Bab 7
Hari ini jadwal kerjaku adalah opening shift.
Hal yang baru kutahu ternyata jadwal bekerja memang dibuat harus dengan sangat adil. Kita tidak boleh mendapatkan jadwal closing melulu, karena pekerjaan saat closing itu berat.
Yang bersih-bersih, yang ABCD sampai Z.
Meski begitu, kalau dipikir-pikir, pekerjaan ini ternyata juga menyenangkan.
Ya, terlepas dari semua hal yang bikin kaget karena berbeda dari yang kualami atau jalani selama ini.
Menurutku itu wajar-wajar aja.
Okay, untuk di awal, rasanya memang sedikit tidak wajar. Karena aku belum pernah berangkat bekerja sepagi ini. Dikarenakan Maladewa adalah coffee & eatery, artinya dia juga menyiapkan makanan-makanan berat, entah untuk makan siang, sarapan atau ya … orang-orang mau dinner.
Kami mulai buka pukul 07.00 WIB, jadi kami mulai persiapan itu 05.30-06.00. Yep, terlalu pagi untukku yang biasanya baru siap-siap mandi pukul 07.00-an.
Bagian menariknya, opening shift bikin aku bisa pulang cepat dan menghirup udara dengan pemandangan sinar matahari di luar bangunan (rumah atau kafe atau apalah menyebutnya).
Hari ini, aku sudah ada janji dengan Emma untuk mencoba coffee shop baru. Baru di sini bukan beneran dia baru banget buka, tetapi aku dan Emma yang memang belum pernah datang ke sana.
Sahabatku itu, selagi dia tahu ada tempat OKE, haram hukumnya kalau sampai dia tidak ke sana. Apa pun itu deh. Anaknya memang FOMO, tetapi bersyukurnya dia memang mampu.
Aku tidak berbicara soal materi.
Baiklah, menyudahi obrolan bersama rekan kerjaku kali ini, aku buru-buru ke parkiran, menyalakan mobil, dan bersiap untuk pulang. Sebetulnya aku lebih suka memanfaatkan
Transportasi online, tetapi menurut Ibu dan Abang, lebih baik untuk membawa kendaraan sendiri.
Melatih kesabaran ketika di jalanan macet, melatih skill untuk problem solving ketika ada masalah dengan kendaraanku, dan … supaya setiap perjalananku ‘terasa’ seperti bersama ayah.
Alasan terakhir yang paling membuatku langsung mengiyakan semuanya.
Aku mau ayah bisa terus bersamaku, meski mungkin sudah tidak secara fisik, tapi hanya perasaanku dan imajinasi bikinanku sendiri pun sudah cukup. Mobil ini, dulu adalah tempat kedua kami selain rumah.
Kami mengobrol banyak hal di sini, bertengkar antara aku dan Abang, ayah dan Ibu, Ibu dan Abang atau Ibu dan aku.
Ah, aku tidak siap untuk galau hari ini.
Aku buru-buru menggelengkan kepala, dan segera menginjak gas begitu lampu hijau menyala.
Itulah kenapa, kadang aku membenci lampu merah yang lama, karena seringnya mengundangnya kegalauan. Waktu bengong cenderung dipakai otakku untuk mengingat hal-hal masa lalu, yang akhirnya membuat penyesalan dan seandainya.
Begitu sampai di rumah, aku buru-buru ke dapur untuk meletakkan tas bekal, mencuci tangan, kemudian naik ke kamarku.
Aku mau mandi lagi.
Keramas.
Begitu selesai membersihkan diri dan merasa sudah fresh, aku kembali turun ke dapur, perutnya sudah sangat keroncongan. Benar aja, sambutan dari Ibu bahkan sebelum aku sempat menjelaskan tadi.
“Kok bekelnya nggak dimakan, Ni?”
Aku memberinya senyum. “Sengaja. Kan pulang cepet, mau makan siang bareng Ibu.” Salah satu alasan aku bersyukur atas hidup meski serindu apa pun aku dengan ayah adalah perempuan hebat ini; ibu. “Ibu udah makan belum tapi?”
“Belum, kebetulan pas banget. Ayo, makan kalau gitu.”
Aku memang tidak tahu, Ibu sedang berbohong atau tidak.
Rasanya, kebohongan seperti itu sudah jadi rahasia umum di dunia per-ibu-an. Mereka akan sedikit berbohong demi membahagiakan anaknya.
“Ibu angetin dulu aja makananmu kalau gitu.”
