Korban-korban malam
Kami berlima adalah korban dari malam hari.
Bukan malam yang menakutkan, bukan pula malam yang penuh dosa. Malam kami dulu adalah malam yang syahdu, malam yang berbau dupa dan lafaz, malam yang ditegakkan di atas sajadah lusuh dan keikhlasan yang masih murni. Sehabis sholat isya, ketika langit kampung sudah gelap seperti kain batik yang dilipat rapat-rapat, kami berlima duduk bersila di bawah lampu masjid yang berderak pelan ditiup angin. Di sanalah kami, lima pemuda dengan sarung dan kopiah, melafalkan zikir seperti orang-orang yang sungguh-sungguh percaya bahwa Tuhan sedang mendengarkan.
Pak Ustadz selalu pulang lebih dulu. Ia mengendarai motor tuanya yang selalu berderit di tikungan pertama, meninggalkan kami dengan cahaya remang dan suara jangkrik yang seperti ikut berzikir dari balik semak. Jarum jam baru akan menyentuh angka sembilan ketika kami akhirnya berdiri, mengibaskan sarung, lalu berjalan pulang masing-masing ke rumah yang tidak terlalu jauh satu sama lain.
Warga kampung mengenal kami dengan sebutan yang membuat dada terasa hangat didengarnya: para pemuda masjid. Banyak dari kami lulusan pesantren yang letaknya tidak seberapa jauh dari tanah kelahiran, dua jam naik angkot lalu disambung ojek melewati jalan yang belum diaspal. Kata warga, kehadiran kami membuat kampung terasa syahdu. Seolah-olah kampung itu sebuah lagu, dan kami adalah not yang membuatnya tidak sumbang.
"Ikatan mereka luwih kenthel tinimbang getih," begitu kata Bu Rohani, penjual nasi uduk di ujung gang, setiap kali ditanya tentang kami.
Dan memang begitulah rasanya. Suka maupun duka kami tanggung bersama, seperti para petani yang bergotong-royong membawa gabah basah dari sawah. Tidak ada yang ketinggalan. Tidak ada yang ditinggal.
Hingga suatu pagi di bulan Maret, salah satu dari kami mengumumkan berita yang membuat empat orang lainnya terdiam cukup lama sebelum akhirnya bertepuk tangan.
Fiki namanya, pemuda yang tubuhnya selalu berbau tanah dan jerami karena sering membantu Pak Ajak mengarit padi di sawah sejak kelas dua SMP. Ia tidak banyak bicara, tapi kalau berbicara selalu tepat sasaran. Ia tidak punya banyak mimpi, tapi mimpi yang ia punya dijaganya seperti menjaga bara di tungku supaya tidak padam sebelum air mendidih.
Tawaran itu datang lewat perantaraan adik sepupu dari ustadz mereka di pesantren, seorang pria asal Tegal yang sudah lima tahun bekerja sebagai mandor di sebuah pabrik tekstil terkemuka di pinggiran Jakarta. Katanya, pabrik itu sedang butuh tenaga baru. Katanya, gajinya lumayan. Katanya, kalau rajin dan tidak banyak ulah, dalam dua tahun sudah bisa naik jabatan.
Fiki tidak perlu waktu lama untuk memutuskan. Pak Ajak, ayahnya, sudah mulai sering batuk-batuk di malam hari. Sawahnya sempit, hasilnya tidak seberapa, dan biaya dokter di kota terus naik setiap tahunnya. Fiki yang baru dua puluh dua tahun itu memandang Jakarta seperti memandang pintu yang sudah terbuka setengah, dan bodoh rasanya bila tidak masuk.
Maka pada suatu Selasa pagi, kami berlima menaiki sebuah mobil bak terbuka milik Pak Sarkawi yang dipinjam tanpa ongkos, mengantar Fiki ke halte bus di kecamatan. Angin pagi mengibar-ngibarkan baju kami. Fiki duduk di antara kami dengan satu koper besar warna hijau tua yang kuncinya sudah diganjal lakban karena agak rusak. Di dalam koper itu ada beberapa helai baju, satu sarung terbaik, satu Al-Quran kecil, dan impian yang belum punya bentuk tapi sudah punya nama.
