Frekuensi Keteraturan

05:00:00

Bukan sebuah alunan melodi yang membangunkan Bara Adhitama, melainkan getaran singkat dan presisi dari pergelangan tangannya. Di layar jam pintarnya, angka-angka berpendar putih di atas latar belakang hitam pekat. Pola tidur: 7 jam, 58 menit. Fase tidur dalam: 94%. Detak jantung istirahat: 52 bpm. Efisiensi: 98%. Data yang memuaskan untuk memulai sebuah hari.

Tidak ada tombol tunda. Menunda adalah variabel anomali, sebuah cacat dalam sistem yang tidak bisa ia tolerir.

Dunia Bara adalah dunia yang berjalan di atas frekuensi keteraturan. Apartemennya di lantai 28 sebuah menara di pusat distrik bisnis adalah bukti nyata dari filosofi itu. Dindingnya berwarna kelabu muda, perabotnya minimalis dengan garis-garis tegas. Tidak ada hiasan, tidak ada foto, tidak ada apa pun yang tidak memiliki fungsi. Baginya, ornamen adalah noise—data yang tidak relevan.

Tujuh menit di bawah pancuran air dengan suhu yang diatur di 38 derajat Celsius. Tiga menit untuk mengenakan setelan pakaian yang sudah disiapkan malam sebelumnya: kemeja putih tanpa corak, celana bahan berwarna arang, sepatu kulit hitam tanpa tali. Semuanya adalah bagian dari sebuah algoritma yang telah teruji efisiensinya.

Sarapannya adalah cairan berwarna hijau pucat di dalam sebuah tabung blender. 150 gram bayam, setengah buah alpukat, satu sendok takar bubuk protein, 300 ml air dingin. 280 kalori, 25 gram protein, 15 gram lemak, 12 gram karbohidrat. Bahan bakar, bukan kenikmatan. Ia meminumnya sambil berdiri, menatap hamparan kota dari jendela apartemennya yang menjulang. Di bawah sana, jutaan kehidupan bergerak dalam kekacauan yang tak terduga. Macet, telat, salah jalan. Variabel-variabel yang membuat Bara muak sekaligus bersyukur atas keteraturan yang ia ciptakan untuk dirinya sendiri.

06:45:00. Aplikasi Laju di ponselnya menunjukkan mobil pesanan akan tiba dalam tiga menit. Tepat sesuai prediksinya. Ia melangkah keluar dari lobi apartemen tepat saat sedan hitam itu menepi. Perjalanan menuju kantor adalah satu-satunya bagian dari harinya yang tidak sepenuhnya bisa ia kendalikan, namun setelah tiga tahun melewati rute yang sama, ia sudah hafal polanya. Ia tahu di persimpangan mana akan terjadi perlambatan, di ruas jalan mana kecepatan bisa kembali optimal.

Pintu kaca markas besar Aksarafin bergeser tanpa suara pada pukul 07:30:17. Aksarafin bukan sekadar perusahaan fintech, melainkan sebuah katedral data. Di sinilah angka-angka dipuja, dan algoritma adalah kitab sucinya. Bara adalah salah satu pendeta tertingginya. Sebagai Lead Data Scientist, tugasnya adalah menerjemahkan kekacauan pasar menjadi pola-pola yang bisa diprediksi, mengubah ketidakpastian menjadi keuntungan.

Hari ini adalah hari yang baik. Algoritma prediktif yang ia dan timnya kembangkan selama enam bulan terakhir akan diluncurkan. Proyek "Arus Biru". Sebuah nama puitis yang diberikan oleh tim pemasaran, namun bagi Bara, Arus Biru adalah serangkaian 1,4 juta baris kode yang elegan, sebuah mahakarya logika.

Ia melewati jajaran meja kerja dalam keheningan yang khusyuk. Hanya ada suara ketukan papan ketik yang ritmis. Rekan-rekannya mengangguk singkat, sebuah pengakuan keberadaan yang efisien tanpa perlu pertukaran kata-kata basa-basi. Bara duduk di kursinya, dan dunianya menyempit menjadi tiga layar monitor yang menampilkan barisan angka dan grafik yang bergerak dinamis. Di sini, di frekuensinya, ia merasa utuh.

Pukul 15:30:00, email notifikasi masuk. Implementasi Arus Biru: SUKSES. Akurasi prediktif awal: 98,7%. Melampaui target. Ada dengungan kepuasan yang sunyi di dalam ruang kerja. Beberapa orang saling melempar senyum tipis. Bagi mereka, ini adalah bonus akhir tahun. Bagi Bara, ini adalah keindahan dari sebuah sistem yang bekerja sempurna.

Ia menyandarkan punggungnya sejenak, sebuah kemewahan yang jarang ia lakukan. Pandangannya kembali ke luar jendela, ke kota yang kini mulai diselimuti cahaya sore. Ia melihat jalanan yang padat, manusia yang bergerak seperti partikel tak beraturan. Kekacauan yang sama seperti tadi pagi. Ia memikirkan semua emosi yang mendorong keputusan-keputusan tidak logis di luar sana—cinta, amarah, harapan, cemburu. Variabel-variabel acak yang mengotori data.

Manusia adalah variabel yang paling tidak bisa diandalkan, batinnya. Angka, sebaliknya, tidak pernah berbohong.

Itu adalah momen kepuasan puncaknya. Sebuah kesimpulan sempurna di hari yang sempurna. Keteraturan telah menang.

15:32:15.

Ponselnya di atas meja bergetar. Bukan notifikasi sistem atau email pekerjaan. Pola getarannya berbeda.

Di layar, sebuah nama muncul. Sebuah anomali. Sebuah data yang seharusnya tidak berada di frekuensi hari ini.

Ibu.

Frekuensi keteraturan itu retak. Untuk sepersekian detik, Bara Adhitama hanya bisa menatap nama itu, dan untuk pertama kalinya hari ini, ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.


Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!