Bab 34

Aku tidak tahu cemburu bisa semenyakitkan ini.

Aku juga tidak tahu proses manusia jatuh cinta bisa setertutup ini atau mungkin aku yang memaksa diriku sendiri buta terhadap perasaanku. Semuanya jadi terkesan terlambat. Cintaku datang terlambat. Oh mungkin bukan cintanya, tapi kesadaranku untuk mengakuinya.

Sekarang, melihat Dinda bolak-balik mengecek handphone dengan senyum di wajah, membuatku merasa kesulitan bernapas. Mungkin sedikit berlebihan, tetapi rasanya memang sesak dan aku takut mood-ku terpengaruh, lalu momenku bersama Dinda malah akan kacau. Kami jadi awkward, aku juga pasti akan merasa tidak enak dengan Gyan kalau sampai dia mengetahuinya nanti.

Aku refleks nyengir lebar, ketika Dinda kembali mematikan layar handphone dan membalik posisi benda itu di atas meja, di sebelah coto makassarnya. “Urgent kah?” tanyaku pada akhirnya, berharap itu tindakan baik untuk memangkas kecanggungan di wajahku tadi.

Dinda tertawa pelan sambil menggeleng. “Gyan nggak percaya gue makan kuah.” Kalimatnya membuatku mengerutkan kening. Bukan soal Gyan, tetapi aku lebih tertarik pada variabel keduanya, soal Dinda dan makanan kuah. Ia sepertinya sadar dan tawanya makin lepas. “Gue nggak suka makanan kuah, sebenernya.”

“Terus gultik kemarin????” Oh no, jangan sampai—

“I know, I know!” serunya sambil sibuk melambaikan tangan dan tertawa. “Itu gue penasaran banget karena Gyan nyeritain itu nggak abis-abis, demi apa pun. Dia muji gultik tempat lo itu seolah nggak ada lagi gultik di dunia ini.”

“Astaga, Dindaaaa!” Aku kehabisan kata-kata juga tenaga. Aku menatapnya tajam dengan memicingkan mata, tapi sekaligus rasa bersalahku sudah menumpuk. Pundakku sampai lemas memandai mangkuk di hadapan kami. “Liat, ini mangkuk kita isinya kuah. How stupid I am!” Aku tertawa. “Soriiii, gue pede banget lagi tadi nawarin makan siang coto makassar. Gue kira lo bakalan suka soalnya kita abis makan gultik waktu itu.”

“Hey, it’s okaaaayy!” Dinda terlihat bingung juga. “Serius, nggak pa-pa, ini bisa dinikmati. Gue bukan yang alergi atau anti banget, cuma memang preferensi makanan gue bukan berkuah-kuah.”

Aku melongo. “Gimana sama makanan ternikmat duniawi kayak bakso?”

Dia nyengir. “Gue lebih suka pesen mi ayam sih, kalau mau ya tambah bakso.” My jaw dropped. “Kalaupun kepepet beli bakso, gue racik sekentel mungkin, atau minta kuah dikit banget terus pakein saos dan kecap yang banyak.”

Aku masih tidak tahu harus merespons seperti apa. Karena … dia pesan bakso kalau kepepet? Makan bakso kalau kepepet? Aku … kalau memang itu makanan sehat dan direkomendasikan oleh profesional kesehatan, sudah pasti aku makan setiap hari. Oh Dinda bukan hanya menarik Gyan dengan kecantikan, kebaikan, dan keceriaannya, tetapi dia memang unik. Sungguh manusia langka, in a good way.

“Gue nggak masalah, Dhar, serius. Kan dari tadi juga kita makan rekomendasi gue, jadi ini gantian elo dong.”

“Ya tapi bukan hal yang lo nggak suka dong, Din.”

“Gue bisa makan!” belanya tak terima. Dia melotot sambil menunjuk mangkuk di depannya. “See? Tinggal sedikit lagi. Gue bisa, sekali lagi, cuma masalah mana yang lebih suka dari yang lain.”

“Terus mi kuah gimana?” tanyaku mulai lemas.

Dinda tertawa geli. “Gue lebih suka mi goreng.”

Aku refleks menutup wajahku dengan lengan sambil menggeleng kepala. “Enggak, enggak, you’re not human, Din. Gue yakin lo alien entah dari mana.”

“What???? Noooo!” Dinda tertawa kencang. “Kenapa siiiii orang-orang pada heboh? Mi goreng emang lebih oke dari mi kuah kaliiiiii. Respon lo sama persis kayak Gyan, no wonder kalian cocok temenan.”

Ha!

Aku ikut tertawa, tapi dalam hati tawaku berubah menjadi tawa miris. Kembali mengulang kalimatnya berkali-kali. No wonder aku cocok temenan dengan Gyan? Berteman dengan Gyan? Ha ha ha. Ya, memang berteman, apalagi, Ni, yang kamu harapkan keluar dari mulut Dinda? We are a match made in heaven, gitu?

Tapi untung aktingku nggak buruk, nasibku sedang sangat baik, aku bisa mengimbangi obrolan Dinda, terutama tentang Gyan. Karena kalau di luar itu, aku dan Dinda sangat nyambung, jadi tidak perlu usaha yang gimana-gimana. Apalagi sampai menyebutnya dengan akting.

Kami menikmati makanan dengan baik—yang satu ini aku tidak tahu, mungkin Dinda yang akting karena dia ternyata memang tidak terlalu suka makanan kuah, aku benar-benar merasa bersalah.

