Bab 13 Ruang untuk Harapan
Hari-hari yang kujalani perlahan terasa lebih ringan. Bukan karena semua luka sudah sembuh, tapi karena aku mulai bisa menerima bahwa luka itu adalah bagian dari diriku. Aku tidak lagi menutupinya dengan pura-pura bahagia, aku hanya belajar berjalan sambil tetap membawanya. Anehnya, dengan cara itu, beban yang kutanggung terasa tidak seberat dulu.
Aku mulai berani membuka diri, sedikit demi sedikit. Bukan pada siapa pun secara khusus, melainkan pada kehidupan itu sendiri. Aku tidak lagi menolak ajakan teman untuk sekadar bertemu. Aku mulai ikut dalam percakapan ringan yang dulu sering kuhindari karena takut terlihat rapuh. Dan dari sana, aku menemukan bahwa dunia ternyata masih bisa memberiku ruang, meski aku datang dengan luka.
Di beberapa momen, ada orang-orang baru yang singgah. Tidak selalu membawa sesuatu yang besar, kadang hanya sekadar obrolan singkat atau perhatian kecil. Tapi aku merasakan sesuatu yang berbeda: sebuah pengingat bahwa aku tidak benar-benar sendirian.
Aku tidak buru-buru menyebutnya cinta. Aku tahu diriku belum siap untuk melompat sejauh itu. Namun, aku juga tahu aku tidak boleh terus menutup hati. Karena menutup hati hanya akan membuatku kembali terjebak dalam sepi yang sama. Jadi, untuk kali ini, aku izinkan diriku menerima setiap perhatian kecil itu, tanpa terlalu banyak pertanyaan.
Malam-malamku mulai diwarnai rasa hangat yang samar. Tidak lagi hanya penuh dengan rindu masa lalu, tapi juga dengan rasa penasaran akan apa yang mungkin menungguku di depan. Aku tidak tahu apakah itu akan berakhir dengan luka lagi atau justru kebahagiaan yang baru. Tapi yang jelas, aku sudah punya keberanian untuk melangkah ke arahnya.
Aku mulai percaya bahwa cinta bukan hanya tentang siapa yang memeluk kita, tetapi juga tentang bagaimana kita memberi ruang pada diri sendiri untuk merasakan. Selama ini aku terlalu sibuk menuntut kelembutan dari orang lain, sampai lupa bahwa aku juga bisa memberi kelembutan itu pada diriku sendiri.
Dan di tengah perjalanan itu, aku berbisik pada hatiku: “Tidak apa-apa jika belum sempurna, tidak apa-apa jika masih takut. Yang penting, kali ini aku tidak lagi berhenti di tempat. Aku sudah membuka pintu, meski hanya sedikit. Dan mungkin, itu cukup untuk permulaan.”
Kasih tip buat penulis
