Bab 6

“Terima kasih banyak temen-temen yang udah nemenin aku live hari ini, buat yang checkout juga makasih buanyaak, muach! Buat yang belum, semoga nanti ada rezeki biar bisa beli produk akuuuu. Mari jaga kulit kita biar sehat dan glowing bersama! See you!”

Hah!

Aku mengembuskan napas kasar, berdiri dari kursi ‘kerja’ dan langsung melemparkan diri ke kasur dengan posisi tengkurap.

Dulu, mana pernah aku kepikiran kalau ada pekerjaan yang benar-benar menggambarkan frasa ‘jual ludah’.

Asli, kalau ditimbang, mungkin ludah dan jumlah kata-kataku akan sama beratnya. Dosen atau guru yang full mengajar seharian masih kalah sepertinya.

Apa pun itu, aku tetap bersyukur dengan kehidupan di zaman yang serba mudah ini—oh tentu, kesulitan juga menyertai. Yang kumaksud, aku senang masih bisa menghasilkan uang dengan kerja kerasku sendiri.

Walaupun Ibu dan Abang sering mewanti-wanti takut tenggorokanku miring saat mereka mendengar bagaimana saat aku berjualan produk di media sosial ini. Produknya pun bukan milikku pribadi, tetapi bekerja sama dengan toko atau brand.

Aku akan dapat komisi atau bayaran sesuai kontrak sejak awal kerja sama.

Intinya, mohon bantu doa suaraku tetap bertahan sampai akhir.

Karena sekarang, menjaga kewarasan tenggorokan dan kualitas suara sudah sama seperti penyanyi profesional. Aku jadi membayangkan, Agnez Mo bagaimana pola hidupnya.

Pasti sangat sulit ditiru.

Setelah merasa energiku terkumpul, aku buru-buru untuk bersiap kembali, karena pekerjaan selanjutnya adalah ke kafe. Jangan lupakan kalau aku juga punya tanggung jawab di sana sebagai karyawan.

Aku berusaha sebaik mungkin supaya tidak menyusahkan pekerja lainnya.

Kali ini, aku akan pulang terakhir bersama teman-teman lainnya.

Untuk itu, aku mengambil jadwal live-nya lebih awal dibanding jadwalku sebelum-sebelumnya.

Kalau sudah begini jadwalku, Ibu akan menatap dengan sangat sedih, seolah aku sedang tersiksa. Padahal, ya memang kadang lelah, tapi entah gimana menjelaskannya, aku merasa senang dan ‘hidup.

Seperti … ya memang aku harus begini.

Tubuh dan mentalku juga menerima dengan baik.

Soal kelelahan, kurasa itu normal. Selagi aku masih bisa mengontrol makanan dan pekerjaan juga pikiran dengan baik, aku rasa semua masih bisa dalam garis yang wajar. Jadi, kalau Ibu sudah mulai siap dengan motivasinya, aku buru-buru memberinya kalimat-kalimat penenang, bahwa aku bahagia.

Karena aku tahu, tujuan dari semua yang dia lakukan adalah memastikan aku bahagia.

That’s it.

Harapan dan goal dari seorang Ibu tuh ternyata sederhana dan sulit secara bersamaan, ya?

Aku berpamitan dengan Ibu setelah mengambil tas bekal yang sudah ia siapkan, mencium pipinya kemudian tangannya. Dia adalah satu-satunya yang kupunya, dan katanya, restunya adalah surat izin untuk apa pun yang akan kulakukan di dunia ini.

“Semangaaattt!” teriak Ibu, setelah aku berhasil duduk di motor ojek online, aku tersenyum dan melambaikan tangan, kemudian mengunci helm demi keamanan.

Yes, kembali ke rutinitas sebagai mbak-mbak pencari nafkah.

Straterpack-nya adalah tas bekal dan ojek online, karena BSD masih belum ramah untuk transportasi umum seperti Jakarta yang banyak sekali: sebut aja Transjakarta, MRT, KRL, angkot, dan apalagi?

Ojek online juga transportasi umum, kan, ya?

