Bab 36

Aku memang tidak suka ide telat datang ke pertemuan dengan seseorang, siapa pun. Tapi menurutku, datang jauuuhh sebelum jam yang disepakati, juga bukanlah ide yang lucu. Well, ini lucu karena menunjukkan betapa pengecutnya aku.

Aku baru sadar aku memang sepengecut ini.

Tidak heran seharusnya, kenapa cintaku pada Angkasa dulu tak pernah terucap. Karena yang jelas orangnya di depan mata pun, aku juga tetap kehilangan kepercayaan diri. Sebetulnya bukan tidak percaya diri, tapi aku hanya … merasa ini adalah hukuman untukku dan aku yang membuat semuanya menjadi terlambat. Kehilangan semuanya.

Oh anyway, aku memutuskan untuk datang ke kafe ini lebih dulu, jauh sebelum jam janjian dengan Gyan karena … karena aku mau mempersiapkan diri lebih banyak. Aku tidak bisa membayangkan ketika dia yang datang lebih dulu, lalu aku memasuki kafe, melihatnya melambaikan tangan dengan senyuman lebar.

Pasti sangat canggung, untukku, aku takut tidak bisa bersikap sebaik yang aku mau.

Jadi, dengan datang lebih dulu, aku harap aku bisa menetralkan diri lebih dulu.

“Kirian mau balik kerja sini lagi.” Amanda nyengir lebar, sambil meletakkan pesananku, kemudian duduk di kursi depanku. “Apa kabar lo?”

“Ini bisa lebih sweet nggak ya ke customer? Gue sampein ke Pak Bos lo nanti.”

Bola matanya memutar. “Mungkin dia malah suka dan bilang gue perlu nambahin garemnya.”

Aku tergelak. “Gue kabar baik, kalian gimana?”

Dia mengedikkan bahu. “Lo nggak tahu, kan, kalau gue udah jalan sama temennya Gyan?”

What?! Serius????”

“Tapi pemain kayaknya.”

“Sama-sama pemain mah aman lah ya.”

“Sial. Dah ah, selamat menikmati, gue lanjut dulu.”

Aku memberinya senyuman manis dan support penuh. “Semangaaatttt!”

Aku mulai menikmati minuman dan makanan yang aku pesan sambil kembali melamun, memikirkan nanti apa saja yang akan aku katakan pada Gyan. Update terbaru apa tentang kehidupan dia dan Dinda yang akan dia ceritakan dengan muka bahagia. Keputusan apa yang akan kami ambil tentang Ibu dan Tante Anita, lalu—

“Hai, boleh gabung?”

Pikiranku sempat blank sesaat melihat siapa yang sekarang di hadapanku, meminta kursi di depanku ini. Bukan, bukan semata karena perpindahan cepat dari lamunan ke realita, tapi juga dipengaruhi karena siapa orangnya. Aku takut pikiranku kacau dan membuat kemampuanku mengingat atau mengenali orang lain menurun, tapi aku yakin tidak. Aku yakin ingatanku tidak salah. Ketika dia tersenyum, aku tahu dia sungguh Mega.

Mega.

Pacar—maksudnya, mantan pacar Gyan, istri papanya Gyan yang sekarang, yang artinya mama tiri Gyan.

Ya Tuhan, apa yang dilakukan perempuan ini di sini? Di hadapanku? Aku menggeleng pelan, mungkin dia juga sebetulnya tidak mengingatku. Jangan kepedean, Ni, dia mungkin ingin bergabung karena melihatku begitu menyedihkan, ekspres melamunku mungkin seperti orang butuh pertolongan.

“Kamu Dhara, kan? Aku nggak salah orang?”

“Oh!” Dia beneran mengenalku. Aku mengangguk sambil tersenyum lebar. “Bener kok, Kak. Silakan, silakan duduk.”

“Nggak ganggu, kan? Atau lagi nunggu seseorang?”

Ya, tapi aku menggeleng. “Janjian sama orangnya masih nanti, jadi aman kalau Kakak mau duduk di sini.”

Dia mengangguk, duduk di hadapanku beserta minumannya dan tasnya … oh dia pangku. “Kita belum pernah bener-bener kenalan, ya, Dhar?” Aku jadi tahu sekarang, Panggilan ‘Ra’ dari Gyan ternyata spesial. Orang-orang biasanya memenggal namaku dengan ‘Dhar’ atau yaa yang tahu panggilan rumahku akan ‘Nini’. Mega mengulurkan tangan. “Aku Mega.”

