Bab 15
Aku mungkin akan bilang kalau aku tidak mau lagi mengalami momen terburuk dalam hidup, setelah kepergian ayah. Aku tahu yang kumaksud kok, bukan masalah-masalah kecil yang terjadi pada keseharian hidup manusia, yang kita mungkin sebut sebagai bumbu kehidupan. Tapi yang aku maksud di sini adalah bencana sesungguhnya.
Aku tidak ingat seberapa banyak makanan yang berhasil masuk ke dalam tubuhku selama prosesku menerima kepergian ayah, yang pasti … saat itu, hidupku kacau, hancur berkeping, dan aku merasa meski setelahnya bisa mulai berdamai, tetapi kepingan itu tak menyatu dengan sempurna. Mungkin tidak akan pernah bisa, tak peduli sekuat apa pun lemnya. Aku memang melanjutkan hidupku, berusaha dengan sangat baik, karena aku masih punya ibu dan abang.
Tapi, sekarang, aku merasa aku kembali menjadi kepingan.
Aku tidak tahu bagaimana kepingan itu nantinya menyatu kembali. Seburuk apa hasilnya? Atau justru tidak pernah bisa lagi?
Duduk di sofa keluarga ini, rasanya seperti duduk di persidangan untuk menerima hukuman mati. Aku merasa hidupku berakhir di sini. Padahal, aku masih melihat senyum Ibu, senyum Kak Mel dan Abang sekali meski tipis banget—aku tahu mereka berusaha sangat keras. Tapi rasanya seperti ada banyak algojo yang siap mengeksekusiku detik ini juga.
“Kayaknya, bakalan ada gembira ini, ya?” Ibu memulai kalimatnya, menatap kami semua bergantian. Senyum itu akan bertahan berapa lama, Bu? Akan sesakit apa Ibu nanti? Bisa nggak nanti menerima semua ini dan ayo, hadapi bersama. “Tapi, Gyannya mana?”
Gyan?
Kenapa dia bertanya tentang Gyan?
Ya Tuhan …
Apa Ibu mengira kami akan mengabarkan tentang hubunganku dan Gyan yang berhasil, kemudian permintaan restu untuk Abang dan Kak Mel? Ini bukan tentang Nini dan Gyan, Bu … atau mungkin memang tentang kami karena kami penyebabnya? Lebih tepatnya aku. Lelaki baik itu tidak bersalah dalam hal ini, meski aku sempat bilang dia mengkhianatiku dalam perjanjian kami, tapi untuk ini dia tidak terlibat.
“Bu….” Bang Dewa yang mulai berbicara, sementara aku melihat Kak Mel seketika menundukkan kepalanya. Aku tidak berani membayangkan perasaannya. “Entah untuk keberapa kalinya, Abang mohon restu Ibu buat nikah sama Mel, Bu.”
“Abang, Mel, kalian tau, kan, Ibu tuh pasti restuin, kalau Nini udah ada.” Ibu seketika menatapku dan entah bagaimana rasanya seperti dikejutkan bukan main. Napasku langsung memburu, padahal Ibu belum ngomong apa-apa. “IIni Nini mau bahas soal hubungan kamu sama Nak Gyan, Ni?”
Jawaban apa yang selayaknya pantas kukeluarkan di kondisi sekarang?
Kalimat apa yang bisa menenangkan Ibu?
Membuat Ibu setidaknya tetap tersenyum begitu?
Menyelamatkan Abang dan Kak Mel?
Membuat kami semua tenang?
Kalimat apa, Ni?
“Bu ….” Aku menelan ludah, semakin gugup saat melihat Ibu menoleh ke kami bergantian. Dia pasti mulai bingung dan menyadari sikap kami aneh.
“Kamu sama Gyan udahan?” tembaknya, mematikan.
Karena itu benar.
Tapi yang yang paling mengerikan karena bukan cuma itu fakta yang akan Ibu dengar malam ini. Bukan itu informasi pentingnya, Ibu. Tapi ….
“Kenapa, Ni? Kenapa nggak dicoba dulu? Gyan kenapa? Dia mungkin beda sama Abang dan Ayah, tapi itu juga nggak sepenuhnya salah dia. Kita tau dia begitu karena didikan orangtuanya. Dia bisa beradaptasi, kamu udah liat sendiri gimana dia mau nerima waktu kita beli taneman, kan?”
Aku benar-benar kebingungan.
Mulutku rasanya kaku, terbuka, tertutup kembali, dan begitu terus-menerus.
