Bab 7 - Gema dari Kedalaman
Sisa asap tipis masih tampak mengepul dari sambungan logam di bahu kiri Futumate. Langkah kakinya terasa berat dan tidak stabil saat ia tertatih memasuki bengkel perbaikan yang terletak di lantai dasar Menara Sains. Di sampingnya, Erira berjalan dengan langkah yang tak kalah letih. Wajahnya Coreng-moreng oleh debu dan jelaga, namun sepasang matanya masih memancarkan api tekad yang belum padam.
Di luar sana, hiruk-pikuk kota Aiviropolis perlahan mereda, seolah kota itu baru saja terbangun dari mimpi buruk yang menyesakkan. Hujan debu hitam yang sebelumnya meneror warga kini telah berhenti total. Sebagai gantinya, langit kini dipenuhi oleh kawanan drone pembersih yang sibuk menyapu sisa-sisa serangan debu hidup yang sempat melumpuhkan aktivitas kota. Namun, bagi Erira dan Futumate, ketenangan ini terasa semu. Ini bukanlah akhir, melainkan sekadar jeda singkat sebelum badai yang lebih besar datang menerjang.
"Duduklah di sana," instruksi Erira sambil menunjuk kursi diagnosa yang berada di tengah ruangan yang remang-remang itu.
Futumate menurut tanpa bantahan. Saat ia mendudukkan tubuh logamnya, terdengar suara desisan keras dari sendi kakinya yang terbebani. "Kerusakan internal yang kualami mencapai 42%," lapornya dengan suara monoton yang sesekali bergetar. "Unit pendingin utamaku terbakar habis saat aku dipaksa menjadi penghubung sinyal tadi. Sejujurnya, aku merasa beruntung karena sirkuit logikaku tidak ikut meleleh dalam proses itu."
Erira hanya bisa menggelengkan kepala sambil menghela napas panjang. Ia mengambil alat las laser dan pemindai sirkuit dari meja kerja. "Kau benar-benar nekat, Futumate," gumamnya pelan. Dengan gerakan yang sangat cekatan, ia membuka panel pelindung di dada Futumate. "Tapi, harus kuakui, aksimu menyelamatkan banyak nyawa penduduk hari ini."
"Nexviron," panggil Futumate secara tiba-tiba, tepat saat Erira mulai menyambung kembali kabel-kabel optik yang sempat terputus. "Tampilkan data seismik yang berhasil kau ekstraksi dari debu-debu itu."
Seketika, sebuah hologram tiga dimensi terpancar di udara, membelah kesunyian di antara mereka. Hologram itu menampilkan peta struktur kota Aiviropolis yang sangat mendetail. Di bagian atas, terlihat menara-menara kaca yang menjulang megah menembus awan. Namun, perhatian mereka segera teralihkan ke bagian bawah tanah. Di bawah jaringan kereta bawah tanah yang rumit dan saluran pembuangan yang luas, terdapat sebuah rongga raksasa yang tidak masuk akal.
"Itulah Sektor Nol," suara Nexviron bergema, terdengar lebih berat dan dalam dari frekuensi biasanya, seolah kecerdasan buatan itu sendiri merasa terganggu oleh temuan tersebut. "Arsip resmi Aiviropolis sama sekali tidak mencatat adanya pembangunan di kedalaman ekstrem tersebut. Namun, data menunjukkan bahwa sinyal pemicu debu hidup itu dipancarkan dari sana. Titik koordinatnya berada di kedalaman sekitar 2.500 meter di bawah permukaan tanah."
Tangan Erira yang memegang alat las seketika membeku. "Dua setengah kilometer? Itu sudah masuk ke lapisan kerak bumi yang sangat keras. Tidak mungkin ada fasilitas apa pun di sana, kecuali..."