Okay lupakan, tenagaku keburu habis buat memikirkan hal itu.

Satu hal yang aku baru pelajari sejak bekerja menjadi pelayan di kafe. Yaitu, pekerjaan yang melibatkan pelayanan atau jasa untuk orang lain, menurut pribadiku jauh lebih banyak menguras energi ketimbang bekerja kantoran di depan laptop.

Dulu, aku merasa bekerja di kantor juga melelahkan. Pertama fisik, tidak gerak juga bisa sangat lelah untuk badanku. Kedua, otak yang berpikir keras untuk menyelesaikan pekerjaan. Apalagi pekerjaanku berhubungan dengan kreativitas.

Sekarang?

Fisik, jangan ditanya. Kamu jalan ke sana-sini. Satu belum selesai, sudah ada satu lainnya. Napasku baru aja lolos lega, sudah harus tahan napas lagi. Analogiku mungkin kacau, tapi aku berusaha mendeskripsikan dengan baik, haha.

Nah, bagian yang paling menarik soal menguras energiku adalah: ngobrol dengan customer.

Oh, ini ternyata sangat sangat sangat melelahkan.

Nope, bukan aku membenci mereka, aku cuma mau sharing dari sudut pandang subjektifku.

Begitu aku mengenakan identitas sebagai karyawan Maladewa, artinya aku sudah siap dengan semua percakapan, pertanyaan, dan obrolan yang bahkan sebenarnya aku tidak mempersiapkan sebelumnya.

Kenapa menurutku ini lebih menguras energi dibanding sebelumnya?

Karena kalau sebelumnya, aku berpikir keras untuk sesuatu yang aku sudah tahu harus ke mana.

Sekarang, aku tidak tahu orang yang aku hadapi adalah orang yang seperti apa. Yang baru bilang kopi susunya tanpa gula setelah hidangan datang. Yang baru bilang makanannya tidak pedas sama sekali saat makanan sudah aku hidangkan di meja mereka.

Memang benar, itu bukan kesalahan kami, makanan mereka akan tetap mereka terima dan bayar, tetapi kadang-kadang aku tidak siap dengan reaksi mereka setelahnya. Ada yang kesal, muka bete mampus, menggerutu, sampai bilang, “Mbak gimana sih, lain kali tanya dong kemauan customer gimana. Kan nggak semua customer fokus waktu pesen.”

Baiikkkkk!

Oh belum lagi yang satu ini!

Aku tentu senang banget kalau kafe ini ramai, karena biar gimana pun tujuan utama bisnis adalah keuntungan. Tapi, kalau keramaian yang dari sekumpulan cowok-cowok, asli, rasa gugupku sudah langsung naik ke level 98.

Bukannya gimana, tetapi aku belum kursus jadi mbak-mbak kafe yang kalau diajak ngobrol sama kumpulan cowok dengan penuh tawa itu harus gimana? Karena kalau aku jadi Nini, sudah pasti aku akan melirik mereka tajam atau memutar mata dan mengatakan, ‘apaan sih’.

Sumpah, aku tidak pernah suka disapa strangers, cowok, dengan nada menggoda. Aku akan langsung berubah menjadi judes maksimal. Berbeda kalau stranger ini datang memang perlu bantuan, ya.

Balik lagi ke kumpulan cowok-cowok ini, aku diajari Amanda untuk bisa akting. Saat melihatnya praktik langsung di lapangan, demi Allah, rasanya aku mau memberinya piala Oscar untuk itu.

Dia layak bersanding dengan Leonardo Dicaprio.

“Aku juga nggak ngerti sampe kapan orang akan paham, kalau cantik atau ganteng itu bukan berarti mereka siap lahir batin buat digodain,” kata Amanda. Kami sering berkeluh kesah di momen-momen sesempatnya.

“Herannya, nggak cuma cowok ke cewek, Man!” seruku ikut menggebu-gebu. “Adam juga sering jadi korban mbak-mbak bikin konten.”

Kami sama-sama tertawa.

Nope, bukan kami menganggap hal ini lelucon, tetapi memang, ya sudah tidak harus bereaksi bagaimana.

