Bab 8 Jembatan Kanal

Cukup soal kagetku pada asal-usul Jamia dan gedung-gedung pencakar langit yang menggantung terbalik di atas sana, waktunya kembali ke urusanku dengan lelaki kekar yang masih menungging di tanah ini.

“Oi. Oi …, apa dia tadi pingsan?”

“Se-sepertinya begitu, Tuan.”

“Bisa-bisanya ….” Kutoleh Jamia di sebelah. “Huh.”

Kugerakkan kepala sekali. Isyarat yang sontak disahut pakai langkah cepat serta tendangan kaki si kuncen Roda Bara ke permukaan pantat Lame. Duak!

“Aaa! Aku tidak melakukan apa-apa, tidak melakukan apa-apaaa …!”

Hem. Sebaiknya tidak usah kukatakan apa yang pria kekar kita lakukan pas bangun dari pingsan. Gak bagus—percaya padaku, kalian juga takkan mau melihat cara dia barusan terperanjat.

“Bung Mi? Pak Tua Jamia? Ka-kalian …?”

“Berhenti menunjuk-tunjukiku dan cepat bayar dua tiket buat kalian naik ke atas—mana?!” ujar Jamia, cekak setengah pinggang sambil menodong Lame dengan tangan tertengadah minta ongkos tol. “Lima neodin.”

“Apa?!” sergah pria kekar kita, seolah tak percaya pada pendengarannya. “Ke-kenapa mahal sekali—Pak Tua Jamia, seingatku Tiket Roda Bara bulan kemarin cuma satu neodin per orang ….”

Mahal? Hem.

Kesampingkan adu tawar Lame dan Jamia sebelah sana.

Kalian mungkin lupa atau boleh jadi ada yang belum tahu.

Seratus neodin Puing Lalika itu umum buat membeli segenggam batu mana biasa yang dibanderol tujuh ratus perunggu Eldhera, artinya lima neodin tadi cuma tiga puluh lima keping koin paling receh milik benua ini.

Mahal dari mananya, coba?

“Nih.” Kuberi cucunya John tadi sepuluh neodin lalu mendelik pada pria kekar kita. “Kau keterlaluan kalau masih menawar harga semurah itu, Bung Lame. Dan dia ini orang tua, jangan terlalu kasar.”

“Benar, Tuan!” dukung Jamia semangat, “kau harusnya tahu diri. Mana rasa hormatmu, hah—Anak Nakal!”

“Bu-bukan begitu!” sanggah pria kekar kita, bela diri sekalian meluruskan informasi. “Bung Mi, dirimu harus tahu satu neodin Pak Tua Jamia itu sepuluh kali neodin biasa. Lima di sini maksudnya lima ratus suth, bukan cuma lima puluh macam di pasar-pasar Roda Bara di atas sana.”

“Oh.” Seketika delikanku berpindah arah, dan sekali lagi kutoleh Jamia pakai mata sebal. “Kau ini aslinya mau merampok, hah, Bocah?”

“Hehe.” Cucu teman lamaku itu terkekeh dan garuk kepala. “Ha-hanya kebiasaan ….”

***

Ini bukan pengalaman pertamaku menyeberang ke kanal lain. Jadi saat Jamia membuka portal Roda Bara di atas sana, kulihati arloji pemberiannya sebentar lalu kulempar cip pelacak sama alat teleportasi sekali pakai itu ke belakang terus terbang menyusul Lame yang langsung terangkat ke udara begitu memakai ‘tiket masuk kanal lain’ tersebut.

Buat jaga-jaga. Kulepas penanda koordinat mantra teleportasi satu arah ke bawah sana tepat sebelum melewati selaput gelembung pembatas kanal sampai ….

[Radiasi tower tidak terdeteksi.]

Chloe memberitahuku separuh omongan Jamia di bawah—sekarang jadi di atas—sana sesaat lalu bukan hanya bualan atau omong kosong belaka, kanal kecil yang kudatangi ini ternyata betulan jembatan alami tanpa satu pun menara penghubung macam di Puing Lalika dan Tanah Merah.

Yang, secara teknis, itu juga berarti dia bisa kuakuisisi langsung tanpa perlu repot berebut dengan host lain.

“Hem.” Ketika kakiku mendarat di puncak sebuah gedung. “Bocah tadi bilang sebulan di sini satu jam di luar, terus tiap lima hari atau sepuluh menit di Benua Baru kanal kecil ini juga bakal ganti rupa sesuai bentuk kanal-kanal yang tersambung kemari, terakhir lokasi gerbang-gerbang masuknya ikut teracak pas pergantian itu.”