“Terus rencana lo nanti kelar S2 mau gimana, Din?” tanyaku setelah berhasil memasang helm. Membantu Dinda yang ternyata sedang kesulitan dengan helmnya. Aku tidak bisa menahan tawa saat melihat kepalanya tertekan. “Ini helmnya kecil, atau kepala lo yang agak gede sih, Din.”

“Anjir,” serunya, sambil tertawa juga. “Pala gue emang kayaknya kelebihan dikit deh. Ini emang paling males naik motor tuh ya soal helm, tapi kalau mau cari makanan bawa mobil tuh nggak bebas. Banyak hidden gem yang masuuuuuk ke gang gitu, daripada parkir jauh dan jalan kaki lama, kan?”

“Betuulll. Tapi biar sehat tauuuuu, dan kadang seru juga jalan kaki.”

Dinda tergelak. “Kayak yang pernah lo lakuin jalan kaki random sama Gyan, kan?” Ya Tuhan … dia pun tahu hal itu? Seberapa banyak Gyan menceritakan tentangku pada anak ini? Tidakkah ini mulai berlebihan? Tapi anehnya, kenapa Dinda mengatakan itu dengan santai dan seolah tidak ada tanda keberatan? Atau dia akting seolah dia biasa saja? “Dia bilang lo ngeluh tapi seneng. Katanya cewek susah dimengerti, hell! Cowok jauh lebih susah keleeessss.”

“Setujuuuuuu! Mereka yang paling sulit dipahami, to be honest.”

Dinda berhasil memasang helm dengan baik, tentu saja atas bantuanku juga. Lalu kami bersiap untuk kembali berkelana. Maksudnya, mencari masjid dulu untuk ibadah dan istirahat sejenak. Setelah menemukan masjid, kami langsung belok dan mencari tempat parkir motor.

Lalu tiba-tiba Dinda bilang, “Rencananya gue abis wisuda ya mau daftar jadi dosen, pekerjaan impian bokap gue tuh. Kayaknya keluarga gue emang demennya ngajarin anak orang.”

“Keren tauuuu! Mencerdaskan bangsa.”

“Mencerdaskan sih mencerdaskan, tapi banyak tau hak dosen atau guru, pokoknya pengajar tuh kasian. Kerjaannya membantu membangun negeri, tapi gajinya kayak nggak menutupi. Lo liat, kan, di berita gitu suka ada guru honorer yang gajinya … ya Allah, dahlah nggak kuat nginget dan bahasnya.”

Aku mengangguk, ikutan merasa galau tiba-tiba.

Aaahh rasanya segar maksimal setelah membasuh wajah dengan air. Seolah mataku kembali terbuka lebar setelah tadi panas-panasan. Tapi ada kerjaan tambahan setelah ini, harus reapply sunscreen kalau tidak mau kulit wajah nanti gosong. Sinar matahari benar-benar tidak pernah bisa diajak negosiasi.

Kebetulan aku selesai solat lebih dulu, sementara Dinda sepertinya melakukan sholat sunah tambahan. Jadi, aku memperhatikan sekitar. Lumayan ramai orang-orang yang ibadah di sini, terutama yang laki-laki tadi. Kalau perempuannya … ya lumayan juga. Mukenahnya pun tidak semengerikan yang kadang aku temukan di tempat ibadah umum. Aku kadang memilih membawa milik pribadi, kadang juga tidak, dan ini tadi nasibku beneran baik karena mukenahnya harum.

Aku tersenyum ramah pada perempuan di sebelahku yang baru datang, wajahnya masih basah karena air wudhu. Lalu, mataku melihat tasku sendiri dan aku jadi gatal untuk mengecek handphone. Aku tadi tidak banyak cek handphone memang.

Aku menemukan salah satu chat dari Gyan dan bingung untuk bereaksi. Haruskah ikut tertawa atau malah meringis?

Gyan

Cie yang makin akrab sama Dinda. Jangan lo rebut dia, Niii. nanti plot twist lo nggak mau sama gue cuma alesan aja, padahal lo ….🤪🤪🤪

Suka sesama jenis, kan, maksudnya?

Ck, Gy, Gy, ini kalau memungkinkan, gue pasti langsung terbang dan nyamperin lo di kantor, terus bilang; “Gue masih punya kesempatan, kan?”

Tapi yang mampu aku lakukan hanya membalasnya dengan satu emoji yang sama dengan yang dia kirim. Lalu, aku dan Dinda melanjutkan hunting makanan kami, kali ini memilih yang lucu dan manis-manis. Kadang rekomendasi Dinda, kadang aku, dan seringkali dari media sosial. Satu hal yang aku sadari, perut kami berdua kenapa bisa menampung makanan sebanyak itu, ya?

Dan terlepas dari apa pun perasaan cemburuku pada Dinda dan Gyan, aku tetap sangat menikmati momenku bersama Dinda. Sudah lama aku tidak mencari teman baru, berkenalan dan saling mengenal. Yang aku tahu hanya Emma. Jadi, bertemu Dinda yang sama serunya membuatku sungguh happy.

Tapi ternyata rumor itu benar, kalau harimu berjalan begitu baik dan mulus, kamu memang harus waspada, karena bisa saja ada kejutan yang tak mengenakan. Kejutanku adalah ini, saat turun ke bawah untuk makan malam bersama Ibu—Abang izin tidak pulang karena mau makan malam di rumah Kak Mel—dan diberi pertanyaan berupa; “Gyan apa kabar, Ni? Kok udah lama nggak main ke sini? Kalian baik-baik aja, kan?”

Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya.

Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!