Oh aku lupa menyampaikan satu kuasa Tuhan kita yang maha pengasih dan pelindung. Setiap ada sekelompok cowok-cowok, kemudian giliran aku yang melayani mereka dan mengantar pesanan, dan satu-dua-tiga mereka menggoda dengan tawa atau ajakan tukar nomor dan Instagram …

… percaya nggak percaya, Tuhan selalu menurunkan pertolongan lewat satu manusia super baik.

Maksudku, akan selalu ada satu cowok yang bilang, “Apaan sih, guys! Nggak baik lah becanda kayak gitu. Kenalan sama cewek nggak boleh nodong gitu. It’s 2022, c’mon!” atau kalimat lain yang intinya sama: menghentikan tingkah laku teman-temannya.

Herannya, satu orang ini selalu di dengar.

Keren, kan?

Kalau boleh dan bisa, rasanya aku yang malah mau teriak, “Aku kasih nomorku ke kamu aja, Mas! Ayo besok nikah, Ibu sama Abangku pasti seneng!”

Hehehe.

Nini sudah mulai kambuh dan oleng nih.

Aku butuh minum air mineral yang banyak, fokusku sudah mulai hilang.



***

Alhamdulillah.

Hari ini bisa kulewati dengan baik, tanpa kejadian mengerikan seperti menumpahkan minuman atau lain sebagainya. Meski tadi satu sih, ada kesalahpahaman pesanan, tetapi bisa kami tangani dengan baik.

Aku bersyukur banget dengan teman-teman di sini yang sangat supportif.

Lelah yang juga menyenangkan.

Seperti kataku, terasa hidup.

Kami sudah close order, tinggal menunggu mereka menghabiskan pesanan dan menyelesaikan obrolan ringan sampai yang super penting itu.

Namun, tiba-tiba, Amanda menghampiriku dengan senyuman jail. “Lo tau nggak bagian terbaik dari kerja di sini apa?”

Aku menatapnya bingung. “Uang lah, apalagi.”

Ia memutar bola mata. “Duit memang penting, Ra, tapi tolong lah ah. Tebak yang bener.”

“Bisa cobain makanan?”

“Yang agak dewasa.”

Mataku seketika melotot. “Lo nyambi ngelayanin customer gitu?”

“Allahu Akbar, Ra!” tangannya dengan enteng memukul lenganku kencang. “Istigfar lo!”

Aku jadi tertawa.

Dia berharap apa dari reaksiku dengan clue yang dia berikan itu. Unsur dewasa dan menyenangkan? Apalagi?

“Kadang, Mas Gyan tuh suka bawa temen-temennya buat nongkrong di sini. Malem-malem mepet closingan.”

Aku menepuk jidat. “Lo naksir Gyan-nya apa temennya?”

“Ada satu temennya yang … ya ampun tipe gue banget!” Melihat wajahnya yang seketika memerah dengan mata berbinar membuatku ikut merasa kesemsem. Kapan terakhir kali aku merasakan rasa seperti ini, ya? “Gue, kan, follow-follow-an sama Mas Gyan, ya. Kita semua sih. Nah, saking penasarannya sama temennya ini, gue stalking feed Mas Gyan, dari jaman dia jamet sampe akhirnya kece sekarang.”

Aku menutup mulut, menahan tawa.

Tak mengeluarkan kata-kata, karena aku ingin membiarkan dia bercerita sebanyak yang dia mau.

“Tapi nggak ada. Nggak boleh nyerah dong, gue liatin satu-satu tuh tag-annya dia. Eh ada! Dengan mata yang sangat jeli ini, gue menemukan akunnya yang … private. Sial.”

“Sori,” lirihku.

Dia mengibaskan tangan. “Tapi, seenggaknya gue tahu namanya, Zayyan.”

“Namanya aja cakep, ya?” ucapku meyakinkannya.

“Apalagi orangnya. Gue rasa, dia nggak punya baju lain selain warna item. Atau kebetulan aja pas ke sini pakenya item. Kalau nggak kaos item, ya kemeja item, gitu terus dan itu bikin dia ganteng banget.”

