Bab 14
“Kak Mel hamil, Ni.”
“Kami nggak bisa nunggu lebih lama lagi, semuanya pasti akan ketauan. Sekarang atau nanti, Ibu tetep akan marah. Tapi seenggaknya, kalau masih awal, bisa cari solusi bareng.”
“Tolong bantu Abang, Ni.”
Kalimat-kalimat Abang, lengkap dengan ekspresi kacaunya—terlihat sangat putus asa, sedih, bingung, dan campur lainnya— itu terus terngiang di kepalaku, terasa sangat dekat dengan telingaku, seolah Abang sedang berbisik. Aku pun tak bisa tidur semalaman, karena terus menangis memikirkan kehidupanku ini. Aku tidak pernah suka komplain hidupku yang sudah diberi Tuhan. Bahkan saat kepergian ayah, aku mati-matian berusaha agar bisa menerimanya dan supaya bisa sampai di tahap, bahwa memang hidup berjalan sebagaimana mestinya. Kita mungkin boleh sujud meminta selama mungkin, tetapi batas kita tak bisa digeser sama sekali.
Tuhan yang andil lebih banyak daripada keinginan kita.
Tapi aku juga tidak bohong, sejak kepergian ayah, aku merasa hidup menjadi lebih berat. Rasa bahagiaku mungkin nyata, bersama Ibu, Abang, dan kehidupan sosialku di luar, tetapi tetap saja, rasanya berat. Menjadi satu-satunya penyebab kerusakan keluargaku sendiri. Seandainya aku tidak sibuk menggalau untuk satu orang yang bahkan kehadirannya entah di mana, mungkin aku tidak akan membuat Ibu sedih sampai harus memberi syarat konyol untuk abang. Seandainya aku mudah menerima laki-laki, mungkin sekarang keadaannya akan berubah.
Mungkin kami sedang merayakan pernikahan Abang dan Kak Mel yang suci dan meriah. Meski ada duka karena absensi ayah, tetapi aku yakin akan jauh lebih khidmat dan bahagia ketimbang kondisi sekarang.
Pertanyaannya, kalau aku saja sekacau ini, sibuk menyalahkan diri sendiri, bagaimana dengan Ibu ketika dia nanti mengetahui semuanya?
Aku paham Ibu.
Dia hanya berusaha kuat karena dialah orang tua kami satu-satunya. Dia selalu berusaha seolah menjadi pelindung padahal mungkin dia sebenarnya yang butuh kami lindungi. Dia berusaha menghibur, padahal sebenarnya dia lah yang paling butuh dihibur. Aku sudah bisa membayangkan perasaannya, berkaca dari momen dukanya atas kepergian ayah. Ditambah ini adalah … kesalahan? Apa aku berhak menyebut apa yang dialami Abang adalah kesalahan Abang? Aku takut Ibu akan sibuk menyalahkan dirinya sendiri karena melarang Abang menikah sebelum nikah, memberi Abang tanggung jawab yang besar untuk menjagaku, atau apa pun. Aku tahu bagaimana sakitnya perasaan bersalah, jadi aku tak mau membayangkan Ibu merasakan itu.
Yah, walaupun sepertinya memang akan.
Tapi setidaknya, aku mau ada di sisi Ibu, menemaninya selama proses kecewanya. Jadi, selain menangis semalaman dan sibuk menyalahkan diri sendiri, pagi ini aku sudah memutuskan keputusan yang besar. Untuk levelku, keputusan ini adalah besar dan kali pertama tanpa diskusi dengan Ibu. Tapi setidaknya aku sudah bilang dengan Abang tentang rencanaku. Meski di awal dia menolak, tetapi akhirnya mengiyakan dengan segala permintaan maafnya.
Aku akan resign dari cafe Gyan, aku akan menemani Ibu di saat nanti Abang dan Kak Mel jujur. Aku akan ada di samping Ibu … setelahnya. Aku akan … Ya Tuhan, belum apa-apa rasanya dadaku sudah sesak sekali dan air mataku sangat sulit untuk kutahan. Perjalanan kerjaku kali ini rasanya begitu berat dan aku tahu mungkin Gyan juga sedang bertanya-tanya, hal apa yang akan aku sampaikan padanya. Pulang kerja, bukannya relax, dia malah akan menerima kabar konyol dariku.
