Bab 8
Aku tidak memiliki keharusan untuk menolak ajakan makan malam Gyan. sebaliknya, aku juga tidak perlu merasakan penyesalan dengan mengiyakan ajakannya ini. Aku yakin, semua kebimbangan ini datang dari diskusiku bersama Emma. Gadis yang hobinya mengenakan hijab pashmina itu pasti paham gimana dampaknya setiap kami selesai ngobrol berdua, tentang apapun. Aku yakin dia juga tidak menyesali ini; membuatku galau bukan main.
Selama di perjalanan menuju resto, aku tak henti melirik-lirik Gyan, sebisa mungkin dia tidak menyadarinya. Aku masih berusaha mencari vibes pertemanan di antara kami, jangan sampai dia beneran naksir aku perkara ngomongin mental. Kalau sampai itu terjadi, masalahku akan menjadi banyak.
Restu Ibu untuk Abang dan Kak Mel untuk segera menikah.
Nasibku ke depannya.
Ditambah Gyan.
Aku belum siap menambah beban lagi untuk kuemban.
“Tinggimu berapamu, Rha?”
“Sorry?” Tawaku menular untuknya. Aku sampai kelagapan karena bingung dengan pertanyaannya barusan. “Random banget, ya, Pak, pertanyaannya.”
“Biar lo nggak bengong,” kekehnya pelan. “Lagian itu nggak random tau, gue beneran mau tau.”
“Terakhir gue ngukur sih …. 150 … berapa ya, 158 deh kayaknya.”
“Mending jadi toples kue lebaran aja nggak sih tinggi badan segitu?”
“Gyan, please!”
Kami sama-sama terbahak.
Untuk ukuran orang humoris dan menyenangkan sepertinya, aku tahu sulit bagiku untuk menentukan apakah dia menyukaiku atau tidak. Kecuali, tiba-tiba sikapnya berubah menjadi manis atau ya tiba-tiba menciumku dan bilang; “I guess I’m in love with you, Rha.” Baru aku akan memikirkan kembali hasil rapat paripurna-tapi-seadanya yang kulakukan bersama Emma.
Sekarang, aku nikmati waktu kami sebagai teman seperti sebelumnya.
“Tinggi lo berapa?” Kini, giliranku yang bertanya, kusudahi acara melamunku, karena Gyan juga sepertinya juga sudah curiga. Daripada dia mikir aku keberatan dengan dinner kami malam ini.
“Gue lupa, 170 berapa gitu. 176 atau 178 deh.”
“Mending jadi sumpit bayi aja nggak sih tinggi badan segitu?”
“Rha???” Gyan terbahak-bahak sampai memukul setir dan pahanya berkali-kali. Oh nggak cuma itu, matanya juga sampai berakhir, dia mengelapnya, dan sekarang memegang perut. “Perut gue sakit, ya Allah.” Dia melirikku. “Serangan yang epik, Rha.”
Aku menepuk dada, sombong. “Selebriti favorit lo?” Melihatnya tersenyum geli, aku jadi ikut-ikutan. “Kenapa tuh ekspresinyaaaaa???? Heyyyyy!”
“Nggak mau jawab yang ini.”
“Why? Gyan, please!”
Kepalanya menggeleng tegas.
“Porn star, ya?”
“HEH!”
Tawa kami kembali pecah. Aku percaya instingku, Gyan memang sangat cocok dijadikan teman, karena ngobrol dengan dia memang menyenangkan.
“Ya makanya jawab aja. Siapaaa?”
“Cowok atau cewek?”
Aku memicingkan mata, memberinya tatapan, serius dia tanya hal itu setelah tadi dia menunjukkan sikap menggelikan? “Cowok lah.” Aku tertawa mencemooh mendengarnya mendengus. “C’mon, Gyan!”
“Gue nggak punya aktor favorit.”
“Bohooooong!”
“Ya kalau cewek ada.”
Gantian aku yang mendengus, tetapi kemudian aku sadar dengan kalimat Emma, tentang apa dan siapa yang membentuk Gyan menjadi seperti ini. Bahkan untuk sesepele aktor idaman pun dia tidak mau mengakuinya? Memangnya kenapa kalau cowok mengidolakan artis cowok juga? Aku cewek dan aku senang sekali dengan Demi Lovato, Shailene Woodley. Kalau Theo James, ya jangan ditanya deh, jadi istrinya juga aku mau banget.
Aku berdeham beberapa kali. “Kalau cewek siapa?”
“Anne Hathaway.”
Aku mengangguk paham. “Alesannya?”
“Dia nggak menua nggak sih? Cantik, elegan, anggun, sempurna. Lo siapa?”
“Dhara,” jawabku sengaja menggodanya. Setelah melihat dia melirikku sebal, aku refleks tertawa dan menjawab dengan serius. “Kalau cowok gue punya buanyaaaakkk jelas, tapi gue nggak mau jawab. Gue mau jawabnya aktris fav gue, the one and only Mbak Margot Robbie.”
“Why?”
“Sempurna.”
Dia tersenyum geli, kemudian mengangguk-angguk paham.
“Yan,” panggilku pelan.
Dia menoleh.
“Gue mau ngomong sesuatu.”
Dia tergelak. “Lo tau nggak betapa pamungkasnya kalimat itu? Terakhir ada cewek ngomong gitu, dia pamit mau nikahin bokap gue, Rha. Lo jangan macem-macem.”
“Edyaaan apaaaa!” Aku ikutan tertawa. “Sekalian aja gue nikahin Kakek lo yang mungkin lebih tajir.”
“Udah almarhum tapi.”
Aku memejamkan mata, too dark to continue.
“Mau ngomong apa?”
