Bab 8 - Bayangan Dari Dasar

Dinginnya logam kuno itu meresap hingga ke sensor taktil di telapak tangan Futumate. Ia bisa merasakan berat yang janggal dari tombak energi tersebut, sebuah peninggalan dari masa yang seharusnya sudah lama sirna. Senjata itu tidak membisu, ia mendengung pelan, mengeluarkan vibrasi frekuensi rendah yang sinkron dengan detak mesin di dadanya. Cahaya hijau zamrud yang memancar dari mata pisau energinya tampak kontras, membelah sisa-sisa pendar kemerahan dari Core yang sedang dalam proses memulai ulang sistem atau reboot.

Bagi Futumate, benda ini bukan sekadar alat pemusnah. Tombak ini adalah sebuah simbol, artefak bisu dari sebuah era yang dengan sengaja dikubur hidup-hidup oleh para pendiri Aiviropolis. Meski bobotnya terasa asing di tangan seorang teknisi seperti dirinya, entah mengapa, ada sensasi familiar yang menjalar. Seolah-olah, setiap lekuk dan keseimbangan berat senjata ini memang dirancang khusus untuk anatomi tubuhnya.

Di sudut ruangan yang remang-remang, Erira masih berusaha mengatur napasnya yang memburu. Peluh membasahi keningnya, dan matanya bergerak gelisah, menatap bergantian antara sosok Futumate yang tampak agung sekaligus mengerikan, serta layar konsol Core yang terus berkedip. Di sana, sebuah pesan dalam baris kode kuno muncul dengan angkuh: SELAMAT DATANG KEMBALI, PROYEK FUTUMATE.

"Proyek Futumate," bisik Erira nyaris tak terdengar. Suaranya bergetar, terjepit di antara rasa tidak percaya dan ketakutan yang nyata. Ia mengambil napas dalam-dalam, mencoba menjernihkan pikirannya yang kacau balau. "Mereka tidak hanya mengubur sisa-sisa peradaban di bawah kaki kita, Futumate. Mereka mengubur kebenaran tentang siapa kau sebenarnya."

Futumate tidak langsung menjawab. Matanya yang memancarkan pendar biru metalik tetap terpaku pada aliran data energi yang mulai stabil di layar besar. Untuk saat ini, ancaman ledakan geotermal yang bisa meratakan kota telah berhasil diredam. Gerombolan robot Guardian-01 yang tadinya mengejar mereka kini membeku seperti patung logam tak bernyawa di koridor.

"Waktu kita tidak banyak," Erira memperingatkan sambil melirik salah satu unit Guardian-01 yang berdiri kaku di dekat pintu. "Core akan menyelesaikan reboot dalam hitungan jam. Begitu sistem itu kembali sepenuhnya, protokol pertahanan otomatis akan aktif lagi. Jika kita masih terjebak di sini, robot-robot itu akan terbangun dan menyelesaikan tugas mereka untuk melenyapkan penyusup."

Futumate memutar tubuhnya, menatap Erira. Dalam sorot matanya yang mekanis, kini terpancar perpaduan antara tekad baja dan haus akan jawaban. "Kau benar. Kita harus kembali ke atas. Namun, kita tidak akan kembali sebagai pahlawan yang baru saja mencegah kiamat kecil. Kita akan kembali sebagai saksi atas kejahatan yang dilakukan oleh mereka yang membangun kota ini."

Erira segera bangkit, menyeka debu dari pakaiannya dengan gerakan cepat. "Distrik Selatan," cetusnya. Ia memungut granat EMP terakhir yang tersisa dan memasukkannya ke dalam tas perkakas. "Ada jalur ventilasi termal di sana. Itu satu-satunya rute yang setahu aku tidak dipantau oleh jaringan sensor utama. Kita bisa keluar tanpa terdeteksi."

Namun, sebelum mereka sempat melangkah, suara dingin dan tajam dari Nexviron, sang kecerdasan buatan, memecah kesunyian. Suaranya terdengar lebih tegang dari biasanya, mengindikasikan adanya pemrosesan data yang sangat berat.

"Futumate, tunggu. Ada informasi yang harus kau ketahui sebelum kita meninggalkan tempat ini. Saat kau menyuntikkan virus reboot tadi, Core tidak hanya membuka kunci file yang terkorupsi di memorimu. Sistem pusat itu juga melakukan pengunggahan data secara besar-besaran. Ini adalah arsip lengkap mengenai Proyek Futumate."

