09 - Panggilan Militer dan Resolusi Sabit Pedang

“Paman Mi!”

“Kenapa mukamu asem begitu?”

“Kura-kura itu mengabaikanku,” aku Miki, mengadukan hewan-hewan ajaib yang kuminta ia jagakan sambil menungguku di kedai depan Kantor Muri Distrik Timur Laut. “Dia sama si naga putih terus menghindariku dan gak pernah mau kupangku, cih!”

“Mereka baik-baik saja, tuh,” balasku saat memangku kura-kura dan naga putih yang ia adukan, “kalian cuma belum akrab kali, Miki.”

Hari ini, tanggal 13 Bulan Enam, hari ketiga setelah upacara pelantikan bate baru selesai kemarin lusa.

Kauro tiba-tiba menerapkan darurat perang. Bate memanggil satu laki-laki dewasa dari tiap keluarga di seluruh penjuru ‘tuk mengikuti wajib militer serta melakukan bela negara, tanpa ba-bi-bu dan hanya mengandalkan bewara berisi tenggat waktu pada selembar kertas bercap resmi.

Katanya, jika seorang lelaki dari satu keluarga tidak melaporkan kesediaan diri sampai tanggal lima belas nanti padahal di keluarga tersebut terbukti tak ada kendala berarti maka mereka akan ditetapkan sebagai pengkhianat negara serta langsung dijatuhi hukuman mati.

“Kejam, bukan?”

“Apanya yang kejam, Paman?”

“Panggilan Bate,” jelasku, melirik Miki sekilas terus lanjut bermain bersama kura-kura dan naga putih sambil menunggui si bocah selesai makan. “Di rumahku cuma ada satu laki-laki, tapi aku tetap harus pergi berperang melawan Serindi. Bukankah itu kejam?”

“Jauh lebih kejam dirimu.”

“Eh?!” Sontak kepalaku menoleh. “Aku kejam bagaimana?”

“Kau jenis alkemis yang bisa memoles pusaka dan sanggup menjarah sekte besar sendirian, tapi dirimu malah tinggal di pinggiran kota terus gak peduli sama perkembangan dunia—”

“Hahaha!” Aku terbahak dengar omongannya.

Dia benar, sikapku yang acuh tak acuh pada sekitar memang lebih kejam ketimbang seruan nasionalisme Bate. Apalagi diriku termasuk jenis oportunis serta manipulatif, kadang sangat pragmatis juga serakah.

Namun, aku masih tahu aturan. “Kalau kau bilang begitu, Bocah, kita berdua ini sama.”

“Kenapa?”

“Kau itu murid pertapa, tapi bukannya fokus semedi dirimu malah berkeliaran di sekitar rumahku terus diam-diam mengintip putriku tiap kali ada kesempatan, ‘kan?”

“Ehehe.” Miki pasang muka polos. “Paman, pas kau pergi nanti aku akan menjaga rumahmu, tenang saja.”

“Palamu ….”

***

“Paman, sebenarnya kita mau ke mana?”

Miki kelihatan cemas, sejak keluar dari kota dan sampai ke kaki Gunung Empat Naga ia berkali-kali celingak-celinguk di punggung kuda. Seakan takut pada sesuatu.

“Kita mau ke Sabit Pedang,” jawabku yang kemudian memberitahu anak itu sebuah rahasia, “sebelum pergi ke peperangan aku butuh ….”

Jujur, diriku aslinya malas memenuhi panggilan Bate buat bela negara ini.

Namun, Berlian bilang Serindi adalah kampung halaman ayahnya dan jika aku punya kesempatan menemukan beliau ia berjanji akan memberiku hadiah saat pulang nanti. Kalian mengerti, ‘kan?

Sayangnya, bila perang kadung pecah kemudian tanpa sengaja ayah mertuaku terbunuh sebelum aku berhasil menemukan dirinya tawaran tadi otomatis hangus dan janji hadiah istriku takkan berlaku lagi.

“Jadi, aku kemari buat menukar harta sekte menyebalkan itu sama satu bantuan kecil.”

“Paman Mi, aku paham dengan kaliber mereka keberhasilan rencanamu ini meningkat sampai seratus persen, tapi bukankah kita masih ….”

“Hubunganku sama mereka buruk gegara kejadian kemarin maksudmu?” Kutebak kekhawatiran Miki saat itu. “Hahaha, tenang saja.”

Menjarah harta Sabit Pedang cuma timbal balik atas kelakuan murid angkuh mereka, jika orang-orang sekte yang katanya terpandang ini ternyata berpikiran sempit dan pendendam maka aku tinggal datang ke tetangga ‘dekat’ mereka. Mudah, bukan?

Lagi pula, barang yang akan kujadikan alat tawar adalah benda paling diinginkan pak tua kemarin.

Pil Puncak Enam Kelopak ….

