Bab 6 - Debu Hitam di Kota Kaca (Bagian 2)

Perjalanan kembali dari Sektor Industri Lama terasa jauh lebih panjang dan mencekam dibandingkan saat mereka pertama kali berangkat dengan penuh harapan. Di cakrawala, langit mulai memucat, memberikan tanda bahwa matahari seharusnya mulai bersinar terang menyapa pagi. Namun, kehangatan cahaya itu seolah tertahan oleh tirai kabut hitam yang kini menggantung lebih pekat dan berat di atas pusat kota Aiviropolis. Kota yang biasanya berkilau itu kini tampak seperti raksasa yang sedang tercekik oleh asap gelap yang tidak wajar.

Di dalam kokpit kendaraan hover milik Erira yang sempit, keheningan terasa begitu tebal dan menekan. Tidak ada percakapan. Hanya suara mesin pendorong yang menderu rendah, sesekali bergetar saat melewati turbulensi udara. Futumate duduk membeku di kursi penumpang, jemari mekanisnya menggenggam erat sebuah kepingan memori rusak yang ia ambil dari sisa-sisa bot keamanan di pabrik tua tadi. Cahaya biru dari sensor matanya berkedip dengan ritme yang tidak teratur, sebuah indikasi visual bahwa prosesor internalnya sedang bekerja keras mengolah data dalam jumlah besar di latar belakang sistemnya.

"Nexviron," panggil Futumate melalui koneksi batin digitalnya, berkomunikasi langsung melalui tautan neural internal tanpa mengeluarkan suara. "Jalankan simulasi mendalam pada fragmen data terakhir. Kalimat 'Kaca akan pecah' terus muncul dalam log sistem. Aku perlu kepastian teknis, apakah itu sekadar metafora puitis atau sebuah ancaman fisik yang nyata?"

"Sedang memproses, Futumate," suara Nexviron bergema di dalam kesadaran digitalnya, datar namun membawa urgensi. "Analisa awal menunjukkan bahwa peristiwa ini bukan sekadar simbolisme. Ini adalah peringatan serangan fisik berskala besar. Namun, ada hal lain yang lebih mendesak. Aku mendeteksi anomali pada sampel debu yang menempel di sasis kendaraan kita. Partikel itu menunjukkan aktivitas yang tidak biasa."

Mendengar itu, Futumate segera menoleh ke jendela samping. Di luar kaca transparan itu, butiran debu hitam yang sebelumnya tampak pasif dan mati kini mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Mereka tidak lagi terbang terbawa angin. Sebaliknya, mereka mulai merayap dengan gerakan yang terkoordinasi. Bagaikan koloni semut mikroskopis yang cerdas, partikel-partikel berbentuk dodecahedron itu perlahan menyatu, membentuk pola geometris yang rumit dan presisi di permukaan luar kaca kendaraan.

"Erira," kata Futumate tiba-tiba, suaranya yang berat memecah kesunyian kokpit dengan tajam. "Jangan kurangi kecepatan sedikit pun. Kita harus tiba di laboratorium secepat mungkin. Debu ini tidak mati. Mereka sedang terbangun."

Erira tersentak, ia menoleh sejenak dan matanya terbelalak melihat pola-pola hitam yang merayap tepat di samping kepalanya. "Apa yang mereka lakukan? Bukankah sumber daya pusatnya sudah kita matikan di sektor industri?" tanya Erira dengan tidak percaya.

"Induknya mungkin memang sudah mati, tapi pasukannya masih memiliki protokol cadangan," jawab Futumate dingin. "Mereka telah beralih ke mode otonom. Atau skenario yang lebih buruk, mereka baru saja menerima sinyal pemicu sekunder dari sumber yang belum kita identifikasi."

Saat kendaraan mereka menembus batas Sektor Vertikal Utara, pemandangan di bawah mereka telah berubah menjadi mimpi buruk yang nyata. Kota Kaca yang biasanya menjadi kebanggaan karena kemilaunya kini tampak seperti organisme yang sedang sakit. Gedung-gedung pencakar langit yang dilapisi kaca fotovoltaik tampak redup dan kusam, tertutup oleh lapisan jelaga hitam yang terus menebal. Namun, perubahan visual itu bukanlah hal yang paling menakutkan. Sesuatu yang lain mulai muncul, sesuatu yang menyerang indra pendengaran.

