Chapter 18

Pagi di Jakarta tidak pernah benar-benar tenang. Deru kendaraan, klakson yang bersahut-sahutan, dan aroma campuran kopi instan dari warung kaki lima bercampur dengan asap knalpot menjadi latar yang akrab. Namun bagi Rian dan Dinda, pagi ini terasa berbeda—meski mereka duduk di meja kerja masing-masing di kantor yang sama, ada perasaan lega yang menyelimuti udara di sekitar mereka.

Rian menatap layar komputer, berusaha fokus pada tumpukan dokumen yang harus diperiksa, tapi matanya justru sesekali melirik layar ponsel di sudut meja. Notifikasi berita terus bermunculan. Salah satunya membuat jantungnya berdebar cepat.

Bayar dan baca cerita versi lengkapnya — kurang lebih ada 1,037 kata

Login untuk bayar dan baca cerita ini

Scan dan bayar pakai QRIS sekarang

qris