03 - Awal Baru

“Bagaimana, Semua?”

Sah! Sorak-sorai bergaung di Kantor Muri Distrik Kauro, merayakan hari bahagiaku bersama Berlian yang kini telah merelakan dirinya sebagai Nyonya Mi. Istriku.

Musim Semi 218 Shirena. Aku tahu. Pada bagian sebelum ini kubilang Berlian lompat dari bangku tempatnya duduk, tersipu, kemudian lari dari halaman rumahku tanpa bilang apa-apa, ‘kan?

Ya, dia memang melakukannya kemarin.

Namun, hal tersebut ia lakukan secara spontan gegara kaget.

Sesuatu menyentuh kakinya hari itu ….

“Jangkrik?”

“Benar.” Begitulah ujar Bibi Hie waktu mengunjungiku keesokan paginya. “Putriku bilang seekor jangkrik loncat ke kakinya pas kalian ngobrol kemarin. Berlian bukan menolakmu, tapi dirinya juga malu sebab kaulah orang pertama yang dia suka. Hahaha ….”

Tentu aku tidak langsung percaya.

Bagaimanapun Bibi Hie memang berniat menjodohkan kami, jadi bisa saja ia mengarang cerita supaya diriku dan Berlian mencoba kesempatan kedua. Gak salah, ‘kan?

Makanya, kuintip kegiatan Keluarga Hie selama satu bulan buat memastikan. Hingga diriku yakin bila Berlian benar-benar calon istri idaman ….

“Apa kubilang. Kalian cocok, bukan?”

“Mama.”

“Duh, Putriku! Kau sekarang seorang istri, jangan ngintil di lenganku. Sana ke suamimu ….”

Awalnya, diriku berniat untuk menutup hati dan hanya menunggu tabir batas benua tersibak di Kauro. Telah kususun kegiatan sepadat mungkin sejak bulan pertama datang kemari.

Sebagai alkemis nganggur, aku melamar ke banyak sekte dan serikat serta rutin mendemonstrasikan keahlian tiap minggu dengan membagikan Pil Bubuk Aroma Mimpi di depan rumah. Namun, siapa sangka bila hidup di kota ini ternyata lebih sulit.

Meski kemampuanku terbukti jempolan, tidak satu pun dari lamaran-lamaran tadi diterima.

“Hah.” Alhasil hari-hari di sini selanjutnya kuisi dengan mengurus herba di halaman, berbagi makanan sama tetangga, terus bolak-balik keluar masuk pasar buat berdagang. “Saudara, kau dari sekte bela diri, ‘kan—coba lihat pil-pilku sebentar ….”

Hingga tibalah hari ini. Saat di mana pikiranku berubah kemudian diriku menikah ….

***

“Mana suamimu?”

“Aku di sini, Bu.”

“Kemarilah, Nak ….”

Hari-hariku berlanjut.

Setahun setelah menikah, Berlian pun hamil anak pertama. Kabar bahagia. Ibu mertuaku bahkan sampai rela pindah tempat menginap demi menunggui si calon cucu.

Berlian juga terlihat menggemaskan di pengalaman pertamanya tersebut. Ia berkali-kali menyeretku sama sang ibu ‘tuk menemani dirinya berkonsultasi ke dukun bersalin, minta berkat ke banyak tokoh, hingga mendatangi tempat-tempat yang menurut adat mereka bagus buat merumuskan nama calon bayi kami.

Mengingatkanku ke masa-masa ibu Miaw dan Yaspin dulu.

Akan tetapi, kebahagiaan tersebut berbuah pahit. Berlian terserang ‘demam’ hebat di akhir trimester pertama kehamilan hingga tidak punya pilihan selain merelakan si calon bayi.

Sejak saat itulah kondisi ibu mertuaku juga mulai turun dan tak kunjung membaik ….

“Nak. Meski putriku takkan bisa memberimu anak, cintanya padamu sangat besar. To-tolong, to—”

Musim Gugur 219 Shirena.

Ibu mertuaku menutup mata ‘tuk selamanya.

Selain pujian bagi sang putri sebelahku, aku tidak tahu permintaan apa yang hendak ia ucapkan kala itu. Berlian juga tak punya petunjuk. Jadi selesai menguburkan beliau di Pemakaman Umum Kauro, kami pun kembali ke rumah ‘tuk melanjutkan hari sebagai pasutri seperti biasa.

***

“Paman Miii!”

Kujeda kegiatanku, duduk topang dagu menunggui stan depan pagar rumah, terus melihat ke arah orang yang lagi berlari mendekatiku. Miki.

“Hoooi!” Anak itu kelihatan makin cerah. Apalagi setelah ikut upacara kedewasaan bulan lalu, dia kini benar-benar menyilaukan. “Paman Miii …, Paman—adaw!”

“Aku tepat di depan mukamu, Bocah!” sergahku, selesai mengeplak kepalanya pakai kipas. “Jangan teriak-teriak. Kupingku pekak nanti.”

“Hehe.” Miki garuk kepala. “Paman, kau jual apa hari ini?”

“Masih sama—”

“Sayang, ini makan siang—eh, kau di sini, Miki?”

