Bab 21

“I need five minutes, Gy. Please. Cuma five minutes.”

Take your time. Kita nggak akan digeruduk dengan diem di basement lima menit.” Kalimatnya seketika membuatku menoleh, Gyan tersenyum lebar. “By the way, gue booking satu room, jaga-jaga kalau nanti butuh waktu panjang. Maksudnya, buat gue, kalau lo kan bisa sekamar sama Abang nggak masalah.”

Dia paling bisa menghibur dengan kalimat satu dan lainnya yang nggak nyambung itu. Tapi lelaki ini keras kepala dan tidak mau mengaku kalau dia memang sering nggak nyambung dalam menghubungkan beberapa variabel. Anehnya, ketidaknyambungannya itu tidak menggangguku—entah sejak awal atau baru-baru ini, aku tidak tahu—sama sekali. Malah cukup menghibur.

Jadi, rasanya, aku juga berhak membalasnya meski tak seberapa, mengiyakan ajakannya untuk ke kebun binatang bersama Alex.

Nanti.

Tidak tahu tadi dia bilang kapan tepatnya, tiba-tiba aku lupa.

Aku tahu kenapa bisa lupa, karena sekarang aku sedang panik. Rasa-rasanya aliran darahku pun mengalirnya sudah dengan kecepatan tidak wajar. Aku mau banget ketemu Abang, tapi tetap merasa tidak siap menghadapi masalah. Masalah lagi, masalah terus, aku lelah. Tapi siapa yang akan membantu keluargaku kalau bukan aku. Jika aku yang dalam masalah, aku yakin Abang juga akan melakukan hal yang sama. Bahkan mungkin lebih berdarah dari yang aku lakukan sekarang ini.

“Okay, cukup.” Aku melepas sabuk pengaman, menatap Gyan dan memberinya senyuman terbaik. “Yuk, Yan.”

“Yakin?”

Aku tergelak. “Jangan malah digituin dong, ini udah semangat jadi melempem lagi nih, Bro.”

Ia juga tertawa. “Sori, sori. Maksud gue tadi kalau lo masih butuh waktu, it’s okay, gue tungguin. Jangan buru-buru.”

“Udah kok. Gue kabari Abang dulu buat jemput di lobby, ya.”

Gyan mengangguk. “Nanti gue tunggu di kamar gue, kalau ada apa-apa lo langsung hubungi aja, ya? Gue mau mandi.”

“Okay. Mau gue pinjemin baju ganti Abang nanti?”

“Nggak usahlah,” katanya cepat, sambil keluar dari mobil. Dia mengitari mobil ke arah pintuku, dan aku sudah berada di luar juga. “Bisa pake kaos dalaman yang gue pake, atau nanti keluar bentar cari baju ganti.”

“Okay.”

Kami berjalan ke lobby sambil aku sesekali melihat layar handphone untuk memastikan balasan Abang. Belum sempat kami duduk di kursi tunggu lobby, Abang sudah sampai dan menghampiri kami. Dia langsung memelukku erat dan singkat, kemudian berjabatan tangan dengan Gyan.

“Ikut aja, Gy,” ajaknya saat aku bilang bahwa Gyan pesan satu room.

“Nggak pa-pa, Bang. Kalian butuh space buat ngobrol, nanti kabari gue kalau udah selesai, ya. Atau mau nginep juga nanti kabarin aja.”

Thanks, ya.” Abang menepuk pundak Gyan, memberi senyuman tipis. “Udah jagain Nini dan nyokap gue.”

Gyan tak menjawab apa-apa, hanya balik tersenyum dan menganggukkan kepala.

Aku berpamitan dan mengikuti Abang untuk ke kamarnya. Tepat setelah keluar dari lift di lantai kamar Abang, satu pesan dari Gyan muncul.

Selalu inget apa yang lo bilang, kalau kita sebagai manusia punya batesan, Rha. Jadi jangan selalu mikir semua bisa lo handle, kadang hal-hal bisa ancur, dan nggak pa-pa. Nanti kita benerin bareng-bareng. Good luck!

