Bab 27

Pertemanan macam apa yang salah satunya terang-terangannya menyatakan suka? Gimana maksudnya teman kalau yang dia lakukan selalu menunjukkan rasa suka dan perhatiannya untukku? Selalu mencari celah dan memanfaatkan sekecil apa pun kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya padaku?

Setelah semua itu, dia bilang aku temannya?

Tapi, sebetulnya dia memang tidak salah, Ni. Dari awal kalian memang berteman, membuat rencana untuk kedua orang tua kalian, meskipun di tengah perjalanan Gyan bikin masalah dengan tiba-tiba bilang menyukaiku, tapi, kan, aku tidak suka balik? Aku yang bilang tidak bisa menjadikannya lelaki yang aku mau untuk menjadi partner hidup? Karena aku merasa dia bukan idamanku, itu menegaskan hubungan kami sekarang adalah pertemanan, kan? Bedanya hanya perasaan Gyan aja. Tapi itu bukan masalah karena Gyan bilang itu tidak akan mengganggu kami.

Apa sebenarnya sudah atau sedang mengganggu?

“Sampe deh!” Gyan tersenyum lebar setelah aku mendengar dia mengembuskan napas lega. Sabuknya sekarang sudah terlepas—sabun pengaman—dan dia sedang menatapku. “Udah kerasa belum kaki pegel-pegel?”

Aku memutar bola mata. Dia meremehkanku.

Anak itu malah tergelak. “Ini serius. Pertama kali, kan, ke Ragunan dan jalan selama itu? Di sana emang nggak kerasa, bawaannya haha-hihi, nanti malem coba deh. Iris kuping gue kalau lo jalan nggak megangin pinggang sambil ngengkang.”

“Gyan, please?” Kami sama-sama tertawa kencang. “Lo bilang gini karena pasti mikirnya gue nggak suka olahraga, kan?”

“Betul sekali!”

“Bener sih.” Aku meringis. “Jadi nanti gue nggak bisa jalan nih?”

We’ll see.”

“Lo tanggung jawab dong?”

“Siaappp. Gue kirimin mbok pijet sama beberapa vitamin nanti.”

“Nggak mau itu enak aja, gue bisa sendiri.”

“Terus apa?”

“Gendong gue kalau gue nggak bisa jalan.”

“Oh lo pikir itu bikin gue keberatan? Ya ayo lah anjir, gasss!”

“Salah deh gue.” Aku menoyor lengannya, dia tertawa pelan. “Abis ini lo mau ke mana? Bawa Alex pulang ke rumah lo atau ke rumah Mega—maksudnya, ibunya.”

“Mega sih. Ini hari terakhir dia nginep di rumah soalnya. Jadi nanti langsung ke rumahnya aja. Barang dia udah di bagasi kan tuh.”

Mendengar itu, aku mengangguk-angguk, dan merasa kebingungan sendiri. Aku ingin menawarinya masuk ke dalam rumah untuk istirahat atau makan atau minum, apa pun, tetapi takut dia salah paham. Takut dia berpikir kalau aku sedang menghambat waktu dia untuk datang ke rumah Mega—apa memang itu yang aku niatkan dan sedang lakukan sekarang?

Aku kenapa, ya?

Biasanya aku tidak peduli mau dia ke rumah Mega, mau perempuan itu yang ke rumah Gyan. Karena aku tahu, mereka akan selalu berhubungan untuk Alex dan papanya Gyan. Tapi hari ini … entahlah, rasanya seperti ada yang salah dengan mereka. Mendengar obrolan mereka tadi di telepon, kedengarannya malah seperti keluarga kecil. Pertanyaan Mega seolah dia adalah istri yang menunggu suami dan anak pulang dari jalan-jalan. Itu salah, bukan? Mereka bukan siapa-siapa lagi, hubungan mereka hanya sebatas untuk Alex.

“Dhara?”

