Bab 35

“Biarin di situ aja, Kak Mel. Nanti biar aku yang bawa ke belakang.”

Kak Mel cemberut. “Ih aku kan bukan sakit, Ni, cuma hamil. Nyuci piring dikit doang ini, lho, bekas makan sendiri juga, kan”

Aku tertawa sambil menggelengkan kepala. “I knooow, tapi hati-hati ya geraknya. Aku memang belum pernah hamil, tapi sok tahunya aku bayangin itu agak tricky, jadi please, Kak Mel hati-hati, ponakanku dan mamanya harus baik-baik saja.”

Kak Mel tergelak. “Siap, Aunty.”

“Gimana ngurusin berkasnya?”

“Ribet sih, karena ini pengalaman pertama aku dan Abang.” Ia tertawa geli, karena aku memberinya tatapan lelah. Tentu saja pertama, karena mereka sama-sama belum pernah menikah sebelumnya. “Kalau nikah secara agamanya, kan, prosesnya sama aja, ya, sama pernikahan pada umumnya. Cuma …” Ekspresinya seketika sedih, aku sepertinya tahu ke mana arah topiknya. “Katanya kalau … kalau hamil di luar pernikahan, ada beberapa konsekuensi nantinya.”

Aku tidak tahu harus merespon bagaimana karena tidak punya kalimat penenang atau menyangkal ketakutannya. Kak Mel dan Abang jelas tahu apa yang mereka lakukan dan pikirkan, atau takutkan sekarang ini.

“Maksudnya, kalau konsekuensinya buat aku dan Abang nggak pa-pa, karena kami yang salah. Tapi kalau buat dia?” lirihnya sambil menunduk, melihat perutnya. “Gimana kalau nanti waktu dia mau nikah dan nggak diwaliin bapaknya? Gimana perasaannya?”

“Mungkin satu-satunya tindakan preventif yang bisa Kakak dan Abang lakuin adalah ajak dia ngobrol nanti kalau dia udah paham. Kasih pengertian sedikit demi sedikit. Mungkin dia bakalan ngerasa sedih di awal, atau ngerasa berbeda dari yang lain, tapi aku yakin dia akan paham dan nggak akan ngubah rasa sayang dia ke kalian.”

Kak Mel mengangguk. “Aku dan Abang udah janji, akan nebus kesalahan kami, akan merawat dan membesarkan dia dengan baik, dan siap sama semua resikonya nanti. Thanks ya, Ni, udah jadi adik yang baik dan calon aunty yang penyayang.”

Mataku berkaca-kaca.

Hanya mendengar itu, aku merasa sudah tidak sabar untuk bertemu dengan keponakanku. Bagaimana pun prosesnya hadir ke dunia, dengan drama yang bagaimana, dia tetap bayi suci dan aku akan menyayanginya dengan sangat.

“Kamu sama Gyan lagi ada masalah, ya, Dek?”

“Hm?” Aku mendadak loading karena pergeseran topik yang begitu cepat dan aku tidak menyiapkan apa-apa. Maksudnya, semua bekalku sudah habis tadi malam ketika aku berusaha menjelaskan pada Ibu. Meski hanya; “Gyan sama Nini lagi ngalamin sesuatu, Bu, tapi kita coba buat perbaiki.” Hanya itu yang bisa aku temukan. Aku kira, dengan mengatakan itu, setidaknya Ibu sudah mendapat warning kalau-kalau hubunganku dan Gyan tidak berhasil—maksudnya, memang tidak, tapi kan Ibu tahunya kami baik-baik saja. Jadi, ketika nanti aku dan Gyan datang pada Ibu dan meminta maaf atas semuanya, Ibu tidak terlalu terkejut.

Itu rencanaku.

Tapi aku belum tahu banyak pendapat Gyan.

Karena kami baru akan ngobrol lagi nanti malam, setelah dia pulang kerja. Kami janjian untuk ngobrol di kafenya.

Aku menggaruk belakang kepala, meringis saat Kak Mel terlihat sangat menanti jawabanku. Dia pasti habis ngobrol dengan Ibu. Kalau melihat kalimatnya barusan, artinya pesanku pada Ibu tersampaikan dengan baik,. Ibu menganggap aku dan Gyan sedang bermasalah.

Aku bahkan tidak tahu itu hal baik atau malah buruk.

“Lagi ada sesuatu, Kak,” jawabku pada akhirnya, semampuku. Benar-benar hanya mampu sebesar itu.