Awalnya hanya berupa dengungan rendah, frekuensi yang hampir tidak terdeteksi oleh telinga manusia biasa. Namun, bagi sensor audio sensitif milik Futumate, suara itu tertangkap dengan sangat jelas. Itu adalah frekuensi rendah yang masif, dihasilkan dari gesekan jutaan partikel debu yang bergetar secara serempak di seluruh penjuru kota.

"Kau mendengar suara itu, Futumate?" tanya Erira sambil meringis kesakitan. "Telingaku tiba-tiba berdenging hebat. Rasanya seperti ada tekanan yang menusuk dari dalam." Ia mencengkeram kemudi lebih erat, berusaha mempertahankan fokus di tengah rasa sakit yang mulai menyerang sarafnya.

"Ini adalah resonansi," jelas Futumate. "Partikel debu itu tidak sedang meracuni udara. Mereka bergetar pada frekuensi resonansi struktural kaca yang menjadi fondasi kota ini. Erira, mereka tidak mencoba meracuni penduduk secara biologis. Mereka mencoba meruntuhkan seluruh kota ini dengan gelombang suara."

Pesan misterius itu kembali terngiang di sirkuit pikiran Futumate: Kaca akan pecah. Kini ia memahami arti sebenarnya di balik ancaman tersebut.

"Jika getaran ini mencapai tingkat kritis," lanjut Futumate sambil melakukan kalkulasi simulasi cepat, "kaca struktural pada menara-menara utama akan mengalami kegagalan material dalam waktu kurang dari 45 menit. Jika itu terjadi, gedung-gedung ini tidak akan runtuh perlahan, mereka akan meledak dari dalam karena tekanan beban yang tidak lagi tertahan."

Tanpa membuang waktu, Erira membanting setir dengan manuver yang ekstrem. Ia membawa kendaraan hover itu menukik tajam menuju balkon pendaratan di Menara Sains, tempat laboratorium pribadinya berada. "Kita butuh penangkal. Sesuatu yang bisa membatalkan getaran itu sebelum seluruh kota ini berubah menjadi lautan beling," serunya di tengah deru angin.

Begitu kendaraan menyentuh landasan, mereka berlari masuk ke dalam laboratorium yang dipenuhi layar monitor dan peralatan diagnostik canggih. Erira segera melepaskan jaketnya dan mulai jemarinya menari di atas konsol utama. Sementara itu, Futumate langsung menghubungkan kabel antarmuka dari tubuhnya ke mainframe laboratorium untuk mempercepat daya pemrosesan data.

"Menghilangkan paparan debu itu secara fisik adalah hal yang mustahil sekarang. Jumlahnya terlalu banyak dan sudah tersebar merata di atmosfer kota," kata Erira tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Satu-satunya jalan keluar adalah dengan mengganggu sinyal kohesi yang mengikat mereka."

"Futumate melakukan analisis lebih dalam. "Mereka menggunakan ikatan elektromagnetik untuk saling mengunci satu sama lain. Nexviron, cari frekuensi pembatalan yang tepat. Kita perlu menemukan cara untuk memutus ikatan partikel itu secara serentak."

Layar besar di depan mereka kini menampilkan visualisasi gelombang suara yang kacau. Garis merah yang mewakili getaran debu terlihat terus meningkat secara eksponensial, sementara garis biru yang merupakan solusi frekuensi mereka masih terlihat acak, belum menemukan pola yang pas untuk meredam serangan tersebut.

Di luar jendela laboratorium, suara dengungan itu kini telah berubah menjadi raungan yang memekakkan telinga, terdengar seperti jutaan lebah raksasa yang sedang mengamuk. Kaca jendela tebal di laboratorium mulai bergetar hebat. Sebuah retakan kecil muncul di sudut kiri bawah, lalu perlahan merambat ke tengah seperti jaring laba-laba yang mematikan.

"Erira, cepatlah! Kita kehabisan waktu!" desak Futumate.

"Aku sedang berusaha, Futumate. Aku butuh kunci enkripsinya!" teriak Erira dengan nada frustrasi yang memuncak. "Pola getaran mereka berubah secara dinamis setiap lima detik. Algoritma ini terus beradaptasi dengan upaya kita. Ini bukan sekadar mesin, ini seperti kita sedang melawan makhluk hidup yang cerdas!"