“Mas Gyan juga juga bajunya itu-itu aja warnanya.”

“Ya makanya gue bilang, ini cowok perkumpulan orang OKE dan hamba sadar diri, sebagai pengagum aja.”

“Ih nggak boleh gitu!” Aku menyikut lengannya pelan. “Lo cantik, lo cekatan, kerjaan lo selalu beres, cuma cowok buta yang nggak bisa lihat itu.”

Dia tersenyum lebar. “Eh itu satu lagi, sini gue beresin.”

Aku memberikan satu piring kotor terakhir.

Huft, setelah ini, tinggal menunggu semua bubar, dan membereskan yang tersisa. Sambil menunggu itu, aku mengambil handphone, bersama Amanda juga. Teman kerjaku yang lain sedang report penjualan.

Aku tertegun sesaat, menerima sebuah pesan dari Gyan.

Ini pesan pertama yang kuterima setelah obrolan lumayan dalam kami di mobil waktu itu. Kami juga belum bertemu lagi. Aku menikmati pekerjaanku, dan dia jelas menikmati hidupnya.

Aku juga memutuskan untuk tidak mengiriminya pesan apa pun, karena aku tidak tahu itu perlu atau tidak. Aku takut dia masih merasa tidak enak atau malu karena oversharing atau apalah dia merasanya.

Ternyata, dia sudah baik-baik saja.

Dia tahu hari ini aku closing shift.

Menuruti ucapan Gyan, aku izin pada Amanda untuk ke depan, dan tentu dia heboh untuk memperhatikan crush-nya itu.

“Hai,” sapanya, sangat ramah dan ceria seperti biasa.

Aku mengangguk dengan senyum ragu-ragu.

Gyan tertawa. “Udah di luar jam kerja, nggak pa-pa balik jadi Dhara yang seru. Duduk sini, Ra,” Gyan menarik satu kursi tambahan. Teman-temannya menggeser, membuat space untukku. “Kenalin, ini temen-temen gue.” Ia menunjuk teman-temannya. “Ini Zayyan, sang primadona.” Ia mendapat sambutan berupa geleng-geleng kepala dari Zayyan yang—pantas aja Amanda naksir berat secara tiba-tiba. “Yang ini Tama, si paling jago olahraga. Dan ini … idaman cewek-cewek karena suaranya ngalahin Ariel Noah. Namanya Reza. Inget rumus bumi, kan? Hati-hati sama cowok inisial R.”

Aku tertawa, menyapa mereka dengan anggukkan, bergantian.

“Guys, ini Dhara, temen baru gue, anaknya temennya Nyokap—dan apalagi ya ngenalinnya? Pacar?” Gyan melirikikku kemudian terbahak. “Bercanda, Ra, jangan marah. Meski dia temen, bukan berarti ada chance buat kalian ke mana-mana, ya,” tunjuknya pada teman-temannya.

“Gue nggak ngerti kadang sama jalan otak lo, Gi.” Yang ngomong ini, kalau nggak salah tadi, namanya Tama. “Halo, Ra. Salam kenal, ya.”

“Salam kenal juga, Tam.”

“Gimana kerja di kafenya Gyan? Tertekan?” Wow, suara Reza benar-benar seperti klaim Gyan. sangat menarik.

“Fun,” jawbaku berusaha santai.

Sebenarnya, aku bertanya-tanya, ini tujuan Gyan apa, ya?

Dikenalkan ke rombongannya dengan sangat tiba-tiba dengan kondisiku yang mungkin sudah berantakan? Dia mau menunjukkan hubungan kami baik-baik saja sebagai teman atau … dia punya tujuan lain untuk mempermalukanku?

Belum saatnya berburuk sangka atau overthinking dong, Ni, ah!

Satu-satunya yang tidak bersuara adalah Zayyan.

Dia memang menyapaku dengan gestur dan senyum ramah, tetapi sepertinya dia tidak terlalu suka berbicara. Sekarang aku paham bagaimana kriteria Amanda, cowok misterius yang tampan rupawan.