"Mengko nek Lebaran ojo lali mulih, To. Sesuk awak dewe dolanan maneh koyok biasane," kata Anto sambil menepuk pundak Fiki. Matanya berkaca-kaca tapi ia pura-pura melihat ke arah lain.
"Iyo, paling rong tahun yo wis balik," kata Fiki sambil tersenyum. "Nek Gusti Allah kerso."
Beberapa warga yang kebetulan melintas ikut berhenti, ikut melambaikan tangan, ikut merasa seperti sedang menyaksikan sesuatu yang penting. Dan memang itu penting. Karena dalam hidup orang-orang kampung kecil, kepergian seorang pemuda yang berani bermimpi selalu terasa seperti sebuah doa yang sedang dikirim ke langit, dengan harapan kembali dalam wujud yang lebih baik.
Bus itu akhirnya datang. Fiki naik. Pintu ditutup. Dan kami berlima pulang ke masjid, meneruskan zikir seperti biasa, seolah-olah tidak ada yang berubah.
Padahal sesuatu sudah mulai berubah. Kami hanya belum tahu.
Dua tahun pertama, kabar tentang Fiki masih mengalir dengan lancar seperti air got setelah hujan. Ia bilang sudah dapat kontrakan sempit tapi cukup bersama dua teman sekampung lainnya. Ia bilang gajinya lumayan. Ia bilang akan kirim uang bulan depan.
Dan memang ia kirim. Pak Ajak sempat kelihatan lebih segar. Sawahnya tidak dijual, batuk-batuknya berkurang, wajahnya sedikit berisi. Warga yang tadinya khawatir mulai bernapas lega.
"Nah, iku Fiki. Bocah sing bener," kata Bu Rohani suatu pagi. "Ora koyok anake si Parno sing minggat nang Surabaya terus ora ana kabare."
Tapi memasuki tahun ketiga, sesuatu mulai terasa tidak beres. Seperti bau got yang muncul dari arah yang tidak terduga.
Kiriman uang dari Fiki mulai jarang, lalu terlambat, lalu berhenti sama sekali. Pak Ajak yang tadinya mulai membaik kembali terlihat murung. Ia mulai sering duduk di beranda sambil memeluk lutut, memandang ke arah jalan seolah menunggu sesuatu yang tidak pernah datang. Rambutnya menipis, pipinya kempot, kemejanya satu ukuran terlalu longgar.
Kemudian mulailah desir kabar itu beredar dari mulut ke mulut, dari warung ke warung, dari sumur ke sumur.
"Pak Ajak mau esuk neng omahe Bu Yati. Nyilih dhuwit."
"Neng omahe Pak Carik uga jarene, isin-isin tapi nagih terus."
"Loh, Fiki kerjo neng pabrik, masa ora cukup nggo mangan?"
Pihak pesantren akhirnya ikut turun tangan mencoba menghubungi Fiki melalui saluran apapun yang bisa dijangkau: telepon wartel, pesan titip lewat kenalan di Jakarta, bahkan surat. Tidak ada yang dibalas.
Yang datang hanya kesunyian, dan kesunyian itu lebih berisik dari apapun.
Memasuki tahun keempat, Pak Ajak mulai melakukan hal-hal yang membuat warga kampung mengerutkan dahi.
Ia menggadaikan sawah. Kendaraan satu-satunya, sebuah sepeda motor bebek tahun delapan puluh sembilan yang knalpotnya sudah bolong, ikut digadaikan. Bahkan sertifikat tanah tempat rumahnya berdiri, tanah yang sudah diwariskan turun-temurun sejak zaman kakeknya, ikut diserahkan kepada seorang rentenir bernama Pak Gono yang tinggal dua kecamatan sebelah.
