04 - Kauro

“Pagi, Sayang.”

“Ah!” Kuusap pipi Berlian lembut, merespons pelukan sapanya pagi itu. “Pagi, Sayang.”

“Kau kelihatan serius. Lagi lihat apa, sih?”

“Lihat bocah di sana, Sayang …,” kataku, tersenyum menunjuk Miki usai mengecup Berlian dan menarikkan kursi buatnya duduk. “Dia bolak-balik depan rumah kita. Membantu Nenek Zhuo, mendorongkan gerobak Pak Tua Bong, menyeberangkan Lisa, terus sekarang membawakan belanjaan Bibi Teng.”

Istriku tersenyum, manis sekali.

“Eh, ya, Sayang! Sekarang tanggal dua. Lusa upacara pelantikan bate baru, ‘kan?”

“Eh, iya ….” Spontan mataku terbelalak, cepat-cepat kulahap sisa camilan di meja lalu bergegas ke dalam buat siap-siap. “Orang Kantor Muri mau kemari hari ini—aku lupa.”

Hari itu, tanggal 2 Bulan Enam.

Aku tak punya rencana sebetulnya. Niatku setelah sarapan dan menghabiskan kue-kue kering tadi kalau bukan jaga stan depan rumah adalah duduk santai seharian—gak ada bedanya.

Namun, pas ingat orang Kantor Muri mau kemari semuanya berubah. Diriku kadung sepakat buat menemani mereka memilih hadiah ‘tuk dipersembahkan pada pelantikan bate baru Kauro minggu lalu.

“Terima kasih, Sayang—bagaimana penampilanku?”

Aku putar badan di depan istriku, menunjukkan penampilan sehabis mandi dan merapikan diri.

“Hem.” Berlian melipat tangan, memutari diriku sekali, kemudian menggeleng. “Gak ada masalah sama jubah atau celana kodokmu, tapi mantel biru ini agak ….”

Aku tidak mengerti arti gerakan kepala juga lirikannya.

“Sayang, jangan main kode. Katakan saja apa yang kurang dari penampilanku biar suami tercintamu ini bisa langsung ganti—”

“Bukan kurang. Mantelmu kebagusan buat ukuran alkemis pengangguran, Sayang. Terlalu mewah ….”

Seketika, diriku langsung lesu dengar komentar Berlian.

Bukan kurang, tapi kemewahan. Apa maksudnya itu?

Bukankah harusnya ia senang tatkala sang suami bakal tampil elegan dan bisa dibanggakan depan orang-orang. Kenapa istriku malah terkesan ingin diriku dipandang ‘sederhana dan seadanya’ begini. Cek!

‘Mantel ini kudapat waktu sekolah di Stellar,’ batinku yang lantas memikirkan solusi, “hem—aha! Aku tahu.”

Selanjutnya, kubuka daftar penyimpanan Chloe terus memilih satu mantel paling biasa di Kantong Hati Naga.

“Bagaimana sekarang?”

“Sebentar.” Istriku kembali memutari diriku, menyentuh mantel yang kupakai, terus berdecak sambil geleng kepala sekali—lagi. “Bahan mantelmu masih kebagusan. Apa di kantung ajaibmu gak ada mantel katun?”

“Yang ini dari katun, Sayang.”

“Maksudku yang lebih merakyat ….”

Aku tidak tahu harus menanggapinya bagaimana.

Mantel katun yang kupakai sekarang sudah yang paling biasa di kantung hati nagaku. Selain mantel biru Stellar tadi, sisanya Jalak Hitam sama Sisik Naga, keduanya barang kelas unik dengan mistis.

Malah lebih parah, bukan?

“Sayang, aku gak punya kalau standarmu di bawah ini.”

“Huh ….” Berlian hela napas terus mendekat. “Kurasa kita gak punya pilihan,” ujarnya yang lantas merapikan simpul ikat mantel tersebut, “Sayang, mantel ‘biasa’-mu ini kaya akan mana. Sekali lirik penyihir sama orang-orang dunia persilatan bakal langsung berebut buat menawarnya, tahu.”

‘Mau bagaimana, semua mantelku begitu,’ gumamku dalam hati sembari tersenyum melihati wajah istriku ….

***

“Tuan Mi.”

Sesuai rencana, siangnya kereta milik orang Kantor Muri berhenti di depan stan dagangku.

“Tuan Hong. Kukira kalian baru akan kemari nanti sore atau pas selesai makan siang paling cepat.”

