Bab 22
“Makan pecel lele kalau nggak pake nasi uduk, menurut gue sih sebuah kesia-siaan dalam hidup, ya.”
“Please ….” Aku terbahak. “Menurut gue, sebuah kesia-siaan itu, udah diciptain capek-capek tuh yang namanya kendaraan, ada motor-mobil-sepeda-pesawat-kapal, terus Mas Nadiem Makarim pusing-pusing bikin Gojek, terus ada lagi tuh Grab, ada lagi tuh suaminya Nikita Willy punya Blue Bird, dan kita tetep jalan kaki.”
Gantian dia yang tertawa kencang. “Tergantung sama orangnya sih kalau gue.” Kepalanya menoleh. “Buat gue ini bukan kesia-siaan, tapi manfaatin momen buat jalan sama lo. Buat lo ini sia-sia, karena kalau bisa lo jaga jarak sama gue, kan?”
Aku masih bisa melihat matanya mengedip dari cahaya-cahaya lampu jalan, gedung, dan kendaraan atau apa pun objek yang menyala di sekitaran sini. Tak terima dengan kalimatnya, aku mendorong tubuhnya sampai dia oleng, masih sibuk dengan tawanya.
Aku sendiri tidak tahu apa sebutan yang cocok untuk laki-laki aneh bernama Gyan Janadarna Kurniawan ini. Mungkin dia sudah pusing dengan keluarganya, pusing dengan kafe yang aku yakin tidak mungkin tidak ada kendala meski skala kecil, belum lagi dengan pekerjaan utamanya, lalu sekarang harus terlibat dalam drama rumah tangga perempuan yang dia suka, berusaha membantu menyelesaikan masalah Abang-Ibu, berusaha menghiburku dengan tadi katanya harus jalan kaki.
Yep, dia memberiku keyakinan berupa artikel kesehatan yang mengatakan manfaat dari jalan kaki untuk mengurangi tingkat stres. Akhirnya aku menyetujuinya, kami berencana akan membeli kopi di kedai kopi paling dekat, tapi Gyan berubah pikiran. Langkah kaki kami harus lebih lama dari itu, maka idenya muncul untuk jalan-jalan tidak jelas. Setelah membeli kopi, sekarang kami jalan lagi sambil masing-masing memegang cup, hendak mencari pecel lele di pinggir jalan. Tadinya aku tidak terima, dari mana jalan kaki bisa bermanfaat bagi kesehatan, kalau ujungnya malah kami minum kopi plus makan pecel lele. Bayangkan lele digoreng dalam minyak yang nggak tahu sudah berapa kali pakai, kemudian nasi uduk seperti idenya tadi memiliki berapa kalori.
Tapi aku tahu, ini bukan semata tentang kesehatan fisik seperti katanya.
Gyan membantuku melewati banyak hal dan aku bersyukur kalau dia merasa terbayar meski hanya dengan menghabiskan waktu bersamaku. Sisanya, aku sungguh tidak tahu dan aku juga sedang berusaha untuk tidak melabeli diriku sebagai orang jahat karena memanfaatkan rasa suka dan kebaikan Gyan.
Langkah kakiku terhenti, saat aku merasa Gyan menarik tubuhku pelan, menggeser posisi kami. Dia tidak mengatakan apa-apa, menyesap minumannya setelah posisinya menjadi di sebelah kiri, dekat dengan jalanan. Senyumku tak bisa kucegah, aku menyenggol tubuhnya dan meledeknya. “Cieee, si paling act of service.”
Dia tergelak. “Lo percaya sama love language kayak gitu, Ni?”
“Ng…. nggak tahu, yaaa. Percaya-percaya aja, sih. Emang lo nggak?”
Dia menggeleng.
“Apa sih yang lo percaya selain doktrin dari bokap lo yang jahat itu?”
“Oh that hurts!” Aku dan dia sama-sama tertawa. “Maksud gue tuh, lo kalau suka sama orang, cinta mati sama orang, apa nggak semua love language itu diembat, ya?”
“Begini, Bapak Gyan ….”
“Gimana gimana coba, Ibu Dhara?”
