Bab 10 Pribumi

“Kamu bukannya ambil misi nebang kayu buat barak Raja Sheng, ya, Mi?”

Aku menoleh, senyum, lalu balik melihati balai pertemuan koloni.

“Aku masih penasaran sama orang-orang di dalam,” akuku pada Roxina, merujuk tiga orang yang tadi pagi bikin heboh se-Kemah Tenggara. “Ternyata kita bukan penemu benua ini, tahu.”

“Hah?” Saudari seperguruanku dan Doll itu lantas duduk di bangku sebelah. “Kamu ngomongin apa, sih? Ada siapa di sana emang?”

Aku menjuling sebelum lantas kembali menoleh.

“Kau belum dengar kita baru kedatangan pribumi, ya?”

Roxina menggeleng. Jelas sekretaris serikat dagang dan pemburu merangkap juru tulis sama asisten pribadinya Guru itu takkan tahu, tumpukan berkas dengan pekerjaan di tenda logistik pelabuhan jarang memberikannya waktu buat bisa berkeliaran. Hem.

“Tadi orang-orang Kemah Tenggara ribut, ada penduduk asli sini. Tiga orang, pakai baju daun. Bawa rumput obat, umbi-umbian, terus lagi diajak ngobrol sama Guru—nah, tuh Raja Sheng baru keluar!”

“Kamu mau ke mana, Mi?”

“Kepoin Guru-lah, apa lagi?”

Cerita soal pribumi datang ke koloni hari itu menjadi trending topic.

Hampir tidak ada yang tak tahu kabar ini kecuali mereka yang kebetulan sedang kebagian kerja di luar kemah.

Bahkan hingga beberapa hari ke depan semua orang masih akan curi-curi waktu memeriksa area sekitar buat menemukan tanda kemunculan para penduduk asli tersebut lalu melaporkannya lagi ….

***

“Bagaimana, Guru?”

“Aku tidak paham omongan mereka,” ujar Guru pas kupapak di depan tenda balai pertemuan, “orang-orang itu cuma menunjuk keranjang sama mengayun-ayunkan tangan sambil teriak, kepalaku dan si Sheng pusing melihat tingkah mereka.”

“Mereka bukan mau berdagangkah?”

“Aku tidak tahu, Bocah. Kasim Uijen sedang mengambil beberapa benda buat ditawarkan pada mereka.”

“Guru.”

“Ah!” Wajah Guru langsung semringah pas bertemu Roxina. “Kebetulan dirimu di sini, Sayang. Ibu baru saja mau memanggilmu dan Doll ke kemah putri. Tetua Su bilang aula pertama padepokan kita sudah jadi, temani Ibu memeriksa ke sana, ya?”

“Murid gak di a—”

“Kau kerja sama si Sheng di hutan sama ladang-ladang kita saja sana, Bocah!”

Asem, beliau bahkan tak memberiku kesempatan bicara sampai selesai.

“Jangan mengeluh,” tambah Guru sebelum pergi, sudah merangkul Roxina dan mau melangkah. “Laki-laki itu tulang punggung keluarga, kau harus berlatih bekerja keras demi ibu dan saudara-saudarimu di sini ….”

Begitulah beliau. Tidak perlu kujelaskan lagi.

Ngomong-ngomong, hal menarik terjadi di hari itu.

Yakni ketika Doll, yang entah habis dari mana, kulihat tengah cekak pinggang mencegat ‘tamu’ koloni tadi di gerbang Kemah Tenggara tempat mereka muncul pertama kali sekian saat kemudian. Dan, kalian tahu, dirinya tampak begitu fasih bicara dalam bahasa tiga penduduk asli tersebut. Aku sampai mendelik terus kucek mata bekali-kali saking gak percayanya ….

“Doll. Kau habis bicara sama mereka?”

“Mi. Ya.”

“Kau ….” Kutunjuk putri kesayangan Guru itu separuh terbelalak, heran serta masih sukar percaya pada apa yang baru saja kulihat. “Bi-bisa bahasa mereka? Penduduk asli benua ini? Serius?”

“Mi. Sih, apa?”

Kalau kalian percaya, rasa heranku kala itu berubah jadi penasaran, dan dia mendorongku ‘tuk terus mengikuti Doll sepanjang sisa hari tersebut. Hingga keesokan paginya, kudapati lagi ibu kesayangan Miaw di masa depan ini dengan para penduduk Benua Baru itu berbincang di gerbang Kemah Tenggara macam sebelumnya.

Tentu kali ini bukan hanya diriku, tetapi banyak dari orang di Kemah Tenggara yang juga turut menyaksikan peristiwa mencengangkan itu secara langsung.

Dan dari sinilah semuanya dimulai.