Dan hal yang paling membuat orang-orang menggelengkan kepala adalah ini: sebagian besar uang dari hasil gadai itu dikirimkan kepada Fiki di Jakarta.
Seorang ayah yang sedang sekarat mengirimkan uangnya kepada anak yang pergi untuk mencari uang.
Ada logika apa di balik itu, tidak ada yang bisa menjawab.
Anto pernah mendatangi Pak Ajak pada suatu sore, membawakan sebungkus roti dan niat untuk bertanya baik-baik. Pak Ajak hanya duduk memandangi lantai semen, matanya kosong seperti ember yang sudah lama tidak diisi.
"Dheweke butuh dhuwit, To," kata Pak Ajak akhirnya, dengan suara yang parau. "Ora ngerti nggo opo. Tapi dheweke butuh."
"Butuh nggo opo, Pak? Dheweke kan kerjo."
Pak Ajak hanya menggeleng pelan. Dan dari cara ia menggeleng, Anto tahu bahwa orang tua itu sebenarnya sudah tahu jawabannya. Hanya saja jawaban itu terlalu berat untuk diucapkan oleh mulut seorang ayah.
Fiki pulang dua minggu sebelum Lebaran tahun 2006, tepatnya pada hari Selasa sore ketika langit kampung sedang mendung rendah dan udara berbau petrichor.
Tidak ada yang menjemput. Tidak ada mobil bak terbuka kali ini. Tidak ada tepuk tangan.
Ia berjalan kaki dari halte bus, menyeret koper hijau tua yang kuncinya masih diganjal lakban, sama persis seperti lima tahun lalu. Hanya saja isinya sudah berbeda. Dan orangnya juga sudah berbeda.
Yang pulang itu bukan Fiki yang pergi.
Yang pulang adalah tubuh yang meminjam nama Fiki, tubuh yang kurus seperti batang jagung di musim kering, dengan mata yang kemerahan dan sorot yang susah difokuskan pada satu titik terlalu lama. Kulitnya yang dulu sawo matang sehat kini terlihat abu-abu, pucat dengan noda-noda kecil di sana-sini. Dan di sepanjang lengan kirinya, berjejer bekas suntikan seperti titik-titik pada peta jalan menuju kehancuran.
Warga yang menyaksikan kepulangannya dari depan rumah masing-masing tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Ada yang masuk ke dalam dan menutup pintu pelan-pelan. Ada yang tetap berdiri tapi membuang muka. Ada yang berbisik kepada pasangannya dengan telapak tangan menutupi mulut.
"Innalillahi," terdengar seseorang berucap lirih.
Fiki tidak memandang siapapun. Ia berjalan lurus ke rumahnya seperti orang yang tahu ia sedang dilihat tapi sudah tidak peduli lagi dengan pandangan orang.
Berna adalah yang pertama kali mencoba mendekatinya.
Ia datang ke rumah Pak Ajak pada sore ketiga setelah kepulangan Fiki, membawa niat yang tulus dan kekhawatiran yang sudah tidak bisa ia tahan. Mereka duduk di ruang tamu yang lampunya cuma satu dan agak redup, ditemani suara cicak di dinding dan bau kapur barus yang menyengat.
"Fik, loh kok awakmu dadi ngene?" kata Berna, dan dalam pertanyaan itu tersimpan lima tahun kerinduan yang sekarang berubah wujud menjadi luka.
Fiki tidak langsung menjawab. Ia duduk dengan punggung agak membungkuk, jari-jarinya mengetuk-ngetuk lutut dalam irama yang tidak beraturan. Kemudian ia tersenyum, senyum yang tidak sampai ke mata, senyum yang terasa seperti topeng yang dipasang terlalu tergesa-gesa sehingga tidak pas betul di wajahnya.
"Ber," katanya akhirnya, suaranya serak seperti daun kering yang diinjak, "aku sejatine duwe dhuwit akeh. Akeh banget malah."
Berna menunggu.