“Eh nggak usah, biasanya masih enak kok.”
Ibu mengangguk. Duduk di seberangku, dan kami mulai menikmati makan siang. Sesekali, Ibu menambahkan lauk atau sayur ke piringku, dan menawarkan, “Mau tambah nasinya?”
Aku mengangguk cepat. “Ibu tau, kan, makanku segambreng?”
“Tapi badannya tetep kecil,” jawab Ibu sambil tertawa. “Nggak pa-pa, yang penting badannya sehat dan Nini bahagia.”
“I’m happy!” seruku kencang.
Setelah selesai makan siang, aku berpamitan pada Ibu untuk beristirahat sebentar di kamar. Tidur ataupun tidak, yang penting aku sudah menghidupkan alarm untuk bersiap-siap.
Emma begitu keluar dari kantor, langsung datang ke sini.
Jadi, aku harus memastikan saat dia tiba, aku sudah siap berangkat.
***
Aku bersyukur sekali, ternyata aku ketiduran tetapi masih bisa mendengar alarm. Aku buru-buru mencuci muka, menggosok gigi dan mengambil air wudhu.
Akan lebih enak beribadah dulu sebelum main, jadi tidak bingung mencari tempat untuk sholat.
Setelah selesai, aku sekarang berdiri di depan lemari, memilih pakaian jenis apa yang akan aku pakai kali ini. Pada dasarnya, pakaianku juga jenisnya itu-itu aja, jadi harusnya aku tidak perlu pusing.
Kadang memang aneh kalau dipikir-pikir.
Aku mengambil high-waisted jeans dan kaos putih polos, bawah kaosnya kumasukkan ke dalam celana—yang menurut pribadiku terlihat lebih baik dan fresh ketimbang dibiarkan begitu saja.
Sekarang, tinggal makeup simpel. Simpel versiku adalah; memakai sunscreen, cream blush berwarna peach, loose powder, membuat alis mengikuti bentuk alisku, maskara, eyeliner, dan lip cream!
Well, hasil simpel tapi total produknya juga tidak bisa disebut simpel, ya.
Terakhir, aku mengurus rambut. Aku curly bagian bawah, tidak perlu lama-lama dan yang gimana-gimana banget, karena aku bersyukur diberi rambut yang mudah diatur dan dirawat.
Menyiapkan tas, menyemprotkan parfum sebelum kembali memasukkannya ke dalam tas, kemudian mengambil heels 3 cm berwarna putih, dan aku siap untuk turun ke bawah, menunggu tuan putri yang katanya sudah masuk komplek.
“Jangan malem-malem ya, Ni, besok masih kerja.”
“Masuk siang kok, Bu.” Aku buru-buru menambahkan. “Oh tapi tentu, bukan jadi alesan buat pulang larut malem. Siap!”
Tak lama setelah itu, aku mendengar bunyi bel dan ya, sahabat cantikku ini sudah datang. Dia memang tidak membawa kendaraan sendiri, melainkan diantar oleh driver online. Jadi, kami akan membawa mobilku.
Ada untungnya juga Abang memberikan hak lebih mobil ini padaku sekarang.
Aku dan Emma berpamitan pada Ibu, kemudian kami langsung bergegas pergi. Kamu tahu, begitu jam kerja dalam pertemanan berbeda, maka satu detik pun sangat berarti ketika bertemu.
Jadi, aku tidak ingin menyiakan waktu.
Begitu tiba, kami saling pandang setelah melihat bagaimana penuhnya parkiran. Maksudku, sudah tidak ada lagi tempat bahkan untuk satu mobil. Kami juga yang salah, coffee shop memangnya sebesar apa menyediakan lahan parkir?
Seharusnya tadi kami naik taksi online aja.
Ya Tuhan, kebodohan apalagi ini.
Dengan kekecewaan, kami mundur dan Emma mengusulkan ke tempat biasa kami menghabiskan waktu berdua.
Tau perubahan selanjutnya?
Yes, kekecewaan itu bisa bikin orang putar haluan dalam hitungan detik—Emma tiba-tiba merasa sangat lapar dan mau dinner, makanan berat, katanya. Jadi, kami memutuskan untuk ke Jittlada Restaurant, di The Breeze.
Kalau kamu suka makanan Thailand, kamu bisa coba menu-menu di resto ini. Favoritku adalah tomyam—of course!, pineapple fried rice … dessert-nya juga enak-enak di sini. Oh minuman favoritku di sini adalah pina colada dan island kiss.