Aku tersenyum membacanya.

Tiba-tiba kepikiran kenapa Mega bisa lebih memilih papanya Gyan dibanding Gyan yang sebegini baiknya? Apakah papanya Gyan luar biasa memperlakukan Mega dan tobat dari keburukan-keburukan yang diceritakan Gyan? Atau karena harta? Tapi, logikanya, kalau karena harta, bukankah Gyan juga punya? Ah, mungkin tetap saja tidak sebanyak pusatnya, alias papanya Gyan.

Aku menggelengkan kepala.

Berhenti dulu memikirkan tentang Gyan dan dunia rumitnya, karena sekarang, duniaku nggak jauh berbeda. Aku terdiam seketika, saat sudah melangkah memasuki kamar Abang. Tidak ada yang aneh atau mengejutkan, hanya … rasanya aneh. Seperti menatap kerusakan. Seolah-olah, kamar ini menjadi saksi bisu kalau keluargaku sedang tidak baik-baik saja. Seharusnya Abang tinggal di kamarnya di rumah indah kami, bukan di ruangan asing yang sudah ditempati ratusan atau mungkin ribuan orang silih berganti. Seharusnya Abang makan di meja dapur kami, bukan meletakkan makanan asal di meja hotel itu, seharusnya pakaian Abang ada di lemari kamarnya, bukan di lemari kamar hotel ini.

“Mau mandi atau makan, Ni?”

Aku menggelengkan kepala. Berjalan pelan ke kasur dan duduk di pinggirnya. Kedua tanganku menekan kasur setelah aku meletakkan handphone-ku di sebelah tubuhku. Aku menatap sekali lagi ruangan ini, dan nyeri di hatiku tidak berkurang. Bagaimana caranya memperbaiki semuanya dalam sekali tindakan? Atau … bagaimana caranya mencegah semua ini terjadi dan mengulang ke momen sebelum ini? Siapa yang sudi memberi kami kesempatan kedua agar tidak mengalami ini?

Aku melihat Abang duduk di sebelahku, menatap ke depan sana. Tidak menatapku, sementara aku memperhatikannya. Fisiknya mungkin baik-baik saja, tapi aku tahu ekspresinya penuh dengan kebingungan. Aku mengulurkan tangan, mengelus sisi kepalanya dan bilang, “Abang udah makan?”

Kepalanya langsung menoleh, lalu dia mengangguk.

“Kapan terakhir Abang bisa tidur?”

Dia malah tertawa pelan. “Kayak zombie ya muka Abang?”

Aku mengangguk.

“Ni,” panggilnya lirih. “Kira-kira Ibu sampe kapan ya mau maafin Abang?”

Aku terdiam, karena tidak tahu jawabannya. “Bahkan Ibu pun mungkin nggak tahu jawabannya, Bang. Tapi menurutku sebagai anak kecil ini, permintaan maaf nggak selalu berhasil ketika diminta, apalagi dengan paksa. Tapi mungkin, bisa dikasih tanpa disadari.” Saat Abang menatapku kebingungan, di sanalah aku merasa saatnya aku ngomong panjang dan mungkin saja dia mau mendengarku. “Abang tau, kan, kalau awal itu aja Ibu nggak mau ngobrol sama aku? Aku tahu aku sama Abang beda masalah sekarang, yang disebelim mungkin Abang bukan aku, tapi maksudku, solusi yang pertama adalah dengan enggak kabur, Bang.”

Dia diam.

Artinya mau mendengarkanku lebih, kan?

“Aku tahu rasanya capek dan sakit, serumah atau nggak dianggap ada. Perasaan bersalah dan lain sebagainya. Tapi Ibu nggak akan tau usaha Abang buat memperbaiki ini kalau Abang nggak di rumah. Abang harus bertanggung jawab dengan liat Ibu bete atau dikacangin Ibu sehari, sebulan atau setahun. Karena emang Abang sadar Abang salah, kan?”

Kepalanya mengangguk.

