CHAPTER 2
Di publikasikan 05 Jun 2026 oleh _didiable
Pagi itu terasa berbeda. Bukan karena cuaca, bukan karena rutinitas, tapi karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Grace melangkah menuju sesuatu yang sepenuhnya, miliknya. Ia berdiri beberapa detik di depan pintu kaca kecil dengan papan nama sederhana: Gracia Jasmine Law Firm Tulisan itu tidak besar. Tidak mencolok. Bahkan mungkin bisa terlewat oleh orang yang terburu-buru. Tapi bagi Grace, itu adalah awal dari segalanya. Tangannya terangkat, menyentuh gagang pintu. Dingin. Ia menarik napas pelan. Lalu mendorongnya. Klik. Pintu terbuka. Ruangan persegi itu masih berbau cat baru dan kayu. Sinar matahari pagi masuk dari jendela di sisi kanan, jatuh tepat di atas meja kerja utama, meja yang ia pilih sendiri, dengan pertimbangan yang terlalu detail untuk sesuatu yang sederhana. Grace melangkah masuk. Sepatunya beradu pelan dengan lantai, menciptakan gema kecil di ruangan yang masih belum terisi penuh. Dua meja, beberapa kursi. Rak buku yang masih kosong. Dan satu laptop di atas meja. Ia berhenti di tengah ruangan. Menatap sekeliling. Lalu, tersenyum tanpa sadar. “Gue benar-benar melakukan ini,” gumamnya pelan. Grace berjalan menuju meja, menarik kursi, dan duduk. Untuk beberapa detik, ia hanya diam. Merasakan. Tidak ada suara printer, tidak ada panggilan rapat, tidak ada tekanan dari atasan. Hanya dirinya, dan pikirannya. Tiba-tiba, sebuah perasaan muncul, aneh, tapi hangat. Ia merasa… hebat. Bukan karena pencapaian besar, bukan karena pengakuan orang lain. Tapi karena keberanian kecil yang akhirnya ia ambil, Grace tertawa kecil sendiri. “Gila,” katanya pelan. Ia membuka laptopnya. Layar menyala, menampilkan halaman kosong. Dan di situlah semuanya berubah, karena setelah langkah besar itu, datang pertanyaan yang jauh lebih sulit, Selanjutnya apa? ** Grace menyandarkan punggungnya di kursi, tangannya terlipat di depan dada, matanya menatap layar kosong itu seolah berharap jawaban muncul begitu saja. “Klien,” gumamnya. Ia butuh klien, tanpa klien, semua ini hanya ruangan kosong dengan nama yang indah. “Tapi gimana caranya?” Ia mulai berpikir, apakah ia harus memasang iklan? Menghubungi relasi lama? Atau… menunggu? Menunggu jelas bukan pilihan. Grace menggeleng pelan. Ia membuka dokumen baru, mulai mengetik : Strategi Awal – Gracia Jasmine Law Firm Poin pertama: Bangun jaringan. Poin kedua: Promosi (media sosial? website?) Poin ketiga: Pertimbangkan rekrut admin atau marketing. Ia berhenti. “Hire orang?” gumamnya. Itu berarti biaya tambahan. Padahal tabungannya sudah banyak terpakai untuk sewa kantor, perizinan, dan perlengkapan. Grace menggigit ujung pulpen. “Kalau aku kerjakan sendiri dulu?”. Masuk akal, setidaknya sampai ada pemasukan. Tapi di sisi lain, kalau ia terlalu sibuk dengan administrasi, kapan ia fokus ke hukum? Pikirannya mulai berputar cepat. Skenario demi skenario. Kemungkinan demi kemungkinan. Jam di dinding berdetak pelan. Tanpa terasa… waktu berjalan. Pukul 12.03. Grace mengedip beberapa kali saat melihat jam. “Serius?” Ia tidak menyadari sudah duduk hampir tiga jam di sana. Dokumen di laptopnya penuh dengan catatan, tapi belum ada satu pun langkah konkret yang benar-benar dijalankan. Ia menghela napas panjang, lalu menutup laptop. “Oke. Cukup untuk hari ini.” Bukan karena ia menyerah. Tapi karena ia tahu, kadang, menjauh sejenak justru membuat semuanya lebih jelas. Grace meraih tasnya. Ada satu tempat yang ingin ia datangi. Tempat yang selalu memberinya… arah. *** Panti jompo di daerah Megamendung-Bogor itu tidak terlalu besar, tapi hangat dan mewah. Bangunannya sederhana, dengan taman kecil di depan yang dipenuhi tanaman hijau. Beberapa lansia duduk di kursi panjang, menikmati udara siang. Grace berjalan masuk dengan langkah pelan. Perawat di meja depan langsung mengenalinya. “Siang, Mbak Grace.” “Siang,” jawabnya dengan senyum