Bab 33
Aku mulai menyesali keputusanku untuk membawa mobil sendiri dan tidak memilih menggunakan jasa transportasi online. Karena sekarang pikiranku benar-benar sudah berantakan, ditambah melihat deretan kendaraan di depanku yang sama sekali tidak bergerak … kepalaku rasanya mendidih.
Aku ingin berusaha tenang, berpikir positif bahwa chat Abang tadi tidak bermakna apa-apa. Mungkin Kak Mel hanya kelelahan dan Abang khawatir jadi memutuskan membawanya ke rumah sakit, memberi vitamin atau setidaknya pelayanan yang layak dari profesional. Semua akan lebih cepat dan aman jika dilakukan oleh ahlinya, bukan?
Tapi, aku juga tidak bisa membohongi diri sendiri kalau aku ingin cepat sampai di sana, bagaimanapun caranya. Aku ingin mengajak Ibu keluar dari mobil dan terbang ke rumah sakit sekarang.
Tapi semua itu hanya ada di kepalaku.
Yang terjadi sebenarnya adalah aku tetap di kursi pengemudi, jariku menekan kuat setir, dan saat melirik Ibu di sebelah, dia benar-benar terdiam. Tatapannya ke depan, tanpa suara apa pun. Aku mau bertanya apa yang dia pikirkan dan rasakan, tetapi aku sendiri pun tak mampu bersuara dari mulut.
Mulutku sungguh terkatup rapat.
Aku cuma berharap Ibu tidak semakin membenci Abang dan Kak Mel, dan yang lebih parah malah akan semakin menyalahkan dirinya sendiri. Jangan, jangan lagi ke fase itu. Sembuhnya tidak mudah dan aku tidak sanggup melihat Ibu terluka di fase itu nanti. Tidak sanggup lagi setelah banyaknya hal terjadi di dalam hidupku akhir-akhir ini.
Aku mohon ya, Tuhan, aku mohon.
Bagaimanapun solusi yang dibutuhkan, aku akan berusaha mendapatkannya, dan tetap menggandeng tangan Ibu untuk menghadapi semua.
Aku yakin aku masih bisa, asal jangan kembali ke fase terendah Ibu.
Dunia sungguh ikut hancur jika Ibu terluka.
Setelah merasa menemukan ide brilian untuk memutar lagu di radio mobil, aku memaksa diri untuk menyingkirkan semua pikiran negatif di kepalaku dan menggantinya dengan mengingat lirik lagu tersebut.
“Matiin aja, Ni, Ibu nggak sanggup.”
“Iya, Bu.”
Tidak salah lagi, Ibu jelas sama kacaunya denganku. Bedanya, aku mungkin ingin kabur dari kalutnya pikiranku sendiri, tapi Ibu mau menikmati itu, diam dan mengikuti ke mana pikiran akan membawanya. Tapi alhamdulillah napasku lolos lega saat melihat kendaraan di depan mulai bergerak lagi. Terima kasih ya, Tuhan, semoga tidak ada lagi kemacetan di depan sana nanti, hingga kami sampai di rumah sakit.
Setelah melewati perjalanan yang terasa sangat panjang dan melelahkan, aku akhirnya bisa memarkirkan mobilku di halaman parkir rumah sakit. Kemudian menuntun Ibu sedikit lebih cepat untuk menghampiri resepsionis dan menanyakan ruangan sesuai informasi Abang. Meski aku gugup bukan main selama perjalanan ke kamar Kak Mel, tapi aku sedikit lega karena kamar inap yang kami tuju menunjukkan bahwa Kak Mel baik-baik saja, kan?
Oh napasku lolos lega, bahuku terasa kendur melihat Kak Mel terlentang di ranjang dengan sadar, dan sedang mengobrol pelan dengan Abang. Mereka menyadari kehadiran kami, sama-sama menoleh, dan Abang langsung berjalan menghampiri, menyalami Ibu dan memelukku singkat.
“Gimana keadaannya, Mel?” tanya Ibu pelan, berdiri di sebelah ranjang, tangannya mengelus kepala Kak Mel.
Kak Mel hanya mengangguk dan menangis lagi. “Aku … aku min—”
“Iya, iyaa.” Suara Ibu terdengar bergetar, mengangguk-anggukkan kepala sambil terus mengelus kepala Kak Mel. “Sekarang nggak usah pikirin apa-apa dulu. Fokus sama kesembuhan kamu—”
“Dan dia,” lirih Kak Mel sambil menatap dan mengelus perutnya sendiri. “Dia baik-baik aja, Bu.”
“Alhamdulillah ya Allah.” Air mata Ibu akhirnya turun, dia menutup wajahnya beberapa detik, kemudian mengusap matanya dan tersenyum pada Kak Mel. “Maafin Ibu, ya, Mel. Harusnya nggak kasih kalian syarat sesusah itu. Ibu kecewa sama apa yang kalian perbuat, tapi Ibu lebih kecewa sama diri Ibu sendiri dan pengen makin kecewa kalau sesuatu terjadi sama kamu, Abang, dan cucu Ibu.”
Kak Mel tidak mengatakan apa-apa, sudah tersedu-sedu sementara aku … terdiam mendengar semua kalimat Ibu.
Jadi, selama perjalanan kami tadi ke sini—setelah aku bilang Ibu kalau Abang memintaku ke rumah sakit karena Kak Mel di sana—Ibu sungguh ada di fase menyalahkan dirinya sendiri. Tapi apa pun itu, aku bersyukur karena fase itu tidak lama dan mungkin sudah luruh kembali di ruangan ini.