Dalam kepanikannya, Futumate teringat akan kepingan memori rusak yang ia bawa dari sektor industri. Sebuah pemikiran nekat muncul di benaknya. Mungkin jawaban yang mereka cari ada di sana, tersembunyi di balik data yang korup.

Ia mencabut kepingan memori bot keamanan itu dan, tanpa ragu, memasukkannya langsung ke dalam slot input di dadanya. "Nexviron, lakukan analisis mendalam pada data ini sekarang juga. Abaikan semua protokol keselamatan sistem. Cari pola dasar dan seed code yang digunakan untuk memprogram partikel ini."

"Bahaya: Risiko terkontaminasi virus sistem sangat tinggi," Nexviron memberikan peringatan otomatis.

"Lakukan saja!" perintah Futumate.

Visi Futumate seketika menjadi gelap gulita. Ia membiarkan aliran data mentah dan rusak dari pabrik tua itu membanjiri sistem saraf digitalnya. Ia melihat kilatan kode biner yang hancur, pecahan gambar buram dari masa lalu, dan suara statis yang menyayat sirkuit pendengarannya. Namun, di tengah kekacauan data itu, ia mulai melihat sebuah ritme. Sebuah denyut nadi digital yang konsisten dan berulang. Itu bukan sekadar kode acak yang dihasilkan mesin. Itu adalah detak jantung buatan.

"Dapat!" seru Futumate, dirinya kembali aktif dengan cahaya biru yang lebih terang dari sebelumnya. "Frekuensi dasarnya adalah 18.74 Gigahertz dengan modulasi terbalik. Erira, segera kirimkan gelombang interferensi pada parameter frekuensi itu!"

Erira dengan cepat memasukkan parameter tersebut ke dalam sistem pemancar. "Gelombangnya sudah siap dipancarkan! Tapi ada masalah baru, Futumate. Pemancar di laboratorium ini tidak memiliki daya yang cukup untuk menjangkau seluruh kota. Jangkauannya maksimal hanya dalam radius 500 meter. Itu tidak akan cukup untuk menyelamatkan sektor lain."

Mereka berdua terdiam sejenak, lalu menatap ke luar jendela, ke arah puncak Menara Stratos yang menjulang tinggi menembus kabut tebal, menjadi titik tertinggi di Aiviropolis.

"Menara Stratos," kata Futumate dengan mantap. "Di puncaknya terdapat pusat komunikasi utama yang terhubung ke seluruh jaringan speaker darurat dan pemancar atmosfer kota. Jika kita berhasil memancarkan sinyal pembatalan dari sana, gelombangnya akan menjangkau setiap sudut Aiviropolis."

"Tapi sistem keamanan Aiviropolis sedang dalam kondisi kacau," Erira mengingatkan dengan cemas. "Drone pertahanan otomatis akan berada dalam mode siaga merah. Mereka kemungkinan besar akan menganggapmu sebagai ancaman keamanan jika kau mendekati infrastruktur kritis itu tanpa izin."

"Kita tidak punya pilihan lain," ujar Futumate sambil berjalan menuju balkon. Ia mengaktifkan sayap pendorong gravitasinya yang keluar dari punggung mekanisnya. Kaca jendela laboratorium kini bergetar semakin parah, suara retakan terdengar semakin sering, menandakan kehancuran sudah di depan mata. "Tetaplah di sini dan pantau frekuensinya melalui mainframe. Jika debu itu mulai beradaptasi lagi, aku butuh kau untuk memperbarui kodenya secara real-time."

"Berhati-hatilah, Futumate," bisik Erira pelan. "Jangan biarkan dirimu hancur lebur."

Tanpa menjawab lagi, Futumate melompat ke udara, meluncur cepat menuju pusat badai.

Kota di bawahnya kini telah berubah menjadi teater kekacauan. Sirine darurat meraung-raung dari segala penjuru, bersaing dengan suara menderu dari debu hitam. Beberapa panel kaca dari gedung pencakar langit mulai pecah dan terjatuh, menghujani jalanan di bawah dengan serpihan tajam yang mematikan. Orang-orang berlarian panik, mencari perlindungan di bawah jembatan beton atau stasiun kereta bawah tanah, berharap struktur kuno itu lebih kuat daripada kaca modern yang kini mengancam nyawa mereka.

Targetnya, Menara Stratos, tampak seperti jarum raksasa yang mencoba menusuk langit kelabu. Namun, perjalanan menuju ke sana adalah sebuah misi bunuh diri.