Aku mengembuskan napas kencang begitu sampai di parkiran. Berusaha menenangkan diri sebelum turun menemui Gyan. Aku memang nggak bisa menjamin keputusanku ini benar atau yang terbaik untuk kami semua. Tapi, hanya ini yang bisa kulakukan dan kukira benar. Aku menyapa anak-anak dana menjawab ada keperluan saat mereka tanya kenapa aku di sini padahal di grup WhatsApp, aku bilang aku izin.
Tatapan Gyan adalah pemandangan pertama yang kutemui saat berhasil membuka pintu ruangannya. Dia tak seceria Gyan biasanya. Tapi ini bukan hal baru hari ini, sejak perdebatan kami, mukanya sudah sedih.
“Hai,” sapaku, berusaha sopan dan seramah mungkin.
“Hai.” Dia menjawab lirih, aku tahu matanya melirik amplop di tangan kananku. “Duduk, Rha.”
“Thanks.” Aku menelan ludah, menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya berani mengangkat amplopku, dan meletakkannya di atas meja, di depanku. “Makasih, ya, Gy, udah nyempetin dateng ke sini.” Aku tahu, itu basa-basi yang kumampu. Dia juga tahu ini hanya basa-basi yang memang basi banget, mungkin itu kenapa dia tidak bereaksi. “Gue … mau resign, dan gue nggak bisa nunggu satu bulan. Gue tau ini melanggar rules, gue siap sama konsekuensi denda atau semacamnya. Gue—”
“Perasaan gue ke elo itu haram banget ya, Rha?”
Aku terdiam sesaat. Tak pernah menyangka pertanyaan itu akan keluar dari mulutnya. Apa … aku benar-benar menyakitinya? Apa penolakanku terlalu jahat untuknya waktu itu?
“Gue tau gue rusak, keluarga gue jelek, guenya juga red flag banget, tapi gue nggak sejahat itu, Rha,” lirihnya, terdengar sangat terluka. Aku sepertinya benar-benar menyakitinya. “Gue suka sama lo, elonya enggak, yaudah nggak apa-apa, gue nggak akan ganggu pekerjaan lo di sini. Gue juga nggak terlalu terlibat kok, ada orang yang urus, kan? Jadi, lo nggak perlu korbanin apa-apa, sebenernya.”
Ya Tuhan …
Dia salah paham.
“Gyan, ini bukan tentang kita.” Melihatnya sesedih itu, aku jadi semakin merasa bersalah dan kasihan. “Tapi ini tentang keluarga gue.”
“Kenapa? Ibu yang suruh lo resign? Ibu udah tahu? Elo dimarahin sama—”
“Enggak, enggak. Bukan.” Aku menggeleng tegas. Apa mungkin aku harus jujur padanya tentang Abang? Supaya dia tidak menyalahkan dirinya sendiri? Dengan begitu, setidaknya aku bisa menyelamatkan satu orang dari perasaan bersalah, karena aku nggak bisa menyelamatkan semua orang, termasuk diriku sendiri. “Tentang gue dan Abang.”
Dia terdiam.
“Kak Mel hamil.”
“Rha …”
Aku mengangguk. “It’s okay.” Aku buru-buru mengelap air mata. Jangan banjir di sini. Jangan membuat Gyan merasa kasihan padamu, Ni. Jangan. “Lo tau, kan, kalau Ibu punya syarat konyol buat Abang dan Kak Mel?” Aku tertawa, berusaha menghibur diri. “Mereka belum boleh nikah, sebelum gue … ya minimal punya pacar. Ibu ngerasa kalau Abang udah nikah, fokusnya ya buat keluarga dia, Ibu belum siap dia dan gue cuma berdua. Dia selalu takut gue kenapa-napa. Mungkin karena dia liat gue gimana waktu ayah pergi.”
Gyan tak mengatakan apa-apa, tetapi aku tatapan itu, tatapan penuh empati dan berusaha menahan untuk tidak banyak berbicara. Lagi dan lagi, momen dukaku atas ayah itu, membuat aku bisa belajar banyak hal, tentang bagaimana orang-orang dalam menyampaikan simpati dan empatinya.
