Bab 10
Dewasa itu sucks.
Semuanya jadi terbalik, berubah, menakutkan, membingungkan, dan masih banyak lainnya. Contohnya adalah gimana hubunganku dengan Emma. dulu, waktu kamu bertemu sangatlah banyak. Setelah saling kenal dan dekat, kami menghabiskan waktu lebih banyak berdua daripada sendirian. Belajar, les, bermain, saling mengunjungi rumah satu sama lain. Dengan banyaknya waktu yang kami habiskan, kami tidak pernah overthinking setelah sendirian di dalam kamar. Sepertinya belum mengenal apa itu overthinking. Anehnya, sekarang ini terbalik. Waktuku bersama Emma sangatlah sedikit, tapi dampaknya, bisa bikin kepalaku stress alias mau pecah.
Aku yakin semuanya bermula dari obrolanku dengan Emma di restoran makanan Thailand itu. Aku menghadapi hari-hariku setelahnya tak lagi sama, khususnya hal-hal yang menyangkut Gyan. Aku sok-sok jadi analis, mikir berat dan mencoba break down semua yang kami lakukan atau katakan, bahkan sesimpel durasi Gyan mengajakku keluar. Aku Googling berapa lama waktu dihabiskan di luar oleh teman atau memang sudah ada indikasi salah satunya mempunyai rasa lebih?
Yang paling mengerikan adalah … soal pekerjaanku. Aku tahu mungkin bekerja di cafe tidak pernah ada di bayanganku dulu, but I kinda like it now. Meski memang cara kerjanya serba buru-buru, banyak pressure karena berhubungan dengan customer langsung, tapi ternyata aku mulai terbiasa dan nyaman. Yang membuat ada yang aneh adalah Gyan jadi rutin mengajakku jalan, ketika jam kami cocok. Meski bukan weekend.
Apalagi weekend, kan.
Dia bahkan sudah lumayan rutin duduk di rumahku, entah ngobrol sama Ibu, main game atau bantuin Abang benerin sesuatu di rumah. Semua informasi detail itu … tidak kuceritakan ke Emma—ini aja sudah salah, karena biasanya kami akan membicarakan apapun, tetapi aku takut dengan fakta yang akan kuterima—melainkan ke … Google. Silakan olok-olok aku, karena aku tahu aku konyol. Tahu apa yang lebih konyol sekarang? Aku meringis memandangi layar handphone yang sedang memaparkan artikel tentang dugaan bahwa Gyan naksir aku.
Tapi, kenapa aku perlu setakut ini?
Apakah aku tidak siap menyakiti Gyan karena tidak bisa membalas perasaannya? Bukankan wajar perasaan tidak selalu terbalas seperti perasaanku pada Angkasa? Lagipula, aku dan dia sudah berkomitmen untuk menggagalkan rencana ini, jadi aku seharusnya baik-baik aja. Atau … karena aku tahu menjadi pemilik perasaan sepihak dan rasanya menyakitkan?
Kepalaku mau meledak, aku mau minuman yang dingin. Aku mau menikmati off-ku hari ini, jadi tidak ada pemikiran apa pun yang berpotensi menguras energi. Aku buru-buru membersihkan diri, berganti pakaian rumahan, terserah dengan rambutku yang tergerai berantakan. Aku cuma mau turun ke bawah mengambil minuman dan makanan, kemudian naik lagi untuk menonton film atau series menyenang—lho, Gyan ngapain di sini pagi-pagi?
O … kay, saking jarangnya mendapatkan libur di hari weekend, aku lupa kalau ini weekend. Dia pasti libur. Tapi pertanyaanya tetap sama, ngapain di sini?
“Hai, Rha. Good morning,” sapanya sambil tersenyum lebar.
Ibu yang tadinya sedang membelakangiku karena menghadap kompor langsung menoleh, dan tersenyum. “Kirain bakalan bangun siang. Duduk dulu, Ibu lagi bikinin sarapan, sekalian buat Gyan.”
Aku menatap mereka kebingungan, tetapi tetap menurut. Menarik kursi di depan Gyan, aku duduk dan menatapnya dengan meminta penjelasan. Aku tidak bisa bersuara karena Ibu akan dengar.