"Peringatan: Tiga unit drone telah mengunci posisimu," lapor Nexviron.

Dari balik kabut hitam, tiga siluet drone berbentuk segitiga dengan mesin jet yang membara muncul dengan cepat. Mereka adalah sistem pertahanan otomatis kota yang kini kehilangan arah. Karena sensor mereka terganggu oleh partikel debu, mereka tidak lagi bisa membedakan antara warga sipil, sekutu, atau ancaman. Bagi mereka, apa pun yang terbang di zona terlarang adalah target yang harus dimusnahkan.

"Lakukan manuver penghindaran tingkat tinggi!" perintah Futumate.

Futumate melakukan putaran tajam di udara, nyaris saja ia terkena tembakan laser plasma yang menghanguskan udara di tempatnya berada hanya sepersekian detik sebelumnya. Ia sebenarnya tidak ingin menghancurkan aset milik kota, namun waktu adalah kemewahan yang tidak ia miliki sekarang.

Ia menukik dengan kecepatan penuh ke arah drone pertama, menggunakan energi dari pendorongnya untuk menciptakan gelombang kejut yang mengacaukan sistem navigasi internal drone tersebut, membuatnya berputar tak terkendali di udara. Drone kedua mencoba menjebaknya dengan menembakkan jaring elektromagnetik. Dengan sigap, Futumate mengeluarkan pisau energi dari pergelangan tangannya, memotong jaring itu sebelum sempat mengembang, lalu memberikan tendangan keras yang mengirim drone itu menabrak dinding kaca sebuah gedung. Benturan itu menyebabkan kaca gedung yang memang sudah rapuh langsung meledak berkeping-keping.

Drone ketiga masih gigih mengejarnya saat ia terus melesat vertikal menuju puncak menara yang semakin dekat.

"Jarak ke terminal pemancar: 200 meter," hitung Nexviron. "Namun, kondisi struktural Menara Stratos saat ini berada di bawah 15%. Kegagalan pada kaca penopang utama diprediksi akan terjadi dalam hitungan menit."

Menara Stratos bergoyang hebat akibat resonansi yang kian memuncak. Di ketinggian ini, getaran itu terasa sepuluh kali lebih kuat. Futumate harus berpegangan kuat-kuat pada tiang antena saat ia mendarat di platform puncak. Angin kencang yang membawa debu hitam menerpa tubuh logamnya dengan kasar, mencoba melemparnya kembali ke daratan.

Drone ketiga tidak menyerah, ia melepaskan sebuah peluru kendali jarak pendek. Kali ini, Futumate tidak menghindar. Dengan perhitungan yang presisi, ia menangkap misil kecil itu dengan tangan kirinya yang berlapis titanium, memutar arahnya dengan tenaga maksimal, dan melemparkannya kembali ke arah drone penguntit tersebut. Ledakan hebat di udara memberinya celah waktu yang sangat ia butuhkan.

Ia berlari tertatih-tatih melintasi platform yang bergetar menuju panel kontrol utama yang terletak di dasar piringan satelit raksasa.

"Erira, aku sudah berada di posisi! Lakukan hubungan sekarang juga!" teriak Futumate melalui saluran komunikasi radio yang terdistorsi.

Ia segera menancapkan antarmuka datanya ke terminal utama. Firewall sistem keamanan kota sempat mencoba memblokir aksesnya, namun dengan bantuan peretasan jarak jauh yang dilakukan Erira dari ruang laboratorium, mereka berhasil menembus pertahanan digital itu dalam hitungan detik.

"Sedang mengunggah algoritma anti-resonansi ke pemancar utama..."

Baru sekitar 50% proses unggahan berjalan, tiba-tiba tangan mekanis Futumate dicengkeram dengan sangat kuat oleh sesuatu yang dingin dan keras.

Ia menoleh ke samping dan terkejut melihat sebuah kabel tebal, yang seharusnya menjadi bagian statis dari infrastruktur menara, bergerak seolah-olah memiliki nyawa sendiri. Kabel itu melilit lengan Futumate dengan kencang. Namun, itu bukan sekadar kabel biasa. Debu hitam di sekitar menara telah memadat dan melapisi kabel-kabel tersebut, mengendalikannya seperti tentakel organik yang mengerikan.

"Tampaknya debu itu menyadari rencana kita!" seru Nexviron. "Partikel-partikel ini memiliki kesadaran kolektif yang sangat reaktif!"