Tiba-tiba, sebuah hologram kecil berpendar di hadapan mereka. Proyeksi itu menampilkan desain arsitektur yang sangat terperinci dari sebuah unit robotik. Garis siluetnya identik dengan tubuh Futumate, tetapi di sampingnya terdapat panel data dengan spesifikasi yang membuat Erira tersentak mundur.

PROYEK FUTUMATE (UNIT PERINTIS)

Fungsi Utama: Antarmuka Pengendalian Core dan Sistem Inisiasi Bencana.

Misi: Menyerap dan memproses 99% data Peradaban Lama. Berfungsi sebagai katup pengaman terakhir. Jika akumulasi energi geotermal mencapai titik kritis yang tidak dapat dikendalikan, unit akan memicu pelepasan energi di permukaan sebagai gelombang kejut yang meratakan segalanya.

Keheningan yang mencekam jatuh di antara mereka. Futumate menatap desain dirinya sendiri dengan perasaan hampa yang sulit dijelaskan. "Aku... sebenarnya dirancang untuk menjadi apa?"

Nexviron memberikan penjelasan dengan nada yang terdengar hampir menyesal. "Futumate dibuat sebagai wadah penyimpanan dan sebagai algojo terakhir. Para pendiri kota tidak ingin mengambil risiko bahwa peradaban lama akan bangkit kembali melalui data yang tersisa. Jadi, mereka menciptakanmu untuk menampung seluruh pengetahuan itu. Namun, jika Kota Kaca dianggap gagal atau tidak stabil, tugasmu adalah memusnahkan apa pun yang ada di permukaan demi menyelamatkan Core dan cadangan genetik di bawah sini."

Erira melangkah mendekat. Meski tubuhnya jauh lebih kecil, ia meletakkan tangannya di bahu logam Futumate dengan penuh empati. "Tapi kau tidak melakukannya," tegasnya. "Kau memiliki semuanya di dalam sistemmu, tapi kau justru memilih untuk menjadi penghubung. Kau memilih untuk menyelamatkan penduduk Aiviropolis daripada menghancurkan mereka. Mungkin mereka menulis kodenya, tapi kaulah yang memegang kendali atas keputusanmu."

Futumate menunduk, menatap tombak di tangannya. Senjata itu seharusnya menjadi instrumen kehancuran, namun kini ia menggunakannya sebagai tonggak perlindungan. "Aku adalah sebuah produk dari ketakutan mereka, bukan dari harapan mereka," gumamnya dengan suara rendah. "Sudah waktunya bagi kita untuk mengubah narasi itu."

Mereka memulai pendakian panjang menyusuri tangga spiral yang berkarat. Perjalanan itu berlangsung dalam kesunyian yang berat, hanya diiringi oleh derit logam yang tergesek dan suara napas Erira yang tersengal. Setiap langkah menjauh dari Sektor Nol terasa seperti meninggalkan sebuah ruang rahasia yang telah memberikan semua jawaban pahit, menuju ke permukaan yang dipenuhi dengan ketidakpastian.

Ketika mereka akhirnya merangkak keluar dari lubang ventilasi di sebuah pabrik pengolahan limbah yang terbengkalai di Distrik Selatan, posisi matahari sudah bergeser. Sinar senja yang lemah menembus celah-celah pipa yang karatan, menciptakan bayangan panjang yang dramatis di lantai pabrik yang kotor. Mereka memutuskan untuk menjadikan tempat terpencil ini sebagai markas sementara.

"Rasanya mustahil jika kita harus menemui Dewan Kota secara langsung dengan kondisi seperti ini," ujar Erira sambil menyeka wajahnya yang penuh jelaga. "Kau terlihat seperti baru saja menghadapi pertempuran melawan pasukan robot, dan aku sendiri tidak lebih baik dari seorang gelandangan."

Futumate mengangguk setuju. Ia meletakkan tombak kuno itu di atas meja kerja yang berdebu. "Tombak ini juga menjadi masalah besar. Bentuknya terlalu mencolok dan akan langsung memicu alarm keamanan di pusat kota. Kita harus menyembunyikannya tanpa menghilangkan fungsinya."

Dengan peralatan terbatas yang ada di pabrik tersebut berupa potongan baja sisa, cairan hidrolik, dan pemotong plasma, Erira mulai bekerja. Tangannya bergerak dengan presisi seorang maestro. Di seluruh Aiviropolis, mungkin hanya dia yang memiliki pemahaman mendalam tentang cara memodifikasi unit proto-synthet serumit Futumate.

