Bab 12 Antara Hitam dan Putih
“Bung Mi!”
Kulambaikan tangan membalas lambaian lelaki kekar bertato kita di bawah sana, mendekat padanya, kemudian turun dan kembali mengenakan Mantel Ungu sebagai jubah pertapa.
“Wah! Bung Mi, aku baru tahu jubahmu ini ternyata pusaka terbang ajaib,” akunya sembari melihati mantel unguku dengan mata penuh binar, “pantas dirimu kelihatan bangga pas memakainya ke mana-mana.”
“Berhenti menatap mantelku, Bung Lame. Aku mencarimu ke mana-mana tadi, kau tahu.”
“Eh? Benarkah?”
Kujulingi dirinya tanpa suara.
“Ya, ya, ya.” Lame segera angkat tangan. “Ini juga pengalaman pertamaku mendarat di tempat berbeda dengan orang yang naik ke Roda Bara dari gerbang yang sama, Bung Mi. Padahal kita sama-sama masuk lewat gerbang di hutan Xelowa. Sudahlah, tolong jangan mendelikiku begitu.”
Kulambaikan tangan tak peduli lantas balik badan buat melihat lintasan balap di bawah kami.
“Terserah. Beri tahu saja apa yang sudah kulewatkan sejauh ini, Bung. Dan, mana jagoanmu?”
Lame ikut melihat mobil-mobil di bawah.
“Sebenarnya dirimu belum melewatkan apa-apa, Bung Mi,” ujarnya sebelahku, “kau lihat layar besar seberang kita di sana itu, ini masih di perempat babak penentuan nomor urut.”
“Belum mulai?!”
Kembali, Bung Lame angkat tangan sambil geleng menepis lemparan delik penuh tanyaku.
“Kukira seminggu ini kalian sudah punya jawara, Bung. Benar-benar …, kau tahu, mengejutkan.”
“Balapan di Roda Bara berlangsung selama dua puluh hari,” terangnya sambil menunjuk layar besar di tengah-tengah arena dengan waktu hitung mundur menyala merah, “pertandingan utama baru akan mulai empat hari lagi. Ah, ya! Bung Mi, masih belum terlambat buatmu kalau mau lihat-lihat sebelum memilih jagoan.”
Hem. Aku kadung hilang minat sebetulnya. Sejauh yang kulihat suasana di sini benar-benar cuma riuh.
Meja taruhan sesak setiap kali mobil baru melaju secepat kemampuan mesin dengan roda-roda mereka, layar-layar besar di tengah arena silih ganti menampilkan gambar pengundang tawa, dan terakhir sorakan penonton pas jagoan-jagoan di arena balap menyentuh garis finis kadang juga bikin pekak. Ampun.
Sayang di antara kemeriahan-kemeriahan tadi tak ada hal istimewa atau menarik perhatian sampai pengalaman pertamaku mengunjungi Roda Bara tersebut usai ….
***
“Bos?”
Hingga diriku kembali ke kesibukan di Kantor Plester Co. ‘keesokan’ paginya.
“Perabot-perabot kantor—”
“Mereka saya beli pas main ke Roda Bara tadi malam,” selaku tanpa menoleh dan sambil memeriksa laporan Wiji, “ah, ya! Sisi, di sebelah ada oleh-oleh. Tolong kamu bagi ke pegawai sama tetangga kita, ya?”
“Oleh-oleh?”
“Ya. Oleh-oleh. Kalian pilih sendiri mau apa, nanti setengah sisanya jadi inventaris kantor aja.”
Manajer keuanganku itu mengangguk meski raut bingung belum menghilang dari wajahnya.
“Eh, ya, Bos!” Dan, detik berikutnya ia sudah kembali ke mode profesional. Membacakan agendaku di hari itu hingga ‘tuk beberapa waktu ke depan. “Nanti sore ada meeting sama ….”
Tidak lama berselang, bahkan belum selesai laporan Sisi ia bacakan, teman-teman sesama manajernya muncul juga dengan berkas di tangan sesaat kemudian.
“Bos.”
“Ya, Stevan?”
“Wali Kota Hua-Vek setuju sama proposal kita.”
“Bos.”
“Ya, Wiji?”
“Sobet katanya punya kabar bagus buat kita.”
Kugeser pandangan ke orang di belakang si kepala bagian personalia.
“Bos.”
“Ya, Sobet?”
“Walkot Sebek bikin sayembara buat desain rancangan tata kelola limbah bawah tanah, hadiahnya kontrak kerja lima tahun sama—”
“Bentar!” Kutaruh berkas di tangan ke meja. “Coba sini.”
Karyawan pertama yang kini sudah jadi salah satu penyeliaku itu mendekat.
“Mereka bukan sudah punya tim kelola saluran air sama limbah bawah kota, ya?” tanyaku, menyambung topik soal peluang usaha yang si penyelia bawa. “Kenapa ujug-ujug bisa buka lowongan gitu?”