Fiki merogoh saku celana dan mengeluarkan sebuah plastik klip kecil, isinya daun kering yang digulung-gulung tidak beraturan. Ia meletakkannya di meja di antara mereka berdua seperti orang yang sedang menawarkan dagangan.
"Carane aku dodolan iki. Tinimbang ngurusi sawah sing hasile ora sepiro, mending mbantu aku dodolke barang iki. Lumayan, Ber. Serius."
"Iki opo, Fik?" tanya Berna, mengerutkan dahi.
"Tembakau," jawab Fiki ringan. "Tapi enak tenan cok. Bedo karo rokok biasa."
Ia memelintir satu selinting dan menyodorkannya kepada Berna.
Berna seharusnya pergi. Seharusnya berdiri, menggeleng, dan pergi. Seharusnya ia teringat pada suara mereka berlima yang melafalkan zikir di bawah lampu masjid, pada angin malam yang dulu terasa seperti berkah, pada Pak Ustadz yang selalu berpamitan lebih dulu dengan lambaian tangan.
Tapi Berna tidak pergi. Ia menerima rokok itu. Menghisapnya.
Dan dalam sekejap, pikirannya dibawa ke suatu tempat yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya. Tempat yang terasa ringan dan hangat dan tidak ada masalah di dalamnya. Tempat yang berbahaya justru karena terasa nyaman.
"Iyo," kata Berna setelah lama diam. Hanya itu. Satu kata. Dan satu kata itu sudah cukup untuk memulai segalanya.
Fiki dan Berna mengajak yang lainnya satu per satu. Caranya halus, tidak tergesa-gesa, seperti air yang meresap perlahan ke dalam tanah kering. Tidak ada paksaan. Tidak perlu ada. Karena yang paling berbahaya bukan yang memaksa, melainkan yang menawarkan dengan senyum dan menunggu penderitaan bekerja sendiri.
Dan tanpa mereka sadari, sebuah kerajaan kecil telah berdiri di antara lahan-lahan kosong dan kebun singkong di ujung kampung. Bukan kerajaan yang megah. Hanya sepetak tanah dengan beberapa orang yang duduk bersila, tapi kali ini bukan di atas sajadah, melainkan di atas tanah lembab dengan botol minuman di tangan dan asap yang mengambang di antara mereka seperti kabut yang tidak tahu ke mana harus pergi.
Lima pemuda yang dulu dikenal sebagai para pemuda masjid itu kini lebih sering nongkrong di kebun daripada di serambi masjid.
Pak Ustadz masih mengendarai motor tuanya setiap malam. Masih berderit di tikungan yang sama. Tapi kali ini ia tidak meninggalkan siapapun di masjid. Karena masjid itu sudah kosong sebelum ia pergi.
Lampu masjid yang dulu menyinari wajah-wajah mereka yang berzikir kini menyala sendirian, seperti lilin di ruangan yang sudah tidak ada orangnya.
Anto masih kadang-kadang melewati masjid itu kalau pulang malam.
Ia berhenti sebentar di depan pintunya. Memandangi lampu yang masih menyala. Mendengarkan kesunyian yang dulu ramai.
Pernah sekali ia masuk, duduk di tempat yang biasa ia duduki dulu, meletakkan telapak tangan di atas lutut, mencoba mengingat lafaz zikir yang sudah lama tidak ia ucapkan. Tapi tenggorokannya terasa mampet. Kata-katanya tidak keluar. Seolah ada sesuatu yang menyumbatnya dari dalam.
Ia duduk di sana cukup lama, sendirian, di bawah lampu yang sama.
Dan lampu itu tetap menyala, seperti biasa. Seperti sedang menunggu. Seperti tidak pernah menyerah untuk menunggu.
Tapi tidak ada yang datang.
Itulah yang paling menyakitkan, bukan tentang orang-orang yang jatuh. Melainkan tentang cahaya yang tidak pernah padam, tapi tidak lagi ada yang butuh melihatnya
Kasih tip buat penulis