“Mau cerita kenapanya?”

Aku terdiam sesaat.

Menimbang-nimbang perlukah aku menceritakan semuanya pada Kak Mel? Aku tahu, mungkin inilah salah satu keuntungan memiliki kakak perempuan, yaitu bisa berbagi cerita dan perasaan sejujur-jujurnya. Karena mau bagaimana pun, hanya sesama perempuan yang bisa saling memahami satu sama lain, kan? Tapi, aku juga tahu kalau ceritaku terlalu pribadi, itu justru malah akan menjadikan hubungan kami tidak sebaik ini lagi.

Ya Tuhan, tapi aku tidak punya pilihan.

Aku butuh pendapat orang lain, perempuan khususnya—well, aku memang punya Emma, tetapi semua pendapatnya sudah membuatku masuk jurang alias dia benar. Semua yang dikatakan dan diasumsikan Emma adalah fakta dan aku kalah. Jadi, siapa tahu aku mendapat cahaya baru dari Kak Mel.

“Kak Mel bisa jaga rahasiaku?” Aku tahu, yang aku katakan adalah kalimat terburuk sebagai pembukaan. Yang sudah pasti akan membuatnya kebingungan. Rahasia apa memangnya, Nini? Kamu pengedar narkoba kah? Ck! “Sori.” Aku meringis. “Jadi sebenernya, aku selama ini pembohong. Terutama ke Ibu dan Abang. Aku nggak pernah beneran nyoba jalin hubungan sama Gyan—please, dengerin aku dulu!” seruku ikutan panik karena melihat Kak Mel yang begitu syok. Tidak terbayang gimana respons Ibu.

“O kay,” lirihnya, lalu mengembuskan napas sedikit kencang.

He’s NOT my type, Kak.” Aku memejamkan mata, lalu mengembuskan napas lelah. “He wasn’t,” lirihku lesu, karena sadar menceritaka ini sekarang artinya membuka luka penyesalan yang sudah mulai aku perbaiki sebetulnya, dengan cara mengenal Dinda yang baik hati dan memastikan Gyan-Dinda benar-benar bahagia dan cocok satu sama lain. “Dari dulu aku tuh nggak suka sama cowok yang sok hero gitu, lho, yang apa-apa ‘itu kan harusnya cewek, itu kan harusnya cowok’ gitu. Apalagi sejak ayah nggak ada, aku … nggak suka ide cowok nggak boleh nangis, karena aku udah liat sendiri gimana Abang terluka dan berdarah-darah buat kelihatan strong di depan semua orang. Padahal dia boleh sedih, marah, nangis, kan? Nah, Gyan tuh kebetulan kayak gitu.”

Kak Mel mengusap wajahnya dengan kedua tangan.

Apa … aku berhenti di sini karena takutnya malah memberinya tekanan di saat dia saja sedang hamil?

“Lanjutin, Ni, aku mau dengerin.”

Well … dia sepertinya bisa membaca kekhawatiranku. “Mana ada di kamus Gyan tuh nangis di depan cewek, dibayarin cewek, dijemput cewek, sedih, pake warna cerah. Itu semua buat cewek. Sementara cowok itu ya provider, pokoknya subjek aja deh, selalu yang ngelakuin.”

“Okay ….”

“Aku ilfeel berat, aku anti banget sama yang kayak gitu.”

“Kakak paham.”

Aku mengangguk. “Nah karena Gyan juga ternyata memang nggak mau nikah katanya, aku ngerasa aman. Jadi, kita buat negosiasi, kerja sama buat orang tua kita. Kita iyain dan pura-pura jalanin, terus nanti bilang kalau hubungan kita nggak berhasil.” Aku melihat Kak Mel menutup mulutnya, dia pasti berpikir aku dan Gyan adalah dua manusia kejam. Aku tahu. “Selama itu kita jadi temen, bukan yang coba buat hubungan romantis. Aku jadi tau alesan dia kenapa jadi pribadi kayak gitu dan kenapa nggak mau nikah. Papanya jahat banget, Kak, didik Gyan bukan buat jadi manusia, tapi robot. Emang bukan soal kerja fisik, tapi soal emosi dia sebagai manusia.”

“Ya Allah ….”

“Selain patriarki level tinggi, papanya juga berengsek karena main perempuan, terus malah nikah sama pacarnya Gyan. Sinetron banget, ya?” Aku tertawa sementara Kak Mel tidak berhenti istighfar sambil mengelus-elus perutnya. “Makanya Gyan takut nikah, takut dia seberengsek papanya.”