Tentu aku menjabat tangannya. “Dhara.” Mungkin ini hanya perasaanku dan aku yakin benar hanya perasaan, karena aku akhir-akhir ini tidak bisa berpikir jernih, semua pikiranku semrawut, segala yang mudah aku buat sulit. Jadi sebetulnya aku yakin ini hanya pertemuan ringan yang tidak ada intensi aneh-aneh.

“Tadi aku lagi duduk di pojok sana, terus aku liat kamu sendirian.”

Aku tersenyum lebar, menganggukkan kepala. “Iya, soalnya kebetulan bisa duluan sih. Sekalian tadi pengen nongkrong aja. Kak Mega sendiri? Alex nggak ikut?”

“Dia lagi keluar sama papanya.”

Boys time!” seruku, dijawab anggukan olehnya.

“Aku sebenernya cuma mau sebentar sih, Dhar, mau ngobrol sama kamu.” Oh no, pembukaan kalimat yang sebetulnya tidak terlalu aku suka. Karena seringkali berakhir tidak baik, entah untuk perasaanku atau kami berdua. Ya Tuhan, semoga nasib buruk tidak menghampiriku secepat ini, aku masih punya agenda dengan Gyan nanti. “Kamu bisa?”

“Ngomong aja, Kak.” Aku masih berusaha memberi senyum ramah. “Mungkin ada yang bisa aku bantu?”

“Aku cuma penasaran, kamu sama Gyan tuh gimana, ya?”

Sorry, Kak?” Firasatku sepertinya benar. Ini akan berakhir tidak—kurang baik dan kurang menyenangkan. Padahal aku tidak ingin hubunganku dan Mega, kesanku dan Mega adalah buruk untuk kami satu sama lain.

Walaupun mungkin sudah.

“Iya, yang aku tahu dari Mbak Anita, kalian kan dikenalin, terus coba saling mengenal, coba cari kemistri. Betul?”

Aku mengangguk. “Ya, bener.”

“Apa di perjalanan kalian coba saling kenal itu, kalian bolehin salah satu atau kalian berdua buat deket sama orang lain?”

Mulutku sempat menganga, aku mulai tidak nyaman dengan pembahasan ini karena sepertinya aku paham ke mana arah Mega. Aku juga tahu apa yang sudah dia tahu.

“Aku liat Gyan jalan sama cewek lain. Kenapa, Dhar?”

“Oya?” Aku berusaha sangat keras untuk tetap tenang, masih memberinya senyuman terbaikku. “Mungkin Kak Mega salah lihat?”

“Enggak. Aku kenal Gyan dengan baik, aku hafal semuanya.” Uuuh, menarik. Mantan pacar yang sedang berusaha memberi tahu dunia kalau dia sudah pernah menjalani hubungan bersama Gyan dengan sangat harmonis. “Jadi aku cuma mau tanya, kalian ini gimana?”

“Kak Mega disuruh sama Tante Anita kah?”

“Oh enggak, aku sendiri. Mbak Anita nggak tahu itu, malah.”

Lalu ini lah waktuku untuk memberi tahu Mega, kalau masanya sudah berakhir. Tapi sebisa mungkin aku tidak ingin menyakitinya. Walaupun mungkin mustahil, tetapi setidaknya tidak terlalu menyakiti. Aku akan mencobanya. “Well, Kak Mega, aku nggak bermaksud gimana-gimana, tapi aku cuma mau bilang, hubungan orang nggak ada yang mulus seratus persen, kan?” Aku melihat kepalanya mengangguk. “Mungkin Kakak salah lihat Gyan atau mungkin bener dia jalan sama cewek, tapi bisa jadi itu temennya? Yang jelas, apa pun nanti hasil yang aku dan Gyan putuskan, yang paling berhak kasih tahu ke Tante Anita dan Ibuku adalah … aku dan Gyan sendiri. Dan, orang eksternal yang memang berhak tahu soal kemajuan hubungan aku dan Gyan … ya Ibuku dan Tante Anita. Ya nggak sih, Kak?”

Sepertinya semua kalimatku masuk ke kepala dan hatinya dengan tepat. Karena semua keramahannya tadi menghilang, digantikan tatapan tajam untukku. Aku bukan tidak bisa mengamuk dan menjambak seseorang, tapi aku terlalu lelah karena kehidupanku terlalu butuh banyak energi. Jadi, yang satu ini aku rasa tidak perlu dimasukkan ke dalam list.

“Aku cuma mau bilang, kalau kalian emang nggak bisa beneran, stop bohongin Mbak Anita dan Mas Gino.” Siapa Gino? Ya Tuhan, dia papanya Gyan. Bisa-bisanya aku melupakan nama itu seolah aku membencinya seperti Gyan membenci papanya. “Atau kalau memang kamu nggak mau sama Gyan, kamu bilang dari awal, bilang baik-baik sama keluarga Gyan, jangan sakitin dia, Dhar.”

