Bab 7 Kanal Kecil dan Roda Bara
“Kita sampai ….”
Hem. Bagaimana aku mengatakan ini?
Roda Bara, yang kukira tongkrongan superramai dengan mobil juga motor-motor hasil modifikasi, ternyata sebuah gerbang pinggir kota. Segitu saja. Benar-benar gerbang antara deretan pagar sekian belas kaki berkawat duri pembelah barisan pohon di kanan kiriku sama sisi seberang sana.
Bahkan setelah kupakai Mata Perak buat mengintip ke dalam, penampakan yang kudapat sesuai kemasan luar.
“Kabin kayu sama seorang penghuni …,” gumamku sebelum menggeser si Jago ke dekat Lame dan pria yang tengah ia ajak bicara, “Bung Lame, candaanmu ini sungguh tidak lucu.”
“Eh, ada apa, Bung Mi?”
“Kukira dirimu baik hati,” kataku lekas turun dari mobil dan menenteng Kelabang Merah, kapak perangku, menghampiri mereka. “Mau menemaniku melihat Roda Bara—”
“Wow, wow, wow!”
Ia sigap menjaga jarak sembari mengacungkan tangan, sedang pria yang tadi bicara dengannya segera menarik pistol dari pinggang kemudian menodongkannya ke arahku. Isyarat agar diriku jangan buru-buru mendekat.
“Bung Mi, Bung Mi, apa barusan diriku tidak sengaja menyinggungmukah?”
“Tuan, saya tidak tahu ada apa, tapi tolong letakkan kapak dari bahu Anda itu di tanah.”
“Huh.” Aku mendengkus. “Tidak ada yang bisa memerintahku di medan perang.”
“Wow, Bung Mi—Bung Miii … Bung Mi.” Lame semakin menjaga jarak. “Sepertinya kita ada salah paham di sini. Tolong beritahu kami dulu, kenapa kau bisa sampai semarah ini, oke?”
“Tuan, tolong tenang.”
“Kukira kesepakatanmu dan diriku adalah datang ke Roda Bara buat menonton jagoan-jagoan yang kaubilang sebelum kita sepakat pergi bersama berlaga. Benar begitu, ‘kan, Bung Lame?”
“Be-benar, benar! Itu Benar. Kau dan aku akan melihat penampilan L-269 milik Lucy di arena!”
“Lantas kenapa kau malah membawaku ke hutan pinggir kota begini, hah?!”
Lame dan orang sebelahnya sontak silih lirik sebelum keduanya kompak tertawa berbarengan.
“Hahaha … Bung Mi—”
Kutodongkan Kelabang Merah pas Lame mau mendekat, membuat ia segera mundur kembali terus berbalik arah dan sembunyi di bahu orang yang sedari tadi menodongiku pistol.
“Tuan, mungkin Anda salah paham. Roda Bara, me-memang di sini.”
Aku celingak-celinguk, sekali lagi memeriksa sekeliling pakai Mata Perak.
“Bohong!” bentakku kemudian, mendekat selangkah dengan kapak perang siap diayun. “Cuma ada kabin tua di depan, dan tidak ada orang lagi selain pak tua yang sekarang sedang membakar daging apalah di sana. Jangan coba-coba menipuku, Kaliaaan—”
“Tungguuu!” teriak Lame, ia melompat dan mengacungkan tangan menahanku. “Tunggu, Bung Mi, tunggu … kau salah paham. Salah paham, oke?”
“Apanya yang salah?!”
“Roda Bara, di atas sanaaa ….”
Pria kekar kita kembali berteriak, kali ini sembari memejamkan mata dan menunjuk langit di kejauhan.
Menunjukkanku penampakan Roda Bara. Yang, kalian tahu, ternyata menggantung terbalik di atas hutan dan kabin kayu tua di bawahnya.
Hem ….
***
Sebelumnya, di perjalanan menuju lokasi Roda Bara.
“Bung Mi?!”
“Apa?!”
“Aku tahu ini kali pertama kita pergi bersama!” ujar Lame sebelah sedanku, agak teriak biar gak kalah kencang sama deru motor tunggangannya. “Nanti di Roda Bara kau ikut rombonganku saja. Bagaimana?!”
“Ya, ya, aturlah, Bung. Ini benar-benar pengalaman pertamaku!”
“Bagus. Percayakan semua padaku. Hahaha …!”
Kukira waktu ia bilang percayakan semua padanya tadi berarti aku sudah tak perlu salah paham macam barusan.
“Bung Mi?”
Tahunya ….
“Apa?”
“Boleh turunkan kapakmu sekarang?” tanya pria kekar kita, menoleh ke kiri sambil tertawa garing. “Kita akan menemui penjaga portal masuk, gak enak kalau kapak besar—”
“Buktikan dulu kita benar-benar akan naik ke sana,” bantahku lalu memutar gagang Kelabang Merah, tanda agar Lame jangan banyak bicara lagi. “Atau tunjukkan saja omonganmu tadi bukan dusta, Bung.”
“Haha ….” Ia tertawa lesu. “Kurasa aku tidak bisa menawar—”
Lame berhenti, kami kini tiba di halaman kabin kayu yang kuintip pakai Mata Perak dari luar hutan.