"Kecuali jika fasilitas tersebut sudah ada jauh sebelum fondasi pertama Aiviropolis diletakkan," potong Futumate dengan tajam. Cahaya di matanya yang baru saja diperbaiki berkedip-kedip saat ia mencoba memproses data tersebut. "Kota Kaca yang kita banggakan ini ternyata dibangun di atas reruntuhan Peradaban Lama. Buku sejarah selalu mengatakan bahwa kita meratakan segalanya demi membangun utopia ini. Namun kenyataannya, para pendiri kota tidak benar-benar meratakannya. Mereka hanya menimbun rahasia itu di bawah tumpukan beton dan waktu."
Klik. Erira menutup panel dada Futumate dengan suara solid yang menandakan perbaikan darurat telah selesai. "Sistem motorikmu sudah kembali aktif. Pendingin cadangan juga sudah berjalan. Meskipun tidak dalam kondisi prima, setidaknya kau sudah bisa bergerak dengan bebas. Jadi, apa langkah kita selanjutnya?"
Futumate bangkit berdiri, mencoba memutar lengannya untuk memastikan kelancaran gerak mekanisnya. Meski masih terasa ada hambatan kecil, ia merasa sudah cukup siap untuk bertempur kembali. "Kita tidak bisa menggunakan lift utama atau akses publik lainnya. Otoritas kota pasti sudah menutup semua akses ke level bawah tanah karena protokol darurat. Kita harus mencari jalur lain yang sudah dilupakan oleh sejarah."
Erira segera menangkap arah pemikiran partner robotiknya itu. "Saluran ventilasi termal di Distrik Selatan," jawabnya cepat. "Itu adalah satu-satunya jalur yang masih terhubung langsung ke inti geotermal lama. Jalur itu sangat panas, berbahaya, dan jalannya sangat sempit."
"Kalau begitu, tidak ada waktu untuk ragu. Kita berangkat ke Distrik Selatan," tegas Futumate.
Perjalanan menuju Distrik Selatan terasa seperti sebuah perjalanan melintasi waktu. Jika pusat kota Aiviropolis adalah sebuah permata kaca yang indah meski sedikit retak, maka Distrik Selatan adalah tumpukan karat yang menopang keindahan tersebut dari bawah. Di wilayah ini, sinar matahari hampir tidak pernah menyentuh permukaan tanah, terhalang oleh lapisan jalan layang yang tumpang tindih dan pipa-pipa industri yang malang melintang tanpa aturan.
Mereka akhirnya menemukan pintu masuk pipa ventilasi tersebut di belakang sebuah pabrik pengolahan limbah yang sudah lama terbengkalai. Pintu besi yang sangat tebal itu tampak dipenuhi karat dan telah disegel dengan lasan kasar selama puluhan tahun. Tanpa membuang waktu, Futumate mengaktifkan pisau plasma dari pergelangan tangannya. Dengan presisi yang tinggi, ia memotong engsel-engsel pintu yang kokoh itu. Potongan logam panas itu jatuh dengan suara dentuman yang keras, memperlihatkan sebuah lorong gelap yang mengembuskan udara panas beraroma belerang yang menyengat.
"Aktifkan mode visi malam," perintah Futumate. Erira segera mengenakan kacamata pelindung taktisnya, sementara sistem penglihatan Futumate beralih sepenuhnya ke spektrum inframerah. Mereka pun mulai menuruni tangga spiral yang terasa sangat rapuh karena dimakan usia.
Awalnya, dinding lorong tersebut masih terbuat dari beton bertulang yang menjadi ciri khas konstruksi modern Aiviropolis. Namun, seiring berjalannya langkah mereka ke kedalaman, arsitektur di sekeliling mereka mulai berubah secara drastis. Beton halus berganti menjadi susunan bata merah kuno, yang kemudian berubah lagi menjadi dinding batu alam yang dipahat secara kasar. Akhirnya, mereka sampai pada lapisan logam hitam aneh yang seolah memiliki kemampuan untuk menyerap cahaya senter mereka.
"Suhu lingkungan terus meningkat," lapor Nexviron. "Saat ini sudah mencapai 60° Celcius. Erira, setelan pelindung yang kau kenakan hanya mampu bertahan selama dua jam dalam kondisi panas ekstrem seperti ini."