“Ya?” Aku mengerjapkan mata beberapa kali, menoleh pada Gyan yang sedang menatapku kebingungan. “Gimana, Yan?”

“Lo ngelamun. Kenapa?”

“Oh! Enggak kok. Alex masih tidur tuh.”

Gyan menoleh ke belakang dan tersenyum. “Nggak pa-pa, nanti dibangunin sampe rumah dia aja.”

“Okay. Lo mau langsung pulang?”

“Lo butuh sesuatu?”

“Enggak sih.” Aku tersenyum kikuk, membuka sabuk pengamanku dan bersiap untuk membuka pintu mobil. Tapi tidak jadi, aku kembali menoleh untuk menatap Gyan. “Mau gue bikinin sesuatu? Lo tadi makannya sedikit banget kayaknya.”

No, thanks. Gue masih kenyang.”

“Okay.” Aku mengangguk. Tangannya sudah di handle pintu mobil, tetapi aku kembali melirik Gyan untuk memberi penawaran terakhir. “Mau pamit sama Ibu dulu?”

“Oh ibu di rumah? Tadi kata lo pulangnya malem?”

Great! Aku tertawa untuk menutupi rasa gugup. “Nggak tahu sih, mungkin udah pulang. Tapi bener kayaknya pulang malem. Okay, bye!” Aku melambaikan tangan. “Thanks for today, Gy!”

“Gue makasih banyaaaak banget, lo udah mau nemenin jalan hari ini, ya, Ra.” Senyumannya lebar dan terlihat sangat tulus. Tapi dia masih duduk di kursinya. Biasanya dia akan berusaha membukakan pintu untukku meski selalu aku lawan dengan gerak lebih cepat. Kenapa sekarang dia berhenti melakukannya? “Titip salam buat ibu sama bang Dewa.”

Aku mengangguk.

Lesu.

Turun dari mobil, berjalan ke rumah dan berdiri di teras, mengangguk pelan ketika Gyan menekan klakson dan melambaikan tangannya sebelum menjalankan mobil. Lalu yang aku lakukan sekarang di dalam rumah adalah sibuk mondar-mandir mempertimbangkan apa yang sebaiknya aku lakukan. Ditambah aku sendirian di rumah, jadi tak ada distraksi apa pun untuk menyingkirkan pikiranku ini.

Apa aku WhatsApp Gyan supaya dia tidak fokus ketika nanti di rumah Mega dan buru-buru mau pulang? Apa aku telepon dia dan menemaninya ngobrol selama dia di perjalanan? Seberapa jauh jarak yang akan dia tempuh ini? Ya Tuhan, gimana kalau nanti Alex menangis dan meminta Gyan menginap di sana? Permintaan Mega mungkin bisa laki-laki itu tolak, tapi Alex? Aku bisa lihat rasa sayang Gyan ke adiknya itu sangat besar.

Kepalaku rasanya berat sekali karena tiba-tiba memikirkan hubungan rumit mereka. Aku tak pernah membayangkan sebelumnya kalau suara Mega, pertanyaan Mega, intonasinya untuk Gyan akan terasa seperti … seolah mereka masih berhubungan? Atau memang Mega masih memiliki rasa pada Gyan?

Well, menikahi papa Gyan mungkin memang tak pernah bermodal cinta, aku ingat hidup Mega rumit sesuai cerita Gyan, tapi … bukankah itu sudah menjadi pilihannya? Bukankah seharusnya perasaannya untuk Gyan sudah tertutup dengan kehidupan baru yang dia jalani? Ditambah sudah ada Alex sekarang?

Aku buru-buru mengetikkan pesan di WhatsApp untuk Gyan, sebelum aku kembali sadar dan menyesalinya—oh tidak terlau masalah. Penyesalan akan aku nikmati nanti, sendirian.

Aku memintanya untuk mengabariku kalau sudah sampai rumah.