“Ho. Kau telat lagi, Bung Lame. L-269 kesukaanmu sudah menang dua babak di a—hem … kau bawa teman rupanya. Mari masuk, tidak bagus bicara di luar.”
Kalian tahu, adegan selanjutnya rada bikin geli.
Pria tua dengan jubah hitam di depan sana berbalik, seakan ia mau membukakan pintu kabin buat kami. Tanpa ada gestur atau gerakan apa pun yang mecurigakan. Namun, pas langkah kedua dari api unggun tempat si pak tua tadi memanggang makan malam, dia tiba-tiba saja melompat ke kegelapan sekitar lalu muncul sebelahku dengan arit mengayun menyasar leher. Sat—Tang!
Walaupun, ya, kalian tahu sendiri. Lempeng tipis macam itu langsung patah pas membentur kulitku ….
“Kau barusan mau apa?” tanyaku, senyum sinis melirik sang lelaki tua. “Menggarukkan leherkukah?”
Kuangkat Kelabang Merah dari bahu Lame.
Gerakan yang sontak membuat pria kekar kita menyungkur dan menutupi kepala di tanah. Huh.
“Ka-kau bukan pendudu—huek!”
“Gak usah bacot …,” gumamku setelah menendang ‘pelan’ perut si pak tua, “simpan saja bualan baumu buat memberitahuku di mana markas kalian, sayang aku kemari kalau cuma memukuli dua orang. Ya, ‘kan?”
“A-apa maksudmu?”
Wajah heran pak tua di depanku kelihatan menyebalkan, setelah sok dia mau pura-pura bingung.
“A-apa, a-apa kau, apa kau penyeberang kanal yang dikirim untuk membuat kacau di sini?” tanyanya pakai bahasa asing, bahasa yang seketika menjeda langkah dan membelalakkan mataku sekejap. “Hah …, kau, kau seorang penyeberang, hah?!”
Sekarang gantian, malah diriku yang pasang roman bingung—tambah sedikit tidak peracaya.
Bingung sebab kenapa bisa pak tua itu bicara dalam bahasa Puing Lalika yang notabene kanal lain, tidak percaya karena kutahu ini Benua Baru dan tak ada satu pun menara tiga tahun setengahku berkeliaran di sini.
Jadi bagaimana mungkin?
“Pak Tua,” balasku pakai bahasa yang sama, “siapa kau?”
“Huh.” Ia mendengkus. “Bagus, sekarang kau takut pada—akh!”
“Jawab saja pertanyaanku, Orang Tua!”
“Ba-baik …, baik …, baiiik.”
Selanjutnya kulepas ‘cekikan’ dari lehernya, kutarik kursi kayu bekas ia duduk menunggui daging bakar pakai Benang Pandora, lalu kupasang kuping sambil duduk depan si pak tua.
Menyediakan diri ‘tuk mendengarkan penjelasan atas kebingunganku pada saat itu.
“Sekarang ceritakan apa hubunganmu dengan Puing Lalika dan kenapa kau bisa ada di sini ….”
***
Hem.
Kalian mungkin gak akan percaya ini.
Pak tua yang lagi duduk sopan di hadapanku ternyata salah seorang cucunya John.
John, penduduk Puing Lalika yang juga merupakan teman lamaku pas dulu berkeliaran di sana. Jamia putra Jobu alias John Jr. putra pertama John. Siapa sangka.
Soal bagaimana dirinya kemari ….
“Biar kurangkum dulu. Dirimu diusir dari apartemen tempat kalian tinggal terus ambil sampingan pemandu tur ke kanal lain lalu naik jabatan jadi penjaga salah satu pangkalan kanal di sini setelah seratus tahun?”
“Be-benar.”
Aku berdecak selesai mendengarkan riwayat pak tua yang ternyata cucu teman lamaku tersebut.
“Roda Bara?”
“Ro-roda Bara …, oh, maksud Anda kanal kecil di atas sanakah?” tanya Jamia, menunjuk sambil mendongak sekali sebelum lanjut bicara. “Di-dia serupa—tower! Serupa tower, Tuan. Jembatan penghubung kanal alami. Menghubungkan Puing Lalika, Kanal Delapan Satu, dan kanal-kanal besar lain ke tempat ini.”
“Jamia, berapa lama kau bertugas di sini?”
“Se-sekarang ….” Pak tua itu mengangkat tangan dan mulai menghitung. “Tahun kelima puluhku, Tuan.”
Barusan dia bilang dirinya sempat bekerja seratus tahun di Puing Lalika sebelum dilempar kemari, bukan?
Jika cerita lima puluh tahun silam tadi benar artinya satu juta tahunku di sini sekitar dua abad Puing Lalika atau kurang, betul? Berarti selisih antara Chloria dan Mirandi kalau pakai perkiraan ini sekitar delapan puluh sampai sembilan puluh ribu tahun saja paling lama.
Hah. Akhirnya aku punya kotretan kasar soal waktu hilangku dari Eldhera ….
***
Kasih tip buat penulis