Hari-hari supersibukku di Benua Baru sampai aku nekat kabur ke Eldhera dengan menyelinap dan sembunyi di kabin belakang Perahu Terbang Ekspedisi Pertama Perguruan Telapak Besi dan Kerajaan Jian Seng tatkala mereka kembali pada bulan selanjutnya ….

***

“Chloe.”

[Ya?]

“Titik yang ada bulet-bulet ijo ini pasar, ‘kan, ya?” tanyaku merujuk tanda pada peta buah gambar si pengelola kantung ajaib, hasil pindai para tawon waktu menyisir Kanal Kecil, di tangan. “Ayo ke sana ….”

Cerita soal bagaimana aku bertemu pribumi pertama kali dan Doll menjadi penerjemah kami selama di Benua Baru membuahkan banyak hal, salah satunya pelabuhan atau bandar udara alias bandara Rumah Permata Biru.

Jembatan kedua benua agar bisa saling terhubung selama ratusan tahun di kemudian hari.

Juga, tempatku terlibat konflik hingga Telapak Besi Teratai Perak berpisah dari Telapak Besi dan Perkumpulan Bela Diri Benua Baru menolak Persekutuan Bela Diri Benua Timur.

Semua orang ingin berdikari saat itu ….

“Ini tempatnya?”

“Ayo-ayo—”

“Dipilih-dipilih—”

“Kami punya batu mana kelas menengah, siapa ma—”

“Diskon sepuluh perse—”

‘Ramai sekali …,’ gumamku dalam hati, celingak-celinguk melihati deretan stan dengan penjual saling sahut dari kanan kiri jalan. “Hem.”

“Pelanggan, Pelanggan!” panggil seseorang, keluar dari stan dagang dan mencegatku. “Kulihat Anda seorang kepala biara. Kuil Anda pasti sangat megah, ya, ‘kan?”

Aku bingung harus menanggapi orang itu bagaimana.

“Kebetulan, toko kami punya barang-barang ajaib—bisa disebut pusaka! Cocok dengan jubah luar biasa Anda, Pelanggan …,” bisiknya sambil mengedipkan mata, seolah ini hanya antara kami berdua. “Kujamin harganya juga akan sangat terjangkau.”

“Haha ….” Kugaruk pipi sambil ketawa garing. “Aku bukan kepala biara, dan niatku ke sini juga cuma baru mau lihat-lihat saja.”

“Eh?!” Mata orang itu seketika terbelalak. “Tak ada yang namanya melihat-lihat saja ketika Anda sudah masuk pasar, Pelanggan. Coba beritahu pedagang sederhana ini Anda sedang cari atau butuh apa. Jangankan membeli, tempat menjual barang terbaik serta sangat jujur di sini pun kami tahu.”

Hem. Aku suka aura postifnya.

“Baiklah,” kataku semringah lantas tanya, “uang apa saja yang laku di sini?”

“Uang?” Ia sempat mendelik singkat. “Maksudnya mata uangkah?”

Kuanggukkan kepala sekali, membenarkan.

“Hem. Sebentar ….” Orang itu segera mengeluarkan lengan dan mulai menghitung. “Kalau batu-batu mana dikecualikan di sini menerima banyak: Uru, Zen dan Zenet, Neodin …, Suth, Perunggu, Ironkod, Batusisik, Perak, Emas, Platinum—ke-kenapa, Pelanggan?”

“Ta-tadi.” Kurapikan wajahku segera. “Kau bilang apa tadi?”

“Bilang ….” Ia memalingkan muka sejenak, berpikir. “Nama-nama mata uang?”

“Ya—ah!” Kutepuk pipi singkat, memaksa diri agar kembali fokus. “Dari kanal mana saja mereka?”

“Mata uang tadikah? Kanal-kanal besar seperti Delapan Satu, Dua Enam, Puing Lalika, Tanah Merah—di sini juga terima uang kanal-kanal kecil yang terafiliasi, kok. Jangan khawatir. Jika disebut tentu banyak sekali mata uang yang bisa dipakai, tetapi ….”

Orang itu mendekat, hendak berbisik.

“Mata uang yang tidak terkenal biasanya diganti batu mana, Pelanggan.”

“Oh.” Mulutku membulat. “Aku mengerti,” simpulku sambil mengangguk-anggukkan kepala, penasaranku soal uang di pasar Kanal Kecil ini terjawab.

Selanjutnya kuambil dua kotak uang. “Kebetulan aku punya banyak sekali neodin sama batusisik.”

Sengaja kubuka di depannya biar dia lihat.

“Sayang kalau tidak kubelanjakan,” kataku sambil senyum memamerkan isi kotak-kotak tadi, “berhubung ini benar-benar kali pertamaku di sini, boleh temani diriku berkeliling?”

Kuperhatikan air muka orang sebelahku sepintas.

“Tenang saja, dirimu juga akan kutraktir nan—”

“Asiaaap!”

***

Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!