hangat. “Ibu saya bagaimana hari ini?” “Lagi bagus,” jawab perawat itu. “Sejak pagi kelihatan lebih sadar.” Grace mengangguk pelan. Ada rasa lega yang langsung mengisi dadanya. Ia berjalan menuju kamar ibunya. Pintu terbuka sedikit. Dan di dalam, seorang wanita tua duduk di kursi, menatap jendela. “Mama..” panggil Grace lembut. Wanita itu menoleh. Dan untuk sesaat… matanya jernih. “Grace?” suaranya pelan, tapi jelas. Grace tersenyum lebar. “Iya, Ma.” Ia masuk, mendekat, lalu duduk di samping ibunya. “Tumben datang siang,” kata ibunya. Grace tertawa kecil. “Lagi nggak kerja, Ma.” Ibunya mengernyit. “Loh? Kenapa?” Grace menarik napas. Dan untuk pertama kalinya… ia menceritakan semuanya. Tentang resign, tentang alasannya, tentang firma hukum yang baru ia dirikan. Ia berbicara pelan, tapi penuh, seperti anak kecil yang ingin didengar. Ibunya diam, mendengarkan. Dan saat Grace selesai… Ibunya tersenyum. Senyum yang sudah lama tidak ia lihat. “Kamu akhirnya berani,” katanya pelan. Grace menatapnya. “Takut, Ma.” Ucap Grace. “Takut itu wajar,” jawab ibunya. “Yang penting kamu tahu kenapa kamu jalan.” Grace menggenggam tangan ibunya. “Tapi kalau aku gagal?” Ibunya menepuk pelan tangannya. “Gagal itu bukan akhir. Yang bahaya itu kalau kamu berhenti sebelum mencoba.” Grace terdiam. Kalimat sederhana. Tapi… tepat. “Dulu waktu kamu kecil,” lanjut ibunya, “kamu selalu bilang mau jadi pengacara yang membela orang yang benar.” Grace tersenyum kecil. “Masih ingat ya, Ma?” Ibunya mengangguk. “Jangan berubah hanya karena dunia tidak sesuai dengan harapanmu.” Mata Grace mulai terasa hangat. “Iya, Ma.” Untuk beberapa saat, mereka hanya duduk bersama. Tanpa kata. Tapi cukup. Sebelum pulang, ibunya berkata pelan, “Kalau kamu sudah mulai, jangan setengah-setengah.” Grace mengangguk. Dan saat ia keluar dari panti jompo itu… Langkahnya terasa lebih mantap. *** Malam harinya, udara terasa lebih dingin. Grace baru saja sampai di depan rumahnya saat suara itu kembali terdengar. Lebih keras dari biasanya. “Diam kamu!” Suara laki-laki, disusul suara benda dibanting. Dan tangisan. Tapi kali ini beda. Bukan hanya dia yang mendengar. Beberapa pintu rumah terbuka. Tetangga mulai keluar. Seorang wanita di depan rumah tampak panik. “Ini sudah keterlaluan…” Seorang pria lain berkata, “Saya telepon Pak RT saja.” Grace berdiri diam. Menatap rumah di sebelah, lampunya terang, tapi suasananya gelap. Tak lama, Pak RT datang membuat orang-orang berkumpul, dan bisik-bisik mulai terdengar. “Saya sering lihat istrinya lebam…” “Iya, kemarin di tukang sayur juga…” “Kasihan…” Grace memiringkan kepala dan mengernyitkan dahinya. Ia tidak bisa menganggap ini sebagai 'bukan urusannya'. Seseorang wanita yang kira-kira seumurannya menoleh pada Grace. “Mbak Grace… kamu kan pengacara…” Grace menatapnya. “Memang nggak bisa membantu?” Pertanyaan itu… sederhana, tapi menghantam tepat di tempat yang paling dalam. Grace terdiam, lalu perlahan… mengangguk. “Bisa.” Dan di saat itulah, ia tahu, ini bukan hanya tentang kantor hukumnya sendiri, ini tentang alasan kenapa ia memulainya. *** Keesokan harinya, Grace berdiri di depan rumah itu. Ia menarik napas panjang, mengetuk pintu. Seorang pria membukanya. Wajahnya keras. Pintu itu terbuka setengah. Pria itu berdiri di ambang, tubuhnya besar, sorot matanya tajam dan penuh kecurigaan. Bau rokok dan sesuatu yang pahit menyelinap keluar dari dalam rumah. “Ada apa?” tanyanya dingin saat melihat Grace. Grace tidak langsung menjawab. Ia menahan pandangan pria itu, tenang, tidak menantang, tapi juga tidak mundur. “Saya ingin bicara dengan istri Bapak,” katanya akhirnya. Rahangnya mengeras. “Dia lagi nggak bisa diganggu.” Dari balik bahunya, Grace melihat sekilas sosok perempuan itu. Berdiri setengah tersembunyi di balik dinding. Wajahnya pucat. Ada warna ungu di pipi kirinya, samar tertutup bedak. Mata mereka bertemu tapi perempuan itu menunduk