Prolog

“Bangsat!”

Di atas jembatan penyeberangan, seorang murid tanpa seragam berlari terbirit-birit. Napasnya tersengal, langkahnya kacau, tapi matanya penuh perhitungan. Ia sengaja menggiring murid-murid SMAN Mandala 45 menuju titik jebakan yang sudah disiapkan kelompoknya di bawah sana.

Kakinya nyaris tersandung saat menuruni tangga jembatan. Batu-batu kecil beterbangan dari atas, menghantam punggung dan bahunya. Beberapa mengenai sasaran, tapi ia tetap tegak, bahkan sempat menoleh sambil menyeringai.

“Lemparan kalian kayak cewek! Enggak ada yang berasa!” ejeknya lantang, suaranya menggema seperti anak kecil yang baru belajar berani.

Kemarahan para pengejar meledak. Mereka melompat turun tangga, mengejar lebih ganas. Si provokator melesat ke jalan raya, menembus kemacetan lampu merah dengan langkah liar. Klakson meraung memekakkan, pengendara motor dan mobil memaki habis-habisan.

“Eh! Tawuran! Tawuran!”

Aksi kejar-kejaran itu langsung jadi tontonan gratis. Orang-orang di trotoar berhenti, sebagian terhibur, sebagian lain berdebar melihat drama bak film laga murahan. Si provokator terus melaju, menuju tikungan berikutnya pangkalan angkot tua yang sudah lama mangkrak. Di sana, teman-temannya sudah menunggu dengan semangat tawuran.

Tapi sebelum ia sampai, sebuah batu besar menghantam belakang kepalanya. Keras. Ia tersungkur ke aspal, tangan langsung memegang kepala yang berdenyut serasa mau pecah. Belum sempat bangkit, tendangan mendarat di wajahnya. Murid-murid Mandala 45 mengerubungi, menghajar tanpa ampun.

Ia meringkuk di tanah, celana abu-abunya kotor noda sepatu dan darah. Bibir pecah, mata bengkak, darah menetes membasahi trotoar.

“Woy, anak ngentot! Lu dari sekolah mana, hah?!” bentak salah satu dari mereka sambil mencengkeram kerah kaus hitam si provokator.

Tak ada jawaban. Hanya diam seribu bahasa, meski ancaman semakin keras. Itu malah membuat mereka tambah naik darah. Pukulan dan tendangan kembali menghujani hingga ia nyaris tak sadarkan diri.

Di tengah interogasi brutal itu, sebuah batu lain melesat dari seberang jalan, menghantam kerumunan. Dari arah berlawanan muncul puluhan murid berseragam lain, tangan menggenggam balok kayu, bogem mengepal, siap tempur.

“Ternyata anak-anak TB, anjing! Gini cara loe ngajak perang? Bajingan tengik!” sorak murid Mandala 45.

“Gak suka? Kenapa? Bilang aja loe pada yang gak sanggup ngadepin kita!” balas kelompok baru itu dengan nada mengejek.

Mereka adalah murid SMAN Tunas Bhakti. Ejekan saling balas berubah jadi ledakan kekerasan. Tawuran antarsekolah negeri meletus di sore yang panas. Batu beterbangan, pukulan mendarat, teriakan memenuhi udara. Jalanan macet total, pejalan kaki berhamburan ke halte Busway.

Di tengah kekacauan itu, satu sosok mendominasi. Gerakannya gesit, lincah, hampir indah. Ia melompat seperti kupu-kupu, mendarat dengan tendangan menyengat bagai tawon. Setiap serangan ditangkis, setiap celah dimanfaatkan untuk balas pukul. Ia adalah Fidel, pentolan Tunas Bhakti Alpha bagi serigala-serigala liar di aspal kota.

Geng Stray Wolves bergerak bersamanya. Empat kapitan selalu di sisinya: beringas, taktis, mematikan. Mereka berlima seperti mesin pembunuh berjalan. Silat jalanan bercampur street fighting membuat murid Mandala 45 mulai goyah.

“Cok, itu si Fidel, anjir! Cabut ah! Gua gak mau berantem sama dia!” teriak salah satu murid Mandala, panik.

“Bacot! Gua yang bakal ngadepin dia! Banci loe semua!” balas pentolan Mandala 45 yang bertubuh besar. Ia menerjang maju, bahu lebar, postur menjulang seperti raksasa.

Ia mencoba meraih kerah Fidel, mencekik. Fidel menangkis dengan mudah, mendorong tubuh besar itu mundur. Serangan bogem berikutnya dihindari dengan putaran anggun, lalu balas hantaman siku tepat di tengkuk. Raksasa itu ambruk.

Fidel menginjak kepala pentolan itu ke aspal, dingin.

“Lu sekarang milik gue. Kalo nolak, gue habisin semua bocah lu.”

Si pentolan menggeram, tapi akhirnya mengangguk pura-pura tunduk. Harga dirinya sudah hancur rata dengan tanah. Murid Mandala 45 hanya bisa tertegun, tak percaya kekalahan datang begitu cepat.

Fidel dan Stray Wolves berbalik pergi, meninggalkan area tawuran yang berantakan. Tapi baru beberapa langkah, pentolan Mandala yang tadi tersungkur mengeluarkan pisau lipat dari saku celananya. Matanya membara dendam.

“Mati lu, anjing!”

Pisau itu melesat ke arah punggung Fidel.


Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!