Bab 5

I can hear the pain in his voice.

Seharusnya.

Normalnya akan begitu.

Seenggaknya, sependek pengetahuanku.

Saat kamu menceritakan masa lalu, yang bahkan terang-terangan kamu klaim sebagai kisah cinta terakhir. Bukankah seharusnya ada sakit dan emosi luka setiap kali menceritakannya lagi?

Ditambah, saat kamu bercerita, kamu tidak berakhir bahagia dengan kisah cinta terakhirmu itu.

Pasanganmu … dengan segala plot twist unik dunia, menjadi sosok yang harus kamu panggil ‘ibu’.

Tapi, Gyan ini sungguh menarik.

Aku kesulitan menemukan ekspresi duka dari wajahnya. Aku tidak mendengar emos dan getar pada suaranya. Entah karena simpati dan empatiku yang tidak bekerja baik kali ini, atau dia yang terlalu pandai menutupinya.

Atau … sesimpel dia benar-benar sudah berdamai dengan hal itu.

Tunggu, bukankah, jika sudah berdamai, dia tak perlu mendengarkan Troye Sivan? Yang hanya akan mengingatkannya pada Mega?

Sejak bibirnya itu dengan lancar menceritakan bagaimana awal pertemuan mereka, proses PDKT, memutuskan untuk menjalin komitmen, hingga momen di mana ia membawa Mega menemui orang tuanya.

Sesekali dia menoleh ke aku, tertawa saat menurutnya lucu, kemudian lanjut bercerita.

Aku, yang jelas kebingungan banget harus bereaksi seperti apa.

Aku tidak menemukan unsur komedi di sini.

Aku tidak menemukan alasan kenapa aku harus ikut tertawa bersamanya.

Namun, di sisi lain, aku juga tidak bisa serta-merta mengatakan aku mengasihaninya.

“Tapi gue maklum sih. Gue nggak pernah nyalahin Mega atas keputusannya.” Gila, ya? Tidak menyalahkan? Kalau aku jadi dia, mungkin aku beneran sudah gila. Gila dalam definisi science, bukan gila yang hanya berarti pusing atau kelakuan random. “Jadi dia itu nggak mudah. Harus jadi tulang punggung keluarga. Keluarga yang mandang dia bukan sebagai manusia, tapi penghasil uang. Dia harus cerdas buat nyelametin diri sendiri. Kalau yang dipilih gue, yang dia dapet cuma seadanya. Kalau Bokap, kan, semua punya dia.” Ia akhiri dengan tawa pelan. Kemudian mendesah panjang. “Tapi, gue dapet kompensasi banyak, Ra.”

“Oya?” Satu-satunya respons tolol yang kumampu berikan untuknya.

“Yes.” Ia menoleh, tersenyum lebar. “Kafe itu salah satunya.” Gyan tertawa setelah melihat responsku yang—lagi-lagi tolol. “Rumah, dua villa yang ada di Bali, dia suntik modal buat bisnis perhiasan Mama, dan tabungan masa tua Mama dan gue.”

Aku menelan ludah.

Dari mana Ibu bisa mengenal keluarga banyak duit ini?

Maksudku, ini memang bukan kisah upik abu yang akan mendapatkan pangeran tampan nan kaya raya.

Karena ini realita, aku tidak sedang menjadi pemain utama dalam sebuah skenario indah bikinan penulis skrip.

Aku memang tidak pernah kekurangan (besar syukur untuk Tuhan semesta alam), tapi jenis usahanya pun berbeda.

Hasil kerja keras ayah dan ibu adalah rumah, mobil, aku-abang, dan kost putri yang sekarang dikelola ibu.

Bukan villa dan bisnis perhiasan.

Tapi, Gyan tidak terlihat seperti anak bau uang. Bukan, bukan karena sederhana. Justru, di mataku, dia mem-branding dirinya sebagai karyawan-karyawan kantoran ya yang mungkin gajinya pun sudah 2 digit.

Enggak nyangka, kalau ternyata bapaknya selain pintar memilih istri muda, juga jago mencetak uang.

Tidak heran, kenapa looks mamanya sangat cantik dan … ya, terlihat hidup lebih dari cukup.

“So,” Aku berdeham, karena suaraku mendadak tercekik. Sepertinya terlalu lama diam dan ngobrol sama diri sendiri. “Tante Anita resmi cerai?”

Kepalanya mengangguk. “Gue masih bersyukur karena Mega yang kepilih dari semuanya.”

“Ke-pilih?” Tenggorokanku seketika tercekik. Aku membiarkan es krim mencair dan keinginanku memakannya benar-benar hilang sempurna.

Yang kulakukan hanya menatapnya bodoh, penuh dengan asumsi pribadi, dan rasa kasihan yang membuncah.

Tetapi, aku bisa menahannya.