“Jadi, itu bentuk tanggung jawab kita buat menebus. Ibu sayang Abang, Abang harus tahu itu. Jadi, selama apa pun waktu yang Ibu perlu buat nerima ini atau maafin Abang, Abang harus mau nunggu, jangan capek atau ngerasa nggak sanggup.”

“Abang …” Dia diam beberapa detik, baru mau melanjutkan kalimatnya setelah menggosok wajahnya dengan kedua tangan. Dia pasti frustrasi, aku mencoba paham dan rasanya malah ikut hancur. “Abang bingung harus minta maaf dari kesalahan yang mana dulu, Ni.” Kalimatnya itu bikin aku jadi ikut bingung, ada berapa kesalah— “Dari yang gagal sebagai anak dan Abang, atau gagal sebagai laki-laki, atau gagal sebagai ayah.”

“Bang?”

Kali ini, dia menatapku dengan mata berkaca-kaca. Kemudian dia mengacak rambutnya, terlihat sangat kebingungan. “Kak Mel udah mau hubungin Abang.” Oh syukurlah, akhirnya— “Dia bilang dia nggak mau bangun rumah tangga tanpa restu orang tua kami. Jadi dia mutusin mau ….”

“Mau?”

“Aborsi.”

Aku refleks menutup mulutku sendiri, berusaha menenangkan diri yang aku tahu jadi makin tidak keruan. Aku harus tenang sebelum berusaha menenangkan Abang. Aku harus sehat dan waras, sebelum mau membantu Abang untuk bisa tetap sehat dan waras. Karena dua orang tidak waras tidak bisa saling mengobati, kan? Setelah yakin, aku bergerak maju dan memeluk tubuhnya erat. Laki-laki ini adalah lelaki kedua yang paling kusayang setelah Ayah. aku tahu tanggung jawabnya sangat besar setelah kepergian Ayah.

Aku tidak bermaksud membenarkan tindakannya dengan Kak Mel yang hamil di luar pernikahan, tetapi aku mencoba memahami perasaannya sekarang ini. Yang sedang merasa bersalah, yang kebingungan, yang terluka, dan semuanya menjadi satu.

“Kalau anakku hilang, Mel hilang, dan Ibu juga nggak mau maafin Abang. Menurutmu Abang—”

“Hei.” Aku tidak mau mendengar kalimat selanjutnya yang terdengar akan sangat mengerikan untukku. “Kita semua lagi bingung, Abang dan Kak Mel pasti lagi hancur dan bingung. Jadi coba pahami posisi Kak Mel. Dia baik, Bang, karena mau nikah atas restu semuanya. Mungkin dia nggak nemu cara lain, selain kepikiran buat ab—aborsi.” Mengatakan kata itu pun rasanya berat sekali. “Usahanya buat deketin Ibu, minta restu Ibu, Abang inget semua, kan?”

Kepalanya mengangguk-angguk.

“Dia butuh support lebih banyak, butuh diyakinin sebanyak mungkin kalau Abang nggak ke mana-mana, Abang mau bareng-bareng sama dia buat yakinin Ibu. Aku yakin kalian bisa, lho. Aku mau bantu.”

“Gimana?”

“Mmmm, kita bagi tugas?”

Abang tertawa pelan, aku ikut tertawa. Mencoba menghibur satu sama lain.

“Urusan Ibu biar jadi urusanku. Aku berhasil bikin Ibu ketawa lagi, lho, Bang.” Meski itu mungkin lebih banyak atas perannya Gyan. “Jadi, aku percaya, lama-lama aku bisa bikin Ibu paham posisi kalian. Mungkin cuma butuh waktu. Tugas Abang, yakinin Kak Mel kalau ini akan selesai dan bisa diatasi. Abang beneran fokus sama Kak Mel dulu. Abang bisa?”

“Tapi itu artinya Abang nggak berusaha buat minta maaf ke Ibu, Ni.”