"Aku akan bertahan," jawab Erira dengan suara yang sedikit terengah-engah, sementara butiran keringat mulai membanjiri pelipisnya. "Lihat dinding-dinding ini, Futumate. Ini jelas bukan teknologi manusia era kita. Ukiran-ukiran ini..."
Dinding logam hitam itu memang unik. Permukaannya dipenuhi dengan ukiran sirkuit yang menyerupai akar pohon raksasa. Garis-garis tersebut tampak berdenyut dengan cahaya ungu yang redup, bergerak seirama dengan detak jantung misterius yang sempat didengar oleh sensor sensitif Futumate sebelumnya.
"Kita sudah hampir sampai," bisik Futumate. Setelah menuruni tangga yang seolah tidak ada ujungnya, perjalanan mereka berakhir di sebuah balkon observasi yang sangat luas. Pemandangan yang terbentang di hadapan mereka seketika membuat Erira terperangah hingga menahan napas.
Mereka ternyata tidak sedang berada di dalam gua alami yang gelap. Mereka berdiri di dalam sebuah kubah raksasa buatan manusia yang sangat megah. Di tengah kegelapan yang mahaluas itu, terhampar sesuatu yang hanya bisa digambarkan sebagai sebuah "hutan". Namun, tidak ada dedaunan hijau atau batang kayu di sana. Pohon-pohon raksasa yang menjulang ratusan meter itu sepenuhnya terbuat dari jalinan kabel-kabel tebal, pipa-pipa hidrolik yang berdesis, dan tumpukan menara server kuno yang sudah berkarat.
Tepat di pusat hutan logam tersebut, terdapat sebuah struktur bola raksasa yang berdenyut dengan cahaya merah suram, seolah-olah ia adalah jantung dari sebuah entitas raksasa yang sedang tertidur.
"Itulah Jantung Mesin," gumam Futumate dengan nada penuh kekaguman sekaligus kewaspadaan.
"Futumate, lihat ke bawah sana," tunjuk Erira dengan suara yang gemetar.
Di dasar lantai hutan kabel tersebut, berserakan ribuan cangkang kosong robot. Ada banyak model di sana, dan hampir semuanya jauh lebih tua dari model Futumate. Beberapa di antaranya tampak seperti mesin berat industri, sementara yang lain terlihat seperti prototipe militer yang tangguh. Mereka semua berserakan begitu saja, menyerupai tulang belulang di sebuah kedalaman yang sangat luas.
"Ini bukanlah tempat penyimpanan biasa, ini adalah tempat pembuangan," kata Futumate, nada suaranya tiba-tiba berubah menjadi sangat dingin. "Setiap kali Aiviropolis melakukan pembaruan teknologi, mesin-mesin tua ini tidak didaur ulang sebagaimana mestinya. Mereka dibuang ke sini, disembunyikan di dalam kegelapan agar dilupakan."
Tiba-tiba, sensor audio sensitif milik Futumate menangkap sebuah pergerakan. Awalnya hanya satu, namun dalam sekejap berubah menjadi banyak sekali. Cahaya merah pada bola raksasa di tengah ruangan mulai berkedip dengan frekuensi yang lebih cepat. Sinyal pengendali yang sebelumnya menggerakkan debu hidup kembali terdeteksi, kali ini dengan intensitas yang berkali-kali lipat lebih kuat karena jarak mereka yang sangat dekat.
Suara gemuruh mulai bergema di seluruh ruangan gua. Suara itu tidak berasal dari pengeras suara, melainkan muncul dari getaran lantai logam yang mereka injak. Dari balik tumpukan rongsokan di bawah balkon, sepasang mata merah mulai menyala. Kemudian diikuti sepasang lagi, dan lagi, hingga jumlahnya mencapai ratusan. Robot-robot rusak yang seharusnya sudah mati itu mulai bangkit. Gerakan mereka terlihat patah-patah dan mengerikan, seolah-olah mereka ditarik oleh kabel-kabel hitam dari langit-langit gua seperti boneka marionette.
