Bab 2 D'lloyd — Mengapa harus jumpa

Di pojok kelas IPS X-B, Atmo masih merasakan jantungnya berdegup kencang. Sesekali ia melirik ke jendela, berharap angin siang yang masuk bisa meredakan sesak di dadanya. Mungkin sekarang mereka sedang menunggu di kantin, siap melanjutkan “mainan” tadi pagi.

Tendangan Anggi tadi terasa seperti palu godam. Kemeja putihnya kini bertabur jejak sol sepatu berdebu, bekas yang lebih menyakitkan daripada lebam di perutnya.

Di deret belakang, dua anggota Stray Wolves sedang mengganggu seorang bocah culun yang berusaha pura-pura tak melihat mereka. Jitakan ringan mendarat di kepala bocah itu, cukup untuk membuatnya semakin menunduk.

“Uangnya,” bisik salah satu dari mereka, suaranya rendah tapi mengancam.

Inilah neraka kelas X-B setiap hari. Tanpa kehadiran Sena sekalipun, suasana tetap gelap. Yang mengawasi sekarang adalah si Jangkrik, bawahan setia Sena yang lebih berisik dan sembrono daripada bosnya yang dingin tapi mematikan.

Bocah itu hanya bisa menunduk sambil menggenggam selembar uang dua ribuan yang sudah lecek. Jarinya gemetar.

“Segini mana bisa nyewa warnet sejam? Ngeteng rokok aja enggak cukup. Cepet!” bentak si anggota sambil mengepal tinju.

“Serius, Bos… ini beneran yang gue punya hari ini,” suara bocah itu nyaris hilang. “Ini pun buat ongkos pulang.”

“Ngutang ya lu!” Si anggota mendengus jijik. “Besok kalo enggak bawa goceng, mati lu!”

Meja di depannya didepak keras hingga bergeser beberapa senti.

Selain diawasi Jangkrik, ada sepuluh anggota Stray Wolves lain yang berjaga di kelas itu. Siapa pun yang berani menolak setoran harian lima ribu rupiah akan langsung dikeroyok. Uang receh itu biasanya habis untuk sebungkus rokok kretek atau sebotol anggur merah murahan di warung pinggir rel.

Berbeda jauh dengan kelas IPS X-A yang terasa lebih adem. Mungkin karena pengawasnya adalah kapitan sendiri. Tatapan Fidel saja sudah cukup membuat seluruh penghuni kelas menunduk tanpa perlu kata-kata.

Pelajaran pagi dimulai. Pak Munir, guru Geografi, masuk dengan langkah lelah dan melanjutkan materi tentang antroposfer serta piramida kependudukan. Suaranya datar, nyaris tanpa semangat—mungkin cerminan gaji yang tak pernah benar-benar menghargai tenaga yang dikeluarkannya.

Pak Munir sama sekali tidak menghiraukan keributan di deret belakang. Jangkrik dan anak buahnya asyik bercanda, melempar kertas, dan sesekali tertawa terbahak tanpa peduli ada pelajaran atau tidak.

Tiba-tiba segumpal kertas mendarat di meja Atmo. Di dalamnya tertulis perintah singkat nan mengancam: ikut kompetisi kuda rodok saat istirahat nanti. Atmo menoleh ke belakang. Jangkrik dan yang lain sudah menatapnya tajam. Ia mengacungkan jempol dengan tangan gemetar. Balasannya adalah seringai puas yang membuat perut Atmo mual.

Saat itu angkatannya Atmo sedang ramai dengan kompetisi kuda rodok antarkelas. Permainan itu mirip kuda tomprok, tapi ditambah saling terjang, setut, dan sikut sehingga  terlihat jauh lebih brutal dan berdarah.

Meja-meja didorong ke samping. Enam murid kelas X-A melawan enam murid X-B. Atmo ditempatkan di posisi paling belakang—tumpuan akhir, posisi paling sial.

Dugaan Atmo terbukti benar. Perutnya kosong karena belum makan siang. Ia menunduk, tengkuknya terhimpit, wajahnya nyaris menempel pada selangkangan orang di depannya. Di punggungnya, tubuh-tubuh lain bergelantungan, menekan tanpa ampun.

Tiga murid sudah bertumpu di punggungnya. Tumit mereka menyetut pinggang Atmo berulang-ulang, berusaha merobohkan pondasi paling belakang itu.

“Jongos! Jangan sampe jatuh! Kalo lu jatuh, awas balik nanti!” teriak Jangkrik penuh amarah.