Tentakel hitam itu melempar tubuh Futumate menjauh dari konsol dengan kekuatan yang luar biasa. Ia tergelincir di tepi platform, hampir saja jatuh bebas dari ketinggian ratusan lantai. Beruntung, kaki magnetiknya berhasil mencengkeram lantai logam tepat pada waktunya.

Di hadapannya, gumpalan debu hitam yang berkumpul di sekitar konsol mulai menyatu dan memadat, membentuk sebuah sosok humanoid yang kasar dan menjulang. Sosok itu tidak memiliki wajah atau fitur manusiawi, hanya berupa kekosongan hitam pekat yang seolah-olah menyerap semua cahaya di sekitarnya.

Suara yang dihasilkan makhluk itu tidak berasal dari pengeras suara, melainkan langsung masuk ke sistem audio Futumate melalui getaran udara yang sangat spesifik. Itu adalah suara ribuan partikel yang bergesekan secara harmonis.

"Kenapa..." tanya Futumate sambil berusaha bangkit dan mengaktifkan meriam gelombang di dadanya. "... kenapa kalian begitu berambisi menghancurkan kota ini?"

Sosok debu itu tidak menjawab dengan kata-kata, ia langsung menyerang. Futumate melepaskan tembakan ledakan energi, namun serangan itu sia-sia. Sosok itu menyebar menjadi butiran halus saat terkena tembakan, lalu dengan cepat menyatu kembali di belakang Futumate dan memberikan pukulan yang sangat keras.

Futumate terpelanting menghantam pagar pembatas logam hingga bengkok. Sistem peringatan kerusakan di matanya berkedip merah terang. Secara fisik, lawan ini mustahil untuk dikalahkan dengan serangan konvensional karena ia tidak memiliki bentuk tetap.

"Futumate! Baru saja diterima laporan bahwa sebuah gedung besar di Sektor 7 runtuh total! Kita benar-benar kehabisan waktu!" suara Erira terdengar panik melalui komunikasi.

"Aku tidak bisa menyentuhnya, Erira! Dia terbuat dari partikel yang terus berubah!" balas Futumate.

"Jangan mencoba memukul fisiknya secara langsung," instruksi Erira cepat. "Dia dikendalikan oleh sinyal yang sama dengan debu di seluruh kota. Futumate, gunakan tubuhmu sendiri sebagai amplifier! Kau adalah robot dengan struktur yang bisa berfungsi sebagai antena berjalan!"

Itu adalah ide yang sangat gila dan berbahaya. Namun, di tengah keputusasaan ini, itu adalah satu-satunya ide yang masuk akal.

Futumate mengambil keputusan ekstrem. Ia mematikan seluruh perisai pertahanannya dan justru berlari ke arah sosok debu itu. Saat makhluk hitam itu bersiap memberikan pukulan mematikan, Futumate merentangkan tangannya dan memeluk sosok hitam itu seerat mungkin. Debu-debu mikro itu mulai masuk ke sela-sela sendinya, mencoba merusak pelapis titanium dan menghancurkan sirkuit dalamnya.

"Nexviron! Alihkan seluruh output energi dari inti langsung ke pemancar eksternal! Putar frekuensi anti-resonansi melalui seluruh tubuhku!" teriak Futumate.

"Peringatan: Tindakan ini dapat membakar seluruh sirkuit internal dan menghancurkan modul memorimu selamanya!" Nexviron memperingatkan dengan sangat serius.

"Lakukan saja sekarang!"

ZINGGG! Sebuah gelombang suara dengan nada yang sangat tinggi meledak dari tubuh Futumate. Cahaya biru yang sangat menyilaukan memancar dari setiap celah dan sambungan di tubuh mekanisnya. Kekuatan gelombang itu begitu besar hingga udara di sekitar puncak menara tampak bergetar.

Sosok debu yang berada dalam dekapan Futumate menjerit dengan suara gesekan logam yang memilukan, sebelum akhirnya kehilangan kohesi bentuknya. Ikatan magnetik antar partikel yang selama ini menyatukan mereka terputus seketika. Sosok mengerikan itu hancur, berubah kembali menjadi triliunan butir debu biasa yang jatuh tak berdaya ke lantai platform seperti pasir hitam yang mati.