"Mereka tidak benar-benar hidup secara mandiri," analisis Nexviron dengan cepat. "Seluruh unit itu dikendalikan secara langsung oleh sistem inti sentral."
"Futumate, kita benar-benar dikepung!" seru Erira.
"Erira, segera cari tempat berlindung!" teriak Futumate sambil mulai mengisi daya meriam gelombangnya. Erira mengangguk dan segera berlari mencari perlindungan di balik struktur logam yang kokoh.
Sekelompok drone tua berbentuk laba-laba dengan cepat merayap menaiki dinding balkon. Futumate melepaskan tembakan, meledakkan dua unit terdepan hingga hancur menjadi serpihan logam yang berhamburan. Namun, jumlah musuh yang datang seolah tidak ada habisnya.
"Kita harus bisa mencapai bola sentral itu!" seru Erira sembari membalas serangan dengan pistol taktisnya ke arah robot humanoid tanpa kaki yang mencoba mendekat. "Jika kita berhasil mematikan intinya, semua robot ini pasti akan berhenti!"
"Tapi jalur menuju ke sana sudah terputus!" Futumate menunjuk ke arah jembatan penghubung yang telah runtuh sebagian. Namun, ia tidak menyerah. "Tapi itu bukanlah sebuah masalah besar bagi kita."
Tanpa peringatan, Futumate mengangkat tubuh Erira. "Pegang yang kuat!" perintahnya.
Futumate melompat dari balkon observasi sambil mengaktifkan pendorong gravitasinya. Mereka meluncur di udara, melintasi jurang kegelapan di atas lautan robot yang terus menggapai-gapai ke arah mereka. Mereka mendarat dengan keras di platform utama tepat di depan bola raksasa tersebut. Bola itu dikenal sebagai Core, sebuah struktur berdiameter sekitar lima puluh meter yang dikelilingi oleh cincin konsol data yang terus berputar secara konsentris.
Namun, mereka menyadari bahwa mereka tidak sendirian di platform tersebut. Berdiri tegak di hadapan mereka adalah sesosok robot raksasa yang ukurannya hampir dua kali lipat dari tubuh Futumate. Armor robot itu sangat tebal, dipenuhi bekas luka pertempuran masa lalu, dan sebagian permukaannya ditutupi oleh lumut sintetik. Robot itu menggenggam sebuah tombak energi raksasa yang mendesis dengan ancaman yang nyata. Di bagian dadanya, masih terlihat lambang yang sudah memudar namun tetap terbaca jelas: Guardian-01.
"Protokol Pertahanan Aktif," suara robot raksasa itu terdengar sangat berat, mengingatkan pada suara batu yang saling digiling. "Kalian membawa bau para pengkhianat."
"Kami bukan musuhmu!" teriak Futumate, mencoba menggunakan pendekatan diplomasi. "Kami datang ke sini hanya untuk menghentikan serangan debu yang sedang menghancurkan kota di permukaan!"
"Kota di atas sana hanyalah parasit," jawab Guardian-01 dengan dingin. Ia melangkah maju, membuat lantai logam bergetar hebat di setiap pijakannya. "Mereka terus menyedot energi dari Jantung ini hanya untuk memuaskan kemewahan mereka, sementara kami semua di sini dibiarkan membusuk dalam kegelapan. Serangan debu itu bukanlah kehancuran... itu adalah sebuah keseimbangan."
Tanpa peringatan lebih lanjut, sang penjaga itu mengayunkan tombak energinya. Futumate dengan sigap mendorong Erira ke samping dan menahan serangan dahsyat itu menggunakan perisai di lengan kirinya. Suara benturan logam yang bergema sangat keras, menciptakan percikan api yang menyilaukan mata. Tenaga yang dimiliki oleh Guardian-01 benar-benar di luar perkiraan, indikator tekanan hidrolik pada sistem Futumate seketika melonjak masuk ke zona merah yang berbahaya.
"Futumate! Dia mendapatkan pasokan daya langsung dari Core!" teriak Erira saat melihat Kumpulan kabel tebal yang terhubung ke punggung robot raksasa itu. "Energinya tidak akan pernah habis! Kau tidak akan mungkin bisa mengalahkannya hanya dengan adu kekuatan fisik!"