cepat. Takut. Grace mengenali itu. Bukan sekadar takut dimarahi. Tapi takut akan sesuatu yang lebih dalam, lebih lama. “Saya hanya ingin memastikan dia baik-baik saja, karena beberapa kali terdengar suara ribut-ribut dari rumah Bapak.” lanjut Grace. Pria itu tertawa pendek. “Dia baik-baik saja. Kamu nggak perlu ikut campur.” Grace mengangguk pelan. “Kalau memang begitu, biarkan dia yang bilang sendiri.” Sunyi. Ketegangan menggantung seperti kabel yang hampir putus. Pria itu berbalik sedikit. “Kamu bilang sama dia,” suaranya keras, “bilang kalau kamu baik-baik saja.” Perempuan itu melangkah pelan. Setiap langkahnya seperti penuh beban. “I… iya,” katanya lirih tanpa menatap Grace. “Saya baik-baik saja.” Grace menatapnya lama, mencoba memahami sendiri apa yang terjadi. Lalu mengangguk. “Baik,” kata Grace tenang. “Saya akan kembali lagi nanti.” Pria itu mendengus. “Nggak usah.” Tapi Grace sudah berbalik. Dan saat ia melangkah pergi, ia tahu satu hal, Perempuan itu berbohong. Perempuan itu baru saja berbohong untuk bertahan hidup. Grace tidak kembali ke kantor. Ia duduk di warung kecil di ujung jalan, dengan satu gelas es kopi yang es batunya telah mencair. Lalu lintas berjalan seperti biasa. Orang-orang berlalu tanpa tahu apa yang terjadi di balik dinding rumah itu. Grace membuka ponselnya, mulai menulis. Bukti. Ia mengetik perlahan. Kesaksian tetangga. Rekaman suara. Dokumentasi luka. Riwayat medis. Pola kejadian. Ia berhenti. Matanya tertuju pada kata terakhir. Pola. Kekerasan tidak pernah benar-benar acak. Ia selalu punya ritme. Waktu. Siklus. Grace menatap ke arah rumah itu. “Kalau dia tidak bisa bicara…” gumamnya pelan, “gue yang harus buat dunia mendengarnya.” *** Malam itu, lampu ruang tamu Grace tidak dinyalakan. Ia duduk di dekat jendela, tubuhnya setengah tersembunyi oleh tirai tipis. Dari sana, ia bisa melihat rumah di sebelah. tidak jelas, tapi cukup. Pukul 21.13. Sunyi. Pukul 21.27. Suara pertama muncul. Tidak keras. Tapi cukup. Grace bergegas ke luar rumah menuju rumah tetangganya. Ia berdiri percis di samping dinding rumah mereka. Ponselnya sudah dalam mode perekam. Nada tinggi. Disusul suara benda jatuh. Grace menahan napas. Jarinya tidak bergerak. Ia membiarkan ponselnya merekam. Malam kedua. Malam ketiga. Suara dari hasil rekaman itu cukup jelas, ada nada marah suara benturan, dan Tangisan. Grace memutar ulang rekaman-rekaman itu di siang hari dalam kantornya yang sunyi. Ia tidak hanya mengumpulkan suara, Ia sedang menyusun cerita. Cerita yang tidak bisa lagi disangkal. *** Langkah berikutnya… kesaksian. Grace mulai berbicara dengan tetangga. Tidak langsung. Tidak frontal. Ia menghapiri ibu-ibu yang biasa berjalan dan berkumpul di area perumahan di toko sayur. “Bu… saya mau tanya soal rumah sebelah.” Obrolan langsung berhenti. Beberapa saling pandang. Ragu. Lalu satu suara muncul, pelan. “Kamu juga dengar ya?” Grace mengangguk. Dan dari situ, cerita mengalir. Tentang teriakan yang hampir tiap malam. Tentang wajah lebam yang dilihat sekilas di tukang sayur. Tentang alasan-alasan yang selalu sama, jatuh, terpeleset, kejedot pintu. “Kalau sesekali sih mungkin,” kata seorang wanita berkacamata. “Tapi ini…” “Berulang,” sambung Grace pelan. Ia mencatat semuanya, nama, tanggal, dan setiap detail kecil. Semua yang bisa menjadi potongan bukti. Tapi semua itu belum cukup, ia masih membutuhkan satu hal yang paling sulit. Pengakuan. *** Grace datang lagi ke rumah itu. Dan kali ini, Grace menunggu sampai pria itu keluar. Begitu mobilnya pergi, Grace melangkah mendekat. Mengetuk pelan, lalu pintu terbuka sedikit. Perempuan itu muncul dari balik pintu, lebih pucat dari sebelumnya. “Ada apa?” suaranya hampir hilang. “Boleh saya masuk?” tanya Grace lembut. Perempuan itu ragu. Matanya gelisah. Lalu, ia membuka pintu lebih lebar. Di dalam rumah itu, udara terasa berat. Gelap dan ada hawa yang kosong, seperti tidak pernah