Dengan kerendahan hati, aku mendoakan Zayyan orang baik dan doa Amanda terkabul.

Aamiin.

Setelah obrolan di sana, yang tentu aja aku lebih banyak mendengar, mereka semua pada akhirnya bubar. Aku menyelesaikan pekerjaanku, mengepel dan membereskan semuanya bersama teman kerja.

Selama itu, Gyan ternyata menungguku selesai dan bilang dia mau mengantarku pulang.

Padahal, aku sudah memintanya pulang lebih dulu, karena jam kerja kita berbeda. Dia besok harus masuk pagi seperti office hour normal biasanya, tetapi dia mengatakan semuanya baik-baik saja.

Well, aku tidak punya kalimat bantahan lain.

Jadi, sekarang, aku sudah berada di dalam mobilnya.

Entah gimana, perasaanku tiba-tiba jadi gugup, karena terakhir kali posisi begini, dia bercerita hal-hal yang sangat personal dan menyedihkan buatku. Hal itu bikin aku otomatis jadi galau bahkan dia belum memulai cerita apa-apa.

“Nggak tanya kenapa tiba-tiba dikenalin sama temen-temen gue?”

“Kenapa?” jawabku cepat, tanpa menunggu jeda.

“Supaya lo nggak kasihan sama gue lagi.”

“What?!”

Dia tertawa. “Kesan terakhir yang gue tinggalin, buat lo, kan sedih banget tuh. Gue nggak mau lo terikat sama gue karena itu, Ra. Kadang cewek tuh susah bedain kasihan doang sama sayang.”

Aku benar-benar melongo.

“Inget gue bilang kalau gue berharap lo dapet mertua yang baik? Dapet pasangan dari keluarga baik-baik?”

Aku mengangguk.

“I meant it.” Kali ini, bukan Gyan yang siap membuat segala hal menjadi candaan, tetapi dia juga bisa sangat serius. “Kalau lo bilang lo nggak cocok sama gue ke Ibu lo tanpa lo kesel atau benci gue, itu bakalan susah. Ibu lo akan kekeh terus. Paham nggak maksud gue?”

“Okay, let me make it clear for you,” tegasku, kemudian menyerongkan tubuh menghadapnya, demi bisa merasa lebih puas. “Sebenarnya, Gi … okay bener! Gue kasian sama lo, and I’m SO sooo sorry kalau lo ngerasa benci sama rasa kasihan. Tapi satu hal yang mungkin ini bisa lo pahami, gue juga nggak merasa kita cocok sebagai pasangan. Kalau itu bisa bikin lo lega.”

Dia diam.

Benar-benar tak menjawab apa pun, beberapa detik. Aku tidak bisa menangkap maksud dari keheningan ini. Sebelum akhirnya, dia menoleh, dan memberiku senyuman lebar, lalu bilang, “Glad to know that!” serunya, kemudian dia tertawa. “Tapi emang gue buruk banget, ya?”

“Oh c’mon!” Aku refleks memutar bola mata. “Kita beresin di awal ini, thanks lho, udah membuka obrolan ini dengan sangat baik. Jadi, gini,” Aku tersenyum dulu sebelum memulai kalimat-kalimat panjangku. “Kebetulan, pengalaman gue naksir orang itu nggak ada yang karena kasihan, don’t worry, okay Bro?”

Dia mengangguk yakin.

“Angkasa itu nggak ganteng kayak temen-temen lo itu, jauuuh. Tapi bukan itu yang bikin gue klepek-klepek, nggak usah ditanya, gue nggak tahu. Jadi, please lah, ini kesannya lo tuh mikir gue naksir lo ya? Enak aja!”

Dia terbahak-bahak. “Kan gue jaga-jaga, Ra, melindungi lo dari lobang jelek duniawi ini.”

“Thank you, lho, Gyan yang baik hati.” Aku ikutan tertawa. “Tapi lo aman. Rasa kasihan gue ke elo beneran kasihan, bukan terus gue jadi sayang. Gue kasih jaminan ini nih, karena sesungguhnya lo bukan tipe gue.”