“Ehehe. Berlian, kau masak apa?” Si bocah buru-buru pindah ke dekat istriku, mengintip panci yang ia bawa lalu menciuminya sambil jalan. “Baunya harum. Apa ini?”

“Cuma irisan seledri …,” timpalku, membantu membawakan dan menaruh panci dari tangan Berlian ke meja kemudian membiarkan istriku duduk di kursiku. “Aku belum belanja minggu ini.”

“Beras kita juga sudah mau habis, Sayang,” tambah sang Nyonya Mi.

Yang, spontan kubelokkan buat menggoda Miki. “Dengar sendiri, ‘kan?”

“Aku gak datang buat dengar keluh kesah suami istri,” balasnya, cemberut meraih kursi lantas duduk pinggir stan tersebut. “Guru menyuruhku mencari pengalaman di luar, Paman.”

“Terus?”

Anak itu menggelayut ke pinggiran meja.

“Ya, aku bingung. Beliau tidak mengizinkanku buat hanya berkeliaran di Kauro, katanya pengalamanku harus diasah di tempat lain—kalian tahu sendiri aku baru dianggap dewasa sebulan ini, ‘kan …, Paman Mi, Berlian?!”

Aku dan istriku mematung, sekejap kami berdua tidak tahu harus merespons dirinya bagaimana. Ia yang tiba-tiba bangkit lalu merengek itu membuatku dengan Berlian kaget.

“Bagaimana caraku mencari pengalaman di luar Kauro, keluarga saja aku gak punya ….”

Oh. Aku paham. Miki kesal bukan karena tugas dari sang guru, melainkan hal yang turut menyertai perintah tersebut serta mustahil ia penuhi dengan kondisinya sekarang.

***

“Paman Mi, Berlian, kenapa aku harus menemani kalian?”

Aku menoleh ke istriku, tersenyum, lekas balik konsentrasi mengarahkan laju gerobak.

“Dengar, Miki.” Sedang Berlian, ia menjeda kegiatan lalu menyediakan diri ‘tuk menasihati remaja yang kami ajak belanja sore ini. “Menjadi dewasa bukan soal bebas melakukan apa saja, kau tahu. Akan tetapi, juga belajar menerima tangung jawab.”

Dia taruh benang beserta jarum renda yang sebelumnya ia genggam ke pangkuanku lantas mengambil sesuatu dari kantung di belakang kursi kemudi.

“Ini …, gurumu bukan mau kau luntang-lantung di jalan, paham?”

“Kenapa kau memberiku kertas sama pena, Berlian?” tanya Miki, terdengar agak tidak sabar.

Namun, istriku dengan lembut memberitahunya. “Aku sengaja minta suamiku mengajakmu belanja biar kau belajar prihatin. Dirimu harus tahu bila orang dewasa perlu memperhatikan apa-apa yang mereka lakukan.”

“Pendeknya, kau mau kusuruh rodi. Hahaha ….”

Musim Panas 220 Shirena.

Tergerak oleh curhatan Miki siang tadi, rencananya sore ini aku bakal menunjukkan kehidupan orang dewasa bersama istriku padanya dengan mengajak anak itu berbelanja kebutuhan sambil memperlihatkan apa-apa saja bentuk tanggung jawab seseorang yang telah dianggap matang secara usia.

Begitulah kira-kira ….

“Kau paham, ‘kan?”

Miki garuk kepala, melihatku dan Berlian bergantian, kemudian menggeleng.

“Paman Mi, diriku cuma paham aku harus punya banyak uang biar bisa beli barang-barang yang kumau. Kalau soal menolong orang lain termasuk membantu diri sendiri, kurasa kita boleh berdebat.”

“Hahaha.” Aku dan Berlian terhibur dengar tanggapannya. “Apa gurumu gak bilang soal istilah simbiosis?”

“Sim …, sim apa barusan?”

“Simbiosis,” ulangku lantas memberi analogi, “begini, kau lihat pelayan yang mengantar minuman ke meja pelanggan di sana … dia membantu pemilik kedai terus dapat uang dari hasil kerjanya, ‘kan?”

“Apa hubungannya sama simbio tadi?

“Simbiosis itu hubung antara dua individu atau organisme di satu lingkungan serupa. Jika kau belum mengerti, pelayan sama si pemilik kedai di sana sedang melakukannya.”

Miki kembali menoleh ke kedai seberang warung tempat kami duduk.

“Mereka satu sama lain saling membutuhkan. Pemilik kedai butuh pegawai dan si pelayan butuh pekerjaan.”

“Manusia enggak bisa hidup sendiri, Miki,” tambah istriku, mengisikan air ke gelasku. “Biar mudah. Mustahil sekte bukit karangmu bertahan pas diserbu Sekte Angin Utara kalau Sekte Bukit Awan gak membantu kalian tahun lalu, ‘kan?”

“Mereka tiap musim menerima upeti dari paman guruku, wajar bila—”

“Itu maksud suamiku!” pungkas Berlian, mengakhiri obrolan di warung tersebut dengan seberkas senyum dan wajah berseri cerah. Sekaligus meninggalkan kesan di diriku tentang dirinya yang ternyata ….

Aku sukar mengatakannya.

***

Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!