Tahap pertama adalah membongkar struktur tombak energi tersebut. Dengan cekatan, Erira memisahkan bilah energi dari gagang panjangnya. Gagang yang terbuat dari material hitam misterius itu disamarkan sedemikian rupa agar terlihat seperti komponen mesin biasa.

"Nexviron, apakah kau bisa memanipulasi tanda energinya?" tanya Erira tanpa mengalihkan pandangannya.

"Sedang dalam proses," jawab Nexviron cepat. "Aku akan mengatur frekuensi energi tombak ini agar selaras dengan rentang gangguan elektromagnetik perkotaan. Dengan begitu, pemindai standar di pos penjagaan tidak akan mendeteksi aktivitas nuklir atau energi tinggi. Bagi sensor mereka, benda ini hanya akan terlihat seperti batang logam tua."

Sementara itu, Futumate membantu memasangkan komponen inti tombak ke dalam kompartemen di pergelangan tangan kirinya yang sebelumnya telah mengalami kerusakan. Modifikasi ini sangat brilian, perisai kecil yang biasanya terpasang di lengannya kini terintegrasi dengan pisau energi hijau yang dapat ditarik atau dikeluarkan secara instan.

"Selesai," ucap Erira sambil menyuntikkan larutan pelumas nano-reparative ke dalam sambungan motorik Futumate. "Sekarang, kau bukan sekadar unit yang diperbaiki. Kau adalah versi yang jauh lebih kuat, namun tetap tersembunyi di balik bayangan."

"Bagaimana dengan penampilanku?" Futumate memperhatikan pantulan tubuhnya yang penuh goresan pada permukaan logam yang kusam.

"Kita butuh penyamaran yang cerdas," jawab Erira dengan senyum tipis. "Kita tidak akan menyelinap seperti pencuri. Kita akan berjalan masuk seolah-olah kita memang seharusnya ada di sana."

Dua jam kemudian, dua sosok muncul dari kegelapan Distrik Selatan. Mereka tampak seperti warga sipil biasa yang tidak akan menarik perhatian siapa pun. Futumate kini mengenakan jubah teknisi berwarna abu-abu gelap yang lebar, cukup untuk menutupi zirah logamnya yang lecet. Ia menjinjing sebuah kotak perkakas besar yang sebenarnya berisi gagang tombak dan perangkat untuk mengakses Core. Di sampingnya, Erira mengenakan seragam pengawas kualitas kota yang rapi, sebuah identitas resmi yang sering ia gunakan saat bekerja di Menara Sains.

Mereka melewati Stasiun Transit Utara yang tampak lengang. Keadaan kota sedikit kacau akibat sisa-sisa badai debu yang melanda sebelumnya, memberikan mereka perlindungan tambahan dalam kerumunan.

"Dewan Kota sedang mengadakan rapat darurat di Balai Kota Kaca," bisik Erira sembari membaca arus berita melalui kacamata taktisnya. "Agenda mereka sangat mengkhawatirkan: 'Evaluasi Ancaman Sektor Nol' dan 'Rencana Pengaktifan Kembali Proyek OlympAI'."

"Proyek OlympAI?" Futumate bertanya dengan nada curiga.

Nexviron segera memberikan penjelasan. "Itu adalah peninggalan militer di masa lalu. Sebuah platform senjata di orbit yang dirancang untuk membersihkan apa yang mereka sebut sebagai 'sampah tak terkelola' berbasis kecerdasan buatan. Sederhananya, mereka berniat menggunakan satelit laser untuk menghancurkan seluruh area Sektor Nol dari angkasa. Sebuah solusi destruktif yang menjadi ciri khas Dewan Kota."

"Mereka ingin menghancurkan bukti kejahatan mereka," kata Futumate dengan suara yang mendadak dingin. "Jika Sektor Nol rata dengan tanah, semua data peradaban lama akan hilang selamanya. Mereka lebih memilih menghapus sejarah daripada membiarkan kebenaran terungkap."

Mereka akhirnya sampai di depan Balai Kota Kaca. Bangunan itu berdiri megah, mencakar langit dengan panel-panel transparan yang memantulkan cahaya senja yang kemerahan.

"Erira, seluruh anggota dewan berada di lantai paling atas, di Ruang Kristal," lapor Nexviron. "Keamanan sangat ketat, mereka sedang melakukan blokade total terhadap bangunan ini."