Sama sekali tidak berfungsi dengan baik dan semestinya.
Aku merasa tidak berguna.
“Bukan tentang Nini, Bu.” No, no, no, Abaaang! Rasanya aku ingin mendekap mulut Abang, meski yang bisas aku lakukan cuma menatapnya sambil menggelengkan kepala pelan. Aku tahu kami akan bilang ini semua, tetapi entah kenapa rasanya belum siap. Kami memang tidak akan pernah siap. “Ini tentang Abang dan Mel.”
“Abang dan Mel kenapa?”
“Kami minta restu buat menikah, secepatnya, Bu.”
“Abang, Ibu—”
“Mel hamil, Bu. Maaf.” Setelah diam sekian lama, suara lembut Kak Mel akhirnya terdengar. Terdengar seperti akan menangis. Dia bahkan berbicara sambil terus menunduk, sampai sekarang.
Aku melirik Ibu, melihatnya membuka mulut, terlihat membuang napas, kemudian dia mengelus dadanya. Saat mata Ibu berkaca-kaca sambil menatapku, saat itulah aku juga tidak mampu menahan tangis.
Drama kami sepertinya belum cukup, karena sekarang Abang berdiri, menghampiri Ibu dan bersujud memeluk kaki Ibu. “A-bang minta maaf, Bu,” cicitnya sambil menangis. “Maaf karena gagal jadi anak dan Abang. Ma-af karena nggak bisa bertanggung jawab. Maaf, Bu. Maaf.”
“Kamu solat nggak, Bang?”
Kepala Abang mengangguk-angguk.
“Solatmu buat siapa?” Suara tenang itu, tatapan sendu dan dalam itu, aku pernah melihatnya. Dulu. Saat ayah pergi. Bedanya, sekarang ada tambahan kekecewaan di wajah Ibu dan aku sangat maklum.
“Bu …”
“Kalau kamu nggak takut sama Ibu, seenggaknya kamu takut sama Tuhanmu, Bang.” Tak ada jawaban apa pun. Kami bertiga terdiam. Tidak, aku melirik Kak Mel karena mendengar isakannya, masih tidak berani menatap ke depan. “Kamu nggak puasa kayak yang Ibu saranin? Kenapa nggak bisa sabar sebentar lagi, Bang? Kenapa nggak kasihan liat Nini dan Ibu? Kenapa nafsumu lebih penting daripada kami? Ibu nggak bilang kamu nggak boleh menikah, Ibu cuma pengen kamu sabar. Kamu laki-laki dewasa, bukan anak baru puber.” Hebatnya, semua kalimat Ibu diucapkan tanpa berteriak atau terbata-bata. Ia masih bisa tenang.
Sementara aku sekarang sudah menutup wajahku dengan kedua tangan. Aku tak sanggup lagi melihat keluargaku. Aku tidak mendengar jawaban Abang.
Tetapi suara Ibu lagi. “Mel, kamu mungkin nggak ngerasain gimana kehilangan sosok papa. Ibu paham, kamu pengen nikah sama Abang, tapi kamu pernah nggak selama ini bener-bener memahami kondisi keluarga Ibu, Mel?”
Aku menurunkan tangan untuk melihat mereka lagi.
Kak Mel bangun dari duduknya dan mengikuti Abang yang memeluk kaki Ibu di sisi lain. Tangisannya tersedu-sedu. “Mel minta maaf, Ibu.”
“Kalian berdua itu berpendidikan, hebat, kenapa bisa lakuin hal semerendahkan ini? Kamu peduli nggak sama keluarganya Abang, Mel?”
“I-bu, Mel peduli banget.”
“Tapi nyatanya? Liat Nini, coba pahami posisinya. Bayangin jadi dia, kalian sama-sama perempuan.” Ibu berdeham, kemudian kembali berbicara. “Waktu ngelakuin itu, kalian nggak tanya Ibu, jadi sekarang kalian bebas mau nagapain. Ibu lepas tangan tapi jangan mikir ada restu ikhlas dalam perjalanan itu.”
“Bu ….”
Ibu tetap berdiri, berjalan, melewatiku dan mengelus pundakku. Aku menyusulnya, memanggil namanya, tetapi tak berhasil membuatnya menghentikan langkah. Ia baru berhenti ketika sampai di depan kamarnya, menolehkan kepala dan menatapku. “Maafin Ibu ya, Ni?”
