Chapter 17

Hujan tipis mengguyur Jakarta malam itu, menorehkan pola-pola acak di kaca jendela flat Rian. Aroma kopi pahit menguap dari cangkir yang ia genggam, namun tak cukup untuk mengusir rasa berat yang menggelayuti pikirannya. Di hadapannya, Dinda duduk diam, kedua tangannya meremas ujung sweater abu-abu yang kebesaran di tubuhnya. Sejak Fajar dan Arya ditangkap Lingkar Malam, situasi tidak menjadi lebih aman. Justru, ancaman baru mulai menampakkan taringnya—Bayangan.

“Jadi… mereka sudah bergerak,” suara Jery memecah keheningan. Ia baru saja masuk, mantel hujannya meneteskan air di lantai. Napasnya sedikit terengah, seperti baru saja menempuh perjalanan panjang tanpa henti. “Seseorang dalam jaringan kita bilang, Bayangan tahu tentang kamu, Din. Mereka tahu kamu yang pegang flashdisk itu.”

Bayar dan baca cerita versi lengkapnya — kurang lebih ada 1,339 kata

Login untuk bayar dan baca cerita ini

Scan dan bayar pakai QRIS sekarang

qris