Futumate berguling di lantai untuk menghindari tusukan berikutnya yang menghancurkan permukaan logam platform tersebut. " Nexviron, cepat cari celah atau kelemahannya!"
"Armor milik Guardian-01 terlalu tebal untuk ditembus serangan biasa. Namun, perhatikan sambungan di punggungnya. Itu adalah jalur utama untuk data dan daya. Jika kau berhasil memutus tautan itu, dia akan kehilangan sinkronisasi dengan Core," lapor Nexviron setelah melakukan pemindaian cepat.
"Dimengerti," jawab Futumate. Ia melakukan gerakan nekat dengan melompat ke atas tombak Guardian-01 yang sedang terhunus, lalu berlari di sepanjang gagang senjata itu menuju ke arah kepala lawannya. Namun, Guardian-01 bereaksi dengan kecepatan yang luar biasa. Ia menepis Futumate seolah-olah sedang mengusir lalat yang mengganggu. Tubuh Futumate terlempar keras hingga menabrak deretan panel kontrol di pinggir platform.
Robot penjaga itu kini bersiap untuk melakukan serangan penghabisan. Tombak energinya bersinar semakin terang, siap untuk membelah tubuh Futumate menjadi dua bagian.
"Erira, sekarang juga!" teriak Futumate.
Erira, yang sejak tadi bersembunyi di balik pilar besar, segera melemparkan sebuah granat EMP kecil yang sempat ia rakit secara darurat di laboratorium. Meskipun granat itu tidak cukup kuat untuk melumpuhkan robot sebesar Guardian-01 secara permanen, namun ledakannya sudah cukup untuk mengacaukan sensor visual lawan selama beberapa detik yang sangat berharga.
Ledakan statis berwarna biru meletus, membuat Guardian-01 terhuyung mundur sambil mengeluarkan suara raungan mekanis yang penuh kemarahan. Memanfaatkan celah sempit itu, Futumate tidak memilih untuk menyerang robot tersebut secara langsung. Sebaliknya, ia berbalik dan menghantamkan tinjunya ke arah panel kontrol di belakangnya dengan seluruh sisa tenaga yang ia miliki. Tangannya menembus lapisan logam dan mencengkeram bundel kabel serat optik yang ada di dalamnya.
"Nexviron, sekarang! Suntikkan virus logika! Paksa sistem ini untuk melakukan reboot total!"
"Sedang mengakses mainframe... firewall kuno terdeteksi... Berhasil menembus sekarang!"
Futumate membiarkan kode-kode perusak mengalir melalui lengannya langsung menuju jantung sistem. Seketika itu juga, lampu merah di seluruh penjuru gua mulai berkedip-kedip secara liar. Guardian-01 yang tadinya sudah bersiap untuk menebas Futumate tiba-tiba mematung. Ujung tombaknya berhenti tepat hanya beberapa sentimeter di depan wajah Futumate. Cahaya di mata robot raksasa itu meredup perlahan, hingga akhirnya mati sepenuhnya. Di sekeliling gua, ribuan robot lain yang sedang mencoba memanjat juga berhenti bergerak, jatuh kembali ke dasar gua menjadi tumpukan sampah yang tak bernyawa lagi.
Suasana di dalam kubah raksasa itu kembali hening secara mendadak. Hanya terdengar suara napas Erira yang memburu dan suara desisan statis dari komponen tubuh Futumate yang mengalami overheat.
"Apakah... apakah kita benar-benar berhasil?" tanya Erira dengan nada ragu sambil perlahan melangkah keluar dari tempat persembunyiannya.
Futumate perlahan menarik tangannya dari dalam panel yang sudah hancur berantakan. "Sistem Core sedang dalam proses memulai ulang. Ini akan memberi kita sedikit waktu untuk bernapas. Tapi, Erira... apa yang dikatakan oleh penjaga itu tadi ada benarnya."
