Bab 1
Terbiasa itu mengerikan.
Satu kalimat yang kutemukan saat sedang berselancar di TikTok beberapa waktu lalu.
Vanessa Lee.
Dia membahas tentang ‘sex before marriage’ dari sudut pandang yang berbeda. Bukan tentang soal kamu akan berdosa atau soal mempermalukan keluarga karena melanggar norma.
Tapi, dari sudut pandang personal kita sebagai manusia.
Analoginya bagus sekali, saat kita mencoba icip-icip rasa pedas, maka lama-lama kita akan selalu ingin mencoba lagi dengan level yang berbeda, berharap mendapat kenikmatan baru.
Begitu pun dengan seks. Saat kita terbiasa melakukan seks, kita tidak lagi memiliki ‘hubungan spesial’ dengan seks itu sendiri. Lama-lama tidak akan memandangnya sebagai sesuatu yang intim dan spesial.
Terakhir, rasa penyesalan yang seringkali menghantui. Bahkan, merusak pikiran kita.
Apa aku sedang menyesal sekarang?
Nope.
Aku tidak menyesal karena aku memang belum pernah melakukan seks seumur hidupku.
Karena bagian favoritku ada pada ‘terbiasa itu mengerikan’ …
… maka, bagiku, kalimat itu menjelaskan banyak hal di aspek kehidupan manusia.
Terbiasa hidup dengan seseorang juga mengerikan, karena saat dia pergi, kamu akan merasa tak lengkap.
Terbiasa diperlakukan bak puteri juga mengerikan, karena saat dia berubah sedikit saja, kamu akan merasa sangat hancur.
Ya, terbiasa mencintainya bertahun-tahun, dan dipaksa untuk berhenti … juga sama mengerikan.
Atau lebih buruknya, diminta untuk mencintai orang lain, menerima orang baru yang bahkan kamu sendiri tidak tahu bagaimana cara melakukannya.
Aku. Hanya. Mau. Angkasa.
Bagaimana kalau tidak mungkin?
Yasudah, biarkan rasa cintaku hilang dengan sendirinya. Biarkan aku sampai merasa lelah dan menyerah. Karena sejauh ini, aku sama sekali tidak keberatan untuk mencintainya seorang diri.
I volunteer.
Meskipun resikonya harus mendengar nasehat Abang dan Ibu tentang percintaan.
Pagi ini dimulai di meja makan, aku sudah kasih warning, okay?
So, bear with me.
“Udah diturunin belum kriteriamu?”
See?
The cringiest question I have heard, sialnya aku memang harus menghadapinya setiap hari. Solusinya cuma satu dan aku tahu apa itu. Aku diam bukannya tidak tahu, tetapi tidak mau.
Belum mau.
“Dikit lagi,” jawabku asal dengan ekspresi suka cita.
Aku sudah berdamai dengan pertanyaan dan muka kesal Abang, jadi tidak akan ada yang bisa merusak mood-ku lagi.
Terutama pagi ini.
“Kamu nggak lupa, kan, hari ini, Ni?” Ibu yang bertanya. Tentu saja dia mendapatkan senyuman lebar serta anggukkan semangat dariku. Ternyata itu juga bisa membuatnya tersenyum lebar.
“Lupa apa? Kok Abang nggak tahu?”
“Ada deh, urusan perempuan.”
Jelas bukan aku yang menjawab seberani itu. Karena kalimat itu keluar dari mulutku, Abang pasti sudah mengeluarkan tatapan kejamnya, dan aku yang cengeng ini sudah pasti akan takut dan menyerah.
“Ibu ….”
“Aku mau cari duit sekaligus suami, biar Abang bisa cepet nikah dan happily ever after. Gitu, kan, maunya?”
“Nggak bercanda, Ni,” lirihnya dengan wajah serius.
“Lho, serius. Makanya kayak Ibu dong. Nawarin, bukan maksa. Kasih solusi, bukan cuma nuntut. Abang tiap hari marah dan bete karena nggak bisa nikah-nikah, tapi nggak kasih solusi aku apa-apa.”
“Abang kasih, kamu yang nggak mau.”
“Itu bukan ngasih, tapi maksa!” seruku kesal. “Udah kayak jaman pembodohan dulu, mainnya langsung dinikahin.”
“Ya kamu berharap apa? Kenalan Abang ya seusia Abang, kalau dikenalin ke cewek ya pasti maunya langsung serius. Bukan kenalan sampe bertahun-tahun, dan tiap harinya jajan es krim rasa terbaru.”