ada tawa. Grace duduk. Perempuan itu berdiri. Tangan mereka sama-sama dingin. “Saya Grace,” katanya pelan. “Saya pengacara.” Tidak ada reaksi. “Saya tahu apa yang terjadi di sini.” “Tapi saya tidak bisa membantu… kalau kamu tidak mau bicara.” Hening panjang. “Apa bedanya?” akhirnya perempuan itu berkata. “Kalau saya bicara, dia akan lebih marah.” “Dan kalau kamu diam?” tanya Grace. Tidak ada jawaban, hanya air mata yang jatuh tanpa suara. Grace tidak mendekat, ia membiarkan ruang itu aman. “Saya tidak akan memaksa,” katanya. “Tapi kamu tidak sendirian.” “Saya, Anita. Kamu tidak bisa lama-lama disini, suami saya hanya keluar sebentar membeli rokok dan bir.” ucapnya gelisah khawatir “Kira-kira apa ada waktu yang tepat untuk kita bicara?” Tanya Grace. “Kembalilah dua hari lagi. Suami saya pergi kontrol ke toko dari jam 8 pagi sampai sore.” “Makasih atas waktunya Mbak Anita. Saya akan kembali dua hari lagi.” Grace pamit. *** Sesuai janji, Grace kembali 2 hari kemudian. Ruang tamu itu sunyi. Tidak ada televisi yang menyala. Tidak ada suara musik. Hanya detak jam dinding yang terdengar pelan, seperti mengisi kekosongan yang terlalu lama dibiarkan. Grace duduk di sofa berwarna abu-abu, tangannya terlipat di pangkuan. Ia tidak terlihat tergesa, tidak juga mendesak. Wajahnya tenang, memberi ruang, bukan tekanan. Anita ingin sekali menyuguhkan sesuatu untuk Grace, tapi iya takut suaminya curiga ada tamu yang datang. Anita duduk terdiam menunduk di berhadapan dengan Grace. Grace menunggu, Ia tahu, kata pertama adalah yang paling sulit. Beberapa detik berlalu. Anita menarik napas, tapi tidak jadi bicara. Grace akhirnya membuka suara. “Mbak Anita tidak harus cerita semuanya hari ini,” katanya pelan. “Kita bisa pelan-pelan.” Anita menatapnya sekilas, matanya mulai menggenang. “Kalau saya cerita…” suaranya hampir tidak terdengar, “apa benar bisa berubah?” Grace tidak langsung menjawab, ia memilih kata-katanya dengan hati-hati. “Bisa,” katanya akhirnya. “Tapi bukan karena cerita itu sendiri, itu karena Mbak Anita memilih untuk tidak diam lagi.” Grace menekan tombol record di aplikasi perekam suara handphonenya. Anita menunduk. Air mata jatuh, satu. Lalu dua. “Saya capek mbak…” katanya tiba-tiba, suaranya pecah. Grace tidak bergerak. Ia membiarkan Anita melanjutkan. “Awalnya nggak seperti ini. Dulu dia baik. Sangat baik. Semua orang juga bilang begitu.” Grace mengangguk pelan. “Biasanya memang begitu di awal.” Anita mengangkat wajahnya, sedikit terkejut. “Pertama kali dia marah, cuma bentakan kecil,” katanya. “Saya pikir wajar. Semua orang juga pernah marah.” Grace mendengarkan dengan tenang. “Tangan pertama itu, saya ingat banget,” katanya pelan. “Cuma karena saya telat buka pintu.” “Apa yang mbak lakukan waktu itu?” tanyanya. Anita tertawa kecil—pahit. “Saya minta maaf.” “Dia?” “Dia juga minta maaf,” jawab Anita cepat. “Dia bilang dia khilaf. Dia janji nggak akan ulangi.” Grace mengangguk pelan. “Dan mbak percaya.” Anita mengangguk. “Karena saya sayang…” Suara itu begitu jujur hingga terasa menyakitkan. “Lalu… terjadi lagi,” lanjutnya. “Awalnya jarang,” kata Anita. “Sebulan sekali… lalu dua minggu sekali…” Ia menarik napas. “Sekarang… hampir tiap minggu.” Tangannya bergetar. Grace memperhatikan. “Apa dia pernah bilang sesuatu saat dia marah?” tanya Grace pelan. Anita terdiam, lalu berkata lirih, “Dia bilang saya yang bikin dia marah.” Grace mengangguk pelan. “Dia selalu bilang begitu?” “Iya…” Anita menatap kosong ke depan. “Kalau saya lebih diam, kalau saya lebih cepat, kalau saya nggak jawab perkataanya, ini semua gak akan terjadi." “Dan menurut mbak?” Anita terdiam lama. Air matanya jatuh lagi. “Saya… mulai percaya,” katanya akhirnya. Kalimat itu menggantung di udara. Berat. Grace mencondongkan tubuh sedikit ke depan. “Mbak Anita,” katanya lembut tapi tegas, “tidak ada satu pun yang mbak lakukan, yang membuat mbak pantas