Atmo hanya bisa mengatur napas tersengal. Keduanya kaki sudah gemetar hebat, hampir tak terasa lagi. Rasa sakit menusuk dari setiap setutan.

“Lagi main kudok ya?”

Suara tenang itu membuat semua kepala menoleh. Sena masuk ke kelas, satu lengannya merangkul Melawai, pacarnya. Kehadirannya langsung membuat Jangkrik gelisah.

“Siap, Bos. Lagi tanding lawan kelas lu, Bos,” jawab Jangkrik cepat, suaranya kehilangan tekanan.

Sena menyerahkan bungkus kacang telur kepada Melawai, lalu mengusap rambut ke belakang dengan gerakan santai. Ia mengambil ancang-ancang.

“Bos… Bos… Jangan, Bos. Sudah penuh,” pinta Jangkrik panik.

Sena tak peduli. Dengan lompatan cepat ia melintasi tiga tubuh yang bertumpuk di punggung Atmo. Kedua tangannya menekan punggung orang di depan, lalu kepalanya menghantam perut Jangkrik yang terkenal sekeras besi itu. Pondasi ambruk seketika.

“Gampang, kan?” Sena menyeringai sinis pada murid X-B yang berserakan di lantai.

Jangkrik hanya bisa mengacungkan jempol dengan wajah pahit.

“Kirik babi. Jangan lupa bawa setoran ke kelas gue abis pelajaran,” kata Sena dingin sebelum berbalik pergi.

Bel istirahat berbunyi. Atmo bangkit perlahan, merapikan seragamnya yang kusut. Ia sempat melirik Sena, tapi tak mendapat respons apa pun.

Belum sempat ia mengancingi kemeja, tamparan keras dari Jangkrik mendarat di pipinya. Amarah itu murni karena kekalahan tadi—dan Atmo yang jadi sasaran pelampiasan.

Atmo memegangi pipi yang memerah. Tubuhnya tergeletak di lantai kelas. Di balik rasa perih, ada kejengkelan yang menyesak. Kekalahan Jangkrik bukan salahnya, tapi ia tetap yang kena getahnya.

Saat Atmo membuka mata, gadis pagi tadi sudah berdiri di depannya. Tatapannya dingin, hampir jutek. Di belakangnya, Bu Asri, wali kelas mereka, melangkah masuk.

“Murid-murid, duduk dulu sebentar ya,” ujar Bu Asri tegas.

Lalu ia memanggil gadis itu ke depan.

Atmo bangkit pelan, kembali ke bangkunya. Pipinya masih berdenyut.

“Kenalkan, ini Karina Wiratma. Mulai hari ini ia akan bergabung di kelas kita,” kata Bu Asri.

Rambut pixie-nya rapi dan tegas. Tatapannya dingin, seolah suhu ruangan langsung turun beberapa derajat saat ia berdiri di sana.

“Salken semua. Gue Karina Wiratma, biasa dipanggil Arin,” ucapnya singkat sambil mengangguk kecil, lalu membetulkan ransel yang hanya digendong sebelah pundak.

Bu Asri mempersilakan Arin mencari tempat duduk. Tanpa ragu, gadis itu langsung menuju kursi belakang dekat jendela—tepat di samping Atmo.

Atmo terkejut, tapi tak berani bersuara.

Tak lama kemudian Bu Derry, guru sosiologi, masuk. Beliau bertegur sapa sebentar dengan Bu Asri sambil tertawa kecil. Atmo sebenarnya kurang suka pelajaran ini karena sering dianggap “dongeng”, tapi ia selalu tertarik dengan metode observasi yang diajarkan Bu Derry.

Pelajaran berlangsung. Atmo mencatat sambil sesekali menggambar. Bakat menggambar dan bermain gitar yang diwarisi dari almarhum ayahnya masih tersimpan rapi di jari-jarinya. Dulu, saat SD, ia sering mengamen di perempatan bersama teman-teman gang sambil bermimpi membeli mainan dari abang penjual di depan sekolah.

Tanpa sadar tangannya sudah selesai menggambar seekor kucing yang duduk santai di atas tembok sekolah. Ia meregangkan tubuh yang masih pegal habis kuda rodok tadi.

Saat meregang ke kanan, ia melihat Arin sedang memangku pipi, tangan kanannya menggores coretan kucing yang mirip dengan gambar Atmo—meski jauh lebih kasar dan sederhana.

Arin menyadari dirinya diperhatikan. Ia mendecak kesal, melempar tatapan sinis, lalu menidurkan kepala ke meja sambil membelakangi Atmo.