***

“Kita sampai—”

“Berhenti, siapa kali—”

“Bajingaaan!” pekik suara menggelegar kemarin, memapakku sama Miki yang ketika itu baru saja tiba di depan Gerbang Sekte Sabit Pedang. “Kau berani datang ke sekteku lagi, haaah?!”

Miki, seketika langsung menarik mantelku lalu sembunyi di baliknya.

Dan segera, begitu sang leluhur sekte muncul, murid-murid Sabit Pedang juga ikut keluar mengelilingi kami.

Aku bak sebutir gula pasir di tengah-tengah pusaran semut ….

“Mau apa lagi kau kemari, hah?”

“Hallo.” Kulambaikan tangan pada si kakek. “Aku mau menukar benda ini ….”

Kukeluarkan barang yang mau kujadikan alat tawar.

“Pil tingkat tinggi,” jelasku, “untuk membantumu menerobos ke ranah cincin lapis enam. Jika sebutir belum bisa membuat kita bicara dengan tenang, bagaimana kalau dua …, tiga …, empat—aku punya lebih dari selusin di sini, Pak Tua.”

Kutepuki tungku di karapaks kura-kuraku.

“Hem.” Si kakek mengalihkan pandangan. “Apa kau sedang—”

“Rumput sama benda pusaka di gudang sektemu sudah pada berjamur dan berkarat,” selaku lantas memulai negosiasi, “sengaja kuambil mereka biar bisa kalian gunakan, Pak Tua. Jika niat baik itu disalahpahami, berarti penilaianku pada sekte ini salah.”

“Kau?!” Ia menunjukku, tetapi pas lihat pil-pil di tanganku muka kesalnya langsung melemah. “Hah …, tidak ada makan siang gratis di dunia ini, ‘kan?”

“Benar.” Segera kuutarakan keinginanku. “Aku mau kalian melakukan sesuatu ….”

Selanjutnya.

Usai kejadian hari itu, si leluhur bersama murid-murid Sekte Sabit Pedang pun melakukan pelatihan tertutup selama enam bulan. Tak ada kegiatan di luar padepokan pada kurun waktu tersebut, kecuali apa-apa yang ‘lah kami sepakati.

Mereka bahkan sampai menutup gerbang serta menarik diri dari dunia luar.

Dalam rentang waktu tersebut pula, persiapan perang Kauro melawan Serindi semakin matang.

Hingga pada puncaknya ada sekitar dua puluh ribu pria tangguh yang berjalan bersamaku menuju arah selatan atas perintah bate di bawah komando dua orang bura atau panglima perang utama ….

***

Ketika mendiskusikan sisa harta Sekte Sabit Pedang bersama ketua dan para tetua mereka ….

“Soal senjata dan hewan-hewan ka—”

“Anggap saja itu upah pekerjaanku!” potongku lalu mengeluarkan semua pil mana yang telah kusuling selama seminggu ini, “segini harusnya lebih dari sekadar cukup buat mengganti kerugian kalian, ‘kan?”

Bukan hanya anggota sekte, Miki dengan kura-kura di pangkuanku pun ikutan melongo waktu pil-pil ajaib tadi melayang memenuhi langit-langit Aula Sekte Sabit Pedang.

“Ke-ketua!”

“I-ini?”

“Terus terang aku merasa bersalah sudah menjarah gudang harta kalian,” akuku yang buru-buru pasang muka sedih sebelum lanjut bela diri dan berdalih, “tapi pas lihat rumput herba sama barang-barang di sini hampir rusak aku langsung bertekad, meski bayaranku sangat mahal herba-herba kalian gak boleh sampai sia-sia.

Cuma, sebagai alkemis aku juga punya kebanggaan yang gak bisa ditawar.

Karena itu jugalah, setelah menghitung rincian biaya kuputuskan buat mengambil seluruh pusaka di gudang dan menangkap hewan-hewan di sini sebagai ganti rugi. Meski diriku seharusnya minta upah tambahan, tapi karena ini merupakan niat baikku—benda-benda rusak sama hewan-hewan tadi sudah cukup.”

“Ka-kami mengerti, Tetua.”

Walau sempat melongo dan tampak ragu, pada akhirnya Ketua Sekte Sabit Pedang pun tetap merelakan hewan beserta pusaka-pusaka mereka sebagai ganti upah penyulingan pil-pil tersebut.

Ia paham, bila seluruh pil tadi kuuangkan harta mereka takkan cukup ‘tuk membelinya. Seandainyapun dirinya menolak lantas minta semua dikembalikan, sumber daya manusia mumpuni sekte ini juga belum tentu mampu mengolah pil-pil itu seperti diriku melakukannya.

Sehingga simpulan pada kunjungan keduaku ke sana ialah permusuhan kami berakhir lalu hewan-hewan ajaib beserta pusaka-pusaka Sabit Pedang mereka relakan ….

***

Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!