Aku menggeleng kuat. “Ibu nggak salah. Ibu—”
Kepalanya menggeleng. “Semua salah Ibu. Ibu nggak bisa jaga anak-anak Ibu supaya bisa bahagia dan di jalan yang bener, Ibu gagal jaga aman Ayah. Maafin Ibu karena nggak bisa jadi Ibu yang berguna.”
“Ibu! Enggak. Ibu yang terbaik, ini semua bukan salah Ibu. Kita hadapi ini bareng-bareng ya, Bu, ya?”
“Ibu pamit masuk duluan. Mau tidur.” Tetapi dia tidak jadi melangkah dan kembali menoleh, menatapku. “Ibu boleh minta waktu buat di kamar Ibu, Ni?”
Artinya dia akan sendirian, entah sampai kapan.
Aku ingin berteriak mengatakan tidak.
Aku mau ada di sampingnya selama apa pun yang dia butuhkan. Aku ingin dia bisa memegang tanganku, menyandarkan kepalanya di pundakku, memutuskan untuk memelukku, mengajakku bercerita tentang perasaannya. Tapi aku tahu tak semudah itu, aku tahu rasanya saat ingin kabur dari dunia dan hanya ingin mengurung diri, sesepi mungkin, dengan harapan bisa meresapi dan akhirnya berdamai.
Tapi yang aku takutkan adalah … aku tidak tahu bagaimana akhir yang akan menghampiri Ibu. Jadi, aku hanya melakukan satu-satunya yang aku bisa saat ini, yaitu mengatakan padanya, “Ibu punya Nini, selalu. Panggil Nini kalau butuh Nini, ya, Bu?”
Setelah memberiku anggukan kepala, Ibu masuk ke kamarnya.
Tepat ketika pintu itu tertutup dan suara kunci pintu terdengar, tubuhku rasanya sangat lemas. Aku terduduk di lantai, menangis—bukan, meraung lebih pantas menyebutnya. Meski kutenggelamkan wajah di paha, rasanya aku masih bisa mendengar suaraku dalam volume kencang.
Bukan hanya Ibu yang mungkin merasa gagal menjadi orang tua, gagal melindungi anak-anaknya. Aku pun merasa gagal, bukan hanya sebagai anak atau sebagai adik, tetapi sebagai manusia. Aku gagal mengontrol hati dan perasaanku sendiri. Sangat bodoh bahkan masih berkutat di satu laki-laki yang tak ada andil apa pun dalam hidup. Yang menyebabkan hidupku jalan di tempat, tak bisa menikmati kehidupan, tak bisa membuka kesempatan untuk laki-laki baik di luar sana, yang berujung aku menjadi penyebab kekacauan di rumah ini. Menjadi manusia paling menyedihkan sampai harus dikasihani dan dilindungi oleh Ibu dan Abang.
Aku bahkan tidak mampu melindungi diriku sen—sentuhan di kedua lenganku membuatku menoleh dan menemukan sosok laki-laki yang sekarang memelukku erat dari belakang. Tangisku makin kencang karena menyadari betapa gagalnya aku menjadi manusia untuk orang sekitarku. Menerima perasaan suka dari orang sebaik Gyan pun aku nggak bisa. Sibuk berkutat dengan prinsip yang sebenarnya aku juga bingung … mungkin aku yang bodoh. Mungkin aku yang terlalu sok paling modern, paling benar, paling adil untuk gender manusia. Atau sesimpel, aku terlalu judgemental, narcissistic, dan sebenarnya aku tidak paham apa pun.
Aku bukan siapa-siapa.
“Gy …”
“Hm?”
“Kalau sekarang gue nerima lo, kalau besok kita langsung nikah, apa gue bisa nyelamatin semuanya? Apa … ini bisa diulang sebentar?”
“Kita nggak bisa ngulang, Ni. Tapi kita bisa hadapi, gue temenin, ya?”
Aku menggeleng-gelengkan kepala, mengelap mataku dengan tangan. “Gue nggak mampu. Gue ngerasa nggak bisa kali ini, Gy. Gue nggak pernah bisa hadapi. Du-dulu, gue hadapi bareng Ibu. Sekarang gimana? I-bu, Gy, Ibu kasihan di dalem.”
“Hadapi bareng gue. Bareng Abang.” Kalimatnya terdengar menjanjikan, ya? Mungkin harusnya aku langsung mengangguk dan merasa tenang, tetapi justru aku semakin takut. Entah untuk apa. “Rha, elo nggak sendirian, Rha. Nggak akan pernah. Gue janji.”
Kasih tip buat penulis
