05 - Hie Soran

“Bagaimana hari ini, Sayang?”

Aku tersenyum disambut istriku di depan pintu, lekas kukecup kening lalu lanjut merangkulnya ‘tuk kembali ke dalam rumah. “Melelahkan,” ujarku, “kau gak bakal percaya kalau—eh, ya!”

Gak lupa. Aku menoleh, berbalik, kemudian memanggil gadis yang mengikutiku agar ikut masuk.

“Soran! Kemari, Nak. Temui ibumu ….”

Biar kalian dan Berlian gak bingung sama kemunculan gadis itu yang spektakuler—maksudku dirinya muncul dari gelembung macam pintu teleportasi di langit terus melayang dengan jejak kerlap-kerlip hingga mendarat depan pintu rumahku.

Buatku, sebagai tokoh utama yang jarang muncul dengan tambahan efek spesial ini, tadi sudah luar biasa.

Balik ke pokok bahasan. Biar kujelaskan kenapa gadis itu bisa tiba-tiba mengikutiku ….

“Tuan Hong memintaku ‘tuk memilihkan benda dengan kadar mana paling kental, ‘kan?” Sebelumnya, ketika berhasil menemukan hadiah untuk acara pelantikan Bate Kauro. “Dari tiga ini, bonsai sebelah kiri punya aura paling pekat daripada batu atau telur grifin sebelahnya.”

“Kurasa maksud Tuan Hong telur di tengah itu grifin, Tuan Mi. Kalau berhasil menetas, bukankah dia akan menjadi tunggangan termewah di benua?”

“Kalau pertimbangannya begitu, kenapa masih bingung?”

Aku dan Kolektor Lu kompak melirik Pembantu Hong.

“Hehe.” Namun, orang yang mengundangku bersama sang kolektor untuk agenda hari ini itu hanya terkekeh sambil garuk kepala. “Apa kita tidak bisa mengambil ketiganya saja?”

“Aku dan Tuan Mi paham buat pohon hias dengan telur satu ini, tapi batu itu?”

“Benda ini ….”

Kala itu, tepat saat Pembantu Hong mengelus permukaan giok pahat hijau berbentuk kodok mangap sebelum mengambilnya dari nampan di tangan pelayan rumah lelang tersebut, diriku pun sontak merasakan aura dingin yang menggigit hingga ke tulang dari arah belakang.

Aura yang sangat kukenal.

Hawa haus darah milik Soran.

Yang, waktu kuperiksa, tenyata (ia) lagi menekan orang-orang—atau, mungkin begal—apes di hadapannya.

Tampaknya mereka salah sasaran dan mengira gadis ini sebagai anak hilang yang kebetulan melintas ….

“Begitu,” pungkasku, selesai menceritakan pertemuanku sama Soran pada Berlian. “Kalau boleh, aku i—”

“Tentu saja boleh!” Istriku pindah duduk ke dekat si gadis lantas merangkulnya. “Putrimu juga adalah putriku, Sayang. Soran, tinggal sama mama di sini, ya?”

Soran melihatku.

“Pilihan di tanganmu,” kataku, mengembalikan putusan akhir padanya. “Aku takkan memaksa kalau kau mau pulang ke Istana Naga, Soran.”

“Apa kau akan ikut?”

Aku menggeleng.

“Apa karena wanita ini?” tanyanya lagi, menunjuk Berlian. “Dia gak sekuat Letta, juga bukan pemegang Hati Benua. Kenapa mau tinggal di sini?”

“Hah.” Aku hela napas dengar omongan Soran. “Dengar. Kau tahu diriku belum bisa pulang, tabir pembatas juga mencegahku menyeberang ke benua lain. Jadi ….”

Kusenyumi istriku sebelahnya.

“Aku akan tinggal di sini.”

***

“Sayang ….”

Malamnya, ketika Berlian menempelkan punggung ke dadaku.

“Istri tuamu orang yang hebat, ya?”

“Kenapa?” Aku tahu ia kepikiran omongan Soran tadi sore, jadi kutarik tubuhnya supaya kami lebih lekat dalam dekapan selimut tersebut. “Yang sudah pergi takkan kembali, Sayang. Jika kau takut—”

“Bukan. Cuma penasaran,” akunya, “kalian tinggal di istana dan istrimu dibilang kuat—”

“Kau juga istriku,” selaku, membenamkan wajah ke tengkuk Berlian lalu menghiburnya. “Dan, ya … Sayang, ‘dirimu memang sungguh benar-benar sangat kuat.’”

“Iiih, Sa—”

Kutahan dirinya agar jangan berbalik.

“Diam,” ujarku lantas mendekapnya, “aku mau memelukmu ….”

Sekian detik kemudian.

“Aku senang kau cemburu,” bisikku, “sebab itu artinya kau mencintaiku, ‘kan?”

