Bab 1 Chrisye — Anak Sekolah
Jayakarsa, 2008. Kota yang tumbuh sekaligus membusuk di tempat yang sama.
Asap knalpot mengepul tebal, bercampur bau asam sampah dan minyak goreng bekas. Klakson saling berteriak lebih lantang daripada burung gereja di taman kecil yang sudah lama mati. Di sini hidup bergerak cepat, tapi kebanyakan orang hanya berlari mengejar sesuatu yang sudah lama lenyap.
Pagi adalah perjuangan pekerja: naik angkot penuh sesak, banting tulang di pabrik atau pasar, pulang malam dengan badan remuk dan dompet tipis. Siang adalah ladang kejahatan kecil-kecilan: copet di terminal, jambret di trotoar, pelecehan di bis kota yang penuh sesak. Malam adalah wilayah preman dan oknum berseragam yang tutup mata kalau amplopnya cukup tebal.
Di tengah kekacauan itu, anak-anak SMA negeri justru menemukan “kebebasan” versi mereka sendiri.
Pagi bolos ke warnet, main Point Blank atau Ragnarok sampai mata perih. Sore jadi arena perang: batu beterbangan, celurit rakitan keluar dari tas buku, darah menggenang di aspal panas. Malam adalah pesta liar: open table di diskotek murahan, karaoke sampai subuh, balapan liar di jalan layang sambil knalpot brong menggelegar seperti jeritan binatang.
Tawuran antarsekolah negeri adalah yang paling ganas. Bukan sekadar adu jotos — ada yang pulang dengan tulang retak, ada yang masuk RS dengan jahitan di kepala, ada pula yang tak pernah pulang lagi.
Orang tua yang mampu langsung memindahkan anak ke sekolah swasta mahal atau pesantren. Sisanya? Terjebak di kandang setan bernama SMAN Tunas Bhakti.
Sekolah itu tak pernah juara olimpiade sains atau lomba debat. Tapi namanya harum di kalangan anak-anak jalanan: rumahnya Geng Stray Wolves. Geng yang dipimpin Fidel — pentolan yang gerakannya lincah bagai kupu-kupu dan menyakitkan bagai sengatan tawon. Bersama empat kapitan setianya — Zefan, Angga-Anggi si kembar, dan Sena yang pendiam tapi mematikan — mereka menguasai tidak hanya sekolah, tapi juga kawasan selatan Jayakarsa sampai ke Pantai Taring.
Mereka bukan sekadar geng tawuran. Mereka adalah mesin: mengendalikan balap liar, jualan miras oplosan, bahkan “pajak” kecil dari warung-warung di sekitar. Siapa yang menolak, biasanya berakhir di UGD atau diam-diam pindah sekolah.
Di antara ratusan murid yang gentar melihat bayangan seragam Stray Wolves, ada satu anak kelas satu yang justru ingin masuk ke dalam lingkaran itu: Atmo.
Atmo bukan anak yang menonjol. Nilainya pas-pasan, posturnya kurus, dan gengsinya setinggi langit. Karena gengsi itulah ia rela jadi jongos — pembawa barang, umpan, samsak berjalan. Ia sering melepas seragam, menyusup ke wilayah musuh, melempar batu atau petasan, lalu lari terbirit-birit supaya dikejar dan digiring ke titik penyergapan yang sudah disiapkan teman-temannya.
Setelah tawuran usai, ia pulang babak belur tapi bangga. Di depan teman-teman kampung ia membual:
“Tadi gue bareng Stray Wolves ngehajar bocah Mandala, bro. Kocar-kacir mereka kek ayam sayur!”
Hasan, teman satu gang yang jualan mie ayam bareng bapaknya, hanya mengangguk datar sambil mengaduk kuah. Dalam hati ia bergumam: Ayam sayur yang mana ya, lu apa mereka?
Sore itu Atmo datang dengan wajah bengkak, bibir pecah, seragam kotor noda darah dan debu. Bapak Hasan langsung menggratiskan semangkuk mie ayam — kasihan melihatnya.
“Pen banget, bro. Suatu saat gue kopdar beneran sama Fidel. Pulang bonceng cewek, party di villanya…” Atmo menyeruput kuah sampai habis, matanya berbinar membayangkan mimpi yang terlalu jauh.
Hasan cuma menjawab, “Iya mo…” sambil menyembunyikan cibiran kecil di sudut bibir.
Pulang ke rumah, Atmo mendapati ibunya belum pulang dari pasar. Ia buru-buru masuk kamar, melepas celana kotor, menyembunyikan lebam di wajah dengan krim murah, lalu bergegas ke kamar mandi sambil menutupi muka dengan handuk.
Tapi ibunya sudah berdiri di ambang pintu dapur.
“Jo, kok telat?”
“Iya Bu, ini baru balik…”
Belum selesai bicara, ibunya sudah menyingkap handuk. Mata ibu langsung membelalak melihat memar di pipi dan sudut bibir yang kebiruan.
“Kamu tawuran lagi! Masih kelas satu udah begini! Mau jadi apa kamu nanti?!”
Atmo menunduk dalam. Bentakan ibu terasa seperti auman harimau yang lelah. Ibu terus mengomel sambil menyiapkan diri ke pabrik malam. Kata-kata kasar bercampur khawatir:
“Kita orang miskin, Jo. Kalau kamu kena kasus, ibu tidak punya apa-apa buat nebengin kamu dari kantor polisi.”
Atmo hanya mengangguk-angguk, entah mendengar atau tidak. Ibu akhirnya menghela napas panjang.
“Duh… ibu jadi telat. Terserah kamu deh! Mau apa kek terserah!”
Sebelum pergi, ibu masih menitip pesan:
“Besok anter ibu ke pasar ya. Bawa satu kotak kue buat dititipin di kantin. Bagus daripada kamu minta jajan terus.”
Atmo mencium tangan ibu. Pintu pagar berkarat bergeser pelan. Motor bebek ibu menjauh dalam kegelapan pagi buta.
Sendirian di ruang tamu sempit, Atmo menatap poster JKS 48 di dinding kamar. Matanya tertuju pada Milka — salah satu member favoritnya. Tangan kanannya tanpa sadar meraba celana pendek. Khayalan murahan remaja laki-laki miskin yang ingin merasakan sesuatu yang lebih dari hidupnya yang sekarang.
Di luar jendela, Jayakarsa masih bernapas berat. Sirene ambulans terdengar samar dari kejauhan. Mungkin ada tawuran lagi. Mungkin ada anak seusianya yang malam ini tidak pulang.
Atmo memejamkan mata.
Besok adalah hari baru. Tapi di Jayakarsa, hari baru biasanya hanya membawa masalah yang lebih besar.
Kasih tip buat penulis
