Bab 11 Belanja

Konon, barang-barang pasar dunia kecil ini punya riwayat perjalanan jauh. Mereka telah melintasi setidaknya dua atau tiga kanal pemeriksa sebelum berakhir tersenyum menyapaku macam sekarang ….

“Hem.”

“Pe-pelanggan.”

Aku bangkit kemudian menoleh, pegawai stan yang menemaniku keliling dan berbelanja lekas mendekat dari arah pintu, dan barang-barangku yang menutupi setengah wajahnya tampak begitu berat ketika itu.

“Pe-pelanggan,” panggil si pegawai ‘tuk kedua kali, ia taruh belanjaan di lantai kemudian atur napas sebelum lanjut bicara. “Hah … Pelanggan, a-apa Anda tidak bawa kantung dimensi?”

Begitu tanyanya pas membuka topik, menjeda kegiatanku melihat-lihat barang dagang di toko tersebut.

“Kantung dimensi.” Ia menjelaskan. “Macam cincin ruang, ornamen giok sihir, atau sabuk mutiara ajaib buat menyimpan barang-barang Anda. Tidak punyakah?”

Entah kenapa, tapi satu sudut bibirku tiba-tiba naik mendengarkan ucapannya.

“Apa di pasar ini ada yang jual benda ajaib semacam itu?”

“Kebetulan toko kami punya koleksi kantung dimensi terbaik se-Roda Bara,” timbrung seseorang, wanita, bergaun indah, kerudung cantik meski tidak menutupi sebagian rambut, serta sangat wangi.

Si wanita mendekat diikuti dua perempuan lain dengan stelan lebih sederhana, tapi tetap rapi walau tak sewaw orang yang mereka ikuti. “Maaf barusan tiba-tiba menyela,” ujarnya yang lantas menganggukkan kepala, “saya manajer toko sederhana ini, salam.”

“Sa-lam.”

Kutoleh orang yang menemaniku, gerakan spontan pas dengar suara sang manajer toko.

Dan, kalian tahu apa?

Wajahnya tampak berseri-seri menatap si wanita seakan rasa capai yang ia tunjukkan padaku sesaat lalu tidak pernah ada, sirna begitu saja.

“Salam,” kataku lekas mengangkat semua belanjaan menghalangi mereka pakai Benang Pandora, “aku butuh tas buat menyimpan kotak-kotak hadiah ini, ada—”

“Tentu saja ada!” sambar orang sebelahku antusias, dia bahkan kelihatan lebih semangat daripada manajer sama dua asisten di seberangnya. “Anda harus tahu ini, Pelanggan, toko Nona Wagjun termasuk satu di antara empat belas toko terbaik milik pasar kami.”

“Ahaha, Anda terlalu memuji.”

“Wagjun?”

“Ah.” Si wanita mendekat merespons kebingunganku. “Di mana sopan santun saya,” ucapnya sebelum lanjut mengenalkan diri, “perkenalkan, saya Wagjun, perintis toko sederhana ini.”

“Bukanya situ tadi bilang manajer?”

“Manajer merangkap pemilik, Pelanggan,” jelas orang di sebelah.

Hem. Kalian tahu, aku sempat termenung sebelum menanggapi mereka dengan bilang, “Terserahlah, tolong tunjukkan saja barang koleksi yang Anda singgung tadi, Nona.”

Bukan ingin ketus, tapi saat itu diriku sudah mulai dilanda bosan—plus, gak tahu lagi mau ngomong apa.

Toko-toko yang kumasuki sebelum kemari, toko wanita yang barusan mengenalkan diri sebagai Wagjun dan katanya masuk jajaran empat belas terbaik ini, juga mengaku barang-barang mereka semua koleksi terbaik dan tidak ada duanya. Namun, pas kulihat toko sebelah ternyata mereka pun menjual ‘koleksi’ serupa.

Pendeknya suasana hatiku kadung rusak duluan sama cara para penjual sini berdagang, gitu.

***

“Bagaimana, Pelanggan?”

“Dua tas ini dari kulit macan kumbang sama macan tutul yang dikasih rajah terus baru dirangkap pakai mantra ruang, ‘kan …?” tanyaku merespons sang ‘pemandu’ selesai melihat-lihat ‘koleksi’ Toko Wagjun, pertanyaan buat si manajer sebetulnya. “Berapa banyak yang bisa mereka tampung?”

“Dua tas di tangan Anda merupakan edisi terbatas. Selain desain, performa mereka sudah termasuk terba—”

“Berapa?” ulangku, ingin menjaga obrolan agar jangan terlalu berbelit. “Aku hanya akan ambil satu dan desain sama bentuk luar bukan perhatianku di sini, Nona. Tolong.”

Kalian tahu, setelah rentetan basa-basi yang lumayan bertele-tele, aku akhirnya tahu kapasitas dua tas tersebut sekitar beberapa belas kilo. Terlalu mahal buat harga seratus neodin yang tetap kubayar di akhir percakapan.

“Silakan datang kembali ….”

“Itu yang kau bilang toko terbaik?” kataku pada pemandu di sebelah.