“Siapa bilang,” balas istriku pelan, “aku gak cemburu. Kenapa harus cemburu, dari semua pelamar cuma diriku yang berhasil jadi istrimu, ‘kan?

Itu sudah membuktikan kalau daya tarikku tiada tara.

Jika bukan karena itu, mana mungkin kau sama Miki rela mengejarku pas lari du—”

“Benar.” Kueratkan dekapanku. “Sayang, kau memang sangat menarik.”

Benar-benar menarik ….

***

“Paman Mi—”

Kulirik Miki sekilas, ia yang tiba-tiba mematung sebelah stan dagangku, lalu kutoleh arah yang dirinya tatap.

“Oh.” Tahu apa yang anak itu perhatikan, aku pun balik merebah di kursi terus melipat tangan dan tumpang kaki ke pinggiran meja. “Awas matamu loncat,” kataku, menggodanya.

Miki mendengkus, kemudian mendekat dan berdiri sebelahku. “Siapa i—”

“Putriku,” sambarku, tersenyum penuh bangga. “Cantik, ‘kan?”

“Ah, yang benar?”

“Terserah kalau gak percaya ….”

Hari berikutnya, tanggal 3 Bulan Enam, kehidupanku di Distrik Timur Laut Kauro berlanjut.

Sehabis mengatur akomodasi untuk Soran tadi pagi, diriku kini menunggui stan dagang seperti biasa.

Menjajakan Pil Embun Rumput Bulan sama ramuan-ramuan penambah mana lain sampai ….

“Kau gak pernah cerita punya anak gadis, Paman Mi.” Anak ini datang dan menggangguku. “Siapa namanya?”

“Berhenti merayuku, Miki.” Aku menjuling. “Kau pasang senyum semanis gula sambil memijat pundak, atau bahkan membawakanku seporsi ikan bakar Paman Liang pun jangan harap bisa mendekati putriku.”

“Ayolah, Paman Mi. Kau tahu bagaimana diriku, ‘kan?” rayunya, mengiklankan diri macam cara ia tiga tahun lalu mencomblangkanku dengan Berlian. “Cuma kenalan masa gak boleh?”

“Hem.” Kurentang tanganku lantas bangkit. “Jagakan stanku, Bocah. Kita lihat sebaik apa dirimu sampai aku kembali nanti,” godaku yang lanjut berbisik ke kupingnya, “sebentar lagi jam makan siang, kalau beruntung anakku di sana bakal membawakanmu makan si—”

“Siap, Bos!” sambar Miki, langsung semringah pas dengar Soran mau membawakan makanan. “Percaya saja padaku. Akan kujaga mejamu sepenuh hati.”

“Kau.” Kukeplak pelan kepalanya pakai kipas terus putar badan. “Jika dia tanya, bilang aku ke Kantor Muri.”

***

Melanjutkan agenda kemarin, hari ini diriku bersama Pembantu Hong juga Kolektur Lu hendak menata tiga hadiah yang telah kami pilih di bagian sebelumnya. Kodok, telur, dengan bonsai.

Besok acara pelantikan bate baru. Hadiah-hadiah itu akan diarak memutari alun-alun bersama iringan penari dan tabuhan alat musik sebelum terakhir diperkenalkan pada si empunya hajat, jadi hari ini kami mau menghias juga menata mereka semua—tiga hadiah tadi termasuk penampil-penampil pengiringnya.

Di Kantor Muri ….

“Kalian belum pada mulai?”

Semua orang menoleh.

“Ah, Tuan Mi!” Kemudian pria berpangkat pembantu kelas tiga, Tuan Hong, buru-buru memapakku. “Anda datang tepat waktu,” ujarnya yang lantas merangkul ‘tuk membawaku menjumpai atasan, “tolong bantu aku menerangkan hadiah-hadiah kita pada Tera. Mari ….”

Seketika, diriku langsung menangkap masalah pada orang itu.

Dirinya kesulitan buat menjelaskan soal kodok mangap kemarin.

Pilihanku dan Kolektor Lu sangat jelas, membantu semedi sama bakal tunggangan calon raja kota kami. Sedang kodok hijau pilihan si pembantu, kami benar-benar tidak tahu kegunaannya buat apa—kecuali pajangan.

“Aku sependapat dengan Kolektor Lu, Tera. Kita perlu melakukan sedikit ‘penyesuaian’ pada kodok ini bila tetap ingin menyertakannya dalam daftar hadiah utama untuk acara besok.”

Jadi, aku pun tidak bisa membantu.

Selain menyarankan sedikit modifikasi sebelum dia dikemas bersama hadiah lain atau menurunkan peringkat si kodok dari jajaran utama, apa lagi yang bisa kukatakan.

Atau, barang kali kalian punya ide?

***

Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!