“Kak Mega pernah liat aku juga jalan sama cowok lain?”

Dia diam.

“Yang Kakak lihat jalan itu … Gyan, kan? Sama cewek lain? Jadi, bukannya kebalik ya, Kak?” Aku tertawa pelan, menyeruput minumanku sebelum melanjutkan. “Gyan yang mungkin aja nyakitin aku dan harusnya dia yang ngomong baik-baik ke aku dan Ibuku.”

“Gyan udah terlalu banyak luka di hidupnya, Dhar. Aku cuma pengen kamu tahu itu, jadi jangan terlalu keras ke dia.”

“Aku tahu.” Aku menatap Kak Mega sama serius dengan ekspresinya. Mungkin kami memang tidak diciptakan untuk saling lempar senyum dan berbagi keceriaan, momen kami ada hanya untuk saling lempar peringatan. Well, aku tidak masalah. “Dilahirin dari keluarga yang kaya, tapi papanya cuma bisa kasih materi. Dia tumbuh jadi anak yang dendam dan benci sama papanya sendiri, dan lucunyaaaa, pacar yang dia cintai malah nikah sama papanya yang dibenci itu.” Napas Mega memburu, aku tahu dari gerak dadanya yang cepat, tatapannya tiga kali lipat tajamnya dengan sebelumnya. Tapi dia tidak menjawab apa pun. Jadi, aku melanjutkan. “Terus apa yang akan dia raisin kalau tau mantan pacarnya, ibu tirinya, tiba-tiba datengin cewek yang deket sama dia dan kasih peringatan banyak banget? Apa itu nggak bikin dia sakit juga, Kak?”

Dia tak menjawab.

“Aku bukan kamu, Kak Mega. Jadi, kalaupun aku nggak bisa kasih Gyan cinta yang dia mau atau jadi pasangan hidup dia, paling tidak aku nggak nikahin bapaknya. Paling tidak aku temenin dia sampai dia nemu gebetan barunya, dan cewek itu yang kamu lihat.” Aku mungkin memang tidak akan bisa berhubungan baik dengan Mega, tidak akan bisa. “Lagipula, jadi atau enggaknya hubuganku sama Gyan, aku yakin Gyan nggak ngerasa perlu kasih kabar atau minta izin ke kamu dan suamimu itu.” Aku akhiri dengan senyuman.

Dia terlihat sangat marah, mengambil tasnya kasar dan berdiri. “Kamu nggak tau apa-apa soal aku dan masa lalu kami. Jadi tutup mulutmu itu, Dhara.” Lalu pergi meninggalkanku.

Aku mengembuskan napas kasar.

Aku menyadari sesuatu, dari kalimatku sendiri untuk Mega. Bahwa aku bukan dia. Benarkah? Atau justru sebenarnya … aku tidak berbeda dengan Mega? Sama-sama menyakiti Gyan, hanya mungkin caranya berbeda. Mega dengan menikahi papanya Gyan, aku dengan memenjarakan Gyan pada rasa kasihanku dan memanfaatkan kebaikan Gyan.

Nini, kamu ternyata memang penjahat.

Penjahat yang kemudian memaksa senyuman lebar, lambaian tangan, karena melihat kehadiran Gyan. Dia terlihat kebingungan menoleh sana-sini sambil membenarkan lengan kemejanya yang sudah tergulung di siku. Saat menemukanku, senyumannya lebar, dia juga melambaikan tangannya. Adegan yang tadi aku bayangkan benar-benar terjadi, kan? Mega, coba kamu lihat, bukan hanya hafal bagaimana postur tubuh Gyan, aku bahkan bisa prediksi apa yang akan dia lakukan.

“Semangat banget mau ketemuan gue, Ra?”

Aku memutar bola mata.

Dia makin tergelak. Melihat bekas pesananku yang belum dirapikan oleh teman-temanku di sini. “Kangen menu di sini, ya, lo?”

“Asliiiii. Apa kabar, Yan?”

Dia mengangkat kedua tangannya, ekspresinya tengil banget.

Aku mencibir. “Gaya banget lo mentang-mentang lagi kasmaran—wait, lo kenapa?” Wajahnya seketika berubah, tetapi kemudian dia memberiku senyuman lebar lagi. Tapi aku tahu perubahan ekspresi tadi ada ketika aku bilang dia kasmaran. “Lo sama Dinda baik-baik aja, kan?”

“Itu kita bahas nanti, sekarang bahas soal Ibu dan nyokap gue aja.”

Mereka … bertengkar kah?

Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!