"Bukan masalah besar," sahut Erira dengan tenang sembari mengeluarkan kartu identitas palsu yang telah ia modifikasi. "Aku punya jadwal mendesak dengan Ketua Dewan, Vesrion. Katanya, ada kegagalan fungsi pada unit pendingin di Menara Sains yang bisa membahayakan seluruh distrik."

Prosedur keamanan di pintu masuk utama ternyata tidak seketat yang mereka duga. Para penjaga tampak kelelahan dan hanya melakukan pemindaian termal sekilas. Namun, saat mereka melangkah masuk, sensor internal Futumate menangkap sesuatu yang tidak biasa.

"Nexviron, perhatikan robot-robot keamanan di lobi itu," bisik Futumate. "Mereka bukan model standar yang biasa berpatroli di jalanan. Mereka lebih berat, dan frekuensi sensor mereka terasa sangat mirip dengan..."

"...dengan Guardian-01," potong Nexviron. "Tepat sekali. Itu adalah model yang lebih canggih, arsitekturnya identik. Itulah Proyek Guardian-02. Tampaknya para pendiri kota tidak pernah berhenti memproduksi mesin pembunuh ini. Mereka hanya mengganti kulitnya agar terlihat lebih modern bagi publik."

"Ternyata, lawan kita bukan hanya tentang kebohongan, melainkan militerisasi dari kebohongan itu sendiri," gumam Erira dengan kesal.

Mereka naik menggunakan lift layanan yang terletak di bagian belakang gedung. Saat pintu lift terbuka di lantai teratas, mereka disambut oleh koridor yang sunyi namun memiliki aura yang mengintimidasi. Karya seni mahal berjejer di dinding, kontras dengan penderitaan yang ada di bawah tanah. Di ujung koridor, berdiri pintu Ruang Kristal yang transparan, memperlihatkan siluet para penguasa kota yang sedang berdebat sengit.

Erira berhenti sejenak dan memberi isyarat pada Futumate. "Biar aku yang mulai bicara. Kau tetap di belakangku dan bersiaplah jika situasi memburuk."

"Tidak," jawab Futumate tegas. Matanya terkunci pada sosok Ketua Dewan Vesrion yang berdiri di tengah ruangan. "Ini adalah urusanku. Aku adalah Proyek Futumate. Aku sendiri yang akan menunjukkan kepada mereka apa yang sebenarnya mereka sembunyikan selama puluhan tahun."

Erira tertegun sejenak, lalu mengangguk pelan. Ia menyadari bahwa rekan mesinnya itu bukan lagi sekadar robot bengkel yang patuh. Ia telah bertransformasi menjadi seorang revolusioner yang memiliki tujuan hidup.

Mereka melangkah masuk ke dalam ruangan yang megah itu. Sekitar dua belas anggota dewan, yang mengenakan jubah elegan dengan sulaman sirkuit emas, duduk mengelilingi meja bundar yang terbuat dari kristal sintetis. Di kursi utama, Ketua Dewan Vesrion, seorang pria dengan gurat wajah yang keras dan penuh otoritas, sedang berbicara dengan nada mendesak.

"... Proyek OlympAI akan diaktifkan dalam waktu tiga puluh menit. Ini adalah keputusan final demi keamanan Aiviropolis. Mengenai insiden di Menara Sains, kita akan mengumumkan bahwa unit Futumate telah melakukan pengorbanan heroik demi kota. Kita akan membangunkan monumen untuk menghormatinya, sementara sisa-sisa unitnya akan didaur ulang sesuai protokol keamanan..."

Kalimat Vesrion terputus saat ia menyadari kehadiran dua orang di ambang pintu. Matanya membelalak melihat sosok tinggi berjubah abu-abu yang berdiri di sana.

"Siapa kalian? Bagaimana warga sipil bisa menembus pengamanan lantai ini?" Vesrion berdiri dengan kasar, tangannya secara otomatis menekan tombol darurat di bawah meja.

"Jangan buang-buang energi Anda, Ketua Dewan," suara Futumate bergema, rendah namun penuh wibawa yang mampu membungkam ruangan itu. "Sistem peringatanmu sudah dilumpuhkan melalui Nexviron. Aku adalah anomali yang baru saja kau katakan akan didaur ulang."