Ting! Chloe tanya apakah diriku perlu sesuatu.

“Ya, Chloe. Aku butuh Botol Labu Tawon.”

Jika ini benar menara kanal versi alam, maka cara kerjanya gak akan jauh beda sama menara-menara di Tanah Merah-ku sama kanal-kanalnya Chloe dulu, bukan? Paling tidak secara teori.

[Tandai koordinat kita?]

“Enggak usah. Monitor aja para tawon, Chloe. Aku di sini cuma buat ngelihat situasi doang ….”

Rencanaku sekarang, setelah datang kemari, cuma memverifikasi keterangan dari Jamia sekalian membuktikan beberapa dugaan soal kanal kecil ini.

Selebihnya paling hanya melihat-lihat ….

***

Kalau kuingat-ingat.

Dulu, dulu sekali.

Ketika kakiku benar-benar baru pertama kali menginjak pesisir Benua Baru, entah berapa milenium silam, pemandangan pertamaku juga tidak jauh beda dari apa yang menggantung terbalik di atas sana.

Ya. Kurang lebih.

Pepohonan, hijau sejauh mata memandang. Butiran pasir, putih menyamai buih selepas ombak berbalik arah serta membentang sangat panjang waktu kutoleh kanan kiri. Lalu birunya langit ….

“Hem.” Tidak. Langit Benua Baru kala itu kelabu, sangat, dan lebih baik bila jangan kukatakan sekelabu apa—pokoknya kelabu, titik. “Jadi mereka datang dari sini ….”

Pendeknya benua ini masih sangat asing dan jauh dari kata damai meski bentang alamnya menakjubkan.

Salak, dengking, dengan pekik saling sahut di kejauhan. Tanah bergetar setiap sekian langkah, disambung oleh deru serta embus debu yang mendorong tubuh berhenti bahkan kerap memaksa diriku berbalik mundur ‘tuk ambil ancang-ancang sebelum mencoba kembali.

Kesan pertama yang menantang, harus kuakui.

“Jangan harap kalian lolos dari tanganku ….”

Ah, ya! Alasanku datang ke tanah asing yang kelak dipanggil Benua Baru ini adalah mereka, makhluk-makhluk berbentuk manusia dengan tambahan sepasang tanduk putih melengkung macam padudan kebalik sama sayap kelelawar yang terbang melintasi laut timur Eldhera satu bulan sebelum diriku nekat menyeberang kemari.

Ultrus, kutahu sebutan mereka setelah Doll berbagi gelembung ingatan denganku sekian tahun kemudian—masih lumayan agak lama dari cuplikan saat ini.

Doll membutuhkan inti makhluk-makhluk tadi, mutiara biru dengan kemampuan regenerasi tubuh ajaib di kepala mereka, buat melawan penyakit aneh. Kalau kalian tanya untuk apa.

Alasan lain, kenapa dulu aku nekat menyeberang ke benua asing, yaitu penjaga tabir benua serupa Yamadi dan ular putih besar di Sarang Naca Putih. Makhluk mitos berwujud tunas bakal pohon raksasa setinggi seperlima benua itu sendiri. Buruanku.

“Haha. Aku menemukanmu—hahaha ….”

Jangan tanya, aku sendiri tak tahu kenapa diriku mendadak bernafsu ‘tuk memburu monster-monster berskala benua ini setelah menerima warisan Yamadi. Oke?

Yang jelas, dulu rasa laparku baru reda ketika mightyguardian dan Jantung Benua di benua keempat kutelan.

Itu saja. Selebihnya aku tidak punya penjelasan ….

“Huh.” Sekarang semua, hal-hal yang terjadi di masa lalu itu, malah terasa lucu. “Aku terlempar ke dunia lain pas menggali warisan Suku Kara di bawah Reruntuhan Ghori, Gurun Kesik.

Terdampar di kanal tanpa penghuni, jadi host terus menerima menara, kehilangan Doll waktu melawan wanita ular di Tanah Merah, lanjut mencari air mata dan berkat naga legenda sambil menyerbu banyak kanal.

Berlomba dengan Puing Lalika lantas kembali ke Eldhera. Sekian tahun berikutnya pergi ke Benua Baru demi mencari jejak putriku dan sekali lagi berakhir di kanal kecil yang jelas-jelas sudah dunia lain. Hahaha!”

[Anda sedang bicara sendirikah?]

Bedanya, kali ini diriku sendirian.

“Ya, Chloe. Aku ingin ketawa pas ingat bagaimana hidupku berputar ….”

***

Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!