“Perusahaan mereka bangkrut, Bos.”
“Hah, kata siapa kamu?”
“Ada teman saya dulu karyawan mereka, Bos,” aku pegawai pertamaku, bangga. “Sekarang dia nganggur.”
“Hem.” Aku berpikir. “Kalau mereka cuma mau cari ganti, sayembara ini benar kesempatan kita … Sobet.”
“Ya, Bos?”
“Coba kontak teman-teman kamu yang dulu kerja di perusahaan pengelola saluran limbah bawah kota Sebek, rekrut mereka dulu, nanti diskusi sama Wiji soal rancangan kerja kalian terus anggaran ngobrol sama Sisi. Nah, pas semua siap baru ikut sayembara. Oke?”
“Kita mau ambil jasa kelola limbah bawah tanah juga, Bos?”
“Plester Co. memang penyedia jasa kelola limbah, ‘kan?” balasku, melihat sambil senyum pada Sisi. “Setelah sampah rumah tangga, gorong-gorong sama saluran air bawah kota juga bakal kita sentuh.”
“Bos.” Stevan angkat tangan. “Kenapa kita gak dongkrak dikit harga di proposal ke wali kota-kota lain juga?”
“Maksud kamu tambahan buat biaya jasa perawatan saluran air sama limbah bawah kota ini?”
“Ya.”
Kulihat ia dan teman-temannya sekilas sebelum membuat keputusan.
“Biar aman kita coba di Sebek dulu, deh!” pungkasku kemudian lanjut membubarkan mereka, “kalau Sobet sama tim menang sayembara terus keuntungan tahun pertama nanti bagus, kamu sama Wiji saya tunjuk buat bikin tim baru sekalian buka cabang di kota lain.”
***
Sesuai obrolan di atas, bulan berikutnya Sobet dan tim ikut sayembara di Kantor Wali Kota Sebek.
Dua bulan setelahnya mereka keluar sebagai pemenang lomba dan menandatangani kontrak kerja selama lima tahun sebagai pengelola saluran air dengan limbah bawah tanah tunggal kota tersebut. Pada minggu yang sama, Stevan bersama Wiji juga mulai membahas rancangan kerja ‘tuk kota-kota lain.
Alhasil. Setahun kemudian, berbarengan dengan tanggal peresmian kantor cabang baru, Plester Co. pun punya dua cabang usaha tambahan. Jasa kelola beserta perawatan saluran air limbah bawah tanah dan jasa antar barang yang diprakarsai oleh Wali Kota Mungli tempo hari.
Ngomong-ngomong, jangan tanya kenapa kerja sama menyebalkan yang kubilang mau kugagalkan kemarin itu tetap terjalin! Plester Co. terpaksa menandatangai kontrak sama si ‘raja dunia bawah’ lantaran enggak punya alasan buat menghindar. Jelas?
Cuma, tenang saja, praktiknya enam dari tujuh operasi penyelundupan barang ilegal yang kami lakukan selama periode pertama gagal dan menghanguskan dua pertiga dari total harta si wali kota sendiri. Mantap, ‘kan? Hihi.
“Kenapa kau cekikikan begitu, Bung Mi?”
“Kerja bagus, Bung Lame!” Kuacungi partner kerja pas rampung menyabotase pengiriman ‘paket’ Wali Kota Mungli samping mobilku jempol. “Kuharap bandar besar barang-barang haram ini akan segera ditangkap ….”
Betul. Tebakan kalian benar.
Bung Lame seorang aparat penegak hukum, tetapi punya kehidupan ganda.
Pada malam-malam tertentu ia adalah pecandu judi balap kronis, dan siangnya atau pada hari-hari biasa dirinya merupakan teladan masyarakat. Mengayomi, serta sangat bisa diandalkan. Juga jeli.
Dia mengaku sempat curiga bahwa diriku sebenarnya anggota sindikat obat-obatan terlarang serta blak-blakan bilang juga pernah diam-diam menguntitiku ke Kantor Plester Co. lantaran isu rekening gendut. Cek!
Namun, sekian bulan memata-matai tanpa hasil dirinya pun menyerah. Saat itulah kesempatanku, kalau kalian tanya kapan kerja sama kami bermula. Kurekrut ia buat bantu mengganggu operasi-operasi Wali Kota Mungli selama setahun terakhir sampai ….
“Apa kata Pak Walkot, Bos?”
Usaha ilegalnya vakum gegara kehabisan modal dan dia takut gagal di musim kampanye tahun depan.
“Plester Co. balik kerja kek biasa, Sobet. Kalian fokus sama gorong-gorong, sampah rumah tangga, terus jasa antar paket kita cuma terima order siang hari ….”
***
Kasih tip buat penulis