disakiti.” Anita menatapnya. Lama. Seolah mencoba memahami kalimat itu. “Tapi dia bilang…” “Kita jangan peduli dia bilang apa,” potong Grace pelan. “Kita peduli dulu sama apa yang benar.” Hening. Untuk pertama kalinya, Anita tidak langsung menunduk. “Saya takut…” katanya pelan. Grace mengangguk. “Saya tahu.” “Kalau saya lapor, dia bisa lebih marah.” “Iya.” “Kalau dia keluar nanti…” “Iya.” Grace tidak menyangkal. Tidak memberi harapan palsu. Anita menatapnya, bingung. “Kamu kok malah bilang iya semua?” Grace tersenyum tipis. “Karena itu memang kemungkinan yang ada,” katanya jujur. “Tapi ada satu hal yang mbak belum tahu.” “Apa?” “Mbak tidak harus menghadapinya sendirian.” Anita terdiam. Grace melanjutkan, “Ada hukum. Ada proses. Ada perlindungan. Dan ada saya.” Suara terakhir itu… lebih pelan dan tegas. Anita menggigit bibirnya. “Selama ini… saya pikir ini cuma masalah rumah tangga,” katanya. “Banyak orang berpikir begitu,” jawab Grace. “Tapi saat ada kekerasan… itu bukan lagi urusan pribadi.” Anita mengangkat wajahnya perlahan. “Kalau saya bicara…” katanya ragu, “apa kamu akan percaya?” Grace langsung menjawab, tanpa jeda. “Saya sudah percaya.” Air mata Anita jatuh lagi. Kali ini lebih deras. “Dia pernah… melempari saya dengan barang-barang di dapur, lalu saya didorong sampai jatuh,” katanya terbata. “Saya kena meja, dan tersayat pisau.” Anita menunjukan bekas luka di lengannya. Grace melihat bekas samar. “Dan seminggu lalu…” suara Anita makin pelan, “dia… pukul saya pakai ikat pinggang.” Ruangan itu terasa semakin sempit. Grace menarik napas pelan. “Terima kasih sudah cerita,” katanya. Anita menggeleng. “Saya malu…” “Mbak nggak perlu malu,” jawab Grace. “Yang seharusnya malu… bukan Mbak.” “Kita mulai dari yang paling sederhana ya,” lanjut Grace. “Mbak Anita mau berhenti dari ini?” Anita mengangguk tegas “Iya.” Grace menatapnya lurus. “Kalau begitu… kita akan lakukan langkah berikutnya.” Anita menelan ludah. “Lapor?” “Ya.” Jawab Grace Anita terdiam. Ketakutan kembali muncul dan Grace melihat itu. “Tidak harus hari ini,” kata Grace. “Tapi kita akan ke sana.” Anita menggenggam tangannya sendiri. “Saya takut…” Grace perlahan mengulurkan tangannya. Tidak memaksa. Hanya menawarkan. Beberapa detik. Lalu… Anita menggenggamnya. “Takut itu tidak salah,” kata Grace pelan. “Tapi diam terlalu lama, bisa lebih berbahaya.” Anita mengangguk kecil. Air matanya masih mengalir. “Tolong saya…” katanya lirih. Grace menggenggam tangannya lebih erat. “Saya di sini.” Dan untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, Anita tidak merasa sendirian. Grace tidak datang sebagai penyelamat. Ia datang sebagai… teman. Pendengar. dan saksi. *** Mereka membuat janji temu beberapa kali saat suami Anita pergi ke tokonya, karena hanya itu satu-satunya hari yang panjang. Grace meminta izin untuk mengambil foto beberapa luka lebam di tubuh Anita. Foto-foto dan rekaman kemarin itu digunakan Grace untuk membuat laporan ke polisi untuk mendapatkan surat permintaan visum. Anita hanya terdiam, wajah nya takut dan gelisah. Grace yang melihat Anita tampak khawatir mencoba untuk menenangkannya. Anita duduk di kantor polisi dengan tangan gemetar. “Saya takut…” katanya. Grace menggenggam tangannya. “Ini bukan untuk melawan dia saja. Tapi ini untuk melindungi Mbak Anita juga.” Anita mengangguk. *** Langit sudah gelap ketika Anita turun mobil Grace. Tangannya masih gemetar, ia khawatir takut suaminya sudah pulang. Di dalam tasnya, tersimpan salinan laporan polisi. Kertas itu terasa berat—bukan karena bentuknya, tapi karena maknanya. Ia menatap Grace lalu melangkah ke arah rumahnya.Tidak ada lagi jalan kembali. Anita berdiri beberapa detik di depan pagar. Rumah itu terlihat sama. Tenang. Diam. Seolah tidak pernah menyimpan apa-apa. Tapi Anita tahu, di dalam sana, ada sesuatu yang menunggu. Ia menarik napas panjang, lalu membuka pagar. Langkahnya pelan. Setiap