Arsip Kekacauan
Prosesi kremasi berjalan seperti sebuah algoritma yang telah ditulis ribuan tahun lalu. Ada langkah-langkah yang harus diikuti, doa-doa yang harus diucapkan, dan isak tangis yang terjadwal di antara jeda keheningan. Bara mengikuti setiap tahapannya dengan kepatuhan mekanis. Ia mengamati api melahap peti itu, mengubah materi padat menjadi abu, sebuah proses entropi yang bisa dijelaskan oleh hukum fisika. Namun, ia tahu orang-orang di sekelilingnya tidak melihatnya seperti itu. Bagi mereka, ini adalah perpisahan. Bagi Bara, ini adalah penutupan sebuah bab. Sebuah final execution.
Dua hari kemudian, di ruang tamu rumah orang tuanya yang sunyi, sebuah masalah logistik muncul. Apartemen studio yang disewa Senja. Tempat itu, beserta seluruh isinya, kini menjadi sebuah arsip tanpa kurator. Ibunya terlalu rapuh untuk menghadapinya, dan ayahnya tampak kehilangan arah di hadapan tugas itu.
"Kita harus segera membereskannya," kata ayahnya, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada siapa pun. "Tapi... saya tidak tahu harus mulai dari mana."
Di tengah kebuntuan emosional itu, Bara melihat sebuah masalah yang memiliki solusi. Sebuah sistem yang kacau yang perlu diorganisir. "Biar aku yang urus," katanya. Kalimat itu meluncur begitu saja, praktis dan tanpa emosi. Orang tuanya menatapnya dengan campuran lega dan sedih. Lega karena beban itu terangkat; sedih karena putra mereka bisa menghadapi warisan kakaknya seperti sebuah tugas kantor.
Ayahnya menyerahkan sebuah kunci. Satu-satunya kunci.
Pintu apartemen studio Senja berada di ujung koridor sebuah bangunan tua yang artistik. Tidak ada smart lock atau kartu akses, hanya sebuah lubang kunci konvensional dari kuningan. Saat Bara memutar kunci itu dan mendorong pintunya, udara dari dalam ruangan seolah menyambutnya. Udara yang beraroma aneh: campuran tajam terpentin, wangi manis cat minyak yang mengering, debu, dan aroma kertas tua.
Jika apartemen Bara adalah sebuah laboratorium, maka studio Senja adalah sebuah hutan.
Cahaya sore yang keemasan menembus jendela besar yang menghadap ke barat, menerangi partikel-partikel debu yang menari di udara. Kanvas-kanvas dalam berbagai ukuran bersandar di setiap dinding. Beberapa sudah selesai, menampilkan lanskap mimpi dan potret wajah-wajah asing yang penuh emosi. Banyak yang lain baru setengah jadi, sketsa arang yang menunggu warna, atau sapuan warna-warni yang belum membentuk apa pun.
Buku-buku menumpuk di lantai, di atas kursi, di mana pun ada permukaan datar. Bukan buku tentang data atau bisnis, melainkan tentang filsafat, mitologi, sejarah seni, dan puisi. Stoples-stoples kaca berisi kuas dengan berbagai ukuran, seperti karangan bunga yang kaku. Di sudut ruangan, sebuah easel kayu berdiri tegak, memegang sebuah kanvas yang baru dilapisi warna dasar biru langit. Seolah pemiliknya hanya pergi sebentar untuk menyeduh teh.
Ini adalah episentrum dari kekacauan yang selalu Bara kritisi dalam diam. Sebuah arsip dari proyek-proyek yang tidak pernah selesai.
Bara meletakkan ranselnya, menyingsingkan lengan kemejanya, dan memulai satu-satunya cara yang ia tahu untuk menghadapi situasi ini: mengorganisir. Ia menetapkan zona-zona di lantai: Zona Buku, Zona Alat Lukis, Zona Pakaian, Zona Kanvas. Sebuah upaya untuk memaksakan geometri pada hutan.
Ia mulai dengan tumpukan buku di dekat jendela. Ia mengangkatnya satu per satu, membaca judulnya, lalu meletakkannya di zona yang telah ia tentukan. Mitologi Yunani. Zen dan Seni Merawat Sepeda Motor. Kumpulan Puisi Rumi. Di sela-sela halaman, ia menemukan sehelai daun kering, tiket bioskop bekas, atau catatan kecil tulisan tangan Senja yang berisi satu baris kalimat puitis. Setiap benda adalah data, tapi data yang tidak berstruktur.
Saat memindahkan tumpukan terakhir, matanya menangkap sesuatu yang tidak pada tempatnya. Di bawah tumpukan buku tentang pelukis-pelukis surealis, tergeletak sebuah benda yang sama sekali tidak sureal. Sebuah kotak kayu persegi, warnanya cokelat polos tanpa pernis, ukurannya mungkin tiga puluh kali dua puluh sentimeter. Sangat sederhana, sangat biasa. Justru kesederhanaannya yang membuatnya menonjol di tengah ledakan warna dan bentuk di sekelilingnya.
Di dalam kepalanya, renungan itu muncul tanpa diundang, saat ia menatap kanvas biru yang belum jadi itu. Senja hidup di antara hal-hal yang belum selesai. Aku hidup dengan menyelesaikan segalanya. Apakah hidup memang harus selalu dituntaskan?
Ia mengabaikan pertanyaan itu dan berjongkok, meraih kotak kayu tersebut. Terasa kokoh dan lebih berat dari yang ia duga. Tidak ada ukiran, tidak ada tanda, hanya serat-serat kayu alami. Di bagian depannya, ada sebuah kait kecil dari kuningan yang kusam.
Bara mencoba membukanya.
Terkunci.
Ia mengguncangnya pelan di dekat telinga. Tidak ada suara gemerincing. Isinya padat.
Bara meletakkan kotak itu di tengah lantai yang sudah ia bersihkan. Di sekelilingnya, arsip kekacauan kakaknya menunggu untuk dirapikan. Namun kini, semua atensinya, seluruh prosesor logis di dalam otaknya, terfokus pada satu objek tunggal ini. Sebuah sistem tertutup. Sebuah anomali di dalam anomali.
Sebuah masalah yang bisa dipecahkan.
Kasih tip buat penulis