“Gue mau nemenin Ibu, Yan,” lirihku tercekat, rasanya sudah tak sanggup menahan diri untuk tidak menangis. “Dia pasti akan sibuk nyalahin dirinya sendiri nanti, gue nggak mau itu. Karena yang salah di sini, kan, sebenernya—”
“Hei!” Sekarang dia bangkit, berjalan mendekatiku, menarik kepalaku hingga bersandar di dadanya. “Lo bilang lo nggak mau Ibu nyalahin dirinya sendiri. Gue yakin Ibu pun sama. Dia pasti nggak mau lo sibuk nyalahin diri lo sendiri, Rha.”
“Tapi yang dia khawatirin gue. Kalau gue bisa nerima cowok dengan mudah, kalau gue nggak sibuk galauin satu orang nggak penting, mungkin Ibu udah rela Abang nikah.”
“Ibu dan Abang Dewa nggak akan nyesel kok lindungin lo. That’s life. Kita kadang salah fokus, sibuk galauin hal yang ternyata kurang penting. Tapi kan nggak pa-pa, hidup memang tempatnya belajar.”
“Lo pasti ngetawain gue ya, Gy? Atau ini gue kena karma? Karena abis gituin lo, eh langsung begini. Seolah-olah kayak … mampus deh lo, harusnya kalau lo mau dari awal sama Gyan, semuanya beres dan cepet. Nggak ada deh drama kayak gini.” Aku mendengar dia tertawa pelan. “Iya, kan?”
“Lucu, ya, pikiran manusia tuh. Bisa seberbeda itu di setiap kepala.”
Aku tak memahami kalimatnya, jadi aku menarik diri, dan mengangkat kepala untuk menatapnya. “Maksudnya?”
“Lo mikirnya gue ngetawain lo karena kena karma, azab atau apa itu. Padahal, yang ada di kepala gue adalah … apa gue bawa sial buat lo, ya, Rha? Segala hal yang gue deketin jadi ikutan chaos.”
Ya Tuhan ….
Aku menggeleng kuat. “Bukan. Bukan gitu pasti. Nggak ada orang bawa sial, Gyan. Semuanya memang udah seharusnya begini mungkin. Kayak apa yang lo bilang, hidupnya tempatnya belajar. Kita lakuin salah, belajar, memperbaiki lagi, kan?”
“Kalau gitu lo pun sama.” Sebelah tangannya mengelus pipiku. “Lo bukan penyebab kejadian ini. Memang udah begini kejadiannya. So, stop blaming yourself, okay?”
Aku tertawa pelan.
Mau bilang senjata makan tuan, tapi … entahlah.
Manusia memang beneran lucu. Paling jago kalau diminta untuk menasehati orang lain, tapi nggak bisa menasehati diri sendiri. Paling bisa menghibur orang lain, tapi sulit sekali menghibur diri sendiri. Paling bisa memuji orang lain, tapi paling susah untuk berusaha mencintai diri sendiri. Mudahnya malah justru melihat kekurangan dan keburukan diri sendiri.
Jadi, mendengar kalimat Gyan barusan membuatku sadar betapa aku tidak bisa adil untuk diriku. Tapi, dalam kondisi begini, bisakah aku masih sibuk menolong diriku sementara aku akan melihat Ibu tenggelam?
Aku pasti nggak bisa.
Aku menggelengkan kepala pelan, berusaha kembali fokus pada tujuan awalku ke sini. “Jadi gue mohon, izinin gue resign, ya, Gy?”
Dia masih diam, menatapku.
“Gue minta maaf, tapi tolong biarin gue nemenin Ibu.”
“Tapi lo juga mau ngizinin gue kah?”
“Izin apa?”
“Nemenin lo selama lo nemenin Ibu.”
Gyan …
Jangan buat aku semakin merasa menjadi manusia paling jahat, seolah aku tidak bisa bersyukur disukai oleh orang sebaik kamu. Jangan buat aku merasa sangat bersalah karena mengeluarkan kalimat dan mungkin intonasi yang kejam untukmu waktu itu. Lalu bukannya membenciku, sekarang kamu malah memelukku, dan meminta izin untuk menamaniku di masa sulit ini.
“Gy.”
“Hm?”
“Gue jahat banget ya sama lo?”
Kasih tip buat penulis