bunyi kecil terasa lebih keras dari biasanya. Pintu depan tidak terkunci. Jantungnya langsung berdegup lebih cepat. Perlahan, ia mendorong pintu. Ceklek. Pintu terbuka. Dan di sana sudah ada suaminya duduk di sofa, dengan tubuh sedikit condong ke depan. Kedua tangannya bertaut, rahangnya mengeras. Tatapannya langsung menembus Anita begitu pintu terbuka. “Kamu dari mana?” Suaranya rendah. Tapi justru itu yang membuat Anita semakin takut. Anita menelan ludah. “Aku… keluar sebentar,” jawabnya pelan. “Sebentar?” pria itu mengulang perkataan Anita dengan nada tinggi, perlahan berdiri. Langkahnya mendekat. “Keluar seharian itu sebentar?” Anita mundur satu langkah. “Aku ke dokter,” katanya, mencoba menjaga suaranya tetap stabil. Pria itu berhenti. Matanya menyipit. “Dokter?” Ia tertawa kecil, tapi tidak ada humor di dalamnya. “Dokter apa?” Anita tidak menjawab. Kesalahan. Tangan pria itu langsung mencengkeram keras pergelangan tangannya. “Aku tanya, dokter apa?!” “Aku…” suara Anita patah, “aku cuma periksa…” PLAK! Tamparan itu datang tiba-tiba. Kepala Anita terhempas ke samping. Dunia terasa berputar sesaat. “Aku udah bilang, jangan keluar tanpa izin!” bentaknya sambil melempar remote TV ke Anita dan mengenai kepalanya, meninggalkan bunyi keras di kening Anita. “Aku… cuma…” Anita mencoba bicara dengan rasa sakit. Tapi kata-kata tidak pernah selesai. Dorongan keras membuat tubuhnya terhuyung ke belakang, membentur meja kecil di samping sofa. Benda-benda di atasnya jatuh berserakan. Suara pecahan kaca terdengar nyaring. Anita meringis. Belum sempat ia bangkit, tarikan kasar membuat Anita kembali berdiri. “Kamu pikir kamu bisa mulai macam-macam sekarang?” suara pria itu semakin meninggi. Tangannya terangkat lagi. Kali ini lebih keras. Lebih tanpa kendali. *** Di rumah sebelah, Grace baru saja meletakkan tas nya di meja ruang TV. Suara itu terdengar lagi. Lebih keras dari biasanya dan lebih dekat. Grace panik mulai khawatir, dan mendengarkan. “AKU SUDAH BILANG…!” Bentakan itu jelas. Disusul suara benda jatuh dan tangisan. Bukan tangisan yang ditahan. Tapi tangisan yang pecah. Jantung Grace berdegup, tidak ada waktu untuk ragu. Ia meraih ponselnya. Menekan nomor polisi. “Polisi,” suara di seberang sana menjawab. “Saya mau melaporkan kekerasan dalam rumah tangga,” kata Grace cepat tapi jelas. “Alamatnya Perumahan Green Hillls Blok C Nomor 19 Jakarta Selatan.” Ia menyebutkan alamat dengan detail. “Korban dalam bahaya sekarang. Suara kekerasan sedang berlangsung.” Grace berkata cepat. “Unit sedang kami kirim,” jawab petugas. Grace tidak menutup telepon, ia tetap di sana. Mendengarkan. Mengawasi dari balik jendela. *** Di dalam rumah itu, Anita sudah terjatuh ke lantai. Tubuhnya meringkuk, berusaha melindungi diri. “Berhenti…” suaranya hampir hilang. Tapi pria itu tidak berhenti. Tendangan mendarat di sisi tubuhnya. Satu. Dua. “Ke dokter?! ngapain pergi ke dokter?!” Anita menangis. Tubuhnya gemetar, tangannya mencoba menahan. Percuma. Semua terasa seperti mimpi buruk yang tidak pernah selesai. Sirene terdengar. Jauh. Lalu semakin dekat. Pria itu berhenti. Napasnya masih memburu. “Apa itu?” gumamnya. Anita tidak menjawab. Ia bahkan hampir tidak sadar. Sirene terdengar sangat jelas dan kencang dari depan rumah Anita. Lampu biru memantul di jendela. Pria itu berjalan cepat ke arah pintu, membukanya. Dan di sana, dua polisi berdiri. “Selamat malam,” kata salah satu dari mereka tegas. “Kami menerima laporan adanya dugaan kekerasan di rumah ini.” Pria itu langsung menggeleng. “Nggak ada apa-apa. Ini cuma urusan keluarga.” “Boleh kami masuk?” tanya polisi itu. Tanpa menunggu jawaban, dua polisi langsung melangkah memaksa masuk. Dan pemandangan itu, tidak bisa disangkal. Anita tergeletak di lantai. Dengan luka yang amat jelas dan segar, serta napas yang tidak stabil. “Pak, mohon mundur,” kata polisi lain. “Apa-apaan ini…” pria itu mulai