Aku diam. Malas berdebat. Memilih kembali mengunyah sarapanku yang tiba-tiba rasanya berubah jadi anyep. Ini pasti kena uap emosi dari si Dewa di depanku ini.
“Makanya Abang suruh kamu cari sendiri.”
Dikira gampang apa cari sendiri.
“Tapi kamu malah nggak masuk akal, nyarinya artis. Tuh Refal Hady sombong banget, di-DM aja nggak dibales.”
Refleks, aku dan Ibu sama-sama tertawa.
Sementara Abang sama sekali tidak menganggap kalimatnya barusan sebuah lelucon. Padahal, lucu banget.
“Yang DM Refal Hady banyak, Bang.” Ibu menimpali. “Kamu DM dia cuma satu dari sekian, udah nggak usah. Buang-buang tenaga. Mending puasa, nahan nafsu, biar pikirannya nggak nikah mulu.”
Okay, berakhir.
Kalau sudah itu yang disinggung, aku tidak boleh lagi ikut-ikutan. Karena aku penyebabnya, jadi jangan sampai kalimatku malah membuat Abang murka dan menyemprotku abis-abisan.
Hatiku mungil, tidak siap untuk selalu dimarahi. Huft!
Abang tidak lagi menjawab apa pun, mungkin sudah lelah juga karena solusi dari Ibu hanya memintanya puasa untuk menahan nafsu. Kemudian aku tahu, dia sangat menyayangi Ibu dan pasti tidak tega untuk terus membantah atau ngomong dengan nada tinggi.
Makanya, dia diam.
Selesai makan, ia pamit kerja. “Ohya, Ibu hari ini mau ke mana?”
“Mau lanjutin tasnya Nini. Kenapa, Bang?”
“Nanti siang Mel mau ke sini katanya. Aman dong, nggak ada Abang?” Tidak ada senyum jail atau mengiba, sangat lurus. Entah maksud kalimatnya apa.
Yang tertawa kecil malah Ibu. “Emang Kakak Mel pernah bilang kalau dateng ke rumah ini dan Abang nggak ada terus dia nggak aman?”
Abang menggeleng.
“Jadi?”
“Okay then. Abang berangkat kerja dulu.” Tatapannya beralih ke aku, aku langsung merapatkan mulut, kemudian pura-pura mengaduk makanan di piring. Menghindari tatapannya. “Kamu … Abang emang pengen nikah, dan kamu tahu solusinya. Tapi bukan berarti Abang mau liat kamu nyemplungin diri ke lubang kotor. Be smart.”
Siap, Bos.
“Ni …”
Aku menegakkan tubuh, memberinya respons hormat.
“Assalamualaikum.”
Abangku yang tampan, yang katanya rajin puasa dan bekerja, yang katanya sudah siap menikah.
Aku hanya bisa meminta maaf.
Menjadi beban memang menyebalkan.
“Ni, jangan lama-lama siap-siapnya, pertemuan pertama jangan langsung kasih kesan buruk.”
“Iya, Bu.”
Mimpi apa dulu Aghnia Dhara kecil. Bisa-bisanya di usia 24 tahun, di-PHK dari pekerjaan pertamanya ditambah dituntut mengenalkan pasangan ke keluarga.
Masih bersyukur, kepalaku tidak lepas dari tempatnya.
Kafe Maladewa. Alam Sutera, Tangerang Selatan.
Namanya menjanjikan.
Sesuai arahan Ibu, harusnya ini benar tempatnya. Sebuah Cafe & Eatery. Bernuansa warna cokelat-hitam-abu-putih dengan beberapa pohon di sudut dan ada juga yang digantung.
Di tembok belakang meja depan itu ada tulisan besar COFFEE - EATERY berwarna biru dan pink.
Sangat mencolok dan cukup informatif.
Aku memastikan barangku tidak ada yang tertinggal di mobil, kemudian mengucapkan terima kasih pada driver yang sudah mengantarku kali ini. Oh tidak lupa, sebelum benar-benar lupa, aku memberinya bintang 5 dulu.
Kenapa jadi gugup banget, ya?
Ya wajar, sih, Nini. Meskipun bukan interview formal bersama user di perusahaan, tetapi ini tetap obrolan tentang menghasilkan uang. Feel-nya pasti akan sama. Aku hanya berharap kenalan Ibu ini manusia berbaik hati.