“Kita mau memilih hadiah ‘tuk Bate, Tuan Mi. Aku sebenarnya sudah ingin ke sini sejak pagi, tapi Tera tiba-tiba memanggil semua pembantu—ah, ya! Kita bicaranya sambil jalan saja ….”

Pelantikan Bate bukan acara sakral.

Sekadar formalitas depan khalayak atau massa. Toh, jabatan raja kota tersebut sebetulnya sudah diberikan sejak beberapa bulan—bahkan musim hingga tahun—sebelum bate sebelumnya lengser.

Mirip karyawan magang.

Usai penunjukan oleh pewaris, calon bate baru akan terus mendampingi penunjuknya serta pelan-pelan mulai mengambil alih tugas-tugas yang nanti akan ia emban.

Jadi acara besok lusa cuma—kalian tahu sendirilah ….

“Tuan Mi, mari kuperkenalkan. Ini Tuan Lu. Tuan Lu, Tuan Mi.”

“Aku belum menyapa Anda tadi, salam.”

“Salam, Tuan Mi.”

Di kereta tersebut, selain diriku dengan Pembantu Tingkat Tiga Hong juga ada seorang lagi. Orang yang baru dikenalkan padaku, pria bermuka lesu dan kumis melengkung bak busur panah.

“Beliau ini seorang kolektor, andalan Tera dan Muri untuk menakar hadiah persembahan nanti.”

“Oh!” Aku langsung pasang muka semringah. “Kalau begitu Anda bintang utama di perjalanan kita,” ucapku yang lekas bergeser buat menunjukkan simpananku, Anggur Musim Gugur Sepuluh Tahun. “Tuan Lu, aku punya barang bagus. Kuharap Anda mau melihatnya ….

Ini dia, anggur terlama di kantungku.

Rencananya mau kujual di pelelangan sambil kita mencari hadiah. Silakan.”

Mata sang kolektor tidak menunjukkan reaksi pas botol berumur seribu milenium itu kutunjukkan, tapi begitu membuka tutup dan mencium aroma anggur di dalamnya ia langsung berubah cemerlang.

“Tu-tuan Mi—”

“Eit!” Sigap kurampas dan kututup kembali botol di tangannya lalu kusimpan ke lengan baju. “Benda ini harta biasa di kantongku, jadi jangan bicara buruk tentangnya.”

“Ahaha.” Tuan Lu kelihatan lega. “Kalau saja kita tidak menemukan barang bagus di kota, anggur Anda akan menjadi hadiah terbaik dari Distrik Timur Laut—bahkan distrik lain takkan menandinginya, Tuan Mi.”

“Tuan Lu, aku senang dengar kata-katamu ini. Ahaha.”

Kurasa seorang kolektor tetaplah kolektor.

Dirinya paham cara ‘menjaga’ nilai barang tanpa menjelekkan atau melebihkannya.

Dengan bilang bila kami tidak menemukan barang untuk pelantikan nanti, secara tidak langsung ia meletakkan anggurku di posisi terbaik sambil menjaganya agar jangan sampai dijadikan pilihan. Cerdik.

“Tuan Mi, Tuan Lu.” Pembantu Hong kini pasang muka bingung di depanku dan sang kolektor. “Aku belum mengerti. Sebenarnya anggur apa tadi, kenapa Anda berdua bisa sesenang itu?”

“Tuan Mi.”

“Ini adalah benda kenang-kenangan keluargaku,” akuku, mengeluarkan anggur tadi sekali lagi. “Jangan tanya caraku mendapatkannya, yang jelas dia sudah di kantungku selama ini, itu saja.

Soal kenapa Tuan Lu senang ….”

Kulirik pria berkumis sebelahku.

“Ah, soal itu … jika Anda tidak keberatan, Tuan Mi?”

Ia mengangguk, yang spontan kubalas anggukan juga.

“Anggur di tangan Anda punya nilai artefak.” Begitu ujarnya sebelum membual. “Kalau Anda percaya padaku, Tuan Hong, anggur ini adalah hadiah terbaik sepanjang sejarah—bukan cuma di pelantikan Bate nanti, tetapi selama Kauro berdiri sampai saat ini.”

“Be-benarkah?”

Menangkap belalakan Pembantu Hong.

Kolektor Lu kemudian semakin melambungkan anggur seribu milenium tersebut, bahkan hingga membuat si pejabat kelas bawah nekat curi-curi pandang ke lengan jubahku selama kami memilih barang di pasar dengan rumah-rumah lelang ternama Kauro.

Aku sampai ketawa geli gegara dirinya yang sering kedapatan gagal fokus hari itu ….

***

Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!