02 - Seratus Milenium Kemudian
“Selamat datang! Ada yang bisa saya bantu ….”
Akhir Bulan Lima 215 Shirena.
Seratus milenium lalu aku kehilangan seorang istri. Sangat kucintai. Sialnya, momen terakhir kami seratus ribu tahun silam itu masih terasa seperti baru kualami kemarin.
Padahal kalau mau jujur perpisahan kami seharusnya terjadi ratusan milenium lebih awal ….
“Kudengar serikat ini mencari seorang alkemis,” kataku, menaruh empat butir Pil Bubuk Aroma Mimpi di meja resepsionis. “Aku mau mendaftar.”
“Ah, sebentar!” Perempuan bersanggul sekepal tangan dengan kaca mata di depanku kelihatan senang, ia lekas memberiku selembar kertas. “Silakan isi data Anda dulu ….”
Istana Naga tidak menenangkan hatiku, suasana di sana yang terus mengingatkan pada Letta kian hari terasa semakin menyakitkan. Juga, seratus milenium ini mengajariku bila melepaskan bukanlah kelemahan.
Ia merupakan proses yang memang harus dilalui semua manusia hidup tanpa terkecuali—termasuk oleh diriku.
Perpisahan dengan istri-istriku, Chloe, Cherry, Ping, Hana, Plum, Mi Hu, Xin-Xin, Doll, bahkan Mona lalu Letta, merupakan buah dari pertemuan manis dan kebersamaan kami sebelumnya.
Mungkin terasa berat, tapi hidup memang selalu begitu.
Ada datang kemudian pergi ….
“Kenapa Anda melamun, Tuan Alkemis?”
Aku tersenyum ditegur si resepsionis.
“Ta-tahun berapa sekarang?” tanyaku, meletakkan pena samping kertas tadi. “Aku, aku belum bisa baca.”
Seketika, hening pun muncul di antara kami.
Aku dan sang resepsionis hanya silih tatap dengan raut kaku selama sekian detik sebelum akhirnya ia menjerit tak percaya sejadi-jadinya.
Apaaa?!
***
Kemarin malam.
“Kau sungguh mau pergi?”
Aku menoleh, kemudian berbalik dan tersenyum ke arah Soran.
“Kenapa?” tanyanya, melihatiku dari dermaga Gerbang Barat Istana Naga. “Apa ikan-ikanku gak enak?”
“Bukan,” kataku, mendekat lalu mengusap pipi anak itu sebelum lanjut pamit. “Aku ingin pergi bukan gegara ikan-ikan di sini ataupun masakanmu, Soran.”
“Terus kenapa?”
“Aku pergi buat mencari putriku ….”
Diriku tidak bilang apa-apa di depan Soran.
Tidak tentang Letta, tidak juga soal perasaan hampa yang muncul tiba-tiba setelah sekian lama.
Malam itu aku hanya tersenyum dan melambai sesudah bilang mau mencari putriku ke Benua Baru ….
“Paman, kenapa kau kayak orang capek?”
Kutoleh anak yang baru menegurku, tersenyum, lalu mengambil dua potong roti dari meja di depanku terus kuberikan satu kepadanya.
“Aku baru di kota ini,” kataku, “kau tahu di mana Kantor Muri?”
“Kantor Muri ada di ujung jalan sana, Paman.”
“Anak baik.” Kuusap kepalanya kemudian membayar roti-roti tadi. “Paman, dua rotimu barusan?”
“Satunya setengah perunggu ….”
Tanggal 30 Bulan Lima. Sekarang aku ada di bekas wilayah Mong Ni, ujung paling timur benua yang sekaligus merupakan daratan terdekat dengan Benua Baru pada masa Chloria.
“Apa nama kota ini tadi?”
“Kauro.”
“Kau bilang Saintess lahir di sini, ‘kan, Bocah?”
“Namaku Miki, Paman. Bukan bocah … benar. Nona Saintess dulunya pendekar wanita terhebat di Kauro, bersama rekannya beliau dijuluki Duo Phoenix Biru dari Timur—ah, kita sampai!”
Aku tersenyum, mengambil sekeping perak, lalu kuberikan padanya sebagai hadiah karena telah mengantarku.
“Selamat siang, ada yang bisa diban—”
“Siang, aku mau buat pengenal Kauro sama sekalian beli lahan kalau ada ….” Lugas, kusebutkan keperluanku di Kantor Muri tersebut lekas membayar sesuai tagihan yang mereka minta. “Sama, boleh kuminta seseorang ‘tuk mengantarku ke ….”
Selain membuat pengenal baru, aku pun minta agar diberikan semacam pendamping untuk menunjukkanku tempat-tempat penting di kota. Sembari menunggu tabir batas benua tersibak, rencanaku ialah sekalian belajar budaya Eldhera zaman ini. Sadar diri, diriku telah absen dari peradaban selama lebih dari seribu milenium.
