur sama saja dengan bohong. Bermalam dengan wanita juga cuma akan jadi masalah, Berlian bisa mengamuk kalau sampai tahu. Dua hal ini bukan pilihan tepat.
Jadi, mumpung dia tadi bilang apa saja, malam tersebut kuminta tiga barang sekaligus.
Zirah, helm, sama sebilah pedang buat perlengkapanku.
“Boleh minta lebih dari satu benda, ‘kan, Caupa? Aku mau helm sama zirah baja terus pedang baru.”
“Eh?!” Ia sempat mendelik sekian detik, tetapi tetap menyetujui permintaan tersebut sebab masih dirasa cukup wajar. “Baiklah! Kau pintar memakai kesempatan,” ujarnya yang lalu menyuruh tupa peleton mengambilkan tiga barang tersebut, “Yang Yi, ambil pedang sama satu setel seragam kita buat dia ….”
Selain hal-hal di atas, hari itu aku juga mendapat kabar baik dari orang-orang Sabit Pedang.
Ayah mertuaku tidak ikut berperang di perbatasan.
Menurut surat yang kuterima, beliau sejak lama telah mengabdikan hidup sebagai pertapa ‘tuk mengajari anak-anak desa cara membaca di Sekte Mentari Gelap, sekian mil ke tenggara dari Distrik Timur Serindi.
Sehingga diriku tidak perlu cemas ataupun menahan diri pada pertempuran besok ….
***
Kasih tip buat penulis