Aamiin.
Setelah menghembuskan napas kencang, aku merasa lebih baik dan melangkah ke dalam. Aku melihat beberapa karyawan sedang bersiap-siap. Melirik jam tangan, aku tersenyum tipis karena sadar, ini memang masih pagi.
Mereka baru akan buka.
“Halo, Kak. Ada yang bisa dibantu?”
“Halo, saya mau ketemu sama …” Gawat, aku lupa bertanya pada ibu siapa nama anaknya! Atau Ibu sudah kasih tahu dan aku yang lupa? Sialan! Aku berusaha tersenyum, membohongi gugupku. “Mmm, saya ada janji sama yang owner kafe ini, Mas. Mas mungkin bisa hubungi beliau—”
“Oh, Kak Dhara, ya?”
Aku tersenyum semringah, menganggukkan kepala. “Ya, Dhara.” Terima kasih, Ibu, karena tidak mengenalkanku sebagai ‘Nini’ dengan orang asing.
Teman Ibu saat bekerja dulu termasuk orang asing, bukan?
“Mohon maaf, Kak, Mas Gyan-nya nggak bisa hari ini.” Wajahnya terlihat sangat tidak nyaman. Mungkin sama seperti wajahku sekarang. “Dia ada meeting penting. Katanya, kalau weekday di minggu ini bisanya malem, atau kalau mau di weekend. Gimana, Kak?”
Kenapa aku tidak mendapatkan informasi apa pun soal ini?
“Mas Gyan minta buat dikasihin nomernya ke Kakak. Nanti Kakak bisa hubungi aja, ya.”
Aku sudah punya dari Ibu.
Ibu dikasih oleh temannya. Mamanya si Gyan-Gyan ini.
“Oh boleh, Mas.” Aku tetap menerimanya, membantu mengurangi rasa tidak enak karyawan ini. “Berapa nomernya?”
Ia menyebutkan tiga per tiga angka yang membuatku pusing.
“Sori, Mas. Boleh didektenya per empat atau dua angka? Saya nggak fokus.”
“Oh sori sori, Kak. Saya ulangi ya.”
Selesai dengan nomor, aku meminta izin untuk duduk di kursi luar, sembari memesan taksi online-ku untuk kembali ke rumah. Mereka sempat menawarkan minuman lebih dulu tetapi aku menolaknya dengan halus.
Gyan … bisa-bisanya tidak ada informasi ini sebelum aku datang ke sini.
Aku membuka WhatsApp, mencari nomornya dan membuka ruang obrolan.
Rasanya ingin mengirimkan stiker dari meme yang bertuliskan ‘selamat, kau berhasil menyakiti perasaanku’.
Yang kulakukan malah kepo dengan contact info-nya.
Profilnya tidak jelas entah gambar apa, mobil di jalanan dan itu pun blur. Ada tulisan sibuk.
Okay, beginilah seharusnya normalnya manusia.
Bukan malah kena prank datang pagi-pagi ke kafe orang begini.
Saat aku hendak menutup aplikasi WhatsApp, sebuah notif pesan muncul dari nomor baru. Tetapi lewat notification center, aku bisa melihat display name-nya.
~Anita Lestari~
Who’s Anita Lestari?
Halo, Dhara.
Ini Tante Nita, teman lama Ibumu. Salam kenal, ya😊
Kata Ibu, kamu udah di kafe ya sekarang? Tapi Mas Gyannya nggak ada nih. Ada meeting dadakan tadi katanya. Maaf banget ya, Dhara🙏
Mas Gyan udah hubungi kamu?
Mas Gyan?
Aku refleks tertawa kecil. How sweet menyebut anaknya ‘Mas’ pada orang asing.
Aku mulai mengetik balasan untuknya.
Halo, Tan|
Notifikasi pesan lainnya muncul dengan nama Gyannya Anita.
Ya, kontak itu dikirim Ibu dan aku menyimpannya sama ketiplek dengan nama kontaknya Ibu. Kenapa pula belum aku ganti.
Gyannya Anita
Hi, there!
This is Gyan. u must be Dhara?
Tadi udah ke kafe, ya? Sori banget, Ra, ada urgent call tadi. Kalau kita ketemunya nanti jam 7 malem, keberatan kah?
Kalau lo mau, I'll pick u up at 7 PM.
Hm, jam 7 malam mau bahas duit atau masa depan pernikahan?
Kasih tip buat penulis