Aku tertawa geli. “Menurut gue, tes semacam itu bisa dianggap sebagai hiburan, tapi sekaligus jadi ajang buat kita berusaha lebih ngenal diri sendiri nggak sih? Coba deh, seberapa banyak orang yang paham diri sendiri? Mengerti diri sendiri? Banyak lho yang ditanya hal apa yang bikin dia happy, dia bingung. Tapi kalau ditanya, apa kesukaan pacar lo, apa kesukaan mama lo, orang bisa cepet jawab. Nah, love language ini, menurut gue jadi satu hal bagus, mereka bisa kasih pertanyaan mereka sendiri, walaupun ini konteksnya cuma di sekitaran perasaan.” Aku melihat Gyan senyam-senyum. “Kenapa lo?”
Kepalanya menggeleng. “Lo pernah nggak ngerasain, semakin banyak waktu yang lo abisin sama seseorang, justru lo semakin antusias buat besok lagi ketemu, besok lagi bareng dan ngobrol, dan … nih orang menarik banget.”
“Mulai deh.”
Gyan terbahak-bahak, dia sampai berhenti melangkah, dan membungkuk dengan berusaha menyelamatkan cup minumannya. “Namanya juga usaha, Rha. Nih ada kesempatan dikit aja, gue kalau bisa nyelip, gue nyelip nih.”
Aku memutar bola mata, tapi ujungnya tertawa sambil meninju lengannya.
“Lo pasti pernah liat, kan, di jalan ada truk segede apaan tau, terus ada motor yang padahal udah kejepit tuh, tapi modal nekat dia tetep nyempil.”
“Masih untung selamet.”
“Nah itu, gue berusaha manfaatin ‘masih untung selamet’.”
“Edan dasar.”
Kami kembali melangkah lagi.
“Ini masih jauh nggak, sih, Gyyyyy?”
“Dikit lagi tuh depan.”
“Dari tadi dikit lagi terus. Coba liat dulu di maps-nya, Yan.”
“Beneran, sabar. Kenapa? Haus ya? Mau lagi kopinya? Nih punya gue.”
“Bukan aus keles, tapi nih betis gue mau putus.”
Dai terkekeh. “Mau Abang gendong?”
“Geliiiiiii, edan lo yaaaaa!”
Gyan tertawa kencang lagi.
Mungkin di mata orang-orang sekitar yang melihat, kami adalah dua manusia gemblung yang sudah stres karena kehidupan atau pekerjaan. Mereka tidak salah kalau berpikir demikian, karena memang benar nyatanya. Aku dengan kehidupanku yang sekarang, Gyan dengan dunianya juga yang menurutku jauh dari kata adem-ayem. Ditambah sejak dia mengenalku. Kasihan juga kalau dipikir-pikir.
“Yaudah biar nggak kerasa capeknya—” Dia tertawa pelan setelah aku meresponsnya dengan dengusan kencang. “—kita ngobrol soal love language tadi. Lo nyelimurin gue padahal itu menarik banget. I wanna know more. Lo pernah test juga dong pastinya?”
Aku tertawa malu. “Yep. Mau tau ya apa love language gue?”
“Yes, please….”
“Nggak mau. Nanti lo manfaatin itu buat ngerayu gue, kan? Nggak cukup soal kebaikan lo ke gue dan Ibu, lo mau pake jalur love language, Gy?”
“Dhara, Dhara.” Gyan masih sibuk dengan tawanya sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ia merogoh saku celana, melihat layar handphone dan aku refleks membuang pandangan karena takut tak sengaja melihat aktivitasnya. “Belok kanan, Ra.” Oh, dia beneran melihat maps.
“Okay.”
“Ayo dong kasih tahu gue apa love language lo. Gue penasaran love language cewek yang punya fav person seabad padahal udah nggak pernah ketemu.”
“Makasih, lho, Gy.”
Dia tergelak. “My pleasure. Tell me, please?”
“Yang pertama, udah pasti words of affirmation. Oh ini beda ya sama kalimat rayuan atau bullshit, gue bisa bedain.” Aku ikutan Gyan tertawa geli sendiri karena sebegitu defensifnya. “Maksudnya, gue suka diakui dan diapresiasi perasaan gue, cerita gue, apa yang gue lupain atau lakuin. Gue suka cowok yang bisa nyusun kata-kata baik dan menenangkan. Cowok yang mampu komunikasi itu keren.”
“Okay.”
“Yang kedua, act of service.” Aku memutar bola mata. “Iya, iyaa, tindakan lo tadi termasuk bikin gue happy.”
Gyan mengangkat tinggi tangannya, untung minumannya tidak tumpah. “Gue nggak bilang, yaaa. Gue mingkem lho.”