“Tapi dia bukan papanya.”

I know! Aku udah ribuan kali bilang ke dia kayak gitu. Gyan baik dan seru abis, aku suka temanan sama dia. Tapi ternyata … dia duluan yang suka sama aku.”

“Ya Allah, Nini. Kisahnya rumit banget.”

Yes.” Aku meringis. “Dia bilang dia suka aku karena aku dan Ibu kasih pandangan berbeda tentang emosi, bikin dia mau lebih terbuka dan bikin dia mau jadi dirinya apa adanya, nggak sok-sok jadi sekuat baja. Tapi aku tolol banget, aku malah marah dan kecewa banget sama dia. Karena ngerasa dikhianati gitu temenan kita.” Aku tertawa, mencemooh diriku sendiri. “Tapi Gyan super super baikkkk, dia tetep mau bantu aku lewatin masa-masa kemarin.”

“Maaf banget ya, Ni—”

No, no, hey, it’s okay! Dia nggak peduli sama perasaannya dan tetep mau baik ke aku, aku cuma bisa kasih dia perasaan kasihan. Menurutku begitu, sampai akhirnya aku ngerasa … Ya Allah, aku kok kayaknya mau kehilangan Gyan, yaaaa. Aku kok nggak siap, yaaa. Aku kira wajar perasaan itu karena kan kami temen, tapi … temen harusnya nggak cemburu, kan, Kak, kalau liat dia berhasil move on dan dapetin gebetan baru?”

Kak Mel mengangguk.

“Tapi aku cemburu. Aku sedih. Dan rasanya campur aduk, sesek, sedih, marah, nano-nano deh. Aku ngerasa jahat dan egois banget ke Gyan.”

“Oh Nini.” Kak Mel bangun dari kursi dan berjalan menghampiriku, menarikku untuk bersandar di dadanya. “Kakak sedih banget dengernya, I’m sorry. Cinta datang terlambat emang nyakitin banget.”

“Dulu aku sih yes banget kalau Gyan dapet cewek baru dan gampang bilangnya ke Ibu dan mamanya Gyan kalau kita nggak cocok. Sekarang, rasanya aku nggak siap bilang ke Ibu. bukan cuma takut ngecewain Ibu, tapi nggak siap juga buat diriku sendiri, karena artinya, hubunganku dan Gyan beneran berakhir.”

“Kamu nggak coba bilang ke Gyan dulu perasaan? Siapa tahu belum terlambat.”

“Dinda orang yang baik, Kak. Baikkkkk banget dan sama sekali nggak berhak perlakuin sejahat itu. Gyan juga kelihatan udah tertarik banget sama Dinda dan mereka cocok satu sama lain. Mereka keliatan happy.” Aku tertawa pelan. “Nggak pa-pa, aku akan tanggung jawab sendiri sama ini semua. Aku nggak mau rusak kebahagiaan orang.”

“Kakak di sini kalau kamu butuh bantuan, ya, Ni.”

“Thank you. Sebenernya aku butuh bantuan buat Kakak gantiin aku nanti ketemu sama Gyan. Karena aku ngerasa nggak sanggup.”

Kami sama-sama tertawa.

“Padahal Gyan ganteng, ya, Ni?”

“Banget. Kalau liat dia ketawa tuh kayak nggak ada yang namanya sedih di dunia ini. Jenaka pollll. Baik banget lagi, perhatian, kalau sayang sama orang, effort-nya edaaaan.” Aku mendengar Kak Mel tertawa pelan. Kebodohanku ini memang layak ditertawakan. “Aku yang sok-sok keren ini, sekarang baru ngerasa nyesel. Ha ha.”

“Semoga nanti dapet yang lebih baik lagi.”

“Ada nggak ya, Kak?”

“Hey, waktu keteu Gyan, pasti kamu ngerasa Gyan nggak lebih baik dari Angkasa, kan? Tapi ternyata?”

Aku mengangguk dalam pelukannya.

Kak Mel benar.

Mungkin aku cuma perlu waktu sekali lagi untuk sembuh dari cinta tak terbalas kedua kalinya. Oh mungkin ini kasusnya berbeda. Bukan tidak terbalas, tetapi tak bisa terucap. Miris sekali. Zaman sudah secanggih ini, tetapi masih harus memendam perasaan.

“Terus mau ketemu Gyan lagi kapan?”

“Ya Allah, nanti malem lagi! Aku beneran nggak siaaapppp!”

Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!