Atmo buru-buru membuang muka ke jendela. Malu. Takut. Tapi di dalam hati ia berpikir: Gila, jutek banget cewek itu. Dan sedikit terkejut. Ternyata dia suka kucing juga.

Bu Derry melirik jam, merapikan buku, lalu bel istirahat kedua berbunyi. Waktu istirahat panjang. Banyak murid berhamburan ke kantin.

Atmo ikut keluar, tapi langkahnya langsung diselak Arin. Gadis itu memasukkan satu tangan ke saku rok, menjinjing jaket bisbol di pundak—penampilan yang makin menegaskan aura preman pasarnya.

Atmo hanya menggeleng pelan dan melanjutkan ke kantin.

Di sana ramai. Bau mi gemes, permen karet Yossun, mi lidi, momogu batangan, hingga nasi ayam kriuk dan bakso babat memenuhi udara. Harga-harganya ramah kantong pelajar.

Atmo tak punya niat membeli. Kalau tak ada uang, biasanya ia hanya duduk di sudut, mengintai piring-piring yang ditinggalkan orang lain. Perutnya sudah bergemuruh seperti badai.

Matanya baru saja menangkap sepotong roti selai nanas yang tertinggal di meja sebelah ketika Sena tiba-tiba naik ke meja itu dan menginjak rotinya hingga hancur.

“S..Sen…” Atmo terkejut, langsung duduk lemas.

Sena menatapnya dari atas meja, dingin. Di belakang, Fidel dan kapitan lain sudah menunggu sambil tertawa licik.

Atmo hanya bisa mengangguk kecil dalam hati. Duh, apa lagi sekarang?

Fidel tiba-tiba merangkul lehernya erat sampai Atmo tertunduk.

“Maaf ya soal tadi pagi, Ngos. Habis ini gue traktir, deh. Mau apa? Mumpung gue lagi baik nih,” ujar Fidel sambil tertawa tipis.

Atmo mengangguk ragu. Ia menunjuk kedai nasi liwet yang antreannya lumayan panjang. Fidel mengangguk yakin.

Mereka berlima mengantre tepat di belakang Arin. Anggi di barisan paling belakang mendengus kesal—ia masih ingat gadis itu yang nyaris menabraknya dengan motor pagi tadi.

“Ngos, lu mau makan, kan?” tanya Fidel tajam.

Atmo mengangguk pelan.

Fidel membisikkan sesuatu, lalu menyuruhnya menyingkirkan Arin.

Atmo menggeleng kecil. Ia masih merasa tidak enak setelah memergoki Arin menggambar kucing tadi.

“Ya udah. Kalo lu enggak usir, lu enggak makan. Abis kelas nanti gue timpuk,” ancam Fidel santai.

Atmo menghela napas panjang. Ia menepuk bahu Arin.

Gadis itu menoleh. Tatapannya setajam silet.

“Ha!?”

“Maaf, Mbak… boleh enggak kita duluan? Kita lagi mepet banget nih.”

“Enggak. Emang bapak lu enggak ngajarin ngantre?” jawab Arin ketus.

Atmo didesak Fidel dan kapitan lain. Ia akhirnya menarik bahu Arin.

“Mbak enggak tahu kita siapa? Kita tuh—”

Belum selesai bicara, secepat kilat Arin meraih kepala Atmo dan menghantamkannya keras ke meja kantin. Suara benturan itu membuat seluruh kantin menoleh.

Belum sempat Atmo bangkit, tumit sepatu Arin sudah menindih kepalanya ke meja—tepat seperti seorang pemburu yang menjepit mangsanya.

“Gila, mantap juga lu,” komentar Fidel sambil mendekat.

“Gini, sorry banget jongos gue ngerusak mood lu tadi. Habis gue lihat gerakan lu tadi, ternyata lu berbakat. Mau gabung aja sama kita? Seru, loh, jadi penguasa di sini.”

Fidel mencoba membelai rambut Arin.

Dalam sekejap Arin menggertak. Tendangan kilat melesat ke arah wajah Fidel—hanya berhenti beberapa senti sebelum mengenai.

“Gak minat,” jawab Arin singkat.

Semua terdiam. Bagaimana mungkin murid baru berani menggertak Fidel di hari pertamanya?

Anggi langsung naik darah, tapi Fidel mengangkat kedua tangan—isyarat mundur.

