Bab 7 Rindu yang menjadi Do’a
Semakin lama, aku mulai menyadari satu hal: rindu ini tak bisa dihapus. Ia seperti bayangan yang selalu mengikuti, bahkan di saat aku mencoba melangkah cepat. Tapi aku juga belajar, rindu ini bisa kuarahkan, bisa kubawa ke tempat yang lebih tenang. Dan perlahan-lahan, rindu itu berubah menjadi doa.
Setiap kali aku merasakan sesak karena mengingat nenek, aku menutup mata dan menyebut namanya dalam hati. Aku memohon agar ia tenang di sisi Tuhan, agar segala kebaikan yang ia tabur di dunia menjadi cahaya untuk jalannya di alam sana. Ada air mata yang jatuh, tapi air mata itu tak lagi hanya karena kehilangan—melainkan karena rasa syukur. Syukur karena aku pernah memiliki seseorang yang begitu tulus, yang cintanya begitu murni.
Kadang, saat malam hening dan semua orang sudah tertidur, aku duduk di ruang tengah. Kursi rotan itu masih ada di sana, tetap kosong, tapi bagiku kursi itu tidak pernah benar-benar sepi. Aku berbicara pelan, seolah-olah nenek masih duduk di sana. Aku bercerita tentang hariku, tentang kesulitan yang kuhadapi, bahkan tentang hal-hal kecil yang mungkin dulu membuatnya tersenyum. Dan meski aku tahu ia tak bisa menjawab, entah kenapa aku merasa lebih ringan setelah itu.
Doa-doa yang kuucapkan sering kali bercampur dengan kenangan. Aku ingat bagaimana nenek selalu berdoa pelan setelah shalat, menyebut satu per satu nama keluarganya. Aku masih bisa melihat wajahnya yang khusyuk, matanya yang terpejam, dan bibirnya yang bergetar lembut. Dari situ aku belajar bahwa doa bukan sekadar permintaan, melainkan wujud cinta yang paling sederhana.
Kini aku mencoba melanjutkan kebiasaan itu. Setiap kali aku berdoa, aku selalu menyebut nenek. Aku berusaha melanjutkan doa-doa yang dulu ia panjatkan untukku, agar tali kasih itu tidak pernah putus. Mungkin doa adalah cara paling nyata untuk menjaga ikatan dengan seseorang yang sudah tiada. Karena doa melintasi jarak, menembus batas, bahkan menghubungkan dua dunia yang berbeda.
Dan di saat-saat tertentu, ketika aku selesai berdoa, ada rasa damai yang sulit dijelaskan. Seolah nenek benar-benar mendengar, seolah ia tahu bahwa aku selalu mengingatnya. Rindu itu masih ada, tapi kini ia hadir dalam bentuk yang lebih menenangkan.
Aku mulai mengerti bahwa doa adalah bahasa baru antara aku dan nenek. Bahasa yang tidak membutuhkan suara, hanya hati yang tulus. Bahasa yang membuatku percaya bahwa meski kami terpisah oleh dunia yang berbeda, cinta itu tetap ada, tetap abadi.
Rindu yang dulu terasa menyakitkan, kini menjadi doa yang menuntunku untuk terus berjalan. Dan selama aku masih berdoa, aku tahu nenek tidak akan pernah benar-benar jauh. Ia tetap dekat, dalam setiap bisikan hatiku.
Kasih tip buat penulis
