Bab 9

“Thanks, Mas!”

Petugas Valet itu menjawab dengan sama ramahnya, sementara aku sedang sibuk menganalisa setiap gesture kecil atau kalimat yang Gyan ucapkan. Ini serius, kalau aku tidak berdiskusi dengan Emma, aku yakin tugasku tidak akan seberat ini sekarang. Biasanya, aku tidak akan memperhatikan orang semengerikan ini, karena sibuk menikmati waktunya.

Sekarang, aku jadi kepikiran dan merasa perlu menghubungkan setiap perkataan dan tindakan Gyan untuk menentukan siapa dirinya, seperti gimana Emma mendeskripsikan Gyan. Aku membaca lebih banyak tentang gimana sih sebenarnya orang yang terjebak toxic masculinity. Di beberapa artikel kesehatan yang kubaca, beberapa diantaranya memang ada di Gyan, terutama soal keharusannya mengelompokkan mana yang ‘laki banget’ dan ‘cewek banget’, belum lagi soal cowok harus nyetir dan jemput dan traktir, tidak menunjukkan emosi yang menurutnya lemah. Tapi, Gyan juga tidak memiliki beberapa buruk lainnya, seperti sering menunjukkan dominasi dan amarah. He’s fun, ramah dengan orang lain, tidak berusaha menunjukkan status sosial atau kekuasaan.

Aku tidak tahu gimana kalau soal tugas cewek dan cowok dalam pernikahan versinya.

“Dor!”

Lamunanku buyar, aku tertawa geli melihatnya kebingungan setelah mengagetkanku dengan suara tembakan dari mulutnya itu. Aku pasti sejak tadi tidak terlihat baik-baik saja. Ngerinya, kalau sampai auraku ini terbaca oleh orang sekitar—itu pun kalau mereka peduli—dan merek pikir aku adalah korban pemaksaan. Padahal tidak. Aku mau dengan sendirinya.

“Gimana sama Ibu, Rha?”

“Ibu baiiiik. Gimana sama Mamamu?”

“Fisiknya baikkk. Tapi yang mau gue tanyain tadi soal kita.” Dia tertawa pelan, menerima menu dari waiter, memilah-milah, kemudian mengucapkan pesanannya. “Lo mau apa?” tanyanya, padaku.

“Gue mau coba selera lo, oke nggak menurut gue.”

“Jadi gue yang milih?”

Aku mengangguk, memberinya tatapan menantang.

“Okay,” lirihnya tapi terdengar yakin. Dia menyebut menu lain, kemudian waiter itu meninggalkan kami. “Maksud gue tadi, Ibu udah tanya-tanya belum soal progres kita? Ini untuk ukuran perjodohan, kita nih udah masuk ke label merah ini, perlu banget diperbaiki.” Melihatnya tertawa geli, aku pun ikut-ikutan. “Mana gue belum pernah main ke rumah lo, kan?”

“Kayaknya Ibu tau kita tim yang pelan tapi pasti? Pasti bubar maksudnya.”

Tawa kami sama-sama pecah, tapi masih dalam kondisi baik, karena kami bukan sedang berada di dalam mobil.

“Nyokap gue udah nanya-nanya juga soalnya.”

“Oyaaa???”

Kepalanya mengangguk.

“Terus lo jawab apa? Ih Gyaaaan, lo tau kan lo nggak harus kerja sendirian di sini? Kalau lo butuh discuss soal jawaban buat ortu kita, lo ajak gue aja. Kita, kan, tim, harus satu suara. Jangan sampe, ya, nanti nyokap lo bilang ke Ibu nih lo ngomong A, eh gue bilang ke Ibu B. Bisa kacau kita.”

“Lo takut banget ya kalau kita jadi?”

“Hah?”

Gyan terkekeh geli. “Lo kayaknya takut banget kalau kita gagal, terus nggak ada pilihan lain selain nikah.”

“Lah bukannya kita memang iya?”

“Gue kayaknya red flag banget deh.”

“Emang iya nggak sih, Yan?”

Kedua tangannya menutup wajah, aku melihat tubuhnya bergetar karena tawa. Tawanya tidak sekencang Gyan biasanya, tetapi aku tahu dia sedang merasa sangat terhibur. Entah karena kalimatku atau karena dia juga setuju dia red flag banget untuk dijadikan pasangan. Setidaknya, bagiku. Karena manusia memiliki prinsip dasar dan toleransi yang berbeda. Jadi, aku tidak berani mengeneralisir semuanya.

“Atau lo udah mulai capek nih temenan sama gue?” tanyaku pada akhirnya. Karena baru sadar, bisa saja dia sudah muak menjadi dermawan dan baik hati selama ini. Jadi, aku harus segera mencari cara untuk ngobrol dengan Ibu bahwa kami tidak bisa menuruti keinginannya, meski kami sudah mencoba.

Kami sudah mencoba, entah definisi itu bagaimana versi Ibu nantinya.

“Capek gimana?” tanyanya dengan kening berkerut.

“Lo mau kita ngomong sama mereka sekarang? Mungkin udah cukup buat bilang ke mereka kalau kita udah coba dan nggak nemuin kecocokan? What do you think?”

“Kecepatan nggak sih?”