Pertanyaan yang juga dibalas tanya tambah lirik heran pas kami keluar. “Anda tidak puaskah?”

“Sangat,” akuku blak-blakan, “bukan enggak puas lagi ini, tahu. Seratus neodin memang gak mahal, tapi iklan kalian yang seolah mau memberiku barang ‘mewah’ benar-benar bikin mood rusak. Sembilan belas kilo doang mah di tempatku bukan koleksi ….”

Pemandu satu sebelahku cuma ketawa garing mendengarkan semua keluhan tersebut sampai kami berhenti di satu restoran buat makan siang. Sesuai janji, kutraktir dia makan lalu kubagi ia beberapa cenderamata sama dua ratus neodin sebelum berpisah. Sehabis itu kulanjut jalan-jalanku sendiri.

Dan, aku tidak lagi tertarik pada pasar kanal kecil ini.

Jadi diriku terbang ke penanda peta berikutnya ….

***

Di jalan, sesaat sebelum tujuan.

“Jalan—cepat jalaan!”

Kulihat rombongan orang dengan borgol dan rantai melilit leher, pergelangan tangan, serta kaki-kaki mereka tengah dicambuk agar terus berjalan meski sudah terhuyung lesu. Tidak memakai alas kaki, pakaian compang-camping, bahkan ada yang tak berbaju sama sekali.

Sedang orang-orang di samping barisan mereka kebalikannya. Duduk di punggung burung mirip burung unta dengan bulu sama cakar kaki lebih tebal dan tajam. Jubah berlapis, memakai penutup wajah yang melindungi dari debu tanah gersang di bawah sana, serta pretelan-pretelan kecil yang malas kusebut satu-satu.

Dari arah jalannya, kukira tujuanku dan mereka searah.

“Berhentiii!”

Beberapa orang sigap menyambar senjata, sebagian menghunus pedang, tombak, serta ada yang menodongkan senapan semi otomatis waktu mantel unguku turun dan melayang ke muka barisan mereka.

“Saudara di depan sana!” pekik seseorang, keluar dari barisan dan berhenti usai sekian langkah. “Orang-orang memanggilku Tzoobeno, dari kelompok pengantar budak Kota Lambere. Kenapa menghadang kami?”

Aku tidak turun dari Mantel Ungu, tapi kulempar sekotak neodin ke depan orang itu sebagai jawaban.

“Harga?!” teriakku kemudian menunjuk ‘dagangan’ mereka, “aku ingin orang-orang yang kalian bawa.”

Orang itu menoleh ke belakang, ia dan orang-orangnya bertukar tanda sebelum kembali meladeniku.

“Maaf, Saudara, tapi budak-budak ini sudah dipesan untuk arena—”

Lung—Bruk! Kulempar lagi enam kotak neodin ke depan sana.

“Suasana hatiku sedang buruk …,” kataku yang lalu mengambil Kelabang Merah, mengayunkan kapak perang satu itu ke sembarang arah hingga angin serangannya menghantam tebing ngarai sampai longsor dan menutup jalan di belakangku. “Jadi kutanya sekali lagi, berapa harga dagangan kalian?”

Namun, orang di seberang tidak gentar, ia tetap pada jawaban pertama.

“Saudara. Sekali lagi maaf, mereka sudah dipesan untuk arena Ceruk Sabung Jala. Tolong jangan mempersulit kami di Ngarai Kuning ini.”

Cek! Antara sebal sama kagum. Sebal sebab niat membeli budak-budak di sana buat kubebaskan lagi nanti tak tercapai, sedang terkagum lantaran orang di hadapanku ternyata berani memegang prinsip walau menghadapi ancaman semenakutkan tebasan Kelabang Merah.

“Bagus,” gumamku lantas membelah tanah di belakang sekali ayunan, Duash! membuka kembali jalan yang sempat tertutup. “Aku tidak suka bisnis kalian, tapi kau layak dihormati.”

Kutarik kembali kotak-kotak neodinku lalu mendekat.

“Dari kanal mana mereka ditangkap?”

“Ah! Saudara, kau salah paham,” ungkap orang yang tadi mengaku dipanggil Tzoobeno, “mereka terpidana hukuman mati dari putusan pengadilan Lambere, bukan budak hasil tangkapan atau menyerbu kanal lain. Kita tidak punya budaya semacam itu di sini, Saudara.”

“Hem.” Untung gak jadi kubeli. “Ternyata mereka penjahat. Baiklah, aku takkan mengganggu kalian kalau begitu ceritanya. Selamat tinggal ….”

Tadinya, para pengantar budak itu mau kutebas kalau ternyata mereka juga memburu serta memperjualbelikan orang-orang dari kanal lain. Namun, bila kasusnya hasil sidang di pengadilan dan orang-orang yang Tzoobeno giring tadi memang terbukti pelanggar hukum berat buat apa tanganku bertindak.

Menolong orang jahat mendapat kebebasan dari hukuman atas perbuatan jahatnya ‘tuk kembali berbuat jahat sama saja dengan membantu perbuatan jahat itu sendiri. Ya, ‘kan?

Aku tidak mau ….

***

Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!