Bab 28

Menyewa kekuatan bumi untuk menyelamatkanku hari ini pun tidak mampu, itu kenapa satu-satunya hal yang bisa aku lakukan adalah pasrah. Pasrah saat menerima pesan dari Gyan yang bilang sudah sampai di depan rumah. Sekarang aku sedang menyambutnya, dia memarkirkan mobil, lalu turun dari benda itu dan tersenyum lebar, menghampiriku.

“Gue boleh unsend aja nggak chat gue tadi?”

Keningnya langsung mengerut.

Aku tertawa sambil memukul lengannya. “Dah lupain. Itu taman jajannya bukanya nanti sore tau, serius, gue minta maaf. Biasanya abis magrib tuh makan di sana. Terus sekarang sore-sore lo di rumah mau ngapain nih?”

Dia meletakkan jarinya di dagu, terlihat sedang berpikir sangat keras. Aku bisa saja memberinya bantuan dengan banyak pilihan yang bisa dia pertimbangkan, tetapi rasanya aku sudah bergerak terlalu jauh. Justru ini aku sedang berharap dia bisa tiba-tiba ada sesuatu yang mendesak dan mengharuskan dia pulang sekarang juga. Aku tidak merasa bersalah, dia juga aman. Sama-sama aman, kan?

Tapi sayang, nasibku mungkin belum terlalu baik, karena dia malah menemukan ide brilian dengan melirik ke arah taman Ibu yang belum selesai itu. Aku mendesah dalam hati, karena aku tidak menemukan cara lain untuk menjaga jarak dengan Gyan, dan anehnya, aku tidak bisa marah atau kecewa lagi saat mendengar dia bilang, “Ayo beresin taman Ibu, Ni!”

Semangatku ikut membara, aku malah benar-benar jadi tuan rumah di projek ini, sangat kooperatif membantu Gyan untuk merapikan pot, trim beberapa daun dan ranting tanaman, mengganti tanah yang memang sudah waktunya diganti, terakhir kami menyirami tumbuhannya. Sekarang, Gyan berkacak pinggang, mengedarkan pandangan ke seluruh taman sambil tersenyum lebar, lalu menatapku. Wajahnya terlihat sangat bangga seolah dia sungguh berhasil menyelesaikan projek besar.

Aku tertawa geli, refleks, dan ternyata dia menyadari itu.

“Kenapa, Ra?”

Aku menggeleng-gelengkan kepala. “Lo happy amat kayak abis beresin projek gede.”

“It is!” serunya sambil mengangkat tangannya menyapa isi taman. “Ini projek bareng Ibu lo, in case lo lupa. Tau, kan, maknanya apa?”

Aku memutar bola mata. “Masih yaaaa.”

Gyan tergelak. “Abang lo nggak ngabarin apa-apa?” Dia berjalan ke arah kursi kayu panjang, duduk di sana. Ini matahari masih memberi kita sinar yang lumayan, tapi aku dan Gyan malah tetap nekad duduk santai di kursi ini.

Lalu aku menjawabnya dengan menggelengkan kepala.

Gyan memiringkan kepalanya sedikit. “Nyokap?”

“Tadi cuma bilang pulangnya agak malem sih, tapi amaaan.”

“Perlu dijemput nanti?”

“Oh nggak usah.” Aku tertawa geli. “Dia dianter temennya. Temen-temennya lebih kece tau, mereka hidupnya kayak yang seruuuuu banget.”

“Hidup lo nggak seru emang?”

Aku tertawa, miris. “Look at me—”

“I do.”

“Dih!” sinisku sambil mendorong lengannya, tak lupa tawa awkward. Aku sadar betul Gyan bukan kali pertama bertingkah seperti ini. Iya, kan? Tapi yang aku heran adalah reaksiku sendiri. Aku biasanya dengan mudah karena bisa membencinya, sekarang ada reaksi baru, jantungku tiba-tiba berdegup tidak sewajarnya. Ini … sejak kapan begini? Sejak kapan reaksiku akan berubah seperti ini hanya karena kata-kata dan tatapan Gyan? Ada yang aneh, aku yakin ada yang salah. Aku berdeham beberapa kali. “Hidup gue tuh gini-gini aja, Yan, nggak menarik. Nge-date enggak, kerja enggak, sekarang malah sibuk ngerasa bersalah karena masalah Abang. Oh gue nggak maksud komplain atau gimana, yaaaa dikit sih, tapi maksudnya … gitu deh. Anyway gue tetep happy dan akan selalu happy kalau Ibu bisa jalanin kehidupan yang seru. Sekarang dia udah waktunya emang tinggal seneng aja nggak sih, Gy?”

“Kalau lo waktunya kapan?”

Aku terdiam.

Membuang pandangan ke deretan pot dengan daun yang rimbun. Tidak berniat menyiksa diri dengan melihat tatapan serius Gyan yang mungkin akan membuatku tiba-tiba terlihat lemah dan tak berdaya. Aku hanya bisa menjawab lirih, “Gue masih mudah, kan, ya. Waktu gue buat happy masih banyak dibanding Ibu.”

“Kalau lo yang mati duluan?”