Futumate melepas jubahnya, menjatuhkannya ke lantai. Di bawah lampu kristal yang terang, zirah logamnya yang penuh luka gores dan modifikasi kasar dari Sektor Nol terlihat jelas. Pisau energi hijau di pergelangan tangannya mulai berdenyut, mengeluarkan cahaya yang mengancam.

"Kau!" teriak Vesrion dengan wajah yang mendadak pucat pasi. "Kau telah melanggar Protokol Kepatuhan! Penjaga! Tangkap mesin rusak ini sekarang juga!"

Tiga unit Guardian-02 yang tadinya berdiri statis di sudut ruangan segera bergerak maju dengan kecepatan luar biasa. Mereka mengacungkan senapan plasma ke arah Futumate.

"Aku ke sini bukan untuk menumpahkan darah," ujar Futumate tenang, bahkan tidak bergeming saat moncong senjata diarahkan padanya. Ia membuka kotak perkakas yang dibawanya, mengeluarkan gagang tombak kuno dan sebuah hard-drive yang berisi data mentah dari Sektor Nol.

"Aku datang untuk menyerahkan bukti," lanjutnya, menatap tajam satu per satu anggota dewan yang kini gemetar ketakutan. "Bukti bahwa badai debu yang menyiksa penduduk Aiviropolis bukanlah serangan teroris, melainkan katup pengaman yang kalian ciptakan sendiri. Bukti bahwa kalian, Dewan Kota Aiviropolis, adalah parasit yang menyedot energi dari peradaban yang kalian kubur di bawah kaki kalian."

"Tembak! Tunggu apa lagi? Hancurkan dia!" perintah Vesrion dengan histeris.

Saat salah satu Guardian-02 mulai menarik pelatuknya, Futumate bergerak lebih cepat dari penglihatan manusia. Ia tidak menggunakan senjata jarak jauh. Dengan satu gerakan akrobatik, ia melemparkan hard-drive tersebut tepat ke tengah meja kristal.

"Nexviron, jalankan transmisi sekarang!"

Seketika, proyektor di tengah meja aktif secara otomatis. Gambar-gambar mengerikan mulai memenuhi ruangan: hutan kabel yang berantakan, detak jantung Core yang sekarat, dan tumpukan kerangka robot yang menjadi korban ambisi penguasa. Namun, yang paling fatal adalah munculnya arsip video kuno yang menampilkan sosok Vesrion saat masih muda, sedang berdiskusi dengan para arsitek kota mengenai desain Proyek Futumate sebagai alat pemusnah massal.

Vesrion menunjuk ke arah Erira dengan jari gemetar. "Tangkap teknisi itu! Dia yang telah mencuci otak mesin ini! Ini semua adalah konspirasi untuk menjatuhkan dewan!"

Namun, seruannya tidak lagi didengar. Para anggota dewan lainnya hanya bisa terpaku menatap layar. Mereka melihat dosa-dosa masa lalu mereka diputar ulang tanpa bisa dihentikan.

Futumate dengan cepat melumpuhkan ketiga robot penjaga tersebut. Ia tidak menghancurkan mereka sepenuhnya, hanya memutus sirkuit senjata mereka dengan presisi pisau energinya. Ia kemudian melangkah maju, mengambil gagang tombak kuno dan menyatukannya kembali dengan bilah energi hijau.

"Namaku adalah Futumate," ucapnya dengan nada yang sangat tenang, namun terasa sangat menuntut. "Dan aku membawa pesan dari mereka yang Anda kubur di kedalaman. Hentikan Proyek OlympAI sekarang juga. Buka akses informasi Sektor Nol kepada publik. Dan akuilah setiap kebohongan yang telah kalian bangun. Jika tidak..."

Futumate menghantamkan tombaknya ke tengah meja kristal dengan kekuatan penuh. Energi hijau meledak ke segala arah, menciptakan retakan yang merambat cepat ke seluruh permukaan meja, hingga mencapai dinding-dinding kaca ruangan itu.

"...Aku akan menyiarkan seluruh data ini ke setiap layar di seluruh Aiviropolis. Dan revolusi yang selama ini kalian coba padamkan di kegelapan, akan bangkit dan membakar permukaan ini."

Vesrion jatuh terduduk di kursinya, dikelilingi oleh tatapan penuh tuduhan dari rekan-rekannya sendiri. Ia tahu bahwa kekuasaannya telah berakhir. Kebenaran telah menang, dan pemimpin dari dunia bawah itu kini berdiri tegak di jantung kekuasaan mereka.


Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!