No no no. Bukan gitu artinya. Ini namanya strategi penyelesaian masalah. Itu pentingnya punya support system, pentingnya punya tim atau keluarga. Manusia itu terbatas kemampuannya, Abang, jadi fokus satu-satu itu nggak salah. Aku mau bantuin Abang, mau banget.”

Dia menatapku, lama. “Kamu udah dewasa banget, Ni.”

Aku tersenyum lebar, mengedikkan bahu. “Gyan yang ngajarin,” ucapku lirih. “Nyangka nggak sih, Bang, justru orang yang kupikir hidupnya paling berantakan malah ngajarin aku buat menatap kehidupanku yang sekarang berantakan.”

“Kalian pantes dapetin satu sama lain.”

Aku meringis.

Karena mengingat kembali betapa jahatnya aku pada Gyan sekarang ini dan entah sampai kapan.

“Menurutmu, Abang pulang?”

Aku mengangguk. “Jalani kayak biasa. Tetep sapa Ibu meski dicuekin, tapi jangan lupa soal Kak Mel, Abang pasti tahu harus ngapain.”

“Sejujurnya nggak tahu.” Tawanya miris. “Tapi pasti tahu. Semalem Papanya telepon dan minta Abang ke rumahnya. Karena Kak Mel juga, kan, lagi nggak di rumah dia.” Ya Tuhan … semoga Engkau melindungi Kak Mel dan kandungannya. “Tapi rasanya belum siap, Abang emang pengecut, ya Ni?”

“Dikit.”

Kami sama-sama tertawa.

“Kamu mau nginep sini atau pulang?”

“Nggak tahu, ya.” Aku mengingat sesuatu dan entah keberanian dari mana, aku mengatakan itu di depan Abang dan berharap mampu menghiburnya. “Tapi tadi Gyan booking satu room sih.”

Seketika mata Abang melotot. “Ni? Kamu nggak berniat bikin Ibu jantungan, kan, liat dua anaknya—”

Aku tertawa. “Hamil dan menghamili?”

“Jangan macem-macem, jangan ikutin ketololan Abang.”

“Nggak akan,” jawabku yakin.

Abang tersenyum, mengelus kepalaku, kemudian pamit sebentar ke kamar mandi.

Lagian, Gyan kayaknya juga nggak ada cita-cita menghamiliku. Walaupun pandangan dia berubah tentang pernikahan dan dia jadi kembali ingin menikah, aku tidak yakin dia ingin menjadi seorang ayah, mengingat rasa takutnya kalau anaknya akan mengalami didikan sepertinya.

Padahal, aku yakin dia akan menjadi ayah yang ba—okay, aku tidak tahu dan bukan waktunya membayangkan skenario fiksi tersebut, kan?

Aku memutuskan mengirimi pesan Gyan.

Hei, Ganteng.

Masih sadar dan nungguin kabar hura-hara kehidupanku atau udah pingsan nih?

Dalam sedetik, pesanku sudah dibaca dan sekarang dia sedang mengetik balasan. Aku tersenyum sedih menatap room chat kami. Kenapa lelaki ini selalu kesulitan dalam percintaannya? Mega memilih papanya, sementara aku memilih menjadi penjahat yang memanfaatkan kebaikannya tapi tidak membalas perasaannya.

Balasannya muncul.

Sadar 100000%.

Gimana, Rha? Perlu gue ke sana atau?

Kalau gue nginep di situ, lo bisa dipercaya nggak? 🙂

Dengan gue nggak hamilin Mega, harusnya lo tau seberapa hebat kontrol diri gue, kan?

Lo bisa nggak kekontrol tapi Mega tetep ga hamil. Ykwim

Astaga.

Gue bisa nahan diri, sumpah. I won’t touch you without ur permission

Hahaha, okk

Okk apa, Rha? Tell me, lo baik-baik aja? Abang gimana?

We’re clear.

Abang mau pulang.

Thank God!

Butuh caffeine? Keluar yuk?

Apa dia beneran nggak penasaran rasanya disukai dan disayang seperti ini? Apa dia selalu mau menjadi yang memberi?

Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!