Geometri Duka
Jari telunjuk Bara menekan ikon hijau di layarnya. Sebuah tindakan sederhana yang terasa membelah waktu menjadi dua: sebelum dan sesudah. Ia menempelkan ponsel ke telinga, dan dunia di sekelilingnya—dengungan server, ketukan keyboard yang ritmis, pendingin ruangan yang berdesis—seketika meredup, menjadi latar yang tidak relevan.
Di seberang sana, bukan sapaan yang ia dengar, melainkan isak tangis yang tertahan, suara ibunya yang terdistorsi oleh duka. Bara tidak menyela. Ia menunggu. Dalam benaknya, sebuah prosesor mulai bekerja, mencoba menganalisis data audio yang tidak lengkap ini, mencari pola, mencari makna.
"...Senja..." Suara ibunya pecah. "Bar... Kakakmu... Senja sudah tidak ada."
Kata-kata itu tiba. Bukan sebagai ledakan emosi, melainkan sebagai serangkaian data baru yang masuk ke dalam sistem Bara. Input: Senja sudah tidak ada. Status: Final. Konsekuensi: Belum terdefinisi. Tidak ada air mata. Tidak ada napas yang tercekat. Respons pertamanya adalah sebuah pertanyaan logis.
"Di mana?" suaranya sendiri terdengar asing, datar dan tanpa getaran. "Rumah sakit mana? Apa langkah berikutnya?"
Ia mencatat detail-detail yang diberikan ibunya dengan presisi seorang manajer proyek: nama rumah sakit, nomor kamar jenazah, alamat rumah duka yang sudah dihubungi oleh paman mereka. Prosedur. Langkah-langkah yang harus dieksekusi. Setelah panggilan berakhir, ia berdiri. Dunianya, yang beberapa menit lalu adalah sebuah simfoni keteraturan, kini menjadi sebuah sistem yang mengalami critical error. Tapi kepanikan bukanlah respons yang efisien.
Ia berjalan ke meja atasannya, menunggu sang manajer menyelesaikan panggilan teleponnya. Saat tatapan mereka bertemu, Bara berkata dengan nada yang sama datarnya, "Saya harus pergi. Ada urusan keluarga."
Tidak ada penjelasan lebih. Dan anehnya, tidak ada yang bertanya.
***
Rumah duka beraroma campuran lili dan melati dengan konsentrasi yang pekat. Di dalam ruangan yang didominasi warna putih dan krem itu, duka memiliki geometrinya sendiri: barisan kursi yang lurus, karangan bunga yang membentuk lingkaran dan oval, serta peti jenazah berwarna cokelat tua yang menjadi titik pusat dari semuanya. Manusia-manusia bergerak di antara bentuk-bentuk ini, wajah mereka basah oleh air mata, suara mereka bergetar.
Bara berdiri di sudut, sebuah anomali dalam ekosistem emosi ini. Ia menerima pelukan dari para kerabat, membalasnya dengan kekakuan yang canggung. Ia mengucapkan, "Terima kasih sudah datang," berulang kali hingga kalimat itu kehilangan makna dan menjadi sekadar skrip. Ia mengamati tangisan tantenya, menganalisisnya: getaran di bahu, interval isak tangis, volume suara yang naik turun. Fenomena yang menarik, namun ia tidak bisa merasakan resonansinya. Ia mencoba mengakses data internalnya, mencari respons emosional yang sesuai untuk situasi ini. File not found.
Pandangannya terpaku pada sebuah lukisan abstrak yang tergantung di dinding rumah duka, sebuah hiasan standar. Sapuan kuasnya yang acak dan warnanya yang cerah terasa tidak pada tempatnya. Sapuan warna itu menariknya ke dalam sebuah memori, begitu jelas hingga aroma melati di sekitarnya seolah berganti menjadi aroma kopi dan kertas.
Satu tahun yang lalu. Sebuah kafe kecil di pinggiran kota. Hujan di luar. Bara baru saja meluncurkan aplikasi analisis pasar saham pribadinya. Dengan bangga, ia menunjukkan grafik-grafik di tabletnya kepada Senja.
"Lihat, Nja. Algoritma ini bisa memprediksi pergerakan harga dengan akurasi 82%. Semua berdasarkan data historis dan analisis sentimen. Logika murni."
Senja, yang sedang asyik membuat sketsa di buku catatannya, melirik sekilas. Ia tersenyum, senyum yang selalu tampak menyimpan rahasia kecil. Ia tidak melihat tablet Bara, melainkan menunjuk ke cangkir kopinya yang mulai dingin.
"Angka-angkamu bisa memprediksi segalanya, Bar," katanya lembut, jemarinya yang sering ternoda cat menari di atas kertas. "Tapi bisakah mereka memprediksi rasa kopi ini saat diminum sambil tertawa? Atau memprediksi warna langit besok sore saat bertemu dengan hujan? Ada hal-hal yang tidak untuk diprediksi. Hanya untuk dirasakan."
Bara saat itu hanya mendengus pelan, menganggapnya sebagai romantisme naif seorang seniman. Logika adalah kebenaran. Perasaan adalah variabel pengganggu.
Sebuah tepukan lembut di bahunya menarik Bara kembali dari ingatan. Pamannya menatapnya dengan khawatir. "Kamu tidak apa-apa, Bar? Kamu pucat."
Bara hanya mengangguk. Tapi di dalam kepalanya, sebuah pertanyaan mulai terbentuk. Sebuah kalkulasi yang tidak pernah ia coba lakukan sebelumnya.
Bagaimana cara mengukur tawa Senja saat itu? Berapa bobot kenangannya? Jika sebuah hal tidak bisa dikuantifikasi, apakah itu berarti ia tidak nyata?
Malam semakin larut. Para pelayat mulai pulang, meninggalkan keheningan yang lebih pekat. Bara berjalan menyusuri lorong, menjauh dari ruang utama. Ia berhenti di depan sebuah pintu kamar yang disediakan untuk keluarga. Kamar peristirahatan sementara Senja.
Dengan ragu, ia mendorong pintu itu hingga terbuka.
Di dalamnya bukan lagi kamar steril rumah duka. Kerabat mereka telah membawa beberapa barang pribadi Senja. Selendang kain berwarna-warni tersampir di kursi. Beberapa buku sketsa tergeletak di meja. Aroma samar cat minyak dan kertas menguar di udara, menimpa aroma lili dan melati. Itu adalah arsip dari sebuah kehidupan yang ia anggap sebagai kekacauan.
Ia berdiri di ambang pintu, menatap ke dalam fragmen dunia kakaknya. Untuk pertama kalinya sejak telepon tadi siang, prosesor di kepalanya berhenti bekerja. Tidak ada data untuk dianalisis. Tidak ada prosedur untuk dieksekusi.
Sebagai gantinya, ia merasakan sesuatu yang asing. Sebuah lubang hitam di dalam sistemnya. Kekosongan yang tidak bisa diukur.
Kasih tip buat penulis