“Menurut gue sih, act of service bukan semata soal tindakan, yaaa. Tapi misal jarak memisahkan, kan susah tuh mau act of service-nya gimana, tadi dia mau nyediain waktu buat pasangannya. Nggak bikin gue ngerasa kayak berjuang sendiri. Eh tapi itu juga tindakan nggak sih?”
“Bisa jadi.”
“Terus yang ketiga—”
“Banyak, ya?”
“Mau lanjut nggak nih?”
“Iya, Bu Bos. Jangan marah-marah, nanti manfaat jalan kakinya ilang.”
Aku tak mampu menahan tawa. “Physical touch.” Aku tahu matanya seketika melirikku, tapi kepalanya hanya mengangguk-angguk, dia tak mengatakan apa pun. “Gue suka peluk orang yang gue sayang, gue suka banget kayak ngeyakinin diri sendiri kalau dia nyata, jadi cukup cuma pegang kulit dia gitu, yang penting kayak … oh dia ada. Sisanya … ya itu masalah dapur.”
Gyan tertawa.
“Nah giliran lo.”
“Gue nggak pernah tes gitu-gituan.”
“Gue aja yang tanya dikit-dikit.”
“Okay.”
“Lo paling ngerasa dicintai kalau pasangan lo ngelakuin apa? Dikasih kalimat positif sayang-sayang, dikasih hadiah, dipeluk-cium, dibikinin bekel, atau diajak nemenin dia nonton series bareng atau ngobrol random?”
“All of them.”
“Gyan!”
“Serius! Maksudnya gimana sih?” Dia tertawa. “Gue tuh pertama, yang penting gue suka orangnya, setelahnya, dia mau ngapain aja ke gue, gue suka, Ra. Kecuali nyakitin, ya.”
“Ya iya sih. Maksudnya yang paling, lho, Gy.”
“Suka semua.”
“Yang bikin lo bisa suka sama dia misal? Apa?”
“Nah ini beda-beda, nggak ada pakemnya. Kadang juga sukanya nggak sadar, kayak gue ke elo, kan nggak diniatin dari awal.”
“Oh My God!” geramku pusing, dia malah terkekeh di sebelahku.
“Sampe, Ra!” serunya, sangat antusias. Dia berjalan lebih dulu, melihat ke sana-sini, kemudian memanggilku. “Sini, sebelah sini.”
Akhirnya, kami bisa duduk lesehan, aku meluruskan kaki di bawah meja, menyentuh kaki Gyan dan belum sempat aku meminta maaf dan izin, kepalanya sudah mengangguk. Lalu dia memanggil mas-mas penjualnya. Maksudku, penjualnya ada beberapa orang, karyawan mungkin lebih tepatnya.
“Lo mau apa?” tanya Gyan sambil melihat-lihat menu.
“Pecel lele dong!” jawabku yakin.
Dia tersenyum lebar. “Minumannya?”
“Es jeruk plus air mineral.”
“Okay. Nasi uduk?”
“Putih.”
“Nasi uduk juga putih, Ni.”
Aku menatapnya tajam, dia pura-pura menatap menu. “Nasi putih yang biasa please?”
“Okay.” Gyan mengangkat pandangannya dan menatap si mas penjual. “Pecel lele dua. Yang satu pake nasi uduk, satunya nasi putih, ya Mas. Es jeruknya satu, air mineral dua.”
“Baik, Mas.”
“Sama minta sendok dan garpu ada nggak Mas?”
Seketika aku melotot.
“Ada, Mas.”
“Okay itu aja, makasih ya.”
Setelah masnya kembali ke areanya, aku menatap Gyan tak percaya. “Serius, Gy? Sekte mana makan pecel lele pake sendok?”
Dia tertawa pelan. “Sekte Gyan,” jawabnya asal.
“Aneh banget. Jangan bilang lo makan nasi padang pake sendok juga?”
“Emang lo nggak? Kalau pas di kantor, terus tangan lo tetep bau sayurnya gimana?”
Aku menganga. “Beneran unik lo dengan semua doktrin bokap lo, tapi sebenernya lo bisa bertolak belakang kayak gini.”
“Good or bad tuh?”
Aku tertawa. “Iya, iyaaa, good deh.”
“Oh, Ra.” Panggilannya membuatku kembali menatapnya. “Kalau gue suka banget ketika cewek mau coba-coba ikutan sekte gue makan pecel lele pake sendok, itu termasuk love language gue yang mana?”
“Bodo amat!”
Tawanya lepas.
Kasih tip buat penulis