emosi. “Pak, kami minta Anda tenang!” Dua polisi langsung mendekat. Satu menahan pria itu. Satu lagi berlutut di samping Anita. “Bu, bisa dengar saya?” Anita membuka mata perlahan. Air matanya masih mengalir. “Iya…” jawabnya lemah. “Siapa yang melakukan ini?” Anita terdiam. Detik itu terasa lama. Sangat lama. Lalu, ia mengangkat tangannya, menunjuk ke arah suaminya. “Dia…” Satu kata. Tapi cukup. “Pak, Anda kami amankan untuk pemeriksaan lebih lanjut,” kata polisi tegas. “Ini fitnah!” teriak pria itu, berusaha melepaskan diri. Tapi genggaman polisi lebih kuat, dan ia dibawa keluar. Masih berteriak, masih menyangkal. Tapi kali ini, tidak ada yang mendengarkan. ** Dari seberang, Grace melihat semuanya, tangannya masih menggenggam ponsel di dadanya, tapi napasnya perlahan kembali stabil, melihat mobil polisi membawa pria itu pergi. Grace berlari menuju rumah Anita, lalu beberapa menit kemudian, petugas medis datang membantu Anita keluar dari rumah itu. Tubuhnya lemah. Tapi matanya berbeda. Masih ada takut. Tapi ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang baru. Harapan. Grace memeluk Anita, menguatkan tubuhnya dan hatinya. *** Ruang sidang itu dingin. Bukan karena pendingin ruangan, tapi karena suasana yang menekan dari setiap sudutnya. Deretan kursi kayu terisi hampir penuh. Para tetangga dikomplek perumahan Anita dan Grace ikut hadir. Bisik-bisik pelan terdengar seperti gelombang kecil yang terus bergerak, lalu tiba-tiba mereda saat pintu samping terbuka. “Sidang dibuka. Hadirin dimohon tenang.” Semua orang perlahan menghentikan bicaranya. Majelis hakim memasuki ruangan dengan langkah terukur. Wajah mereka datar, tanpa emosi yang bisa dibaca. Di bangku depan, Anita duduk. Tangannya menggenggam ujung blazer yang ia kenakan. Jari-jarinya sedikit gemetar, meski ia berusaha menahannya. Di sampingnya, Grace duduk tenang. Punggungnya tegak. Tatapannya lurus ke depan. Tangannya memegang berkas perkara yang sudah tersusun rapi, setiap halaman ditandai, dan setiap detailnya sudah ia hafal. Di sisi lain ruangan, terdakwa dibawa masuk. Suami Anita. Tangannya diborgol, wajahnya masih keras seperti hari pertama. Tapi ada sesuatu yang berubah, sedikit gelisah di balik tatapan tajamnya. Matanya mencari. Dan berhenti pada Anita. Anita refleks menunduk. Grace langsung menyentuh tangannya pelan. Sinyal kecil. Kamu aman. Sidang dimulai. Jaksa penuntut umum berdiri. Suaranya tegas, terlatih. “Yang Mulia, berdasarkan hasil penyidikan, kami mendakwa terdakwa telah melakukan tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga secara berulang terhadap korban, yang dalam hal ini adalah istrinya sendiri…” Setiap kalimat disampaikan dengan jelas. Tidak ada yang dilewatkan. Tanggal kejadian, bentuk kekerasan, dampak yang ditimbulkan. Anita menahan napas saat mendengar semuanya disebutkan satu per satu. Seolah luka-luka itu dibuka kembali. Tapi kali ini, bukan untuk menyakitinya. Melainkan untuk memperlihatkan kebenaran. “...perbuatan terdakwa telah melanggar ketentuan hukum yang berlaku dan menimbulkan penderitaan fisik serta psikis bagi korban.” Jaksa menutup berkasnya. “Kami akan membuktikan dakwaan ini melalui saksi, ahli, dan alat bukti yang sah.” Hakim mengangguk. “Baik. Kita lanjutkan ke pemeriksaan saksi.” Nama Anita dipanggil. Ia berdiri. Langkahnya pelan saat menuju kursi saksi. Sumpah diucapkan. Tangannya masih dingin. Grace menatapnya dari kursi penasihat hukum. Tenang. Memberi kekuatan tanpa kata. “Saudari Anita,” suara hakim lembut namun tegas, “silakan ceritakan apa yang Anda alami.” Anita menarik napas. Satu kali. Dua kali. Lalu ia mulai bicara. “Awalnya, hanya bentakan,” katanya pelan. Ruangan hening. Tidak ada yang menyela. “Lalu jadi tamparan.” Suaranya sedikit bergetar. “Tapi dia selalu minta maaf. Dia bilang, dia khilaf.” Anita “Saya percaya… karena saya pikir itu tidak akan terjadi lagi.” Ia berhenti. Grace