Bab 1 Pengangguran

Biasanya, aku akan menulis tanggal sebagai pembuka, bulan sekian di tahun mana terus minggu atau hari keberapa pada musim apa. Setelah jelas kapan, barulah kusebut lokasi dan mulai bercerita.

Selain kebiasaan, hal itu tampak lebih rapi bagi mataku yang senang merunut.

Jadi aku suka.

Namun, sekarang agak beda.

Sebab kata yang muncul di kepalaku pas memikirkan catatan ini adalah ….

“Semangi.”

“Semangi?”

“Ya, semangi. Rumput yang katanya tanda keberuntungan kalau daunnya punya cabang empat.”

“Maksudmu semanggi ….”

Sebagai tokoh utama di banyak cerita, kuakui diriku berkembang menjadi sangat narsis.

Saking narsisnya sampai enggan ganti sudut pandang padahal gaya orang ketiga jauh lebih mudah tatkala harus menggambarkan keseluruhan peristiwa, dan aku kukuh ingin jadi jangkar cerita meski dengan segala keterbatasan yang ada di orang pertama macam sekarang.

Pokoknya sudut pandangku, titik.

“Jadi tulisannya itu semanggi, ge-nya dua?” tanyaku, memastikan nama rumput yang baru saja kuda-kuda di kandang ini kunyah. “Ge-nya betulan ada dua, bukan satu?”

“Dari dulu ge-nya itu memang dua, kok, Sayang.”

Eh, ya! Wanita yang lagi kuajak bicara ini Lian, Hie Lian, istriku. Cantik, ‘kan?

Tubuh ramping, pipi merah, kulit cerah, mata bak mutiara.

Sempurna sejauh yang bisa kubayangkan.

“Sayang, bukannya kaubilang mau mengurus masalah Serindi?”

Dan, ya, biar kalian gak bingung. Pada buku lain kota tempat tinggal kami diinvasi kerajaan tetangga hingga keluargaku mau tak mau harus mengungsi sampai kemari. Serindi, nama kerajaan tersebut.

Di sana diriku, bersama beberapa orang termasuk ayah mertua ditambah ketua dengan saudara-saudara seperguruan satu sekte, tengah merencanakan sesuatu guna membalas mereka.

Namun, kita di sini bukan ‘tuk membahas hal itu. Jadi ….

“Balas dendam sudah ditangani banyak orang.” Begitu jawabku sebelum lantas mengajak Lian pergi. “Kau gak perlu khawatir, Sayang. Ah, ya! Mumpung rumah sepi, kenapa kita enggak …?”

“Hallah! Kau. Ya, sudah—ayo siniii, tangkap aku kalau bisaaa! Ahaha ….”

***

“Ahaha, haha, haha ….”

Kejadian tadi cuplikan mimpiku akhir-akhir ini, mimpi yang ketika diriku terbangun langsung berubah jadi kenangan di Eldhera dua ratus tahun lalu.

Bukan lagi kenyataan yang menahan senyum di wajahku sekarang.

Brak!

“Mi!” Pemuda gimbal yang baru menendang pintu sebelah sana Pareta, kenalan pertama di Geng Plester sekaligus orang yang mengajakku bergabung ke kelompok tunawisma Stuckenborstel, kota pelabuhan di pinggir Benua Baru tempatku terdampar empat bulan sebelumnya, tersebut. “Cepat bangun, kita punya masalah di sini!”

Ya. Serindi sudah lama jatuh, begitu pula Pahlawan dan Penyintas Dunia Lain bersama pasukan mereka di Benua Lama. Semua luluh lantak ratusan tahun silam.

Sesuai rencana, diriku datang ke benua ini untuk mencari jejak putri sulungku tiga tahun lalu.

Namun, bak jarum di tumpukan jerami, tiga tahun itu jadi pengalaman termemilukan. Terbang ke sana kemari dengan mata perak menyala juga harapan membara, tetapi tetap tidak menemukan apa-apa pada akhirnya.

Huh, aku bahkan selalu ingin tertawa jika ingat bagaimana penumpang-penumpang kapal yang kubayar ‘tuk membawaku ke Benua Baru ini sepakat tak memberiku kesempatan mencoba sekali lagi.

Dan mereka kembali ke Eldhera tanpa diriku, tentu saja.

“Lihat, mereka dari Geng Lomen.”

Sekarang, lima bulan kemudian.

Diriku menjadi salah seorang tunawisma di Plester setelah luntang-lantung di Stuckenborstel menawarkan beberapa botol minyak cendana yang tak laku. Bukan secara harfiah. Minyak kayu cendana masih semahal dan selangka sepengetahuan kalian, tentu.

Hanya, uang di sini benar-benar ketat. Maksudku bekal yang kusiapkan sebelum berlayar kemari tidak bisa kupakai lebih daripada membayar orang-orang di kapal sampai lima bulan kemarin.