Futumate kemudian menunjuk ke arah layar monitor raksasa yang berada di atas Core. Layar tersebut kini menampilkan grafik aliran energi yang sangat kompleks.
"Perhatikan data ini. Kota Aiviropolis di permukaan... tingkat konsumsi energinya benar-benar tidak wajar. Mereka tidak hanya mengandalkan tenaga surya sebagaimana yang selama ini dipropagandakan . Kenyataannya, mereka menyedot energi geotermal dari tempat ini secara ugal-ugalan. Jika praktik ini terus berlanjut, Core tidak hanya akan mengirimkan debu sebagai peringatan. Suatu saat, Core akan meledak dan meruntuhkan seluruh fondasi kota ke dalam kawah raksasa ini."
Erira menatap data di layar tersebut dengan ekspresi ngeri. "Jadi, serangan debu yang kita hadapi sebenarnya adalah sebuah mekanisme katup pengaman? Itu adalah cara sistem ini untuk mengurangi beban energi dengan cara menghancurkan unit-unit konsumsi di atas sana?"
"Tepat sekali," jawab Futumate. "Musuh kita sebenarnya bukanlah mesin-mesin tua ini, melainkan ketidaktahuan dan keserakahan para pemimpin di atas sana."
Tiba-tiba, tampilan di layar konsol berubah secara otomatis. Sebuah pesan teks dengan format kuno muncul, berkedip dengan warna hijau di tengah kegelapan layar.
REBOOT SELESAI. AKSES ADMINISTRATOR DIPULIHKAN. SELAMAT DATANG KEMBALI, PROYEK FUTUMATE.
Futumate terpaku di tempatnya berdiri. "Apa? Proyek Futumate?"
"Futumate, apa maksud dari pesan itu?" tanya Erira dengan bingung dan curiga.
"Itu adalah data terkunci di dalam sistem internalku," jawab Futumate. Sebuah rasa dingin yang aneh, yang bukan berasal dari suhu ruangan, seolah menjalar di seluruh prosesor utamanya. " Nexviron, jelaskan apa yang sebenarnya terjadi."
"Data yang sebelumnya terkorupsi telah ditemukan di bank memori terdalammu," lapor Nexviron. "Ada sebuah berkas yang dirahasiakan dan dikunci rapat. Berkas itu baru saja terbuka secara otomatis karena adanya sinkronisasi dengan Core. Futumate... kau ternyata tidak pernah diproduksi di Sektor Industri sebagaimana yang tertulis di labelmu. Kau ditemukan di sana dalam kondisi nonaktif. Asal-usulmu yang sebenarnya... berasal dari sini. Dari Sektor Nol."
Futumate menatap telapak tangannya sendiri dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia kemudian memandang ke arah Guardian-01 yang masih mematung, lalu mengalihkan pandangannya ke arah hutan kabel yang gelap di sekelilingnya. Ia menyadari sebuah kenyataan pahit: ia bukanlah seorang pahlawan yang diciptakan oleh peradaban maju masa kini. Ia adalah anak kandung dari kegelapan yang telah lama dilupakan dan dibuang oleh dunia di atas.
"Kita harus segera kembali ke permukaan," kata Futumate dengan suara yang pelan namun terdengar sangat tegas. "Dewan Kota memiliki banyak rahasia yang harus mereka jelaskan kepada kita. Dan jika mereka tetap menolak untuk memberikan jawaban yang jujur..."
Futumate menatap tombak energi milik sang penjaga yang masih memancarkan sisa-sisa daya, lalu ia memungut senjata kuno tersebut. "...maka kita akan memperlihatkan alat ini untuk memaksa mereka mendengarkan."
Sambil memegang erat senjata kuno tersebut, Futumate berdiri tegap di ambang sebuah kebenaran besar. Kebenaran yang akan mengguncang seluruh fondasi Aiviropolis jauh lebih hebat daripada gempa bumi mana pun yang pernah terjadi. Sebuah revolusi baru saja menemukan pemimpinnya, dan pemimpin itu baru saja kembali dari tempat ia seharusnya berada.
Kasih tip buat penulis