“Oh! That hurts!”

Aku tertawa kencang. “Ini, kan, yang lo mau? Kita perjelas sekalian dong? Sama lah kayak gue yang mungkin beda banget sama Mega, it’s obviously that I’m not your type.” Aku buru-buru menambahkan lagi. “Lo ganteng banget kok, baik, tapi gue emang punya satu hal penting yang menurut gue harus ada di diri cowok buat pasangan gue nanti.”

“Apa itu?”

“Gue mau, laki-laki yang hidup sama gue itu bisa mengekspresikan perasaannya. Bisa terbuka sama semua emosi dan nerima emosi itu, nggak mati-matian kekeh berusaha tegak paripurna cuma karena dia cowok.”

Aku mendengar suara gelak tawanya, langsung setelah aku menyelesaikan kalimatku.

“Gue nggak bisa sama orang yang bilang, ‘gue kan cowok, lo kan cewek, masak cowok gini, masa cewek gini’. Gue mau, cowok ini tau kalau dia juga manusia biasa, yang nggak pa-pa buat keliatan sedih, down, dan lainnya.”

“I see,” jawabnya. “Tapi seberapa banyak cowok yang kayak gitu, Ra? Bukannya kebanyakan cowok di kita ini dibesarin buat jadi superhero, ya?”

“Ada, pasti ada.” Aku memberinya senyuman, yang aku yakin nada dan ekspresiku sudah mulai berubah. Karena sekarang aku teringat Ayah. “Gue pernah ngalamin momen terendah juga, Gi. Waktu Ayah meninggal, gue rasanya nggak punya alasan buat hidup lagi. Tapi, orang-orang kadang nggak paham, diminta ikhlas lah karena kehendak Tuhan, diminta kuat lah, sabar lah. Maksud gue, gue mau ada di level itu, tapi proses gue bisa sampe sana tuh berat dan gue cuma berharap kalian semua diem deh kalau nggak paham.”

Gyan menolehkan kepala, menatapku dengan ekspresi yang sulit kubaca.

“Momen itu yang bikin gue akhirnya beraniin diri buat ke Psikolog, ke Psikiater. Gue akhirnya ngerasa ada orang yang bisa paham sama apa yang gue rasaian, tanpa judge. Dari sana juga, gue jadi tau, kalau cowok juga bisa down, tapi masih banyak yang bentengin diri buat terlihat kuat. Gengsi, malu, atau tuntutan sekitar.”

Sebelah tangannya tiba-tiba meraih tanganku, dia elus pelan sambil menganggukkan kepalanya.

“Dari situ, gue kayak … gue inget kalau cowok yang bisa paham dan terbuka sama emosi manusia tuh cuma Angkasa, dan bikin perasaan gue makin dalem. Dan gue bertekad, kalau gue mau sama orang yang sama pahamnya kayak apa yang gue rasain, supaya mereka nggak kasih kata-kata bullshit: sabar aja lah, pasrah ajalah, dan lain-lain.”

“I’m sorry,” lirihnya.

“Lho, lho, nggak pa-pa!” Aku buru-buru menggelengkan kepala. “Gue minta maaf, ya, jadi kepanjangan. Tapi maksudnya, itu kan untuk personal ya. Kalau buat temenan, lo oke banget. Dan lo bukan tipe gue bukan berarti lo bukan tipe orang lain. Gue cuma mau nenangin ketakutan lo di awal tadi, lo takut gue naksir sama lo, kan?”

Dia mengangguk.

“Sekarang udah aman, kan?”

“Iya.” Dia memberiku senyuman kecil.

“Kita masih temenan baik dong?”

“Pasti!” Kami diam, suasana jadi berbeda dan rasanya sama sekali tidak nyaman. “Ra,” panggilnya.

“Ya?”

“Menurut lo, kapan kita perlu percaya dan dateng ke Psikolog atau Psikiater?”

Kita?

Bukannya tadi … cuma aku subjek dari ceritaku soal ‘pertemananku’ dengan tenaga profesional itu?

Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!