Juga, aku tidak bisa langsung terbang ke benua lain bila penyintas sekarang belum mengalahkan raksasa penjaga benua di Sarang Naca Putih.
Jadi mau tidak mau aku harus menunggu ….
***
“Paman Miii!”
Aku menoleh, berbalik, kemudian melambai pada Miki. Ia mendekat bersama seorang gadis yang tampak agak pemalu, mungkin teman atau kakak perempuannya—entah.
“Paman Mi, lihat siapa yang kubawa ke tempatmu!”
“Siapa ini, Miki?” tanyaku, tersenyum menyapa wanita yang baru ia tuntun hingga gerbang rumahku tersebut. “Maaf, Nona. Apa kau sau—”
“Dia Berlian, putri Bibi Hie yang tinggal di ujung jalan sana. Paman ….” Si bocah tetiba menarik diriku buat melipir. “Paman, ayah bilang Bibi Hie ingin menjodohkan Berlian denganmu.”
“Apa?!” Aku mendelik, ini sudah yang kedelapan sejak diriku pindah kemari. “Kau gak salah, Miki …?”
Seminggu setelah mengundang tetangga pas syukuran rumah ini dua tahun lalu, seorang juru comblang—agak sohor dan punya banyak pengalaman—mendatangiku. Keluarga pertama yang menawarkan putrinya kala itu adalah Shiria. Golongan menengah dari kelas pedagang serta cukup ‘akrab’ dengan pejabat lokal.
Aku tidak tahu apa yang mereka lihat padaku, tapi menurut si perantara gadis dari keluarga tersebut merupakan kandidat 3M: matang, mandiri, dan menawan.
Yang, secara kebetulan kuterjemahkan maksudnya sebagai dewasa jika gak mau bilang tua, independen bila menghindari kata susah diatur, sama rada narsis kalau bukan pesolek.
Jadi, tanpa mengurangi rasa hormat serta tanpa sedikit pun niat ‘tuk mengagulkan diri, kukatakan bahwa diriku pernah menikah dan sudah punya anak.
Namun, memang dasarnya hilang satu tumbuh seribu. Setelah itu selesai datang lagi suruhan keluarga-keluarga lain membawa propsal serupa. Sampai ke si Miki hari ini ….
“Percaya padaku, Paman. Berlian gadis baik dan dari keluarga baik-baik, ayahnya seorang—”
“Cukup!” Kuangkat tangan sebahu dengar promosi anak itu kemudian hela napas terus tanya, “Berlian, tolong jawab jujur. Kau mau padaku karena keinginan sendiri, atau cuma nurut kata Ibu?”
“Paman, Ber—”
Kulirik Miki segera, memintanya agar jangan bicara dulu.
“Jika dirimu keberatan denganku, katakan saja. Aku takkan memaksa ….”
Lama aku dan Miki membujuk gadis di hadapan kami supaya mau bersuara. Namun, dirinya sama sekali tidak begeming bahkan setelah kutanyai pertanyaan serupa sebanyak tiga kali.
Ia hanya tertunduk sambil menghindari tatapan langsung.
Benar-benar bikin gemas ….
“Berlian, Paman Mi bukan orang jahat, dan aku juga bukan orang yang cepuk. Kau tahu sendiri, ‘kan?”
“Begini saja,” kataku yang hendak mengusulkan sebuah cara, “bagaimana kalau kau gak usah bilang apa-apa, tapi jawab lewat gerakan. Kalau setuju denganku diam di sini, dan kalau tidak dirimu boleh langsung pulang.”
Berlian mengangguk ragu.
“Bagus.” Aku senang, si gadis ada kemajuan dibanding sekian saat yang telah kami lewati dalam ketidakjelasan di halaman rumah ini. “Kita mulai, ya, boleh?”
Kulirik Miki sekilas sebelum lanjut menanyai gadis di hadapan kami.
“Berlian, apa kau mau menikah denganku?”
Sedetik, dua detik, tiga detik, tidak ada tanda-tanda bahwa gadis yang baru saja kutanya akan beranjak. Diriku hampir yakin bila dia seratus persen menyetujuiku sampai ….
“Kutanya sekali lagi, ya, Berlian. Kalau kau setuju …, kalau kau setuju, aku akan menikahi—”
Tanpa ba-bi-bu, tatkala diriku telah pasrah bila si gadis betulan mau menikah denganku, Berlian lompat dari kursi tempatnya duduk, tersipu sesaat, kemudian berlari tanpa sepatah kata pun terucap.
Meninggalkanku yang mematung sepersekian detik bersama Miki sebelum tersadar lantas mengejarnya.
“Berliaaan …!”
***
Kasih tip buat penulis
