Bab 2 Plester Co.

“Hah …, hah …, hah ….”

“Haaah—mereka gak ngejar kita, ‘kan?”

Aku ingin ketawa lihat Pareta dan Niki terkapar di trotoar.

“Kamu kenapa, Mi?”

“Cuma geli—Geng?!”

“Mi, aku tahu buntelan lemak bikin kamu susah napas …, cuma, kalau ngomong jangan setengah-setengah …, hah, itu bikin kesel.”

“Setuju ….”

“Gak.” Kutepuk-tepuki bahu Pareta biar dia lihat sediri. “Bukan …, tuh, tuh! Mending lihat sendiri, deh.”

“Apa?”

“Kalian lihat apa?”

“Gak tahu,” timpal Pareta, menoleh Niki lantas selonjoran. “Si Mi nyuruh lihat ke depan, tapi enggak tahu ada apa. Cuma langit cerah doang.”

Aku berdecak dengar komentar Pareta, gak percaya dia gak paham maksudku.

“Maksudnya coba lihat kota di depan. Gitu, loh, akh!”

“Kota?”

“Kota apa?”

Sekian detik berlalu sebelum dua anggota Geng Plester itu kompak geleng kepala.

“Gak ada apa-apa, tuh, Mi.”

“Hah?” Mataku membulat. “Serius kalian gak lihat apa-apa?”

“Emang apaan, sih?” tanya Niki, melihatku heran. “Gak usah main kode, bilang langsung aja kali, Mi.”

“Hah.” Aku menggeleng lantas duduk di tiang lampu jalan. “Sebulan ini kalian nyari-nyari kerjaan, ‘kan—nah, kota di depan tuh cocok buat kita.”

Masalah pertamaku selain bahasa, aksara, tempat tinggal dan makanan, juga adalah sumber pemasukan yang belum pasti. Benar-benar gak pasti. Dua bulanku mengikuti Geng Plester, mereka mengais hidup dari barang-barang sisa yang ditemukan sepanjang jalan.

Gaya hidup yang tak bisa kuikuti, jelas saja.

Di Eldhera aku bisa pergi berburu atau menukar besi-besi bekas pakai buat kulebur jadi pisau sama barang-barang penunjang keperluan lain, paling pahit diriku akan mengambil pesanan serikat kalau gak mendaftar paruh waktu sebagai pengumpul mayat sama coba pekerjaan-pekerjaan lain di Kantor Muri Distrik.

Di sini, mana bisa. Walaupun pada praktiknya diriku tetap mengandalkan minyak cendana Chloe, kantung ajaibku, sebulan bersama mereka-mereka ini.

Intinya ada masalah fundamental lain yang harus kuhadapi di Benua Baru, itu saja. Cukup.

“Hei, Mi. Orang bodoh juga tahu banyak kerjaan di tempat kumuh kayak gitu, pe-er buat pemerintah kota mereka. Kamu lagi bercanda, ya?”

“Gak. Aku enggak bercanda. Gundukan sampah di ujung jembatan ini, misal, tanda kalau pemerintah kota mereka belum punya sistem pengelolaan limbah—itu peluang kita buat punya kerjaan di sana.”

Niki dan Pareta silih lirik sebelum keduanya kompak angkat bahu, tidak paham maksud kata-kataku.

“Oke. Kamu boleh coba cari kerjaan di sana,” ujar Niki, tersenyum singkat lalu putar badan. Acuh tak acuh menanggapi ide ‘brilian’ barusan, sepertinya. “Aku masih ada kerjaan di Yotaar, jangan lupa malam ini kita ada operasi. Segitu aja, bye!”

“Hah.” Kurasa menunjukkan memang lebih mudah daripada bicara. “Pare, kamu mau ikut aku ke kota itu atau balik ke Yotaar kayak Niki?”

“A ….” Anak itu menjuling. “Aku gak ada kerjaan, sih. Ikut kamu aja, deh. Hehe.”

Bagus. Setidaknya aku gak sendiri ….

***

“Oi, Mi. Buat apa kita beli pulpen sama kertas segala?”

“Buat nyatet-lah, apa lagi?” Aku menjuling menanggapi Pareta waktu keluar dari toko ATK, ia yang banyak tanya kadang menyebalkan. “Nanti kamu tahu sendiri, kok.”

Rencananya, aku dan pemuda satu sebelahku mau mengetuk pintu rumah-rumah di sini ‘tuk menawarkan jasa ambil sampah bulanan. Tiap sore atau pagi hari kami akan mengambil sampah rumah tangga mereka buat dibuangkan ke tempat pembuangan akhir atau TPA terdekat dari kota ini. Begitu.

Doakan semua lancar dan kami dapat pelanggan.

“Pare, kita ke gang itu dulu ….”

Menurut pengalamanku, masalah limbah semacam ini berakar dari mental tambah kemalasan yang secara sadar atau tidak terpelihara lewat perilaku sehari-hari. Bukan cuma kesadaran soal kebersihan lingkungan.