Di luar itu, biaya hidup selama di pelabuhan atau kota-kota yang kujelajahi tak bisa pakai uang Eldhera.

Pendeknya mata uang Benua Baru berbeda dari terakhir kali diriku kemari, itu saja. Titik.

“Kenapa Geng Lomen bisa ada di Yotaar?”

Aku sampai harus gabung ke kelompok tunawisma cuma biar minyak cendana di sakuku masuk penadah. Lucu memang. Tetua sekte terhormat di Eldhera sana tetiba menjadi anggota perkumpulan tunawisma di sini, mau gak mau, segampang itu dunia berputar.

“Ayo kembali, Mi. Kita kasih tahu yang lain ….”

***

“Geng!”

Ya. Gak usah kalian tebak, mereka anggota Plester. Para tunawisma nomaden, sama sepertiku.

“Geng, dengar. Kita harus pindah sekarang—sekaraaang!”

“Pareta. Apa maksudnya kita harus pindah?!”

“Ya, ya, kita baru di sini seminggu ….”

Ngomong-ngomong, Benua Baru benar-benar berubah. Secara fisik. Jika pengalaman pertamaku tempat ini begitu perawan, sangat hijau, belum ada tanda-tanda bekas tangan manusia selain suku adat, sekarang dia sudah sangat ‘lihai’ mempermainkan balik orang-orang di atas tanahnya.

Teknologi canggih, gemerlap lampu kota, jalan-jalan lebar nan sibuk, gambar bergerak dan tulisan-tulisan berjalan menyapa siapa saja lewat layar besar di banyak persimpangan, gedung-gedung tinggi mencakari langit, sampai ke taman-taman kota sesak oleh orang-orang serupa Geng Plester.

Ingar bingarnya jauh dari kesan Benua Baru di ingatanku.

“Geng, ki-kita punya masalah.”

“Bagus!” Belum sempat Pareta menjawab tepukan tanganku, kala itu masalah yang kurujuk benar-benar tiba tepat waktu. “Di sini kalian rupanya, Berandal.”

“Limbao ….” Orang-orang Geng Plester berdiri, sebagian segera merapatkan diri ke belakang yang lain bak anak ayam di ketiak induk mereka. “Ke-kenapa dia di sini?”

Ya, mereka ketakutan.

“Yo! Aku capek nyari kalian, Pecundang. Kalian pikir buat apa jambul badaiku muncul di sini, hah?”

“Limbao!” panggil salah seorang dari kelompokku, Niki, ketua geng ini. “Kukira Ben dan aku sepakat buat ngebiarin kami pergi dari Stuckenborstel setelah—”

“Itu sebelum kutahu laki-laki gendut di sana punya harta karun,” sela si bocah dengan jambul tinggi yang tadi dipanggil Limbao, menunjukku. “Oi, Gendut! Kenapa gak pindah ke Geng Lomen saja?”

“Aku?” Kutunjuk muka sendiri lalu celingak-celinguk. “Ngo-ngomong sama aku?”

“Ya. Di sini kami punya pelac*r, kasur empuk, terus kita juga gak perlu keluyuran nyari uang receh macam para gelandangan di sana. Bagaimana?”

“Jangan dengarkan dia, Mi.”

“Gak usah ikut-ikutan, Rambut Minyak!” teriak Limbao, menunjuk Pareta lalu tersenyum remeh. “Kalian sudah cukup kenyang meras sapi perah macam dia, bukan?”

Cek! Aku tahu Pareta dengan gengnya mengajakku bergabung gegara minyak cendana kemarin.

Bukan hal baru jika dibilang mereka memanfaatkanku karena itu, toh faktanya teman-temannya memang langsung minta ‘pajak anggota baru’ begitu botol-botol minyak tadi laku.

Cuma, siapa yang barusan dia panggil sapi perah?

“Dengar ….” Jadi, mari ladeni si jambul tinggi sebentar. “Limbao, ‘kan?”

Laki-laki di seberang mengangguk bangga.

“Kalau kalian kemari buat minyak cendana, mereka kujual di kota lain. Kalaupun pindah ke Lomen, kurasa kalian juga gak bakal dapat apa-apa la—”

“Alasan! Teman-teman, hajar mereka—”

“Mi, lariii ….”

Aku tahu ini bikin geli.

Kenapa mantan dewa perang yang perkasa malah lari terbirit-birit bak kucing dikejar anjing menghadapi berandal macam si jambul dkk., ya, ‘kan? Padahal mereka itu cuma keroco.

Entahlah, aku juga tidak tahu. Namun, satu hal bisa kukatakan pada kalian. Rasanya lebih hidup saat kakiku ikut berhamburan bersama banyak orang begini ….

***

Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!