Entah rumah siapa juga yang aku maksud, rumah Gyan sendiri atau rumah Mega. Sekarang aku meletakkan handphone di sebelahku dalam keadaan tengkurap, sementara aku bersila di atas sofa, meraih toples berisi kue kering dari meja. Aku mengunyah beberapa potongan, tetapi masih belum mendengar denting notifikasi. Sekalinya ada, ternyata bukan Gyan, tapi chat dari orang lain.

Waktu kalau diminta cepat berlalu, rasanya malah seabad lamanya. Giliran kita meminta waktu tambahan, seolah langsung dijalankan dengan kecepatan maksimum. Aneh, ya?

Oh ini dia orangnya!

Gyan:

Hei, baru beres rayu Alex nih. Gue ga boleh pulang dong haha.

Benar tebakanku.

Aku mengetikkan balasan untuknya.

Me:

Dia masih kangen abangnya lol

Terus ini lo masih di sana?

Gyan:

Udah di mobil mau pulang.

Gue di sini paling lama sejam, Ra, itu kalau dipaksa makan bareng bokap 🙂

Aku merasa perlu sekali untuk meloloskan napas lega. Semua bayangan adegan fiksi di kepalaku tentang ibu tiri dan anak yang seumuran sekarang sirna. Bisa-bisanya aku mengira Gyan akan kembali pada Mega atau apa pun itu namanya. Tapi aku lupa, rasa sakit hati Gyan pada perempuan itu pasti besar sekali sehingga rasanya tak mungkin dia sampai rela berhubungan lagi untuk menyakiti orang lainnya. Menyakiti mamanya, Alex, dan mungkin papanya—kalau yang ini, aku tidak yakin dia akan menghitungnya. Karena Gyan mungkin justru membenci papanya.

Me:

Okkkk, tiatii pulangnyaa.

Gyan:

What’s wrong?

Me:

Kenapa?

Gyan:

Lo aneh banget deh, ga biasa-biasanya hati-hatiin gue HAHA

Shit!

Aku menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan supaya bisa lebih tenang. Nini tidak biasanya seceroboh dan sespontan ini, aku harus sadar dan berpikir ulang sebelum bertindak, kan? Seharusnya tidak gegabah seperti sekarang. Okay, no problem, jadikan ini pengecualian dan aku mengampuni diriku sendiri.

Gyan:

Nanti gue makin baper nih. Kayak yg mau tanggung jawab aja lo😡😡😡

Aku refleks tertawa.

Me:

Enak aja, lo dulu yang tanggung jawab ini kaki gue mulai kerasa pegeeeel.

Gyan:

Apa ini gue langsung otw ke rumah lo lagi?

Hehe

Mungkin Gyan memang sedang agak gemblung, tetapi harus aku akui, yang sudah tak tertolong hari ini adalah aku. Aku akan menjadikan hari ini sebagai hari terkacau yang tak ada perhitungan di dalamnya. Besok, harus segera dihapus ingatan hari ini kalau tidak mau kehidupan selanjutnya kacau karena isinya penyesalan. Karena apa? Alih-alih aku ikut tertawa karena candaan konyol Gyan seperti biasa yang isinya flirting atau mencari kesempatan, tapi aku malah mengetik balasan serius membolehkan dia kemari dan mengajaknya makan malam di taman komplek depan—karena ada gultik yang enak sekali.

Menurutmu apa reaksi Gyan?

Dia langsung mengirimi foto jalanan dari dalam mobil dan mengetik; omw!!!!

Sekarang aku sedang menoyor kepalaku sendiri, berkali-kali, dan tetap tak menemukan keberanian untuk mengabarinya kalau aku bercanda dan dia tak seharusnya kembali ke rumahku. Dia harus pulang ke rumahnya. Kami sudah nyaris seharian bersama dan kalau terlalu banyak waktu yang kami habiskan, itu tidak akan baik untuk kami berdua. Untuk dia terutama. Benar, kan?

Apa aku … pura-pura tidur aja?

Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!