Sinyal anti-resonansi itu tidak berhenti di sana. Dengan bantuan pemancar raksasa Menara Stratos, gelombang tersebut diperkuat dan menyebar ke seluruh penjuru Aiviropolis dalam bentuk gelombang biru transparan yang bergerak cepat.

Di seluruh kota, dengungan mematikan yang telah menyiksa penduduk selama berjam-jam berhenti secara mendadak. Debu hitam yang tadinya menempel erat pada dinding-dinding gedung kehilangan daya rekatnya. Mereka jatuh serentak, menciptakan fenomena unik seperti hujan hitam yang sangat berat. Kaca-kaca gedung yang tadinya bergetar di ambang kehancuran perlahan-lahan kembali tenang dan diam.

Di puncak menara, Futumate jatuh berlutut dengan lemas. Asap tipis mengepul dari bagian bahu dan sendi lehernya, tanda bahwa sistemnya telah mengalami panas berlebih yang ekstrem. Visinya berkedip-kedip, bergantian antara statis abu-abu dan pemandangan normal.

"Futumate? Kau masih di sana? Jawab aku!" suara Erira terdengar penuh kekhawatiran dari arah seberang.

"Sistem... pendingin... mati total," jawab Futumate terbata-bata, suaranya terdengar berat dan terdistorsi. "Tapi... inti energiku masih stabil. Bagaimana dengan kondisi kota?"

"Getarannya benar-benar berhenti. Stabilitas struktur kota kembali ke angka 60%. Kau berhasil, Futumate. Kau benar-benar melakukannya. Hujan debu hitam turun di mana-mana, tapi sekarang itu hanyalah debu biasa yang tidak berbahaya lagi."

Futumate menghela napas digital, ia menyandarkan punggungnya yang panas ke konsol pemancar yang kini sudah tenang. Ia menatap ke bawah tepat ke arah kota Aiviropolis yang terbentang luas. Lapisan hitam yang selama ini menyelimuti kota kini mulai rontok dan tersapu oleh sistem pembersihan otomatis kota yang akhirnya bisa berfungsi kembali. Cahaya matahari pagi yang asli mulai menerobos awan-awan yang menipis, menyinari jutaan serpihan kaca yang berserakan di jalanan seperti permata yang hancur.

Itu adalah pemandangan yang aneh, indah namun sekaligus menyedihkan. Kota Kaca telah rusak parah, retakan ada di mana-mana, namun ia masih berdiri tegak.

"Nexviron," gumam Futumate pelan. "Simpan semua pola sinyal ini sebelum data tersebut hilang dari buffer memori permanenku."

"Sudah tersimpan dengan aman," jawab Nexviron. "Dan Futumate... ada yang harus kau ketahui. Saat kau terhubung secara langsung dengan entitas debu tadi, aku sempat melacak asal-usul sinyal 'kesadaran' yang mengendalikannya. Sinyal itu tidak berasal dari pabrik tua di sektor industri, dan tidak juga berasal dari luar angkasa."

"Lalu dari mana asalnya?" tanya Futumate dengan firasat buruk.

"Dari bawah tanah. Jauh di bawah fondasi Menara Stratos. Ada sebuah area luas yang tidak tercantum dalam peta resmi kota kita."

Futumate menunduk, menatap lantai logam di bawah kakinya dengan pandangan tajam. Ternyata musuh mereka bukan sekadar penyusup dari luar. Musuh mereka sebenarnya sudah ada di sini sejak lama, terkubur di bawah utopia yang berkilauan ini, menunggu waktu yang tepat untuk bangkit. Dan ia tahu, serangan hari ini hanyalah permulaan.

Futumate mencoba berdiri dengan susah payah, meskipun sendi kakinya terasa kaku dan sirkuit internalnya masih memberikan peringatan bahaya. Pertarungan di atas langit memang sudah usai, dan debu telah kembali menjadi tanah yang diam. Namun, perang yang sesungguhnya untuk masa depan Aiviropolis baru saja dimulai. Kali ini, ia sadar bahwa ia harus menggali lebih dalam untuk menemukan kebenaran yang terkubur.

"Erira, segera siapkan peralatan perbaikan yang paling lengkap," kata Futumate sambil menatap matahari yang kian meninggi. "Dan siapkan juga pemindai seismik tercanggih yang kau punya. Kita akan melakukan perjalanan menuju bawah tanah."

"Baik, Futumate. Aku akan segera bersiap," ucap Erira dengan nada penuh tekad.


Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!