Bab 6 Kantor Cabang

“Gimana, Bos?”

Semingguku kembali berlalu di Benua Baru. Cepat, juga monoton. Aku hampir tak merasakan apa-apa sampai mobil-mobil yang pegawaiku usulkan di perjalanan ke acara makan malam minggu lalu sudah menyambutku di halaman kantor pagi ini begitu saja.

“Hem.” Kulirik Stevan dan empat mobil sebelahnya. “Mana yang punya saya?”

“Ah! Bos yang ini ….”

Selera si kepala bagian humas dan manajer pemasaran itu boleh juga.

“Saya gak ada masalah sama tampilan luar …,” ujarku mengangguk dua kali, menyetujui sedan hitam dengan ornamen berbentuk kepala kuda pada ujung penutup mesin bak cula pada hidung badak di depanku. “Cuma, tolong ganti kepala kuda ini sama tanduk banteng atau bulan sabit.”

“Ah, si Bos gak suka kuda?”

“Bukan,” kataku sambil menoleh, “kepala kuda terlalu biasa buat saya, jadi bosen.”

“Oh!” Stevan lekas memanggil orang dealer yang ternyata juga masih di sana ‘tuk memenuhi permintaan kecil barusan, dan beruntungnya mereka punya ornamen lain buat ganti kepala kuda tadi. “Gimana, Bos?”

“Hem.” Meski bukan persis yang kumau. “Kepala ayam lagi dongak, tapi macem cula badak,” kataku sebelum kembali menoleh Stevan dan pegawai dealer di sebelah, “gak apa-apalah, daripada enggak banget.”

“Hehe. Syukur deh kalau si Bos oke.”

“Tolong buka kap mesinnya sebentar, saya mau lihat ….”

Aku bukan ahli mobil, tidak paham lebih gamblangnya, dan ini pun pengalaman keduaku dengan sedan setelah dari dealer kemarin lusa. Namun, aku takkan mengakui itu di depan semua orang. Jadi mari lanjutkan aktingku waktu memeriksa ‘pretelan’ mobil hitam tersebut sampai selesai ….

“Sekarang.”

Setelah tanda terima empat sedan kutandatangani dan semua orang kembali ke kesibukan masing-masing.

Diriku, laki-laki bercepol dengan jumsuit di dalam sedan hitam. Usai puas mengusap-usap setir, kaca, dasbor, sebagian kursi hingga ke langit-langit mobil baru. Tengah merapal mantra boneka sembari memegang Mutiara Samudra dan menggantung botol tawon di kaca dasbor. “Dengan nama-Nya Yang Menggenggam Awal, Dia Yang Tak Berawal Maupun Terawali ….”

Coba membawa keajaiban Eldhera dengan menanam inti berisi kesadaran bangsa Ultrus ke kendaraan baru.

Tid-tid! Lampu sedan itu berkedip dan klakson berbunyi dua kali begitu manik ajaibku berhasil merasuk serta melebur bersama botol tawon tadi. “Bagus! Kau kemudi kendaraan-kendaraanku—”

Spontan, kulihat kepala ayam di seberang.

“Namamu, Jago!”

Segera, tatkala si Jago mendengarku, ia sontak menderu lalu berlari mengejar tiga sedan lain yang sudah duluan melaju membawa Sisi, Stevan, juga Wiji di depan sana. Brum—Swuuush!

Sekencang yang empat rodanya bisa ….

***

Minggu lalu, di Kediaman Wali Kota Mungli.

“... saya rasa Saudara Mi paham maksud asisten pribadi saya, ini sekalian bentuk iktikad baik kota kami dalam menyambut usaha dengan perusahaan jasa angkut barang seperti milik Anda.”

Ketika satu sudut bibirku naik dengar omongan pria gendut dan asisten wanita di meja sebelah sana.

“Benar,” sambungku dari sofa ruang sebelah aula tempat acara makan malam sebelumnya dilaksanakan, tepat seberang halaman di mana tiga manajerku kini tengah berbincang bersama tamu-tamu lain. “Saya juga paham kerja sama yang Anda singgung bukan sekadar menyediakan keleluasaan gerak, tapi jaminan bahwa perusahaan sayalah satu-satunya pemonopoli usaha sejenis di Mungli, bukan?”

“Jadi Anda setuju?”

“Belum.”

“Loh, kenapa tak bersedia?” tanya si orang nomor satu se-Kota Mungli agak tersentak, lantas silih toleh singkat bersama asisten sebelahnya. “Bukankah Anda sendiri tadi bilang kerja sama kita memberikan perusahaan Anda jaminan monopoli, apanya yang kurang dari itu?”

“Bukan tidak, tapi belum. Tolong cermati jawaban saya, Pak Wali Kota.”

Pria gemuk tersebut terdiam sejenak.

“Kenapa belum?”

Jika boleh mengatakan tidak, tentu aku akan bilang tidak. Namun, kata tidak berarti boikot untuk Plester Co. di kota ini. Jadi aku tidak bisa mengatakannya blak-blakan meskipun ingin.