“Dinner kali ini gue yang bayar, please?”
Kepalanya langsung menggeleng dengan tegas. “Gue cowok, gue yang wajib bayar.”
“Nope.” Aku menatapnya serius. “Lo memang cowok, tapi lo nggak berkewajibam buat selalu bayarin makanan gue. We’re friends, kalau-kalau lo lupa. Oh meskipum gue cewek lo, lo tetep nggak wajib bayarin gue selalu. Kecuali memang udah nikah dan keputusan kita adalah lo yang kerja. Tapi ini, kan, enggak. I have my own money. Gue bukannya nggak percaya lo mampu, gue percaya. Tapi, nggak pa-pa kita gantian, ya?”
“Tapi gue—”
“Yan … nggak ada yang ilang dari diri lo dengan biarin gue yang bayar. You’re still a great man. Lo nggak seketika jadi orang jahat, lo tetep keren, tetep ganteng abis.” Aku memberinya ibu jari. “Sesekali cobain duit gue deh.”
Tawanya lepas. Dia melirikku, tak mengatakan apa-apa, kemudian berkata lirih. “Gue belum pernah ditraktir cewek.”
“NAH!” seruku heboh sendiri. “Makanya cobain. Harus ada yang namanya pertama kali dalam hidup, Gyan.” Aku melihat dia tersenyum geli. “Dijemput cewek juga pasti belum pernah, kan?”
“Big no.”
“Hey, gue bisa nyetir, ya!”
“Gue tauuuuu dan gue percaya.” Sebelah tangannya diangkat di udara, ia tertawa. “Tapi lo nggak perlu capek-capek nyetir dan jemput. Lo cukup dandan cantik, nunggu jemputan, dan duduk manis di kursi penumpang.”
“Big no.” Aku tersenyum bebal. “Lo mau kekeh sama prinsip lo, kan? Dhara juga bisa lho sama keras kepalanya. Gue punya rules dalam hidup, siapa pun orang yang masuk ke hidup gue, harus ngerasain gue setirin, meski sekali dalam hidupnya.”
Dia melongo.
“Lo pasti ngira gue nggak bisa baca maps, kan?”
“Enggak, gue tahu lo pasti bisa banyak hal.”
“Makanya, manfaatin skill gue dong!”
Tawanya kembali terdengar. “Siapa sih orang tua lo, Rha, unik banget didik anaknya.”
Aku hanya memberinya senyuman lebar.
Justru aku penasaran sama keluargamu, Gyan, yang bikin kamu punya banyak batasan bahkan cuma untuk bisa merasakan emosi sebebas manusia seharusnya. Padahal kamu berhak buat disetirin, dibayarin juga, ditraktir, dibantuin baca maps, disayang. Kamu nggak melulu harus menjadi orang yang melakukan dalam segala hal, kamu juga boleh dan berhak menjadi yang diberi.
Dan siapa pun yang melarang itu untukmu, dia … agak jahat, menurutku.
Tapi nggak apa-apa, selama kita menjadi teman, aku akan tunjukkin ke kamu hal-hal yang sudah kamu lewatkan selama ini. Semoga, caraku nggak terlalu menyakitimu. Selamat datang, di hidup yang penuh warna ini. Karena kamu akhirnya bertemu dengan manusia random sepertiku. Aku tidak bermaksud selfclaim, ini hasil rangkuman dari penlilaian orang-orang sekitarku.
Wait, aku mengingat sesuatu.
“Gyan, kita udah kenalan nama lengkap belum, ya?”
“Belum tuh. Memang perlu, ya?”
“Lo gimana sih, kan bisa aja nanti pas gue udah niat ambil alih harta lo, dan gue bawa foto dan nama lengkap lo ke dukun. Tolong disantet, ya, Mbah.”
“Gemblung lo, ya!” Gyan terbahak, lagi. “Kepikiran aja anjir nyantet orang. Tapi boleh juga, sih. Kalau dukun lo manjur, jangan lupa santet bokap gue, hartanya boleh lo ambil, tapi jangan lupa kasih Mega dan Alex, ya?”
“Tapi banyakan gue, ya?”
“Iyaaaa.”
“Sip. Yaudah siapa nama lo?”
“Perlu pake nama belakang nggak?”
“Sesuai KTP, Gyan. Cepetan.”
“Tapi gue nggak mau ada nama bokap gue.”
“Ya KTP lo gimana?”
Dia berdecak lagi. “Gyan Janadarna Kurniawan. Yang paling akhir boleh dibuang.”
Aku tertawa geli. “Nama lo OKE banget.”
“Dua kata depan iya sih. Nama lo siapa?”
“Lo mau ke dukun juga?”
“Boleh, nanti kita adu kekuatan.”
Aku merengut. “Tapi lo mau ambil apa dari gue?”
“Keharmonisan keluarga lo, boleh nggak?”
“Ha!” Aku benar-benar bingung harus bereaksi bagaimana. Dia terlihat serius tetapi bercanda, dan aku tahu topik tentang keluarga sama-sama tidak baik untuk kami. Aku mungkin harmonis, tetapi ayah sudah pergi. Baginya, ngomongin keluarga seperti mengobrak-abrik luka. “Aghnia Dhara. Nama lengkap gue.”
“Sekalian kirim foto selfie sama KTP, ya, Mbak.”
Sial, dataku malah mau dijual untuk pinjaman online. Bisa-bisanya dia tahu jokes macam itu. Kirain orang yang sudah berduit banyak, jokes-nya hanya tentang cara menghabiskannya atau tidak bisa mengenali barang-barang murah.
Selesai dengan tawanya, Gyan menoleh dan berkata. “What a cute name anyway.”
Cute?
Kasih tip buat penulis