Sudah pernah coba?
Intinya, untuk pina colada; ada nanas yang pasti kasih rasa segar, terus ada coconut milk, dan blue curacao syrup. Huuu, best!
Sementara island kiss; ada stroberi tentu aja, guava juice, strawberry syrup and fresh milk!
Stroberi tidak pernah salah, dan aku hidup untuk stroberi.
Kalau kita ngomongin harga makan di sini, ya lumayan kalau dibanding makan rice bowl di Maladewa.
Ah aku tidak mau terdengar seperti marketingnya, intinya kamu bisa cobain sesekali dalam hidupmu saat kamu merasa mengeluarkan uang bukan lagi jadi perdebatan. Ayo semangat mencari uang!
“Gue mau cerita lebih detail tentang Gyan. Ayo cepat!” perintahnya tak sabaran setelah berhasil memasukkan satu gulungan pad thai dari garpu ke mulutnya. Emma menusuk terong dan mengunyahnya. “Eggplant with garlic mereka nih emang nggak ada obat, Hmmmmm! Enak banget, ya Allah!”
Aku tertawa, gantian menyeruput kuah tomyamku, kemudian beralih ke nasi goreng di atas kulit nanas. “Mau makan berapa kali pun, rasanya tetep samaaaa. Ya Allah, makasih atas kenikmatan ini.”
Kami sama-sama tertawa geli.
Terlihat seperti tidak pernah makan berhari-hari.
Setiap datang ke sini, kami selalu memesan menu yang berbeda. Jadi, bisa makan bersama dengan banyak menu, saling icip. Menu pilihan Emma adalah pad thai, sweet and sour chicken, eggplant with garlic dan sate ayam.
Yes, porsi makan kami berdua memang banyak.
“Ayo, Ni…!”
“Iya, iyaaaa! Bawel!” Aku meneguk air mineral lebih dulu, membersihkan tenggorokan dari semua rasa makanan dan manisnya minuman. “Apa yang mau lo tau?”
“Semua.”
“Lo kenal gue udah lama, kan, Em? Gue mohon bantuan lo.”
Aku paling tidak bisa kalau diminta bercerita dan semua dibebankan ke aku. Maksudnya, aku yang diminta untuk membuat script dengan alur yang baik. Aku mana tahu bagian mana yang mereka mau dengar, kan?
Jadi, jauh lebih efisien kalau yang tanya itu langsung lempar pertanyaan spesifik.
Dan aku sayang Emma.
Dia tergelak. “Okay! Sebenernya gue bingung, dia ini tujuan hidupnya apa, ya, Ni? Maksudnya gini, dia nggak mau nikah dan bukan gay. Terus dia selamanya bakalan seks di luar pernikahan?”
Seketika aku terdiam.
“Well, buat beberapa orang itu mungkin bukan masalah. Tapi, gimana sama elo?”
“Lo tanya kayak gini seolah gue naksir dia, lho, Em. Em???”
Dia tertawa, menepuk jidatnya. “Iya juga, ya. Tapi maksudnya gini, gue tuh tim yang sangaaaaaat percaya cinta bisa datang karena terbiasa. Apalagi cewek cantik dan ganteng, ya gimana sih menurut lo? Nih ya, at the end, konklusinya cuma satu buat gue; kalau nggak lo yang jatuh cinta, ya dia. Nggak usah lah sok kayak cerita di series platform nonton online itu.”
“Dari awal kita tuh sama-sama nggak ada ketertarikan ke arah sana, Em. Kriteria kita tuh buedaaaa. Gue sama sekali beda sama Mega itu, dan dia … c’mon! Lo tau, kan? Bagi gue, cowok yang masih suka idih-idihin warna pink, yang nggak mau nunjukin perasaan sensitif atau masih ngeras cowok harus selalu kuat … but gue it’s a BIG NO. Dan dia udah tau itu, kok.”
“Lemme make this clear. Dengerin gue,” titahnya serius, kemudian menenggak air mineral juga. “Pertama, gue yakin seribu persen, Angkasa itu bukan kriteria lo. Am I wrong?”
Aku diam.