“Hmmmm….” Aku meletakkan jari di dagu, berpikir keras. Kalau versi aku sih jelas tidak, tapi ternyata untuk Gyan kecepatan. Kami harus mencari jalan keluarnya lagi.

“Nanti Ibu lo akan bilang, dicoba aja belum, kok udah bilang nggak cocok.” Kami tertawa geli mendengar dia menirukan suara perempuan paruh baya. “Nanti gue anterin sekalian gue mampir bentar ke rumah lo deh. Ngobrol sama Ibu atau Abang. Weekend atau pas lo libur, gue jemput buat nonton ,atau apalah aktivitas orang mau pacaran beneran. Biar keliatan beneran gitu loh, jadi, begitu kita jebret tembak nggak jadi, mereka tau kita beneran coba. Lo masih sanggup, kan, tahan beberapa lama lagi?”

Mendengar pertanyaan konyol itu, aku refleks tergelak.

“Sanggup enggak?”

“Harusnya yang tanya gitu gue kelesss,” jawabku geli. “Kan elo yang aktif di sini, lo masih sanggup enggak?”

“Aktif?”

Aku tersenyum lebar. “Lo selalu berusaha jadi subjek. Lo yang ‘melakukan’. Yang jemput, yang bayar, yang merhatiin, yang meduliin, yang mikirin, mungkin juga yang caring. Atau jangan-jangan kalau pacaran beneran juga cuma lo yang nyayang? Lo nggak pernah ya disayang dan dikasih kelembutan?” Kalimatku sepertinya lucu banget untuknya. Padahal, meski aku ngomongnya dengan berusaha santai dan bercanda, aku beneran mau dia merasakan semua itu. He deserves all of them. “Jangan bilang, kalau lo udah nikah, lo bakalan nyuruh istri lo buat diem di rumah meski dia maunya aktif di luar. Semua kerjaan rumah tanggung jawab istri, bahkan kalau istri nggak masak atau nggak cuci baju, lo nggak makan dan nggak ganti baju.”

“Memang iya nggak sih?”

Aku memutar bola mata. “Walaupun istri lo nanti maunya kerja juga?”

“Itu kenapa gue nggak mau nikah.”

Aku mengatupkan mulut.

“Gue nggak mau istri gue nanti tersiksa kayak Nyokap.”

“Tapi lo bukan bokap lo.”

“Menurut lo bokap gue sadar kalau dia jahat?”

Ya, Gyan benar.

Kadang kita merasa apa yang kita lakukan itu benar. Mungkin untuk Gyan ini … Emma ada benarnya. Dia tidak ingin menjadi seperti papanya, tetapi dia juga tidak tahu gimana caranya dan dia takut apa yang dia lakukan salah. Daripada menyakiti, dia memilih untuk tidak menikah. Padahal, yang perlu dia lakukan adalah diskusi sebanyak-banyaknya, seterbuka mungkin, dan mungkin bantuan dari profesional?

Tapi, siapalah aku yang berani mengatakan semua itu sekarang.

Aku perlu waktu, begitu pun dia.

Kalau ternyata dia memang nyaman begitu, aku tidak perlu sok-sok-an jadi hero dan menyelamatkan hidupnya. Mungkin dia merasa tidak dalam kondisi yang perlu diselamatkan. Atau jangan-jangan, di sini justru aku perlu menyelamatkan diriku sendiri?

“By the way, Rha.”

Aku menatapnya.

“Jangan ketawain gue, yaa. Kemarin gue hubungi psikolog, tapi cuma chat doang.”

Aku melongo, kemudian tersenyum lebar. Jujur, aku senang tapi bingung harus bagaimana meresponsnya. Takut berlebihan dan dia merasa tidak nyaman. Jadi, yang keluar dari mulutku hanya, “Congrats!”

Dia bingung. “Cuma sapa doang, belum berani lanjut.”

“Itu udah jauh lho! Pasti butuh keberanian yang banyak, kan? Gue tau Gyan sehebat itu.”

“Am I?”

“Please ….” Aku memutar bola mata. “Inget, lo sekarang punya temen yang kece abis, Yannnnnn, manfaatin gue buat kehidupan lo yang lebih baik. I’m here. Always here.”

Senyumannya melebar.

“Aaaaaah, makanan kita dataaang!” seruku riang, melihat makanan kami dihidangkan satu per satu. “Nih kalau pilihan lo OKE, gue kasih hadiah, Yan. I promise.” Aku mendengar dia terkekeh. “Serius, lho!”

“Iyaaa. Thanks, Mas!”

“Makasih, Mas….” Aku kembali menatap makanan di meja dengan bahagia, terinterupsi dengan panggilan Gyan. “Ya?” jawabku, menatapnya.

“You look great tonight.”

“Kemarin-kemarin-kemarinnya apaaaa? Awful?” Melihatnya yang tertawa, aku ikutan juga sambil mengedikkan bahu. “Thanks anyway, gue tau gue cantik dari kecil.”

“Oya?”

“Ayah, Ibu, Abang, selalu bilang that I’m gorgeous.”

“Your forever favorite person itu enggak?”

“Please …. Dia aja minggat.”

Dia tergelak. “Kasihan. Gue mendaftarkan diri kalau gitu.”

“Jadi?”

“Yang selalu bilang lo gorgeous.”

Ini … pertemanan?

Wajar, kan, ya, pertemanan punya dialog macam ini?

Wajar, kan?

Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!