“Sebab cara kerja saya by researce,” alasanku pada mereka, “Plester Co. memang berniat membuka cabang di sini, kota Anda, tapi itu dua sampai tiga tahun lagi—setelah tim kami selesai memetakan demografi Mungli!”

Kujeda ia pakai telunjuk supaya jangan dulu menyela.

“Bisa dipercepat,” lanjutku lantas bergeser ke ujung sofa mendekati si wali kota, “tapi tetap butuh satu sampai setengah tahun dari rancangan dengan peta kerja pascadisetujui.”

“Apa Yotaar dan Sebek—”

“Sama,” selaku lantas merebah ke sandaran sofa, “bukankah Anda sudah menyelidiki Plester Co. diambil dari nama kelompok tunawisma di sekitaran Stuckenborstel?”

“Hem.” Si pria gendut melihat asistennya. “Saya takkan memaksa.”

“Namun, Pak Wali Kota.” Aku sadar menolak orang ini terang-terangan dampaknya masih terlalu signifikan buatku dan Plester Co. “Bila Anda percaya, bagaimana kalau kita lakukan percobaan kecil sebelum ….”

Alhasil, inti obrolan dengan si gendut pada malam itu ialah kami sepakat diriku akan mengaturkan orang-orangnya ‘tuk mendirikan pangkalan sementara di semua distrik Mungli. Menjual nama perusahaanku sebagai pemrakarsa acara, melakukan uji coba sekaligus pemetaan wilayah kerja selama setahun atau kurang, kemudian menandatangani kerja sama yang ia tawarkan setelah Plester Co. cabang Mungli-ku tadi siap tahun depan.

Hal yang entah bagaimana pokoknya harus kugagalkan sekuat tenaga, titik.

***

Kembali ke hari ini, satu minggu kemudian, saat di mana mobil pertamaku di Benua Baru melaju sekian puluh mare—ratusan kilometer pakai satuan jarak kalian—ke kota yang entah apa namanya.

Ckiiit—Brum!

“Oi, Jago. Kau membawaku ke mana ini, hah?”

Mobil baruku membunyikan klakson singkat sebagai jawaban, sepertinya dia juga tidak tahu. Hem.

“Kau ini ….” Aku lekas turun dari mobil, melihat jalanan sekitar stasuin pengisian bahan bakar umum alias pom bensin—jangan bayangkan bensin hasil sulingan minyak bumi, di sini bensinnya agak beda. Dia gerusan batu kutukan, residu batu mana yang entah bagaimana sudah berbentuk cair dan jadi bahan bakar kendaraan—sepi sekilas, lalu mengambil selang buat memberi si Jago minum. “Kuharap pom sini menerima kartu kredit.”

“Tentu saja mereka menerima kartu kredit,” sahut seseorang, pria kekar dengan wajah seorang wanita ikal di lengan kanan berotot yang sempat membuatku terkejut, dari sebelah. Rompi kulitnya keren juga. “Hai, Bung. Sedan itu model paling baru sama keluaran terbatas, ‘kan?”

Kulihat si Jago sambil senyum dengar ucapan si pria kekar bertato.

“Aku baru lihat sedan ini di jalanan Xelowa,” sambungnya, selesai isi bahan bakar motor gede lalu membayar pakai kartu kredit mencontohkanku. “Lame, tidak ada yang belum mengenalku di sekitaran sini, Raja Malam dari Xelowa Barat.”

Kuangguki jempol pria itu sembari lanjut mengisi bensin si Jago.

“Entahlah. Pegawaiku yang memilihkan mobil ini … Mi, dari Yotaar.”

“Yotaar?! Dirimu jauh-jauh kemari buat menonton Roda Bara-kah?” tanya Lame kemudian, menyempatkan diri ‘tuk mengintip interior si Jago lewat kaca-kaca gelap mobil itu sejenak. “Huh, benar-benar gelap. Takkan ada yang tahu kalau kau menyembunyikan wanita di dalam sana, Bung Mi.”

Kepalaku memiring lihat tingkahnya, ia menyisir rambut dan merapikan kerah rompi kulit samping sedanku seolah di depan cermin tanpa malu-malu.

“Baiklah, baiklah. Mobilmu, gayamu.”

Kutaruh moncong selang bensin lalu membayar pakai kartu kredit mengikuti cara si pria kekar tadi.

“Ngomong-ngomong, Bung Mi, kau betulan mau menonton Roda Bara malam ini?”

“Kuyakin aku tidak harus menjawabnya, bukan?” kataku sembari meniru postur berdirinya, menaruh lengan kiri di atap si Jago. “Apa yang harus kutahu sebelum kita berdua pergi ke sana, Bung Lame?”

Jujur aku baru dengar istilah Roda Bara saat itu. Namun, jika tebakanku benar, ini mungkin ajang balapan liar atau sejenis di kota tersebut. Dan itu kesempatanku buat melihat dunia malam Benua Baru zaman ini ….

***

Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!