“Lo harus inget seberapa sering lo bilang ‘ah dia jelek, dia bukan tipe gue, kenapa hati gue mau dia bangeeettt, Emmaaa!’.” Impersonate-nya itu membuatku tak bisa menahan tawa. “Kedua. Nini, lo bukan cewek tolol dan lo tau banget ada laki-laki yang emang udah bebal aja terbentuk jadi cowok ngeselin atau big no versi lo tadi. Tapi, lo juga pasti nggak akan tutup mata, kan, kalau ada cowok-cowok yang tersiksa juga sama perasaan itu di luar sana? Yang dituntut buat jadi si Big No versi lo tadi sementara dia sendiri pun nggak nyaman?”
Seketika, warna dari minuman favoritku berubah jadi tidak menarik untuk kusentuh.
Aku tahu, selama ini aku juga sedang perang batin.
Apakah Gyan sungguh-sungguh adalah pribadi yang tak kusukai atau dia sebenarnya sedang terjebak dan butuh pertolongan untuk keluar?
“Pertanyaan dia terakhir lo ketemu itu, buat gue itu udah aneh. Orang yang emang bebal, nggak akan kepikiran dari rentetan omongan lo soal psikolog atau psikiater. Tapi dia, dalam waktu super singkat, langsung tanya, kapan sih ngerasa butuh? Menurut lo?”
“Dan saking bingungnya alias tolol, gue cuma nyengir dan jawab, ‘cuma lo yang tau’.” Aku memukul kepalaku sendiri. “Bener-bener nggak membantu.”
“No, nggak masalah. Dia memang perlu kenalan sama dirinya sendiri kok. Mungkin, lo cuma butuh buka gemboknya aja, selebihnya dia sendiri yang usaha. Dan selalu, gue selalu bangga sama lo.”
Aku tersenyum lebar, penuh rasa bangga.
“Cuma … just a little reminder.” Emma mengedipkan sebelah mata. “Semoga ini feeling gue doang karena gue ngerasa masa lalu Gyan terlalu berat dan drama, tapi kalau boleh abal-abal ngomongin feeling, gue rasa dia bakalan jatuh cinta sama lo. Lo siap enggak?”
“Udah gila lo!” Aku mengangkat kedua tangan, menyerah. “Gue nggak siap deh sama permainan feeling lo ini.”
Emma mengedikkan bahu sambil tersenyum culas. “Been there done that. Orang yang hidupnya berantakan, terus lonely, mentalnya mungkin lagi nggak OKE tapi terpaksa harus OKE, sebenernya lebih mudah buat terikat. Gue nggak bisa bilang cinta sih, gue juga nggak tau. Tapi, gue yakin dia akan ngerasa butuh lo, dan nggak mau jauh. Be ready!”
“Em????”
“Dan lo … akan ngerasa kasihan. Lo tau alasan paling banyak kenapa orang nggak bisa lepas dari hubungan? Karena kasihan. Lo tau apa kata orang alasan cinta paling tulus? Karena kasihan, karena kasihan itu berarti lo nggak mandang fisik maupun harta atau otak. Kontradiksi ya?”
Aku sebenarnya tidak mau menerima permainan feeling Emma yang seringkali memang aneh ini. Setelah dipikir-pikir, ya aku beneran kepikiran dan sekarang kepalaku mendadak pening.
Aku mengurut kening.
“Lanjut makan lah, Ni!” ucapnya, tanpa merasa berdosa.
“Menurut lo?”
Dia tertawa, menutup mulutnya.
Aku tidak jadi menjambak rambutnya, karena suara notifikasi handphone berhasil mengalih—
Kali ini, aku sangat membenci sebuah kebetulan yang … okay, kalaupun tidak ada kebetulan, tapi bisa enggak sih Gyan mengirim chat WhatsApp nanti dulu? Atau besok aja?
Gyannya Anita
Ra, udah makan malem belum?
Lo pulang cepet kan hari ini?
Dinner di luar yuk?
Aku mau banget menempeleng kepalanya Emma karena memberiku ekspresi seolah ‘KAN!’ setelah aku menunjukkan isi chat dari Gyan.
Rasanya tidak mungkin, ada orang naksir perkara pembahasan psikolog dan psikiater. Iya, kan? Gyan … nggak mungkin jatuh cinta karena alasan sepele itu, kan?
Kalau dia beneran jatuh cinta, aku harus apa?
Aku punya Angkasa dan lagipula, aku tidak menyukai Gyan untuk ranah yang satu itu.
Ya Tuhan, pikiranku sejauh ini seolah aku Gyan memang—akan—menyukai sungguhan.
Jangan kepedean, Nini, hidup bukan cuma tentang kamu dan semua duniamu.
Kasih tip buat penulis