“Kita urus nanti apa pun syarat pernikahan kalian sesuai negara dan agama. Nggak usah takut dan malu di mata manusia, yang perlu kita lakuin adalah minta maaf sama Allah, malu di hadapan Dia.”
Aku melirik Abang yang sedang mengusap matanya.
Lalu menggerakkan tanganku untuk menepuk pundaknya pelan.
Tak lama, orang tua Kak Mel datang dan saling bergantian memeluk Ibu, saling melempar kata maaf, dan dilanjutkan dengan obrolan yang hangat.
Setidaknya, kami sudah kembali menjadi satu tim, satu keluarga, dan siap untuk menjalani hidup lebih baik lagi. Aku sadar tidak ada manusia yang sempurna, begitupun Ibu sebagai sosok orang tua. Jadi, apa pun kesalahan Ibu, Abang, Kak Mel, dan aku sebelumnya, semoga kami bisa menjadikannya sebagai pelajaran berharga dan siap menjadi pribadi yang lebih baik.
Memang tidak semua luka bisa hilang beserta bekasnya, tetapi aku percaya, waktu mampu membuat kita terbiasa untuk merasakannya dan pada akhirnya akan menerima dan hidup dengan itu.
Aku izin untuk keluar sebentar, ingin menghirup udara dan melihat-lihat sekitar, tetapi yang sebenarnya aku butuhkan adalah waktu sendiri dan kafein. Sekarang aku duduk sambil memegang cup kopi, yang kemudian handphone-ku bergetar. Aku buru-buru melihatnya karena khawatir ini tentang Kak Mel atau Ibu, tetapi yang aku temukan justru notifikasi follower baru di Instagram.
Dinda.
Akunku memang tidak aku kunci, jadi dia bisa mudah melihat isi Instagramku dan sekarang mengikuti, oh dia juga mengirimiku pesan.
Dinda:
Hai, Dhaaaarrr!!! It’s me, lol! Boleh kan follow lo di Ig?
Me:
Of course! Hahaha, pasti liat dari following Gyan, yaaa?
Dinda:
Valiiiidddd. Btw, lo suka hunting kuliner nggak siiii???
Me:
Suka-suka ajaaaa. Whyyy?
Dinda:
Soalnya gue liat lo suka makan jugaa. Gue suka cari-cari makanan enak gituuu apalagi yang di dalem gang gang gituu. Seruu abiss. Mau kapan-kapan kita hunting bareng?
Aku terpaku sejenak.
Seharusnya tidak ada yang salah dengan tindakan Dinda dan semua kalimatnya ini. Dia memang ramah dan terlihat sangat baik, jadi ajakan ini sudah pasti tulus dan aku bisa merasakannya. Tapi, aku justru takut dengan diriku sendiri. Takut dengan perasaanku pada Dinda. Takut bagaimana aku memandang Dinda dengan berbeda. Benarkan aku aku mau berteman dengan Dinda? Atau karena aku merasa itu diperlukan demi Gyan? Apakah aku bisa menjamin aku tidak akan memberi Dinda energi negatif hanya karena perasaan cemburuku?
Cemburu?
Aku menggelengkan kepala, buru-buru mengetik balasan untuk Dinda.
Me:
Boleeeeeehh! Kaaapaaaan???
Dinda:
Nanti gue kabarin yaaaaa. Kalau kita tukeran WA boleh ngggaaaak?
Aku tersenyum.
Me:
Boleh dooong.
Lalu mengiriminya nomor WhatsApp-ku.
Aku seharusnya begitu bersyukur untuk banyak hal. Untuk Gyan yang tidak akan merasa tersakiti lagi atas perasaannya padaku. Untuk Gyan yang sudah berhasil bertemu dengan Dinda. Untuk Dinda yang ternyata adalah perempuan cantik, baik, dan menyenangkan. Untuk hubunganku dan Dinda yang tidak terasa aneh. Untuk Kak Mel dan bayinya yang baik-baik saja. Untuk Abang yang sudah bisa tersenyum lega. Untuk Ibu yang sudah menyingkirkan rasa kecewa dan bencinya pada Abang, Kak Mel dan dirinya sendiri.
Untuk semuanya.
Terlalu banyak kebaikan yang terjadi untukku beberapa hari ini dan rasanya aku terlalu buta kalau masih memiliki keinginan mengeluh.
Yang paling penting untuk saat ini adalah semua sudah terkendali aman, perasaanku tidak terlalu penting. Bukan, aku bukan mengajarkan untuk tidak menghargai dan menyayangi diri sendiri, sama sekali tidak. Tapi, semua ini adalah pilihanku sendiri, termasuk salah satu resiko yang memang harus aku tanggung. Karena aku sendiri yang memilih untuk hanya menganggap Gyan sebagai teman dan cuma mampu memberinya rasa kasihan. Jadi, apa pun perubahan perasaanku sekarang padanya, di mana dia sudah berusaha move on dan terlihat sedang di perjalanannya, aku tidak seharusnya mengacaukan itu, kan?
Hanya untuk egoku sendiri.
Aku tidak mau membuat Gyan kesulitan, berkali-kali.
Aku sungguh ingin melihatnya bahagia.
Dia pantas mendapatkan itu.
Kasih tip buat penulis