mengangguk kecil. “Tapi… itu terjadi lagi. Dan lagi. Dan lagi…” Hakim memperhatikan dengan serius. Jaksa mencatat. Pengacara terdakwa diam. “Dia bilang… semua itu salah saya,” lanjut Anita . “Kalau saya lebih baik… dia tidak akan marah.” Suasana semakin sunyi. Beberapa orang di kursi pengunjung mulai menunduk. “Apakah Anda pernah melawan?” tanya hakim. Anita menggeleng pelan. “Saya takut.” “Takut apa?” tanya hakim. “Takut dia akan lebih marah. Takut… saya tidak bisa keluar dari itu.” Air mata jatuh. Ia tidak lagi menahannya. “Tapi malam itu…” suaranya melemah, “saya sudah tidak kuat.” Ia menatap lurus ke depan. “Dan untuk pertama kalinya… saya memilih bercerita.” Hakim mengangguk perlahan. “Cukup.” Grace memaparkan bukti satu per satu di ruang sidang. Rekaman suara diputar di ruang sidang. Suara bentakan, suara benda jatuh. Tangisan. Semua terdengar jelas dan beberapa orang menahan napas. “Yang Mulia, kami juga menghadirkan saksi dari lingkungan sekitar.” Seorang wanita maju, memberikan kesaksian tentang apa yang sering ia dengar. Tentang malam-malam penuh teriakan, tentang wajah Maya yang pernah ia lihat penuh lebam. Lalu dokter dipanggil untuk menjelaskan hasil visum. “Ditemukan luka memar di beberapa bagian tubuh, dengan tingkat keparahan yang menunjukkan adanya kekerasan berulang.” Semua menguatkan satu sama lain. Setelah kesaksian para saksi, kini giliran pihak terdakwa. Pengacaranya suami Anita berdiri. “Yang Mulia, ini adalah konflik rumah tangga yang seharusnya diselesaikan secara internal. Tidak semua pertengkaran bisa dikategorikan sebagai tindak pidana.” Beberapa orang mulai berbisik. “Tidak ada saksi yang melihat langsung kejadian tersebut,” lanjutnya. “Dan klien kami mengakui adanya emosi, namun tidak berniat mencederai.” Grace menatap lurus. Tenang. Menunggu. Akhirnya, ia berdiri. Langkahnya pasti saat maju beberapa langkah ke depan. “Yang Mulia,” suaranya tenang, tapi setiap kata terdengar jelas, “kekerasan tidak harus disaksikan langsung untuk menjadi nyata.” Grace melanjutkan. “Kita mendengar rekamannya. Kita melihat hasil visumnya. Kita mendengar kesaksian yang konsisten.” “Dan yang paling penting, kita mendengar korban, serta keterangan saksi petugas langsung. ” Grace menoleh ke arah Anita. “Mengatakan ini hanya konflik rumah tangga adalah bentuk penyangkalan terhadap penderitaan yang nyata.” “Jika ini dibiarkan, berarti kita sedang mengirim pesan bahwa kekerasan bisa ditoleransi selama terjadi di dalam rumah.” Grace berhenti sejenak. “Kekerasan yang berulang bukan emosi sesaat,” lanjutnya. “Itu pilihan. Dan setiap pilihan memiliki konsekuensi hukum.” Grace kembali ke tempat duduknya. Hakim membuka berkas. “Setelah mempertimbangkan seluruh bukti dan kesaksian…” Detik terasa melambat. "Mengadili, menyatakan Terdakwa Darwis Sitohang terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga sebagaimana dalam dakwaan." Anita menahan napas. "Menjatuhkan pidana kepada Terdakwa oleh karena itu dengan pidana penjara selama 10 tahun. Memerintahkan Terdakwa tetap berada dalam tahanan. Menetapkan barang bukti berupa dikembalikan kepada korban. Membebankan kepada Terdakwa membayar seluruh biaya perkara." Suara hakim terdengar tegas. Palu diketuk. Tok! Tangis pecah. Bukan tangis ketakutan tapi tangis kelegaan. Anita menutup wajahnya. Bahu itu akhirnya turun. Beban yang selama ini ia bawa… perlahan terlepas. Grace menatapnya tersenyum, bukan kemenangan yang dirayakan, tapi keadilan yang akhirnya ditegakkan. Di luar ruang sidang, Anita berdiri di bawah langit yang terasa lebih luas. Ia menarik napas dalam. Untuk pertama kalinya, tanpa rasa takut. “Terima kasih…” katanya pelan pada Grace. Grace mengangguk. “Ini bukan akhir,” katanya. “Ini awal.” Anita tersenyum, perasaan lega dan bebas menjalar diseluruh hatinya. Bibirnya tidak berhenti mengucapkan kata syukur dan berkali-kali mengucapkan terimakasih pada Grace.