Korban-korban malam
Kampung itu pernah punya lima pemuda yang suaranya mengisi malam seperti doa yang tidak pernah lelah dipanjatkan. Mereka berzikir di bawah lampu remang, pulang ketika jarum jam menyentuh angka sembilan, dan dikenal warga sebagai pemuda masjid yang ikatannya lebih kental dari darah. Lalu salah satu dari mereka pergi ke Jakarta. Seorang dari mereka, seorang pemuda yang berangkat membawa Al-Quran kecil dan pulang membawa bekas suntikan di lengannya. Tentang seorang ayah yang menggadaikan tanah warisan leluhur demi mengirim uang kepada anak yang seharusnya mengiriminya uang. Tentang empat sahabat yang menunggu kabar baik, lalu tanpa sadar menjadi bagian dari kabar buruk itu sendiri.