Gya mengangkat kedua tangan, mengedikkan bahu sambil melempar pandangan ke Ibu. Maksudnya, Ibu yang mengundangnya? Sial, sial, aku tidak membawa handphone jadi tidak bisa mengajaknya ngobrol online.
“Nih, silakaaan. Nini kalau libur emang nggak Ibu bangunin, Gyan. Kasihan soalnya, yang penting dia bangun buat solat subuh.”
Gyan mengucapkan terima kasih, dan mulai menyantap makanan yang dihidangkan Ibu. “Nini nggak—” Aku melotot, dia tertawa pelan, tapi tetap tidak meralat panggilannya. “—nggak susah dibanguninnya kan, Bu?”
“Oh enggaaak. Gampang dia. Malah Ibu jarang bangunin dia, anaknya alarm banget. Bang Dewa baru beda, apalagi kalau lagi Ramadhan tuh, ya Allah, sahur itu musuh mereka berdua. Nini nggak sabar kalau bangunin Abangnya, malah dia yang kesel dan nangis.”
“Bu?” Aku menatap Ibu mengerikan.
Mereka berdua sama-sama tertawa.
“Abang mana?” tanyaku, karena baru sadar aku tidak melihatnya dan tidak mendapatkan informasi apa-apa tentang aktivitasnya hari ini.
“Nemenin Kak Mel beli laptop katanya.”
“Laptopnya dia kenapa?”
Ibu tersenyum. “Nggak semua orang itu sama, beli barang kalau barangnya udah rusak. Ada yang memang mau dan mampu beli aja. Ya Nak Gyan, ya?”
Gyan tersenyunm, menganggukkan kepala.
“Laptop lamanya sayang dong,” lirihku. “Oh! Dijual, Buuuu. Kemarin Abang juga bikin story tuh jualan laptop. Lupa aku.”
“Berarti udah laku tuh.”
“Kak Mel sering dateng ke sini, Bu?” Gyan ikutan nimbrung.
“Nggak sering tapi lumayan. Dia kayaknya segan banget sama Ibu. Padahal Ibu nggak kenapa-napa. Ibu terima yang dikenalin Abang ke rumah ini kok. Karena Ibu percaya sama Abang. Emang Ibu kelihatan galak ya, Gy?”
“Enggak kok.”
Ibu tersenyum, melirikku. Apa maksudnya?
“Udah selesai. Makasih lho, Bu, udah sarapan di rumah eh ini masih dibikinin lagi. Kita mau berangkat sekarang?”
“Lho mau ke mana?” tanyaku panik, menatap mereka bergantian.
Ibu berdiri, mengambil piringku dan Gyan, kemudian meletakkannya di wastafel dan kembali lagi menatap kami. Menatapku. “Ibu mau rapihin dan mempercantik taman kecil yang di samping garasi, lho, Ni. Abang, kan, lagi nggak di rumah, jadi nggak pa-pa dong, minta tolong sama calon anak satunya?”
Aku melirik Gyan sambil menelan ludah yang kali ini terasa seperti bola berduri. Kenapa terasa semua orang di sekelilingku mau bilang kalau aku dan Gyan lebih dari teman? Apa ini hanya perasaanku atau aku sedang bermimpi? Aku mau bangun!
“Tante Anita juga udah okein dan kebetulan Nak Gyan lagi bisa.”
“Nini bisa kok, Bu, bantuin.”
Ibu tersenyum. “Ibu percaya, tapi kalau dikerjain sama lebih banyak orang kan bisa selesai. Sebenernya Ibu pengen ngobrol aja sekalian sama Gyan, nggak pa-pa, kan?” Sepertinya, ide aku dan Gyan untuk sering main ke rumah adalah kesalahan besar. “Kamu mau ikut atau mau istirahat?”
“Ikut aja, yuk, Rha?” ajak Gyan, tersenyum lebar. “Kata Ibu, dulu kamu paling seneng tuh kalau diajak beli taneman langsung.”
Aku terdiam.
Gyan terlihat sangat mendalami peran tanpa terpeleset sedikit pun.
Sementara aku ketar-ketir, apakah masalah baru akan datang?
Kasih tip buat penulis