“Sialan lo!” Aku tertawa kencang, dia juga ikut-ikutan tertawa. “Lo sebenernya mau ngasihanin gue atau doain gue mati muda sih, Yan?”

“Lo pernah nggak dulu pacaran sama cowok yang suka sama lo duluan?” Gyan tertawa pelan saat aku memberinya tatapan bingung. “Maksudnya, kan ada tuh cewek yang katanya milih dicintai daripada mencintai, karena katanya ngurangi resiko sakit hati. Lo pernah nggak gitu?”

Mulutku membentuk huruf O. “Belum sih, gue selalu suka juga sama orang itu. Maksudnya, minimal kan ada masa PDKT, jadi ada waktu buat gue suka sama dia. Kalau emang tetep nggak bisa, gue nggak mau sih.”

Kepalanya mengangguk-angguk.

Aku sepertinya memahami apa yang dia maksud di sini dan aku merasa sangat bersalah. Dia mau coba memberitahuku bahwa aku bisa menjalin hubungan dengannya dengan konsep itu. Tidak masalah aku tidak mencintainya yang penting dia mencintaiku. Mungkin akan mengurangi resiko patah hati untukku ke depannya nanti. Aku menepuk pundaknya pelan. “Gue nggak mau cowok itu kerja sendirian, Gy. Manusia layak buat mencintai dan dicintai, kan?”

“Gimana kalau dia memang udah biasa sebagai yang berjuang? Jadi buat dia nggak masalah usaha sebelah.”

Aku menggelengkan kepala. “Pasti dia akan nemu titik capeknya, trust me.”

“Dari mana lo tau selain nyoba langsung?”

Aku tersenyum miris. “Lo pasti tau kok seberapa banyak cowok yang effort gila-gilaan di awal, tapi menyerah di akhir karena ngerasa capek atau kayak udah selesai aja gitu?”

“Lo akuin kalau lo tadi bilang semua cowok? Atau beberapa cowok?”

Dia benar.

Aku memang tidak bisa bilang semua cowok, karena pasti ada satu-dua laki-laki yang mungkin tidak begitu. Gyan sedang mencoba meyakinkan bahwa dia adalah satu dari orang pengecualian itu. Tapi, di sini memang aku yang pengecut, aku yang tidak siap dengan apa pun risiko kami ke depannya. Aku takut kalau nekat mencoba hubungannya dengannya, lalu saat itu tidak berjalan baik, maka semuanya akan hancur. Ibu dan Tante Anita, Gyan, Alex, dan aku.

Aku tidak mau menambah kekacauan lain.

Jadi, kalau memang masih bisa dihindari, aku akan berusaha sekeras mungkin untuk membawa Gyan menjauh dari masalah itu.

“Lo mau mandi di sini, Gy? Pake baju Abang gue.”

Dia menatap pakaiannya sendiri, terlihat kebingungan. “Udah kayak gembel, ya? Gue pulang dulu aja—”

“Nggak pa-pa mandi di sini, gue pinjemin baju Abang gue. Cuma dalem—” Aku tidak jadi melanjutkan.

Gyan terkekeh sambil menggelengkan kepalanya. “Daleman, ya? Masa nggak ganti, tapi lebih nggak mungkin pake punya Abang lo.”

“Mungkin dia punya yang baru sih.” Aku merasa aneh membahas ini tapi rasanya tidak masalah. “Gue coba—”

“Nggak usah, Ni. It’s okay. Nanti kering kok ini. Tapi lo malu makan di depan sama gue masih pake pakaian ini?”

“Enggak, please!” Aku mendelikkan mata. “Gue sama sekali nggak malu. Nggak ada yang salah sama muka dan pakaian lo. Gue cuma mikirin kenyamanan lo aja, lo keringetan dan mungkin risi gitu.”

“I’m good,” katanya sambil tertawa. “Gue ganteng nggak sih, Ra?”

Aku memutar bola mata, tawa Gyan makin lepas.

“Serius, hei!” Dia menuntutku dengan paksa. “Secara fisik, gue masuk kriteria lo nggak?”

“Ini nanti jebakan pasti nih.”

“Enggak, demi Allah.” Dia masih tertawa. “Gimana?”

“Gue yakin lo bukan tipe orang yang nggak sadar kalau lo ganteng, Gyan.”

“Oh thank you, Dhara.” Ya Tuhan, entah kenapa dengan diriku mendengar panggilan dan nada itu membuat perutku tiba-tiba melilit.

Aku mengedikkan bahu.

“Berarti yang nggak banget buat lo dari gue karena didikan bokap gue ini, ya.” Dia tidak terdengar bertanya, lebih tepatnya memberi tahu. “Kenapa gue harus jadi anaknya dia, ya. Kalau gue jadi anak siapa kek, lo pasti mau sama gue.”

“Gy, please?” Aku yang sekarang terbahak. “Kalau lo bukan anaknya bokap lo, kita nggak kriminal dan dia sangat layak mendapatkan cinta yang setimpal. Aku pasti akan membenci diriku sendiri setelah ini, karena sudah lancang dan kehilangan kewarasan dengan mencondongkan kepalaku, lalu mencium bibirnya.

Nini, kamu memang penjahatnya di sini.

Memang kamu yang terus-menerus menyakiti Gyan.

Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!