Sekali abai, kemungkinan selamanya akan tetap begitu.

Dampaknya macam-macam, mulai masalah kesehatatan ringan sampai hal-hal berat yang tidak kita tahu.

Namun, kita bukan mau membahas itu. Perhatianku sekarang ialah bagaimana memanfaatkan kemalasan orang-orang kota ini buat jadi sumber uang. Hehe.

“Permisi, kami dari—”

“Permisi, kami—”

“Permisi.”

“Kami ….”

Meskipun praktik dan langkah pertamanya memang tidak mudah.

“Hah!” Pareta merebah di rumput halaman sebuah rumah. “Kamu serius mau ngetuk rumah semua orang di sini, Mi? Kita udah keliling delapan blok, diusir tiga kali, sama dikejar anjing galak dua kali.”

“Namanya juga usaha,” balasku yang kala itu tertarik oleh aktivitas seseorang, “tunggu sini bentar.”

“Oi, Mi? Kamu mau ke mana ….”

Keliling delapan blok sambil kerja masih belum apa-apa ketimbang keliling kota buat nyari kerjaan. Apalagi di usaha ini kami kepala, bukan buntut bahkan lebih remeh karena rentan kena pecat kapan saja bos suka.

Bukan maksud merendahkan kaum-kaum karyawan berprestasi tinggi pekerja keras jujur dengan dedikasi penuh atau semacamnya, sungguh, ini hanya keluh atas pengalaman lapangan di masa lalu.

Tolong jangan tersinggung, oke?

“Permisi.” Aku mau coba dekati calon pelanggan dulu. “Permisi,” panggilku ‘tuk kedua kali, ”salam, Bapak di sana. Selamat siang.”

“Ya?”

“Hallo, Bapak. Perkenalkan, saya Mi—”

“Langsung aja, kamu mau apa ke halaman saya?”

“Oh, begini. Saya dan teman sebelah sana dari Korporasi Plester atau pendeknya Plester Co., Bapak. Kami baru di kota ini, mau menawarkan jasa kelolakan limbah rumah tangga bulanan. Jadi setiap pagi atau sore hari selama satu bulan tertanggal langganan, tim kami akan—”

“Plester? Korporasi? Kok …, maaf, tapi penampilan temanmu di sana kayak gelandangan?”

“Oh. Terima kasih, Anda sungguh jeli. Sebagian pekerja Plester Co. memang para tunawisma lokal yang sengaja diberdayakan lewat usaha-usaha sejenis i—”

“Kalian bisa dipercaya?”

Ya, ampun. Apa penampilanku dan Pareta tak semeyakinkan itu?

“Kalau Bapak belum yakin,” timpalku sambil senyum, “kita bisa mulai uji coba satu bulan, setengah harga dibayar di muka dan jika kinerja tim kami tak memuaskan Bapak tak perlu lanjut berlangganan.”

Laki-laki paruh baya di depanku memiringkan muka sebentar.

“Apa jasa kalian tadi?”

“Kelolakan limbah rumah tangga, Bapak.”

“Jadi, kamu sama teman kamu di sana bakal ke sini tiap hari selama satu bulan buat ambil sampah-sampah rumah tangga saya?”

“Betul.”

“Berapa?”

“Normalnya lima puluh suth per bulan,” sambutku semringah mengenalkan paket layanan, “karena kami masih promo dan Bapak masuk pelanggan uji coba pertama, cukup tiga puluh suth saja.”

“Satu suth per hari?”

“Betul.”

“Kalian meragukan,” komentar orang itu, yang sialnya harus tetap kuterima pakai senyum. “Cuma, biaya makan keluarga saya aja lima belas suth per hari. Huh. Keluar lima belas suth lagi hari ini bukan masalah.”

“Ah!” Segera kuasongkan kertas dan pulpen yang kubawa. “Tolong tulis nama Anda di sini, tanda tangan sebelah sini … terima kasih, Bapak.”

Pelangan pertamaku, laki-laki paruh baya dengan kulit pucat kemerahan. Tidak buruk.

***

“Berhasil?”

Kulihat Pareta sambil senyum.

“Berhasillah,” balasku nan lantas memintanya mulai bekerja, “sana ambilin plastik di tong itu, kamu yang bawa plastik sampah hari ini.”

“Sialan ….”

Jasa kelola sampah bulanan, Plester Co.

Kalian mungkin menganggapku terlalu cepat senang sebab sudah senyum lebar padahal baru dapat satu pelanggan, tapi siapa peduli. Biarpun baru satu tetap dihitung pelanggan berbayar, ya, ‘kan?

“Kita ke mana lagi?”

“Ke mana lagi?” Kulirik Pareta sebentar sebelum teriak semangat, “Kita lanjut ke rumah di seberaaang!”

“Arrgh! Bisa tenang sedikit gak? Aku malas dilihatin orang-orang begi—”

“Gak papa, biar semua orang tahu kita dari perusahaan kelola limbah bulanan ada di sini ….”

***

Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!