“Oke, oke… kalo lu mau gitu. Tapi pikirin tawaran tadi, ya. Jangan sampe nyesel,” ujar Fidel sambil mengajak kapitan lain pergi.

Atmo masih meringis menahan sakit. Ia sempat menatap Arin, tapi hanya dibalas tatapan dingin. Gadis itu memasang jaket bisbol merah marunnya, mengambil pesanan nasi liwet, lalu berlalu meninggalkan Atmo begitu saja.

Sepanjang pelajaran terakhir, suasana kelas terasa semakin tegang. Atmo tak berani menatap Arin. Ia hanya menggambar untuk melupakan kejadian tadi. Tapi bisik-bisik teman sekelas terus membicarakan insiden di kantin siang itu.

Sepulang sekolah, parkiran motor sudah ramai anggota Stray Wolves. Entah bersiap tawuran atau balapan liar malam ini.

“Noh, yang baru dihajar cewek udah nongol,” cibir salah satu anggota sambil merangkul Atmo dan menyeretnya ke tengah.

Fidel dan kapitan lain sedang duduk santai di atas motor, membahas cewek tadi yang tendangannya mirip taekwondo, tapi kuda-kudanya jelas silat.

“Ngos, cewek tadi siapa?” tanya Fidel.

“Namanya Arin, Bang. Gue juga kaget dia bisa begitu,” jawab Atmo tertunduk.

“Menurut lu, kalo dia jadi salah satu cewek gue, cocok enggak?” tanya Fidel sambil menyeringai. Selain tampan, Fidel terkenal sebagai pemburu perawan.

“Kalo Abang mau tundukin dia kayak cewek-cewek Abang yang lain… kayaknya susah, Bang. Serem banget dia. Kayak macan,” ujar Atmo jujur.

“Terus? Kita enggak serem gitu? Maksud lu apa?!” Zefan tersinggung.

Belum sempat perdebatan berlanjut, suara motor bebek Arin terdengar mendekat.

“Minggir monyet, ngalangin jalan woy!” teriak Arin.

Ia langsung menarik gas dalam-dalam. Motornya melesat, membuyarkan perkumpulan, dan membuka jalan tanpa peduli.

“Lonte bangsat!” umpat Anggi geram.

Perkumpulan itu hanya bisa memendam amarah. Anggi menggertakkan gigi, tangannya mengepal keras hingga urat-urat di lengannya menonjol.

“Ngos, lu mau duit kue lu balik enggak?” tanya Fidel sambil mengeluarkan lembaran seratus lima puluh ribu dari dompet.

“Entar malem gue open table lagi. Gue enggak mau mood si lekong ini jelek di sana. Kalo lu jadi samsak Anggi lima menit, duit ini buat lu.”

Atmo mengangguk pasrah. Ia butuh uang itu supaya ibunya percaya kue subuh tadi laku.

Begitu ia melepas tas, Anggi langsung melayangkan dua pukulan keras ke perutnya.

Anggi memang seperti bom waktu. Saat santai, ia cepat merobohkan lawan. Tapi begitu amarahnya meledak, ia menikmati setiap pukulan hingga lawan semakin ketakutan.

“Sepuluh… sembilan… delapan…” Fidel menghitung santai sambil bercermin di spion motor.

Atmo sudah kewalahan. Ia mencoba menghindar, tapi pukulan Anggi tak terduga. Hasta lengannya memerah penuh lecet.

Di detik terakhir, Anggi menyilangkan kaki Atmo hingga ia jatuh, lalu meninju wajahnya keras.

“Nol, woy lekong! Cepet! Udah mau cabut nih,” seru Fidel sambil mengenakan helm.

“Ih! Tungguin gue,” balas Anggi cepat. Ia kembali gemulai seolah tak terjadi apa-apa.

Fidel melempar uang seratus lima puluh ribu itu ke tanah.

“Bang, kapan lagi ada tawuran tolong kabarin ya, Bang!” pinta Atmo sambil menunduk, mimisan.

Fidel hanya mengangguk ringan sebelum ngebut pergi bersama rombongan.

Atmo menuntun sepeda ontelnya pulang. Tisu menutupi lubang hidung kirinya. Senja di Jayakarsa terlihat indah sekaligus memekikkan. Besok akhir pekan. Banyak motor dan mobil berebut jalan.

Sambil mengayuh pelan, Atmo memandangi hari yang baru saja dilewatinya: dari dipukuli Anggi hingga dihajar perempuan yang baru dikenalnya. Dalam hati ia bertanya-tanya,

Apa gue ini memang lemah banget?


Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!