Gyan tertawa kecil. “Jangan salah, Ra, opsinya banyak lho.” Manusia normal mana yang pernah membayangkan akan membahas hal semenyeramkan ini di dalam mobil, perjalanan pulang—yang gagal berakhir random entah ke mana—lengkap dengan tawa. Aku biasanya tak sesulit ini dalam beradaptasi dengan keadaan. Tapi, hal-hal tentang keluarga terlalu personal untukku. “Dari ingatan yang udah gue mampu, gue liat mereka berantem tuh udah jadi dosis buat hidup gue.”

“Dari kapan?”

“Gue SD kali, yaaa. Tapi, kata almarhum Bu Desi—dia sus gue dulu by the way. Dari mulai dia dateng ke rumah, gue masih bayi berarti. Bokap-Nyokap emang jadiin berantem sebagai bumbu cinta.” Dia menoleh, melihatku sesaat, kemudian menertawakanku. “Heh, kenapa mata lo merah? Kisah gue miris, ya?” Tawanya lebih kencang. “Yah gue jadi nggak enak, udahan aja deh ceritanya.”

“Bukan, bukan, sorry.” Aku terdiam, buru-buru menyeka air mata. “Gue cengeng banget asli. Diceritain apa aja yang sedih, gue nangis. Apalagi tentang keluarga. Gue—gue langsung kebayang almarhum ayah.”

Ia kembali menoleh, “I’m sorry.”

Aku menggeleng dan refleks menepuk lengannya pelan. “I can’t imagine how hard that was.”

“Gue juga,” lirihnya.

Aku semakin menatapnya bingung.

“Dulu, temen gue reaksinya mirip-mirip lo gini, dan mereka suka bingung kenapa gue bisa biasa aja. Gue juga jadi bingung, emang gue harus gimana? Mega juga gitu, waktu tau track record bokap, eh malah dia ngajuin diri buat jadi list selanjutnya. Semoga yang terakhir deh ya.”

“Hubungan lo sama Alex?”

“Baik dong. Anak kecil gitu tau apa, kan?”

Dia benar.

Tapi, mungkin, jika aku yang jadi dia, aku akan membenci Mega dan anaknya juga.

Aku bukan Gyan, dan Gyan tidak harus bereaksi sama seperti pikiranku.

“Cuma gue penasaran,” ucapnya, melanjutkan. “Ibu lo tau nggak sih portofolio keluarga gue?”

“Please?” Aku akhirnya tertawa sambil mengelap sisa air mata. Bisa-bisanya dari sekia analogi, dia memilih kata itu. “Lo emang jadiin segala sesuatu sebagai lelucon, ya, kayaknya?”

“Kan katanya gitu. Hidup kita ini emang cuma komedi. Yang jenisnya macem-macem, dari yang light sampe dark.”

Aku mengangguk.

Kehilangan kata-kata.

“Kalau Ibu lo tahu dan masih mau jodohin anaknya sama gue, apa nggak kasihan, ya? Gue kasihan sama lo dan Ibu lo, takutnya kalian kena investasi bodong nih.”

“Gyan … please!” Kami sama-sama tertawa. “Ibu nggak pernah mentione soal itu, sih. Kayakya nggak tahu, ya? Tapi, kan yang bermasalah bokap lo, Tante Anita dan anaknya, si Gyan ini adalah manusia aman dan baik. Jago bikin nyaman lagi.”

Tak kusangka, dia terbahak-bahak.

Apanya yang lucu?

“Nyokap gue kayaknya ke-skip bagian ini,” katanya di sela-sela tawa.

“Bagian apa?”

“Lo jago flirting.”

“Itu bukan flirting ya!” teriakku tak terima. “I mean it.”

“Karena lo kasihan sama cerita gue?”

“Enggak! Gyan ….”

Anak aneh ini kembali tertawa kencang. Lalu, tiba-tiba dia menoleh dan ekspresinya menjadi serius. “Thank you for listening to all my shit. Tanpa perlu berusaha kasih solusi, dengan ekspresi jujur lo yang kaget, sedih, dan bingung harus gimana.”

Oh …

Dia memang bukan cuma aneh, tetapi sialnya sangat cerdas.

Aku paham.

“Semoga lo nggak dapet papa mertua kayak bokap gue. Gue berdoa sungguh-sungguh. Nyokap gue mungkin bisa lo terima, tapi gue nggak akan bisa lepas dari laki-laki yang darahnya ada di gue ini.”

“Itu kenapa lo nggak pengen menikah?”

Dia tak menjawab, hanya memberiku senyum penuh arti.

“Atau … karena lo tau, Mega mungkin bukan jadi list terakhir di track record bokap lo?”

Kalimatku itu … membuat kepalanya langsung menoleh dan menatapku dengan memicingkan matanya. Ia terlihat tak siap dengan kalimatku.

Aku juga sebenarnya terkejut mendengar suaraku sendiri.

Namun, ternyata itu tidak ada apa-apanya dibanding dengan jawabannya yang kudengar. “Karena gue takut, gue adalah copy-an dia.”

Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!